Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 87


__ADS_3

Ratu menatap Neil, lalu menepuk pundak pemuda itu.


"Ayah dan Bunda tidak perlu mencari ku, aku hanya ingin sendiri" ujar Ratu lalu pergi keluar rumah.


Padahal harusnya ia berbincang dengan sang Ayah, tapi keadaan malah menjadi seperti ini. Ratu meminta supir untuk mengantarnya ke salah satu hotel, ia sedang tak ingin berada dirumah. Tamparan Bunda masih sangat jelas Ratu ingat.


Baru saja gadis itu hendak menutup pintu kamar, tetapi Neil sudah disana menatapnya dengan senyuman nakal. Ratu pun membiarkan pemuda itu masuk kedalam kamarnya.


Ratu baringkan tubuhnya diatas kasur, sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Neil, ia juga membaringkan tubuhnya dalam dekapan Ratu.


"Neil, aku sedang ingin sendiri, tapi kenapa kamu malah mengikuti aku"


"Tadi katanya lanjut dirumah"


Ratu menunjukkan senyumannya, lalu meninju wajah Neil dan membuat pemuda itu pingsan seketika. Akhirnya tenang juga, Ratu membiarkan Neil terbaring disampingnya. Ia mulai memainkan ponselnya membalas setiap pesan yang masuk. Ia kembali menunda rencana selanjutnya karena ada masalah yang tak pernah di duga masuk kedalam rumah.


Gadis itu mencoba menenangkan pikirannya dengan minuman keras dan juga rokok. Hingga tak terasa Ratu telah menghabiskan lima kaleng minuman sekaligus. Tetapi minuman itu bahkan tak mampu membuat Ratu mabuk.


"Kok aku dipukul si sayang?" Rengek Neil yang tersadar dari pingsannya. Ia duduk dihadapan Ratu dan mengambil satu kaleng minuman. Dengan percaya diri, ia menghabiskannya dalam satu tegukan.


Ratu sempat terkagum, tetapi beberapa menit kemudian pemuda itu sudah kembali kehilangan kesadaran dan akalnya. Ia membuat Ratu tertawa terbahak-bahak karena mabuk hanya karena satu kaleng minuman.


"Anak nakal ini, dia akan lebih liar jika hilang kesadaran" gumam Ratu seraya menyalakan rokoknya.


Baru saja Ratu bergumam, Neil sudah mulai mendekati dirinya dengan senyuman nakal. Pemuda itu berdiri dihadapan lalu, membuka resleting celananya. Menunjukkan miliknya yang sudah menegang.


Ratu mencoba untuk menakuti Neil dengan mendekatkan rokoknya ke area sensitif Neil, hingga pemuda itu kembali membenarkan celananya. Neil benar-benar seperti om-om mesum jika seperti ini.


"Duduklah Neil, berhentilah bertingkah" pinta Ratu kesal. Ia menarik tangan Neil dan menidurkannya di pangkuannya.


"Main yuk sayang" rengek Neil.


"Neil, kau seperti orang yang baru saja mengonsumsi narkoba. Tunggu, apa mungkin..."


Ratu menatap Neil dengan seksama, pemuda ini benar-benar bertindak seolah diluar akal sehatnya. Bahkan ia berani menyela perkataan orang tua Ratu sebelumnya.


Segera gadis itu menghubungi seseorang, lalu memintanya untuk datang ke kamar hotel Ratu.


"Jika benar ada yang memasukkan narkoba ke tubuhmu, aku tidak akan membiarkannya begitu saja Neil" gumam Ratu. Ia mengelus rambut Neil yang kini kembali tak sadarkan diri.


Ttookkk.... Ttokkkk.... Ttokkkk....

__ADS_1


Ratu beranjak dari duduknya dan membukakan pintu. Terlihat para anggota SS dan seorang dokter sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Ia pun meminta tamunya untuk masuk dan memeriksa Neil yang tergeletak diatas sofa.


"Dokter, apa ada indikasi penggunaan narkoba pada dia?" Tanya Ratu setelah dokter memeriksa.


"Saya akan segera menghubungi anda setelah menguji sampel darah" ucap sang dokter lalu berpamitan pergi untuk segera mencari tahu kebenarannya.


"Kalian, setelah Neil dari kamar gue pagi ini, apa kalian meninggalkannya sendiri?"


Tak ada jawaban, pasti para anggota SS meninggalkan Neil sendiri. Pantas saja pemuda ini bersikap begitu berani. Ratu menghembuskan napasnya kasar, ia memandangi Neil yang masih memejamkan matanya.


