Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 20


__ADS_3

Ratu dan rombongannya duduk diruang tamu, berhadapan dengan para pengurus rumah singgah. Ratu memperhatikan adiknya yang begitu sopan berbicara layaknya orang dewasa.


"Ibu, Mbak, ini kami ada sedikit rejeki untuk teman-teman, mohon diterima" ucap Tania ramah.


"Terimakasih ya adik, kami terima pemberiannya" jawab Ibu pengurus.


Tak lupa Tania dan kawannya juga meminta ijin untuk mendokumentasikan kegiatan dirumah singgah. Ini adalah tugas dari sekolah mereka. Ratu sudah memasang dua kamera untuk mengambil video, dan satu kamera lagi ia bawa untuk mengambil foto. Gadis itu menjadi fotografer dadakan, dan orang paling sibuk yang ada disana. Ia memotret anak-anak dari setiap sudut, demi mendapatkan hasil yang bagus.


"Ganteng banget sih, jadi sayang" gumam Ratu. Ini adalah kesempatan untuknya mengambil foto Neil diam-diam.


"Kenapa harus lihat fotonya, kalau orangnya ada disini" bisik Neil yang tiba-tiba saja sudah berada disamping Ratu. Gadis itu merasa malu, lalu memukul lengan Neil pelan.


"Pacar loe ya Neil?" Tanya Kris. Kris adalah salah satu penghuni dirumah singgah. Karena dia adalah salah satu yang terbesar, Kris juga menjadi pengurus disana. Kris adalah teman SMP Neil, Damar dan Liam.


"Bukan, Kakak kelas gue" jawab Neil singkat. Ratu melirik padanya, ada rasa kecewa dalam hati Ratu.


Ratu kembali memotret Tania dan kawannya, sembari sesekali mengecek kamera yang ia gunakan untuk mengambil video. Tania dan kawannya tampak asik bermain dan belajar bersama dengan anak-anak dirumah singgah.


Tani menghampiri Kris yang sedang berbincang dengan Ratu dan Neil. "Mas Kris, kata Kak Liam kalian buat produk olahan pisang, boleh kita ambil video untuk itu?" Tanya Tania dengan manis.


Kris tertegun, ia nampak kebingungan dengan pertanyaan Tania. Setelah diam cukup lama, pemuda itu menjelaskan jika rumah singgah sudah tidak memproduksi olahan pisang lagi. Sebab pemilik kebun pisang yang biasa memasok pisang untuknya, akan menjual kebun tersebut. Alhasil banyak orang dikampung itu yang kehilangan mata pencaharian mereka.


Wajah Tania berubah menjadi sedih, hingga air matanya menetes. Ratu segera menyeka air mata tersebut. "Sayang, kenapa nangis?" Tanya Ratu pada adiknya.


"Kakak, terus aku gimana ini tugasnya? Kan kalau gak dikerjakan nanti... hikss.." jawab Tania yang mulai menangis.


Teman-teman Tania yang melihatnya, menghampiri Tania dan menenangkan gadis itu. Memberi Tania semangat karena mereka yakin, pasti ada hal lain yang bisa mereka kerjakan.


Ratu menaruh kedua tangannya dipinggang, menatap adiknya dengan serius. Tania menatap Kakaknya dengan bibir manyun serta wajah yang putus asa. "Kamu lupa kakak ini siapa? R A T U.. Ratu. Semuanya akan beres, kalian kerjakan yang lain dulu ya" hibur Ratu pada adiknya.


Setelah Tania dan teman-temannya pergi, Ratu meminta Kris untuk mengantarnya ke pemilik kebun. Gadis itu berencana membeli beberapa pisang disana. Walau harganya mahal pun tak masalah, asal adiknya bisa kembali tersenyum. Apapun akan Ratu lakukan demi Tania.


"Liam, Damar jaga anak-anak ya. Kita mau pergi sebentar. Kalian, kalau mau kemana-mana, ke toilet sekalipun harus ijin sama Kak Liam dan Kak Damar. Mengerti?" Perintah Ratu yang langsung dibalas sorakan oleh Tania dan teman-temannya.

__ADS_1


Ratu, Neil dan Kris pergi menuju kerumah pemilik kebun yang jaraknya tak jauh dari rumah singgah. Kris mengetuk pintu dan memanggil nama tuan rumah.


"Kamu, ada apa?" Kalimat sapaan yang tak sopan, tuan rumah itu sangat kasar pada Kris.


"Maaf Pak, ini ada yang mau ketemu Bapak" jawab Kris dengan sopan santun.


Pria tersebut menoleh ke arah samping Kris, mendapati dua orang remaja disana.


"Oh, Non Ratu, silahkan duduk, maaf saya tidak menyadari kedatangan anda" ujar Pria tersebut memperlakukan Ratu dengan sopan.


"Pak Wiro, kabar baik Pak?" Tanya Ratu basa-basi. Pak Wiro adalah pemilik kebun pisang yang sebelumnya bernegosiasi dengan Ratu dan anggota SS. Tetapi anggota SS masih belum memutuskan sebab mereka masih ingin melihat-lihat kebunnya terlebih dahulu.


