
"Aku? Kenapa aku? Aku tidak mau bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk menjauh darimu" jelas Neil.
"Neil, sama seperti Daniel. Dimata orang, aku adalah kelemahan Daniel, dan kamu adalah kelemahan ku. Karena itulah menjauh adalah jawaban agar orang yang kita sayangi tidak terluka" ujar Ratu.
"Beberapa orang berusaha untuk menyerang Daniel dengan mencoba menyakitiku. Tapi pemuda bodoh ini, melakukan apapun untuk melindungi aku. Tak sekalipun ia biarkan aku lepas dari pengawasannya, hingga hari itu, demi menyelematkan aku, ia mengorbankan dirinya. Dibandingkan denganku, Daniel bukan siapa-siapa, kenapa dia ingin melindungiku?" Omel Ratu. Ia mulai terbawa emosi karena mengingat masalalu.
"Karena Daniel mencintai kamu" jawab Neil singkat.
"Katakanlah begitu, lalu dia membiarkan aku hidup dengan rasa bersalah? Apa ini cinta? Dia hanya pemuda bodoh yang mengaku dirinya pandai. Dia memang menyebalkan" ujar Ratu.
"Daniel tidak ingin kamu terluka karena menjauh darinya. Berbeda denganmu, apa kau tidak berpikir jika aku akan terluka?" Balas Neil lirih.
"Neil, beritahu aku, kamu ingin kita jauh tapi kamu masih bisa melihatku, atau kamu ingin kita dekat namun hanya untuk sementara? Kamu ingin menemuiku seperti aku menemui Daniel? Neil, Rasa bersalah itu lebih menyiksa" jelas Ratu dengan penuh pengertian. Ratu mengatakan apa yang sudah pernah ia lalui, rasa yang selalu menghantuinya.
"Maaf, aku tidak berpikir sejauh itu" lirih Neil.
Ratu menggenggam tangan Neil. Meminta Neil untuk menunggu beberapa saat, karena Ratu akan menyelesaikan semua. Memusnahkan siapapun yang berani menatap Neil dengan niat jahat.
"Kak Ratu, berhentilah mengatakan hal omong kosong seperti ini. Kenapa mereka ingin menyakitiku dan kamu? Katakan padaku alasannya" sentak Neil.
"Tidak. Kamu tidak perlu tahu, nikmati saja masa muda mu dengan bersenang-senang dan belajar. Ayo kita pergi, aku sangat lapar" ajak Ratu. Ia berusaha mengalihkan topik mereka, Neil hanya perlu tahu sejauh ini.
Ratu mengajak Neil untuk segera pergi dari sana. Karena ia merasa ada seseorang yang memperhatikan mereka. Dan itu memang benar, Gio dan Faiq sedang memperhatikan keduanya dari jauh.
"Kita mau makan?" Celetuk Neil ditengah perjalan mereka.
"Aku mau pulang" Jawab Ratu singkat.
"Kenapa, tadi katanya lapar?" Sahut Neil.
"Sudah kubilang kan, jauhi aku. Dan ya, akan lebih baik jika kamu mencari pacar" saran Ratu. Neil tentu menolak saran itu, karena wanita yang ia cintai hanyalah Ratu. Setelah sekian lama mereka dekat, dan rasa cinta itu tumbuh. Sayangnya masalah yang datang tak mengizinkan mereka untuk bersama.
Namun ada hal lain yang lebih mengusik pikiran Ratu. Kenapa harus Neil? Kenapa bukan Bilal? Padahal hubungan Neil dan Ratu terbilang singkat, sedangkan hubungannya dengan Bilal sudah terjalin selama beberapa tahun. Kerap kali mereka bersama, jika dilihat, tentu Bilal yang harusnya menjadi target mereka.
"Kenapa harus Neil? Kenapa bukan Bilal? Jika saja itu Bilal, aku bahkan tak peduli jika mereka menghabisi Bilal sekalipun" gumam Ratu pada dirinya sendiri.
Neil mengantar Ratu kembali pulang kerumahnya. Ketika mereka membahas mengenai jam tangan, Neil teringat sesuatu. Jam tangan yang ia temukan di lorong sekolah. Dihari kedua penilaian saat dia bertemu dengan Ratu.
"Kak, aku nemuin jam tangan, tapi aku gak tahu punya siapa. Aku mau kasih tahu kamu tapi lupa" ucap Neil.
