Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 18


__ADS_3

"Kejam banget sih loe, anak orang tuh" celetuk Abi.


"Udahlah biarin aja, gimana kalau ntar malem kita dugem, ajep ajep, ada club baru nih" ajak Justin menyela pembicaraan.


Para pemuda itu lebih setuju dengan ide Justin daripada mengikuti Ratu yang ingin balapan. Ide Justin membuat Ratu kembali memikirkan keputusannya. Balas dendam atau bersenang-senang, auh itu menyulitkan.


"Ratu, kita juga ikut dong" teriak Bela memelas.


"Gak gak, kalian itu cewek, nanti gue dimarahin lagi sama pacar kalian" larang Ratu dengan tegas.


"Loe juga cewek bego" teriak David kesal. Ratu hanya cengengesan mendengar makian tersebut.


Ratu memang perempuan, tapi diantara mereka semua, yang bisa minum lebih banyak adalah gadis itu. Ia tak ingin mengajak Bela dan Geya, karena terakhir kali mereka minum bersama, dua wanita itu meracau tak karuan. Bela dan Geya Menggerutu kesal sebab Ratu melarang mereka untuk ikut.


"Gak ada yang marah nih loe minum-minum?" Tanya Tristan menyelidik. Ratu menatap kearah Neil, ia sedang menatap tajam ke arah gadis itu.


"Wah parah kalian masih sekolah minum-minum. Adik-adik jangan ditiru ya, nakal emang anak-anak ini" celetuk Ratu tiba-tiba lalu memukul satu persatu para pemuda tersebut.


Ratu lupa jika disana pasti ada Neil, dan perbincangan mereka cukup keras. Menyesal sudah Ratu dengan perkataannya. Ia ingin Neil melihat sisi baik dirinya, tetapi selalu saja sisi buruk itu keluar tanpa peringatan.


Ponsel Ratu tiba-tiba saja berdering, dan ada panggilan masuk disana.


"Halo sayang" ucap Ratu saat mengangkat panggilan tersebut. Ratu mendengarkan lawan bicara berbincang cukup lama, ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. "Sabtu besok? Gak ada janji sih, tapi mau kemana?" Tanya Ratu keheranan. Setelah mendengar penjelasan dari lawan bicaranya, Ratu menyetujui permintaan itu tanpa membantah.


"Iya sayang, love you too" tutup Ratu dengan tawanya. Ratu begitu menyukai lawan bicaranya tersebut.


"Siapa yang telepon Kak Ratu? Kenapa selalu manggil sayang" gumam Neil penasaran. Damar dan Liam yang mendengar hal itu menjadikannya sebagai bahan untuk menggoda Neil. Mereka bisa melihat jika Neil sudah memiliki rasa untuk Ratu, bahkan rasa cemburu itu juga sudah muncul.

__ADS_1


"Bisa kita bicara?" Ujar Bilal mengajak Ratu pergi. Gadis itu memandang Bilal, lalu mengalihkan pandangannya pada Hera yang menatap dirinya. "Abaikan dia, aku ingin bicara denganmu berdua" sambung Bilal lagi. Ratu mengangguk dan pergi bersama Bilal.


Hera mencoba mengejar Bilal, namun Tristan menahannya. "Eits, ganggu aja loe, biarin aja napa. Siapa tau mereka balikan" ujar Tristan sambil menggenggam tangan Hera dengan erat. Faiq menjitak kepala Tristan, "Bacot loe kalau ngomong, ada Neil tuh" bisik Faiq pelan.


Mereka semua menatap Neil yang sedang memperhatikan kepergian Ratu dan Bilal. "Yaah pasti mereka lagi bahas tugas itu, udah sana loe duduk lagi" teriak Tristan seraya mendorong Hera menjauh. Neil mendengarnya, tetapi dirinya masih tak yakin akan hal itu. Neil pun pergi setelah berpamitan pada Liam dan Damar.


"Wah, alemong nih cyin. Berabe nih urusan" ujar Lay dengan gaya alaynya. "Emm.. ember, ada gosip baru nih pasti, yuk yuk tunggu aje" timpal Abi. Mereka hanya berharap semua akan baik-baik saja.


Bilal mengajak Ratu untuk berbincang dilapangan basket yang sepi. Bilal menggenggam tangan Ratu, menatap gadis itu dengan lembut. Ia masih tidak yakin jika Ratu telah melupakan dirinya secepat ini. Terlebih sebenarnya Bilal masih memiliki rasa pada gadis dihadapannya.


"Kamu beneran udah gak sayang aku?" Tanya Bilal lirih.


"Sayang sih, tapi loe kan sekarang pacarnya Hera. Ya berarti loe gue, end" jawab Ratu ketus.


