
"Kita lihat, siapa yang bakal mati, gue atau dia" balas Ratu kembali memaksa untuk pergi.
Daren mencengkram tangan gadis itu dengan kuat, apapun yang terjadi ia tak akan membiarkan Ratu pergi seorang diri ke kandang musuh. Ratu sangat kesal dengan perlakuan Daren. Ia kembali menyerang pemuda itu dan membuatnya berlutut dilantai.
"Loe, berani usik urusan gue, berarti loe juga musuh gue" ancam Ratu. Ratu sudah diselimuti oleh amarah yang menggebu, tak ada yang berani menyela dirinya jika sudah seperti ini. Sosok asli dari Ratu yang sering mereka dengar, kejam dan tak berperasaan. Daren terus mencoba lepas dari Ratu, tetapi gadis itu tak goyah sama sekali.
"Kak, cukup, gue udah putusin dia. Gue udah melepas semua hal tentang dia, tolong jangan ungkit ini lagi" pinta Hani lirih.
"Bagus, emang harusnya gitu. Biar gue kasih dia pelajaran" balas Ratu kemudian mendorong Daren menjauh.
Ratu kembali mencoba untuk berjalan pergi, tetapi dengan sigap Ezra dan Faiq melingkarkan lengan mereka pada lengan Ratu. Menyeret gadis itu menuju salah satu pilar yang ada dikantin. Kemudian David dan Aidan mulai mengikatkan tali untuk menahan gadis itu di pilar. Ratu mencoba memberontak, menendang semua yang ada disekitarnya. Tetapi dia bukan apa-apa didepan para pemuda ini. Ia kalah jumlah dan tenaga.
Gio dan Ubay mengambil kursi dan duduk dihadapan Ratu. Ratu sudah seperti tawanan disana. "Ni anak emang harus diginiin biar mau dengerin nasihat kita" ujar Gio. Ubay lalu mempersilahkan Daren untuk berbincang dengan Ratu yang mulutnya sudah di lakban.
Daren tidak bermaksud untuk membela temannya, tetapi ia ingin melindungi Ratu. Menghentikan gadis itu bersikap bodoh dan konyol. Jika Ratu pergi ke sekolah Rizki, dan menghajar pemuda itu disana. Yang terjadi adalah, mereka akan menyerang Ratu tanpa peduli alasan kedatangannya.
Ratu mendengarkan semua perkataan Daren. Kesal? Tentu. Amarahnya yang masih menggebu, berusaha ia redam. Mengatur napasnya, untuk meredam api dalam dirinya. Ratu kini mulai sedikit tenang, iya berusaha berbicara, meminta teman-temannya untuk melepaskan lakban di mulutnya. Daren menarik lakban itu dengan kasar, sebagai pembalasan untuk apa yang telah dilakukan Ratu padanya.
"Sialan loe, bangs*t" maki Ratu seraya menggerakkan bibirnya yang terasa sakit.
"Iya udah oke, lepas dong. Macam tontonan gue, lihat tuh, hilang wibawa gue diginiin" perintah Ratu. Entah apa yang penonton rasakan, ini terlihat lucu, tetapi juga menyeramkan bagi mereka.
"Kalian ini apa-apaan sih? Kenapa dia diikat kayak gini?" Ucap Bilal yang baru saja memasuki kantin bersama teman-temannya. Bilal segera mendatangi Ratu dan melepaskan ikatan gadis itu. "Jadi kucel gini, kamu gak apa-apa kan? Mereka ngapain kamu?" Bilal mulai menunjukkan perhatiannya. Ia membolak-balik tubuh Ratu, melihat barangkali ada yang terluka.
Sang Ratu diam seribu bahasa, didepan pria yang tak mampu membuatnya lupa. Masalalu itu kembali terbesit dengan indah. "Makanya jangan nakal" nasihat Bilal sambil mengelus kepala Ratu dengan sayang. Ratu menatap mata Bilal, rindu, itu yang ia rasakan. Segera ia membalikkan badan, menutupi wajahnya dengan tangan. Pasrah, menyenderkan kepalanya di pilar.
__ADS_1
"Apa'an sih ini, habis action jadi melodrama" celetuk Devan yang sudah tak mampu melihat drama ini lagi.
Bela dan Geya mendapat kode dari Ratu, merekapun menerobos kerumunan lalu membawa gadis itu pergi. "Sialan sih Bilal, awas aja kalau gue gak jadi move on" gerutu Ratu setelah berada jauh dari kantin.
"Drama tadi seru juga, sering-sering lah loe dipermainkan kayak gitu, biar imej kejam loe hilang" ujar Bela dengan tawanya.
