Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 43


__ADS_3

Neil telah sampai didepan club malam. Dengan langkah sedikit ragu ia memasuki tempat baru. Gelap tapi sangat ramai anak muda. Neil seorang diri disana, ia tidak mengajak Liam dan Damar karena tak ingin mereka berada dalam masalah.


Matanya tak lepas dari pria dan wanita yang sedang memadu kasih disana. Orang mabuk dan berteriak juga tak luput dari pandangannya. Beberapa wanita berbaju seksi mendekati Neil dan mencoba menyentuh dirinya. Ia bergegas pergi mencari sosok Ratu. Kesana dan kemari, Neil masih belum menemukannya.


"Oi bro, sendiri nih, ikut kita aja" ujar salah seorang pemuda. Neil tidak mengenalnya, tapi pemuda itu merangkul pundaknya seakan mereka teman akrab.


Digiringnya Neil menuju tempat pemuda itu berkumpul bersama teman-temannya. Dimeja terlihat beberapa alkohol dan sebuah suntikan. Benar, mereka sedang pesta n*rkoba. Dalam keadaan mabuk, mereka memaksa Neil untuk ikut bergabung. Dua orang memeganginya, dan satu orang hendak menyuntikkan sesuatu ke tubuh Neil. Pemuda itu berusaha berontak, melepaskan cengkraman dua orang yang sedang terpengaruh obat-obatan.


"Ka..kalian siapa, lepasin gue" teriak Neil berusaha melepaskan diri.


Tetapi ketiga pemuda itu sudah tidak sadar, mereka tetap akan menyuntikkannya pada Neil. Neil sudah keringat dingin, ia sangat ketakutan disana. Tidak, ia tidak boleh sampai tersuntik, itu adalah obat berbahaya.


Bbukkk... Bbbukk... Prangg... Pyaar...


Seseorang datang, memukuli tiga pemuda itu dengan membabi buta. Pukulan demi pukulan ia layangkan, bahkan tendangan tanpa ampun ia lakukan. Melempar ketiga pemuda mabuk itu hingga tersungkur ke lantai.


Ketiga pemuda itu bangkit dan mulai membalas, tapi sekali lagi mereka malah tersungkur tanpa ampun.


"Ratu, stop, berhenti" teriak Daren berusaha menghentikan Ratu yang sudah terbenam dalam emosi membara.


"Bangs*t, bangun kalian, beraninya tangan kotor kalian, sini... sialan anjing bangsa*t" umpat Ratu penuh emosi. Ia mendorong Daren menjauh kembali menghampiri tiga pemuda yang sudah tak mampu bangkit. Butuh setidaknya tiga orang untuk menahan Ratu yang sudah tersulut emosi.


"Ratu udah, mending loe samperin Neil" ujar Daren mencoba mengalihkan perhatian Ratu. Gadis itu berjalan menghampiri Neil yang sedang ketakutan. Dipeluknya Neil sembari mengelus rambutnya. "Tidak apa-apa, aku ada disini" bisik Ratu.

__ADS_1


Neil memeluk Ratu, melepaskan semua rasa takutnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika obat itu masuk dalam tubuhnya. Bukan obat, tapi racun, itu adalah racun yang berbahaya. Pemuda itu menangis, ia tidak mengira jika tempat ini begitu menyeramkan. Neil baru saja duduk di bangku SMA, dunianya terlalu kecil untuk mengetahui ada tempat seliar ini di kota tempat tinggalnya.


Ratu mengajak Neil masuk ke mobilnya, dan memberikan kunci motor Neil pada Daren. "Kamu kenapa ada disini? Disini itu bahaya" Tanya Ratu.


"Kalau disini bahaya, kenapa kamu disini?" Balas Neil seraya menatap Ratu dengan mata sendu. Ratu kembali menarik Neil dalam pelukannya, mengelus lembut rambut Neil dengan penuh kasih sayang.


Setelah melepas pelukan singkat itu, Ratu melajukan mobilnya menuju rumah Neil.


"Kamu kenapa sih? Gara-gara rumor sama Bilal itu ya" tembakan Neil tepat sasaran.


"Aku tau kamu pasti berpikir jika semua itu benar, aku hanya sedang tak ingin memikirkannya" jawab Ratu singkat.


"Tidak, aku tidak mempercayai rumor itu" sahut Neil.