Bilal dan Ratu saling bertatapan, mengingat kembali memori masalalu. Kenangan yang pernah terjadi diantara mereka. Bilal menarik tubuh Ratu dalam dekapannya, mengelus pipi gadis itu pelan. Pemuda itu perlahan mendekatkan wajahnya, memandangi bibir Ratu. Ratu membenturkan kepalanya pada kepala Bilal. Membuat pemuda itu kesakitan dan mengelus-elus bagian kepalanya yang terasa sakit.


Ratu berjalan menjauh dari lapangan basket sembari menarik tangan Neil. Gadis itu tau jika Neil sedang mengintip mereka. Mungkin itu adalah alasan Ratu tak membiarkan Bilal menciumnya. Neil mengikuti Ratu begitu saja tanpa menolak ataupun bertanya alasannya.


"Gue pikir loe bakal cemburu, cuma penasaran aja ternyata" ucap Ratu ditengah perjalanan mereka.


Jika saja Ratu tahu, keinginannya menjadi nyata. Neil merasakan cemburu. Tetapi pemuda itu tidak memberikan tanggapan apapun.


"Masuk gih, bel udah bunyi" perintah Ratu pada Neil ketika mereka sudah berada didepan tangga. Neil masih diam dan hanya menjalankan apa yang Ratu katakan.


Setelah Neil tak terlihat olehnya, Ratu berjalan menuju kelas. Sembari bergumam menyesali yang telah terjadi. Berandai-andai mengenai apa yang akan terjadi jika Neil tidak berada disana. Ratu masih merindukan Bilal, mereka saling merindukan, itu adalah kebenaran. Tetapi Bilal sudah menjadi milik wanita lain, dan Ratu harus menghargainya.


Ratu juga bersyukur Neil berada disana. Ia tidak ingin melakukan hal yang bisa menyakiti wanita lain karena kesalahannya. Sebab dipikiran Ratu, Tania adalah adik perempuan yang paling ia sayangi. Dan dirinya harus bisa menjaga sikap untuk masa depan Tania.

__ADS_1


Gadis itu sudah sampai dikelas dan mengikuti pelajaran dengan tertib. Mencatat setiap materi dan sedikit berdiskusi jika tak memahami. Hingga jam pelajaran hampir usai ia masih begitu fokus pada materi yang disampaikan.


Drrrttt... Drrrtttt ...


Ponsel Ratu bergetar, ia melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Dengan secepat kilat, Ratu berlari keluar kelas. "Bu, ijin saya sakit perut" teriaknya sebelum menghilang dari kelas.


Ratu berlari sekuat tenaga, menaiki tangga dan menuju toilet wanita. Ia melihat Mita yang sedang terpojok oleh Fiona dan gengnya.


Plakk... Dguuukk..


Suara tamparan begitu keras terdengar, diiringi oleh benturan yang cukup mencengangkan. Ratu tersungkur membentur ujung meja wastafel. Darah segar mengalir dipelipisnya. Tanpa kata-kata Ratu berdiri dan mengajak Mita pergi. Ratu mengoceh menanyakan apa Mita baik-baik saja, ia membolak-balik tubuh gadis itu, menatap setiap detail barangkali ada luka yang tak terlihat olehnya.


"Gu..gue gak apa-apa kok Kak, tapi..." ucap Mita terputus karena Ratu kembali menariknya berjalan.


Didalam kelas Mita, Pak Cipto bertanya-tanya mengapa muridnya itu tak kunjung kembali dari kamar mandi. Sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi. Beliau pun memutuskan untuk pergi mencari muridnya.


"Mita, Bapak pikir kamu... Loh itu Ratu kenapa berdarah?" Teriak Pak Cipto terkejut.


Pak Cipto membantu Ratu untuk duduk di bangkunya. Mengeluarkan kotak P3K yang ada di lemari kecil dibalik cermin. Ratu sudah mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Tetapi Pak Cipto tentu saja khawatir jika luka itu tak langsung diobati.


"Kalian habis darimana? Kok sampai terluka gini?" Tanya Pak Cipto geram.


"Dari kamar mandi, tadi saya kepeleset terus kebentur tembok. Gak sakit ini Pak, Bapak lebay" sahut Ratu santai.


Pak Cipto menghadiahi jeweran manis ditelinga Ratu. Anak didiknya yang satu ini memang sudah kehilangan akal. Bagaimana bisa luka yang berdarah tidak terasa sakit, itu omong kosong.


Ratu menatap Mita yang berdiri didekatnya karena khawatir. "Mita, Mita, kenapa harus loe yang khawatir? Gue berharap orang lain yang khawatir" sindir Ratu lalu bangkit dari duduknya setelah selesai diobati.

__ADS_1


__ADS_2