"Pergi, dan cari tahu informasi apapun yang bisa kalian dapatkan. Sekarang" perintah Ratu. Ia terlihat begitu gusar dan kesal dengan semuanya.


Karena mereka sudah berani melibatkan Neil disini. Ratu berusaha keras untuk tidak membuat Neil terlibat, tapi rasanya itu tidak mungkin. Terlebih saat musuhnya tahu, jika Neil adalah kelemahan sang Ratu.


"Sayang, maafkan aku ya" lirih Ratu sambil mengecup bibir Neil. Harusnya dari awal Ratu tak mencoba membuat Neil jatuh dalam pelukannya. Tapi, gadis itu pun tak menyangka jika mereka akan melibatkan Neil seperti ini.


"Cium lagi dong, main yang lain yuk"


"Ayo, kita ke kasur ya"


Neil bangun dan mengikuti Ratu yang berjalan lebih dulu. Pemuda itu dengan sigap melepaskan semua pakaiannya dan bersembunyi dibawah selimut.


Neil merangkak dalam pelukan Ratu, membuka kaos gadis itu dan pakaian dalamnya. Tapi tetap, Ratu tak mengijinkan Neil untuk bermain dengan bagian bawahnya. Walau Ratu sudah melihat tubuh polos Neil yang tak tertutup sehelai kain pun.


Ratu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kekasihnya. Sedangkan Neil kembali bermain dengan dada Ratu. Gadis itu mengelus rambut Neil dan mencium kepalanya sesekali. Sembari menunggu telepon dari dokter mengenai keadaan Neil.


"Sayang, bikin baby Neil yuk"


"Tidak sekarang Neil, sudah main ini saja"


Neil memanyunkan bibirnya, ia menatap Ratu dengan sedih. Walau sesekali tangan nakal pemuda itu mencoba mengelus paha Ratu. Tapi Ratu selalu memperingatkannya untuk tidak bertindak lebih jauh atau Ratu akan memukulnya lagi.


Drrrtttt.....


Ratu : "Ada apa Yah?"


Ayah : "Ratu, maafkan Ayah dan Bunda. Kamu ada dimana sayang?"


Ratu : "Ayah tidak perlu tahu, sampai nanti"


Ratu menutup teleponnya, ia kembali mendekap Neil dengan perasaan gelisah.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang? Jangan murung dong, nanti cantiknya hilang"


"Tidur yuk, udah mainnya ngantuk nih" pinta Ratu. Ia kembali memakai pakaiannya, tapi Neil masih tak ingin memakainya.


Ratu tak peduli, ia sangat mengantuk saat ini. Ia memutuskan untuk tidur sejenak karena beban pikirannya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Pukul 21:00.....


Ratu tengah duduk di sofa dengan para anggota SS. Mereka sudah menerima informasi, memang ada zat narkotika dalam tubuh Neil. Namun, mereka masih belum tahu siapa yang memasukkannya kesana dan bagaimana caranya.


"Ayah sama Bunda loe khawatir, mending loe kasih tahu mereka" saran Gio.


"Biarin aja, dengan gini kan gue bisa tinggal sama Neil"


"Gila loe, jangan keras kepala deh" sahut Aidan sambil memukul kepala Ratu.


"Sayang, kamu udah bangun?" Sela Neil yang terbangun dari tidurnya.


Semua anggota SS spontan menoleh, mereka menatap Neil yang tidak memakai baju dan tertutup selimut diatas tempat tidur.


"Pakai baju dulu kalau mau kesini" jawab Ratu.


Refleks mereka mulai menghujani Ratu dengan banyak pertanyaan. Mereka mulai menduga jika gadis itu sudah melewati batasannya hari ini.


"Loe.."


"Apa? Mau nuduh yang nggak-nggak juga?"


"Yaelah, nanya massa gak boleh cih, mmh..." keluh Faiq dengan gaya manjanya.


Ratu meminta para teman-temannya untuk fokus dan kembali mencari tahu siapa yang berani memasukkan narkoba ke tubuh Neil. Karena ia tak bisa diam saja seperti ini, jika mereka telah berani menyentuh Neil maka Ratu harus menghabisi semuanya.


"Ngaco omongan loe" sentak Gio.


"Dia nyakitin Neil"


"Kita masih punya cara lain buat balas dendam, loe lupa kita gak mau ada korban lagi?"


"Oke, telepon Daren dan yang lain. Suruh mereka kesini sekarang"

__ADS_1


__ADS_2