Pak Wiro mulai membahas kembali kesepakatan yang mereka buat, dan bertanya-tanya apakah Ratu disana untuk melihat kebun. Karena mereka berjanji bertemu pada hari Minggu.


"Tidak Pak, besok saya datang lagi sama teman-teman. Sekarang ini saya mau membeli pisang, apa boleh? Berapapun harganya saya bayar" pinta Ratu. Mendengar kata berapapun, membuat Pak Wiro tak berpikir panjang dan langsung mengantarkan mereka bertiga untuk pergi ke kebun pisang miliknya.


Pak Wiro meminta Kris untuk memilih pisang yang mereka inginkan. "Ambil seperti biasa loe beli buat produksi" pinta Ratu pada Kris.


Kris terhenti, ia tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Seolah permintaan Ratu adalah mimpi baginya. "Tapi Kak, itu.." ucapan Kris terpotong setelah melihat tatapan tajam dari mata Ratu. Pemuda itu segera melakukan apa yang gadis itu perintahkan. Neil juga membantu Kris untuk mengambil pisang-pisang tersebut. Sedangkan Ratu sedang berdiskusi mengenai harga dengan Pak Wiro.


Entah mengapa pujian Kris itu membuat hati Neil merasa panas. Seakan dirinya tak rela jika ada cowok lain yang memperhatikan Ratu begitu detail. Neil menatap tajam ke arah Kris yang terus saja membicarakan Ratu.


"Bisa gak sih loe gausah ngomongin Kak Ratu? Gue..." ucapan Neil terpotong begitu melihat Ratu sudah berdiri dihadapannya.


"Kamu apa?" Sahut Ratu penasaran.


"Males aja dengerin tentang Kak Ratu" jawab Neil spontan. Ia hanya ingin menjaga harga dirinya.


Ratu mengangguk, lalu mengajak kedua pemuda itu untuk segera kembali dan meneruskan kegiatan mereka. Tania dan anak-anak lain terlihat sangat bahagia, melihat Ratu, Neil dan Kris kembali dengan banyak pisang.


Pengurus rumah singgah membantu membawa pisang-pisang itu ke dapur, diikuti oleh Tania dan kawannya. Seperti sebelumnya, Ratu sudah memasang beberapa kamera untuk dokumentasi mereka. Tak lupa beberapa foto ia ambil untuk kenang-kenangan.


Para pengurus rumah singgah, mulai membagi pisang dalam beberapa kelompok. Mereka ingin membuat beberapa hidangan yang berbeda. Pisang goreng biasa, piscok, dan masih beberapa macam hal lain. Ratu sangat tertarik dengan kreasi para pengurus rumah singgah, mengelola pisang menjadi berbagai jenis olahan yang nikmat.

__ADS_1


Satu persatu olahan mereka mulai selesai dibuat, dan tertata rapi diatas meja. Ratu memfoto hidangan tersebut dengan ponselnya, lalu mengirimkannya di grup anggota SS. Seketika, Gio langsung melakukan panggilan dengan para anggota SS.


Ratu berjalan keluar untuk menerima panggilan tersebut.


Gio : "Wah, lagi dimana loe?"


Ratu : "Di rumah singgah kasih Ibu, dekat perkebunan pisang Pak Wiro, gue udah kesana"


Aidan : "Gimana menurut loe? Kalau bagus langsung deal aja"


Ubay : "Iya, keburu diambil yang lain"


Faiq : "Masakan yang loe foto, dari pisang semua?"


Ratu : "Bagus, oke Faiq hubungin Pak Wiro, dia kan yang megang duit. Iya semuanya dari pisang"


Ezra : "Bagus tuh kita jadiin peluang bisnis"


David : "Iya betul tuh, nanti hasilnya kita jual di BS. Menarik anak muda, tinggal di modif dikit lah penampilannya biar kekinian"


BS singkatan dari Blue Sky, kafe remaja yang didirikan oleh Ratu dan anggota SS. Kafe yang terletak didekat sekolah, tempat berkumpulnya anak-anak sekolahnya dan sekolah lain.


Ratu menyetujui semua saran temannya, ia juga menceritakan bagaimana jadinya jika perkebunan pisang tersebut mereka beli. Ada beberapa kepala keluarga yang menggantungkan kehidupan mereka disana, Ratu tak tega melihatnya.


Gio : "Dih, sejak kapan loe peduli?"


Ezra : "Sejak kenal Neil, jadi baik hati nih. Bagus bagus, terus kan"


Ubay : "Pasti lagi sama Neil, jadian nih jadian"


Ratu : "Sialan kalian"


Ratu memerintahkan Gio untuk membuat surat kerja sama dan daftar pekerjaan yang dibutuhkan untuk mengelola usaha baru mereka ini. Setelah itu Ratu meminta semuanya untuk datang kerumahnya nanti malam, membahas bisnis baru mereka.

__ADS_1


Panggilan Ratu berlangsung cukup lama, hingga saat ia kembali makanan diatas meja sudah hampir habis. Ratu menatap Tania yang asik makan dengan lahap, ia pun mengambil kesimpulan jika olahan ini benar-benar enak.


"Ibu, maaf sebelumnya, apakah ada donatur bernama Afzam Batara?" Tanya Ratu kepada Ibu Tuti, kepala pengurus rumah singgah Kasih Ibu.


__ADS_2