Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 13


__ADS_3

Neil memberikan surat itu pada Ratu. Membuat Ratu menjadi canggung saat menerimanya.


"Wah ini mah surat dari tahun lalu, nih anak emang ya, loker kagak pernah dibuka ya gini nih" celetuk Bela.


"Iya, nih ada coklat juga. Kadaluarsa gak nih, iiiuu" timpal Geya.


Neil tersenyum kikuk lalu berpamitan pergi kepada Ratu. Gadis itu menatap kepergian Neil dan dua temannya dengan pilu.


"Thanks, kalian udah cairin suasana hahaha" ucap Ratu kepada Bela dan Geya. Kedua siswi itu memang sengaja berbicara keras agar Neil mendengarnya dan tak ada salah paham diantara Neil dan Ratu.


"Kalau loe beneran suka Neil, jangan main-main deh" ucap Bela memberi saran. "Iya, dia kelihatan baik. Loe kan gampang banget suka sama orang, kasihan gue lihat tuh brondong" timpal Geya dengan candaannya.


Ratu mencubit kecil pinggang kedua temannya dengan gemas. Ratu juga tak ingin mempermainkan Neil, tapi hatinya masih milik Bilal. Sedangkan dirinya juga tidak mampu menahan rasa ingin dekat dengan Neil setiap saat. Ratu masih bimbang diantara dua pilihan, mengulang masalalu atau membuka lembaran baru.


Ketiga siswi itu berjalan menuju kelas dengan tumpukan surat. Sesampainya dikelas, Ratu memasukkan semua surat itu dalam kotak besar yang ada dipojok ruangan. Dan membawanya pulang begitu jam pelajaran usai.


Gadis itu duduk di atas kap mesin mobilnya, sembari memakan makanan ringan. Ia menatap dua orang siswi yang sedang bertengkar diparkiran. Terdengar jelas mereka bertengkar karena memperebutkan seorang pria. Ratu tak pernah ikut campur dalam pertengkaran siapapun, ia lebih suka menonton dan tak peduli apapun yang terjadi selanjutnya. Menikmati drama pertengkaran sambil makan camilan adalah yang tebaik.


Kedua siswi itu tak menggubris walau mereka telah menjadi pusat perhatian. Tak ada satupun murid yang ingin masuk dalam percekcokan sengit para wanita. Terlebih lagi jika dasar permasalahannya adalah karena seorang pria.


Anggota geng SS sudah berdiri didekat Ratu, menemani sang Ketua menonton drama secara langsung. Mereka juga enggan ikut campur urusan receh seperti ini.


"Ratu, kok loe diem aja sih? Pisahin dong" ujar Bela sembari menarik tangan Ratu untuk turun dari mobil. Tubuh Ratu meluncur indah seiring dengan tarikan tersebut. "Ogah ah, ngapain? Males receh ini mah" ucap Ratu seraya menyenderkan kakinya dimobil.

__ADS_1


Melihat Ratu tidak akan mendengarkan dirinya, Geya menarik gadis itu untuk ke TKP. Mendorong Ratu untuk mendekat agar mau memisahkan kedua siswi itu. Bela dan Geya bukannya tak mau memisahkan, tetapi mereka juga memikirkan resiko terkena tamparan atau pukulan. Sebab itu ia menjadikan Ratu umpan untuk memisahkan para siswi yang sedang mengamuk garang.


Ratu menggenggam tangan masing-masing siswi itu. Menghentikan acara jambak-menjambak rambut. Kedua siswi itu menoleh, menatap Ratu yang berekspresi datar disana. "Adik-adik, kita bicarakan baik-baik saja. Ikut gue" ucap Ratu lalu berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya.


Para penonton berseru kecewa, tontonan asik mereka telah usai dengan ending yang tak terkira.


Ratu kembali duduk di atas kap mesin mobilnya, menatap kedua gadis dihadapannya secara bergantian. "Loe dulu" ucap Ratu datar.


Gadis yang ditunjuk Ratu mengaku jika kekasihnya telah direbut oleh wanita disebelahnya. Sebab ia beberapa kali memergoki sang pacar jalan berdua bersama wanita tersebut.


"Loe" tunjuk Ratu pada gadis lainnya.


Pernyataan yang sama terlontar dari bibirnya. Mengklaim jika sang kekasih kerap kepergok jalan bersama wanita disebelahnya. Para gadis itu lalu saling berpandangan dengan heran. Terkejut sebab cerita mereka sangat mirip.


"Cowok kalian yang mana?" Ucap Ratu seraya memperhatikan setiap pria yang ada disana. "Di sekolah lain" jawab kedua gadis bersamaan.