"Berikan padaku besok ya disekolah. Kamu sudah tidak marah lagi padaku?" Tanya Ratu memastikan. Neil mengangguk, Ratu tersenyum kecil melihatnya. Neil sangat mudah terpengaruh emosinya, karena itu masih begitu labil.
"Hati-hati ya pulangnya" ujar Ratu. Ia hendak berjalan pergi, namun Neil menahannya. Neil memeluk Ratu seakan ini terakhir kalinya mereka bertemu. Pelukan erat penuh kasih sayang. Ia juga mengecup singkat bibir Ratu sebelum pergi meninggalkan perumahan megah itu.
__ADS_1
"Masih pagi udah lengket bener" celetuk Gio mendekati Ratu.
"Kita ikutin kalian tadi, takut ada apa-apa" timpal Faiq. Ratu kini sadar jika yang memperhatikan dirinya dan Neil adalah dua pemuda dihadapannya.
"Cus kita ke BS, pasti yang lain udah nungguin" ajak Ratu.
Mereka bergegas bersiap dan berangkat menuju BS. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.
Di basement kafe Blue Sky ......
"Ada informasi baru?"
"Loe udah tahu mata-matanya?"
Baru saja Ratu dan anggota SS sampai, mereka sudah dihujani pertanyaan. Ratu menarik papan tulis, memutarnya hingga menunjukkan projek yang sedang mereka dalami. Ia kembali menempelkan sebuah foto jam tangan serta foto seseorang yang ia dapatkan saat mengikuti pesan yang terkirim padanya.
"Dia kan adik kelas gue" sahut salah seorang.
"Anak Pelita?"
"Iya kelas 2, dia transaksi ganja?"
"Bukan itu masalahnya, mobilnya"
"Orang misterius itu siapa?"
"Bilal" sela Ratu. Mereka semua terkejut bukan main, bahkan spontan membuat mereka berdiri bersamaan tanpa sebab.
"Alasannya?"
"Mereka mengincar Neil dan bukan Bilal. Gue yakin Bilal ada hubungannya dengan mereka" jelas Ratu singkat.
"Loe benar, pantes aja, gue baru ngeh, setiap kali kita ke suatu tempat, Bilal selalu ingin tahu dengan alasan dia gak mau loe kenapa-kenapa"
"Tunggu, apa Bilal ngedeketin loe buat ini? Tapi kan loe"
"Gue juga gak tahu, masih belum pasti" jawab Ratu lirih.
"Bentar deh, kok loe bisa tau kalau itu Bilal?"
"Nih anak emang ya, begonya kebangetan. Jam tangan itu"
"Kenapa jam tangannya?"
__ADS_1
"Ya lord, siapa lagi yang masih gak paham? Itu jam tangannya Bilal, hadiah dari Ratu"
"Ooooohhh" sorak mereka bersamaan. Ratu menahan tawanya, bukannya marah ia malah ingin tertawa. Jadi sedari tadi keseriusannya tidak bisa diterima oleh para pendengar.
"Aash sial" umpat Ratu kesal.
"Kenapa loe?"
"Kita paham kok"
"Atau ada yang terlewat?
"Sabar, santai dong"
"Ada apa?"
"Gue laper, makan yuk diatas. Gue baru ingat, besok kan ada acara di sekolah gue. Kalian lupa? Setiap kali mau libur semester, sekolah kita kan ngadain acara persahabatan" jelas Ratu kesal. Ia benar-benar lupa akan hal itu.
"Terus hubungannya sama loe?" Tanya Aidan tak mengerti.
"Kita kan sekarang udah kelas tiga bego, ya kita yang harus jadi panitia, ngurusin mereka semua? Ogah gue, pasti auuh" keluh Ratu.
"Gue baru ingat, massa kemarin gue nemuin k*ndom di toilet atas" sela Daren.
Mereka semua tertawa setelah mendengar pertanyaan Daren.
"Wah, gak modal tuh"
"Punya siapa tuh, sialan tuh anak habis main gak dibersihin"
"Mau pipis jadi jijik gue"
"Auto gue robohin tuh kamar mandi"
"Mending loe cuma nemu bekasnya, gue malah ada disana waktu mereka lagi main" ujar Ratu tak kalah mencengangkan. Mereka semua lebih terbahak-bahak karena hal tersebut.
"Gak habis pikir gue sama mereka yang suka main sembarang" timpal David.
......***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Suami Pilihan Papa.........
...Terimakasih sudah membaca......
...lope lope Kakak...🥰🥰***...
__ADS_1