"Iya, gue mau ngakak tapi juga takut. Pingin ngevideoin loe tadi" timpal Geya.
Ratu merangkul leher kedua temannya itu. Memeluknya dengan erat hingga kedua gadis itu kesulitan bernapas, barulah Ratu melepaskan mereka.
Didalam kelas, Ratu merasa amat bosan. Mempelajari pelajaran yang sama, membuatnya mengantuk.
Drrtt.. Drttt...
Kak, Kak Rizki ngechat gue, katanya mau jemput gue, gimana? Gue udah gak mau ketemu dia.
Senyuman licik terukir setelah Ratu membaca pesan singkat itu.
To : Hani
Larang dia buat datang, dan jangan balas lagi.
Ratu menunjukkan pesan itu pada Geya dan Bela. Irfan, Bian serta Dafa adalah tamu yang tak diundang, mereka selalu saja ingin tahu dan ikut campur. Kini ke enam remaja itu mulai menyusun rencana mengerjai Rizki.
Gadis itu sangat yakin jika pesan yang dikirimkan oleh Hani pada Rizki, akan membuat pemuda itu datang dengan sendirinya. Harga diri seorang lelaki.
__ADS_1
Begitu bel pergantian pelajaran dimulai, ke enam siswa ini pergi keluar kelas. Menyiapkan semua bahan yang mereka butuhkan. Tim cewek membeli bahan-bahan, sedangkan tim cowok mengambil peralatan dari lab sekolah.
Ratu, Bela dan Geya berlari menuju kelas 1-2. Kelas yang bersebelahan dengan rumah pedagang sayur. Ratu menjulurkan kepalanya menatap seluruh kelas, ia tak menemukan ada seorang guru disana. "Gurunya kemana? Jam kosong?" Tanya Ratu pada seorang murid yang duduk paling depan. Murid itu mengangguk dan menunjuk papan tulis, itu adalah tugas yang diberikan oleh sang guru.
Ketiga gadis itupun masuk ke dalam ruangan. Geya menunggu dipintu, sedangkan Ratu dan Bela menuju tempat duduk disudut depan. "Loe pindah tempat duduk, gue pinjem bentar kursinya" perintah Ratu tanpa basa basi. Gadis itu menumpuk kursi diatas meja. Dengan bantuan Bela yang memegangi kursi, Ratu naik keatas tumpukan tersebut.
Para murid hanya bisa diam memperhatikan. Walau Geya sudah menyuruh mereka untuk melanjutkan tugas, tetap saja rasa ingin tahu mereka lebih besar. "Kak" panggil Neil sembari melemparkan jaket ke arah Bela. Bela menatap Neil bingung, tetapi setelah melihat Ratu, ia menyuruh gadis itu untuk turun. "Kelihatan goblok" ucap Bela seraya memberikan jaket itu pada Ratu. "Bel, loe kok kasar sih. Gak cocok bego" balas Ratu kesal.
Setelah mengikatkan jaket, Ratu kembali menaiki tumpukan itu. Memanggil-manggil ibu penjual disana.
"Mbak Yem, mbak, mbak, yurrr, sayuuur" teriak Ratu yang menimbulkan tawa.
Usahanya tak sia-sia, Mbak Yem si pedagang sayur menoleh kearahnya. "Nak Ratu, mau beli apa?" Tanya Mbak Yem yang sudah tahu kebiasaan gadis itu.
Ratu memesan satu kilogram telur, satu kilogram tepung, setengah kilogram tomat dan dua botol kecap ikan. Sembari menunggu, Ratu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya. "Kalian mau apel gak? Gue pesenin nih sekalian, lumayan buat camilan" tawar Ratu pada adik kelasnya. Mereka semua mengangguk tanpa suara.
"Nih bocah ya, buruan, malah jajan" sahut Geya. "Gue juga mau cowok ada gak?" Sambungnya lagi.
"Loe putus sama Kak Raka? Serius? Wah, buat gue boleh dong" goda Ratu. Geya berteriak kesal, ia berharap apa yang dikatakan Ratu tidak akan terjadi. "Mampus loe, Kak Raka dulu kan suka Ratu" imbuh Bela ikut menggoda. Geya menggerutu sambil menutup kedua telinganya. Membuat Ratu dan Bela tertawa puas.
"Ada lagi?" Teriak Mbak Yem yang sudah siap dengan pesanan Ratu.
"Cowok ada gak Mbak?" Tanya Ratu. Mbak Yem tertawa dan mengikuti permainan gadis itu. Beliau menanyakan pria seperti apa yang Ratu cari.
"Ganteng itu bonus sih Mbak. Gak usah yang manis-manis mbak, yang penting setia" jawab Ratu dengan tawanya.
__ADS_1