Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 67


__ADS_3

Ratu menarik Hera dari pelukannya. Dengan amarah gadis itu berjalan menuju kelas Bilal.


"Bilal mana?" Tanya Ratu pada teman-teman sekelas Bilal yang sedang berbincang.


"Kenapa? Kangen loe" sahut salah seorang teman Bilal.


"Dimana?" Balas Ratu dingin.


Teman-teman Bilal menjadi terdiam setelah melihat raut wajah Ratu. Mereka memberitahu jika Bilal sedang berkeliling membagikan formulir pendaftaran untuk murid kelas satu dan dua.


Setelah mendapat informasi, Ratu segera pergi mencari Bilal. Ezra dan David yang memang satu kelas dengan Bilal, mereka mengikuti kemana Ratu pergi.


Dengan tangan mengepal, setiap kelas Ratu masuki untuk mencari Bilal. Amarahnya terlalu menggebu, hingga tak mendengar setiap orang yang memanggil namanya.


"Ratu ada apa?" Teriak Ezra menahan kepergian Ratu.


"Bukan urusan kalian" sentak Ratu kesal. Ia kembali meneruskan pencariannya.


"Ratu tunggu, gue akan bicara lagi dengan dia. Jangan buat keributan, gue mohon" pinta Hera yang juga mengikuti Ratu sedari tadi.


Ratu menatap Hera, mungkin itu yang terbaik. Tapi jika Bilal tak ingin bertanggungjawab, Ratu yang akan meminta pertanggungjawaban itu apapun yang terjadi. Mereka semua akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing.


Disisi lain.......


Neil juga tidak bisa fokus pada pelajarannya. Ia mencoba mengingat kejadian semalam, namun hanya sampai ia mencoba menanggalkan pakaian Ratu.


"Apakah semalam benar-benar terjadi? Kenapa gue tidak mengingatnya? Gue ingin mengingat malam bersama Kak Ratu, ah menyebalkan" gumam Neil gusar.


"Neil, kau baik-baik saja?" Tanya Pak Cipto yang melihat gelagat aneh dari Neil.


"Maaf Pak, saya sedikit pusing" jawab Neil sembari memegangi kepalanya.


Pak Cipto yang mendengar muridnya sedang sakit, tentu menyuruh sang murid untuk pergi UKS. Beristirahat dan menenangkan pikirannya sebelum mengikuti pelajaran lagi.


Neil pergi menuju UKS, membaringkan dirinya di ranjang paling pojok. Ia masih berusaha mengingat malam itu, malam menyenangkan saat dirinya dan Ratu memadu kasih, malam penuh cinta dan nafsu.

__ADS_1


"Kenapa harus hamil sih? Terus gimana kalau cowok brengsek itu gak mau tanggung jawab?" gumam seseorang dari ranjang sebelah.


Neil mengalihkan pandangannya, menatap siluet hitam yang mondar-mandir sambil mengoceh.


"Kak Ratu" gumam Neil. Ia mengenal suara Ratu dengan sangat baik, dan suara itu mirip dengan suara Ratu.


"Awas aja kalau gak mau tanggung jawab, gue gak akan segan-segan buat hancurin keluarganya. Kalau aja gue ketemu dia, pasti gue tonjok. Beraninya dia hamilin anak orang tapi gak mau tanggung jawab, cowok brengsek" gerutu Ratu kesal.


"Ha? Kak Ratu hamil? A..anak gue dong?" Tanya Neil pada dirinya sendiri. Ia masih terus menatap siluet itu dari balik tirai. Pikirannya kembali tak menentu, hatinya kembali merasa resah.


Sreeekkkk....


Tirai terbuka dengan lebar, mata Neil dan Ratu saling bertemu. Neil mengedarkan pandangan, menatap Ratu yang sedang memegangi perutnya.


"Kamu sakit?" Tanya Ratu seraya menghampiri Neil. Ia memegang dahi Neil, tidak panas, tapi wajah Neil terlihat sangat pucat.


Neil menarik pinggang Ratu untuk mendekat, menempelkan kepalanya pada perut Ratu. "Aku akan bertanggungjawab" gumam Neil lirih.


Ratu menatap pemuda itu dengan aneh, ia tidak mengerti apa yang sedang Neil katakan.


"Apa ini suara anak gue?" Gumam Neil sangat pelan, hingga Ratu tak dapat mendengarnya.


"Maaf Neil, aku lapar" celetuk Ratu. Ia berjalan mundur menjauhi Neil. Menepuk kepala Neil singkat lalu pergi ke kantin. Karena sudah jam istirahat, ia bisa dengan leluasa makan di kantin.


"Anak gue lapar? Gue harus memberinya makan, pasti nafsu makannya Kak Ratu makin bertambah karena ada dua nyawa dalam tubuhnya" pikir Neil. Ia segera beranjak dari ranjang dan mengikuti Ratu yang sudah lebih dulu menuju kantin.


Saat sampai di kantin, Neil menatap Ratu yang sedang makan di mejanya. Ratu sedang makan sambil berbincang bersama Liam dan Damar. Neil lalu berjalan mendekat dan duduk disamping Ratu.