Pantas saja kedua gadis itu dengan mudah dibohongi. Rupanya sang pria berada jauh dari mereka. Ratu kembali menasihati mereka, "Udah lepasin aja, sekali selingkuh bakal susah balik kayak dulu. Selingkuh itu gampang, coba cari yang susah, setia"


Kedua gadis itu saling menatap dan meminta maaf. Kemudian berpelukan dan berterimakasih kepada Ratu. Mereka berdua pergi setelah memutuskan sang kekasih secara bersamaan dihadapan Ratu. Begitulah awal mula persahabatan diantara dua mantan dimulai.


Bela dan Geya memeluk Ratu serta memujinya. "Udah sana pulang, pacar kalian nungguin tuh" perintah Ratu sembari menggerakkan dagunya menunjuk ke arah gerbang sekolah. Bela dan Geya mencium pipi Ratu lalu berpamitan pergi.


"Sialan kalian, beraninya cium-cium gue" teriak Ratu kesal. Ia mengelap kedua pipinya dengan tangan kosong. Mencoba menghilangkan bekas kecupan tersebut.

__ADS_1


Mata Ratu tak sengaja menatap mata Neil. Neil sedang berdiri memandangi dirinya, sembari berbincang dengan kedua temannya. Peringatan dari Bela dan Geya kembali berputar dikepalanya. Ia tidak ingin mempermainkan perasaan Neil, mungkin memang lebih baik ia menjauh. Sebelum semuanya benar-benar terlambat untuk disadari.


Ratu melengos begitu saja, tak ada keinginan untuk menyapa Neil atau semacamnya. Anggota geng SS sedang berbincang untuk pertemuan mereka malam nanti. Ratu yang enggan pergi, meminta dirinya untuk dijemput. Gadis itu masuk kedalam mobilnya, pergi meninggalkan sekolah menuju tempat les.


Hari ini setidaknya ada tiga jadwal les yang harus Ratu hadiri. Hingga dirinya sampai dirumah pada pukul delapan malam. Ia juga harus segera bergegas sebab temannya pasti akan segera menjemput. Kesibukannya bahkan tak membiarkan dirinya untuk beristirahat sejenak.


Ttiin...Ttiin...Ttiiiinn....


Terdengar suara klakson dari arah luar. Ratu yang sudah rapi dengan gaunnya, pergi menghampiri Aidan. Ia masuk kedalam mobil Aidan, dan membaringkan tubuhnya disana. Ratu merasa sangat lelah hari itu. Walau Aidan mencoba untuk mengajaknya berbincang, namun tak ada respon darinya.


Mereka telah sampai disalah satu restoran terkenal. Berkumpul disebuah ruangan VIP, pelayanan yang extra. Menunggu seseorang yang begitu penting untuk mereka semua.


Lima belas menit sudah, mereka menunggu. Sepuluh menit itu adalah keterlambatan seseorang yang sedang mereka tunggu. Ratu yang sudah makan setidaknya dua piring, bosan menunggu kedatangan sosok ini.


"Permisi, maaf saya terlambat" ujar seorang pria paruh baya. Para anggota SS berdiri dan bergantian bersalaman dengan beliau. Mereka menyambut tamu dengan hangat, walau keterlambatan itu memuakkan.


"Jadi, bagaimana dengan kesepakatan kita?" Ucap beliau. "Begini, kami akan melihat kebun pisang tersebut terlebih dahulu. Sebelum kami mengambil keputusan. Jadi, kapan kami bisa datang untuk melihat?" Tanya Gio.


Pria paruh baya tersebut nampak berpikir keras. Beliau mengotak-atik ponselnya memeriksa jadwal. "Akhir pekan ini tentu bisa, Hari Sabtu atau Minggu" ujarnya dengan yakin. "Baiklah, setelah kami selesai melihat, kami akan memberikan jawaban. Terimakasih, silahkan nikmati hidangannya" balas Ezra ramah.


Ratu hanya diam membatin, ia harus menghadiri pertemuan seperti ini dan membatalkan makan malam bersama Neil serta keluarga. Gadis itu merasa sesak disana, ia memutuskan untuk pergi dan mencari udara segar.


"Huft, bego ya gue. Kenapa gue ada disini?" Gumam Ratu seorang diri. Buliran bening itu mulai jatuh menetes di pipinya. Melihat dua orang yang tak asing. Sedang berdiri saling pandang, berpelukan dan berciuman. "Harusnya gue sadar, kisah ini sudah lama mati" lirih Ratu seraya menyeka air matanya.

__ADS_1


__ADS_2