"Aku, aku lebih mempercayai kata hatiku. Aku percaya rumor itu sebuah kebohongan. Aku.. aku..." Neil nampak Ragu melanjutkan perkataannya. Sedangkan Ratu, ia menepikan mobilnya untuk membeli air minum.


"Tepikan mobilnya" pinta Neil ketika mereka hendak memasuki kawasan rumah Neil. Ratu menuruti perintah itu, ia menepikan mobilnya.


Neil menarik Ratu dengan kasar ke arahnya, membuat Ratu duduk dipangkuannya. Tanpa basa-basi ia melu mat bibir gadis itu. Ratu hanya diam, ia tak merasakan cinta, ini hanyalah amarah Neil. Kebenciannya karena mengetahui rumor itu.


Walau tahu kebenarannya, Ratu membiarkan Neil menciumnya. Hingga pemuda itu merasa lelah karena amarahnya.


"Kenapa? Kenapa kamu hanya diam?" Tanya Neil. Neil menatap Ratu, sedih, hatinya terluka.

__ADS_1


"Neil, denganmu, ataupun Bilal, aku tidak akan bisa melakukan hal seperti itu. Karena aku membuat batasan dalam diriku" jelas Ratu. Ia berusaha pergi dari pangkuan Neil, tetapi pemuda itu menahannya. Ia tak ingin Ratu pergi darinya, tidak lagi.


Ratu mengecup bibir Neil dua kali, lalu mengecupnya lagi, menahannya sedikit lebih lama. "Kau jauh lebih berani daripada Bilal. Aku menyukainya. Sudah ayo kita pulang, kamu harus belajar" ujar Ratu. Ia kembali ke tempat duduk pengemudi, melajukan mobilnya menuju rumah Neil.


Cup...


Neil mengecup pipi Ratu singkat. "Aku sayang kamu, hati-hati ya pulangnya" ujar Neil lalu keluar mobil. Ia melambaikan tangannya pada Ratu, menunggu Ratu hingga pergi menjauh dari rumahnya.


Mobil Ratu melaju kembali ke club, ia masih tak terima dengan perlakuan tiga pria bodoh itu. Dengan hati yang dipenuhi dendam amarah, Ratu memasuki club. Ia berdiri di depan tiga pria bodoh yang sudah sadar.


Ratu melayangkan pukulannya pada ketiga pemuda. "Gue peringatkan, siapapun yang berani menyentuhnya, gue tidak akan diam" ancam Ratu lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Kenapa Neil bisa ada disini?" Tanya Ratu saat masuk kedalam ruangan. Daren dan teman-temannya sudah tertunduk lesuh. Mereka menyesali perkataannya, menunjukkan tempat ini pada Neil.


"Jangan pernah kalian bawa Neil ketempat seperti ini lagi, atau... ash sialan. Gimana kalau gue terlambat datang? Untung aja Geya nelepon gue" gumam Ratu penuh amarah.


Gadis itu memukul-mukul dinding, tak peduli bahkan jika tangannya terluka. Walau tak terjadi apapun pada Neil, ia tetap saja menyalahkan dirinya. Harusnya ia tak menjauhi Neil bahkan untuk sedetikpun. Harusnya dia menyadari, ketidakhadirannya akan membuat Neil mencari dirinya.


Kembali ia minum-minum untuk meluapkan amarahnya. Memecahkan semua botol minuman yang habis ia tenggak. Ia pun pergi setelah minum tiga botol alkohol. Ratu melajukan mobilnya pulang ke rumah.


"Kak Ratu darimana? Main sama Kak Bilal?" Celetuk Tania yang berpapasan dengan Ratu.


"Kamu gak percaya sama Kakak? Terserah kamu, Kakak capek mau tidur" jawab Ratu ketus.

__ADS_1


"Asik ya main sama pacar orang? Kak Ratu gak mikir apa, aku juga cewek Kak, gimana kalau nanti pacarku selingkuh atau suamiku. Ini semua karena tingkah buruk Kakak. Aaku benci Kak Ratu" balas Tania lalu pergi turun untuk mengambil air minum.


Ratu menatap adiknya, ia kecewa, sebesar itukah rasa percaya Tania padanya. Sejelek itukah sikap Ratu hingga adiknya bisa berpikir ia melakukan hal sehina ini. Ratu menyeka air matanya, ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan ini. Tunggu pembalasannya, Ratu akan membungkam mulut kotor dan tangan menjijikkan Hera setelah penilaian semester berakhir.


__ADS_2