"Mau makan yang lain? Masih lapar gak? Aku beliin makanan lain ya? Mau minum apa? Jus? Susu?" Oceh Neil begitu ia duduk disamping Ratu.


Ratu tersentak dengan kehadiran Neil, ia berdiri dan mencoba pindah tempat duduk. Namun saat ia hendak pindah, perutnya terbentur meja. Sekali lagi Neil mengoceh tak karuan, ia bahkan mengajak Ratu untuk pergi kerumah sakit.


"Kita kerumah sakit yuk, nanti kalau ada apa-apa gimana? Aku gak mau kamu kenapa-kenapa" ujar Neil sembari menarik Ratu untuk pergi.


"Neil, kamu masih mabuk ya" bisik Ratu pelan. Pemuda itu menggeleng, ia tak sedang mabuk, hanya khawatir pada Ratu dan anaknya.

__ADS_1


Ratu mendorong Neil untuk duduk ditempatnya dan dia pergi menuju meja Bela untuk makan disana. Neil mencoba mengikuti Ratu, namun gadis itu membentak Neil. Ratu tak ingin berada di dekat Neil.


Neil mengalah, ia menuruti permintaan Ratu, sebab dalam pikirannya, tak baik membuat Ratu semakin kesal dalam kondisinya yang sekarang. Ia terus saja menatap Ratu yang makan dengan lahap. Tak sekalipun Neil mengalihkan pandangannya dari Ratu.


"Ratu, kita harus bicara" ucap Bilal yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka.


Ratu menoleh ke arah Bilal, dengan mulut yang penuh makanan dan belepotan. Spontan Bilal menyeka sisa makanan di bibir Ratu, membuat Neil berdiri karena menatapnya.


"Kalian mau pergi kemana? Gue ikut" sela Neil.


Ratu dan Bilal menatap Neil. Bilal dengan tegas melarang Neil untuk ikut, begitu juga dengan Ratu. Tetapi Neil terus memaksa, hingga Ezra dan David harus turut ikut serta untuk menahan Neil. Mau tidak mau, Neil hanya bisa menatap Bilal dan Ratu yang pergi menjauh.


"Neil, ada apa? Loe bisa cerita ke kita" Tanya David sembari menepuk pundak Neil.


"Gak apa-apa Kak, gue cuma takut Kak Ratu kenapa-kenapa. Apa Kak Ratu masih ingin jauh dari gue? Kak, dia bisa lindungi gue kan, Kak Ratu punya segalanya, tidak akan ada yang berani menyentuhnya bukan?" Ocehan Neil kembali terulang.


"Loe benar, tidak akan ada yang berani menyentuh Ratu, tapi loe gimana? Ratu gak selalu ada didekat loe kan?" Sela Gio.


"Gue bisa jaga diri Kak, gue gak bisa jauh dari dia" gumam Neil lirih.


Para pemuda itu mengerti, pasti sangat sulit bagi Neil untuk jauh dari Ratu. Mengingat mereka begitu dekat dan sering menghabiskan waktu bersamanya. Namun, Ratu hanya mengkhawatirkan keadaan Neil dan bukan dirinya. Ratu tahu, Ayahnya tak akan membiarkan dia terluka. Tapi Neil? Ratu akan menggila jika melihat Neil dalam radar atau jangkauan para penjahat.


"Loe pikir Ratu bakal bisa jauh dari loe? Loe lihat sendiri kan, apa pernah sehari aja loe gak lihat dia? Dia pasti bakal cari seribu cara buat berada didekat loe Neil" jelas Gio.


"Tapi Kak..."


"Neil, jangan mendekati Ratu, karena dia tidak akan bisa mengendalikan situasinya. Tapi biarkan Ratu sendiri yang mendekatimu, jika Ratu mendekatimu, itu berarti ia sudah meminimalisir semuanya, rencananya untuk menjagamu" imbuh Gio.


"Ratu pernah depresi karena Daniel pergi meninggalkannya. Ia terjerumus dengan obat-obatan terlarang. Dia bahkan mencoba untuk mengakhiri hidupnya" sela Faiq yang baru saja bergabung dengan mereka.


Neil, Damar dan Liam sangat terkejut mendengar berita baru ini. Karena memang tak ada yang pernah membahas hal ini sebelumnya, tak ada yang coba menguak masalalu kelam Ratu.


"Kami semua tahu bagaimana sifat dan sikap Ratu. Gue bakal saranin ke loe, untuk tidak berharap terlalu jauh pada Ratu. Ia mungkin mencintaimu, tapi tujuan hidupnya lebih penting dari orang yang ia cintai" nasihat Faiq itu cukup membuat Neil tercengang. Pasalnya, Neil masih berpikir jika Ratu sedang mengandung anaknya.


"Suatu hari nanti, Ratu pasti akan pergi ninggalin loe. Dan itu pasti, mending loe jangan terlalu berharap" timpal Ubay lalu pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


__ADS_2