
"Sayang, besok main yuk, ke club. Udah lama gak kesana" ajak Bilal manja. Ia menaruh dagunya dipundak Ratu.
"Tumben, emangnya sayangnya aku ini udah kuat minum berapa botol?" Sahut Ratu gemas.
Saat pasangan itu sedang bermesraan, mereka mengusik nafsu makan Damar dan Liam. Beberapa kali kedua pemuda itu melirik dan membuat gestur ingin muntah. Keinginan kuat mereka untuk mengusir Bilal jika bisa.
Berbeda dengan Neil yang nampak biasa saja, ia asik menikmati makanannya. Bukan tanpa sebab, Ratu yang nakal ini, menggenggam tangan Neil dengan erat. Jalan pikiran Ratu memang aneh, ia bermesraan dengan sang kekasih, tapi masih saja menggandeng tangan pria lain.
Setelah selesai makan, Tania mengajak Kakaknya untuk pergi ketempat lain. Ia berbohong pada Bilal jika mereka akan pulang tapi sebenarnya mereka akan pergi ke pasar malam.
"Sampai jumpa Kak Bilal, kita mau pulang. Kak Bilal hati-hati ya" pamit Tania tanpa basa-basi.
"Iya, kalian juga ya hati-hati. Daaah sayang" ujar Bilal seraya melepas rangkulannya pada pinggang Ratu.
"Kamu juga hati-hati ya sayang daah" balas Ratu. Bilal mengecup bibir Ratu singkat dan pergi meninggalkan mereka semua.
Setelah memastikan kepergian Bilal, Tania menghadang jalan Ratu. Ia meminta penjelasan mengenai hubungan Kakaknya dengan sang mantan pacar.
"Apa Kakak Neil saja tidak cukup untuk Kakak?" Tanya Tania. Ratu memandangi adiknya itu, ia kembali bertanya hal yang sama pada Tania. Sebab Tania pasti tahu benar seperti apa Ratu.
"Hm.. Iya oke, kalau bisa dapat dua-duanya kenapa harus satu kan?" Ucap Tania kesal. Tania kecil tak ingin membahasnya lebih lanjut, ia tahu akan selalu kalah dihadapan sang Kakak. Ia pun mengajak teman-teman untuk berjalan lebih dulu.
Damar dan Liam juga menyusul anak-anak, memberi ruang untuk Neil berbincang dengan Ratu. Mungkin ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.
"Kak Ratu" panggil Neil lirih.
"Neil, seperti yang kau bilang, kita hanya teman kan. Jadi, kau ataupun aku, tidak memiliki hak untuk menahan apapun. Entah itu kau atau aku yang ingin pergi, maka kita harus menerima bukan?" jelas Ratu bahkan sebelum Neil mengatakan apapun.
Neil hanya mengangguk dengan senyuman terpaksa. Bukan ini yang ia harapkan, kesempatan itu hilang lagi. Kesempatan untuk menyatakan cintanya dan mengajak Ratu berkencan.
__ADS_1
Neil mulai ragu kembali, disaat ia ingin mengikat Ratu, seakan dunia tak memiliki restu. Mungkinkah menjauh adalah jawaban? Jawaban untuk mencegah luka datang.
Ratu menarik tangan Neil, mereka sudah tertinggal jauh oleh yang lain. Pemuda itu hanya bisa mengikuti kemana Ratu membawanya pergi.
Didalam mobil ...........
Tania bersikukuh untuk pergi ke pasar malam, dengan dalih esok adalah hari libur mereka. Teman-teman Tania juga merengek pada Ratu, menyuruh Ratu untuk meminta ijin pada orang tua mereka agar bisa bermain di pasar malam.
Ratu tepaksa menepikan mobilnya, memanggil Neil dan yang lain untuk berdiskusi.
"Kalian mau ikut? Ini gue lagi nelepon orang tua mereka. Kalau kalian gak mau ikut gak apa-apa, gue udah panggil teman-teman gue, gue gak bisa jaga mereka sendiri ditempat yang luas" jelas Ratu pada ketiga pemuda itu.
Ketiga pemuda itu menjauh dari Ratu, mereka sedang berunding akan sesuatu. Meninggalkan Ratu yang sibuk menelepon dan meminta ijin.
"Gimana? Ikut aja lah, lagian si Neil gak berhasil nembak kan tadi. Nanti kalian berdua pergi kemana gitu, kali ini loe harus nembak Kak Ratu" ujar Damar dengan serius.
"Yaudah, nyatain dulu, kita lihat kedepannya. Loe dari pada nyesel, nahan perasaan, mending ketahuan kan kalau ditolak hahaha" balas Liam.
Liam benar, setidaknya pernah mencoba, kali ini harus lebih serius. Hasil itu bisa kita nikmati jika sudah berusaha dengan keras. Jika tak memuaskan, maka usaha kita kurang keras, sangat simpel.
Pada akhirnya mereka bertiga ikut dengan Ratu. Ratu juga telah meminta ijin, ia mendapatkan ijin untuk membawa mereka semua pergi, dan nantinya akan menginap di rumah Ratu. Karena saat pulang pasti hari telah larut, dan membangunkan orang rumah rasanya itu tidak baik. Jadi Ratu meminta ijin agar mereka bisa menginap.
Ratu memarkirkan mobilnya, ia melihat para anggota SS telah berkumpul disana. Satu persatu anak-anak turun dari mobil Ratu.
"Ya Ratu, loe mau kita jagain anak-anak ini ya?" Teriak David terkejut melihat kelima anak.
"Satu-satu ya, kalian gak boleh jauh dari mereka mengerti? Jika ada apa-apa langsung hubungi gue" jelas Ratu memimpin mereka masuk ke pasar malam. Ratu membayar semua tiket masuk, ia juga mengatakan jika ingin membeli apapun hanya perlu meminta padanya.
Mereka semua mengangguk mengikuti instruksi Ratu. Tania menghampiri Gio dan membisikkan sesuatu padanya. "Kak Gio, buat Kakak dan Kak Neil bersama. Kumohon tolong aku" pinta Tania dengan wajah lugunya.
__ADS_1
Gio mengangguk, ia lalu menarik Damar dan Liam membisikkan pesan dari Tania. Tentu saja mereka berdua setuju, sebab itulah tujuan mereka dari awal. Memberi waktu dan ruang untuk Neil berdua bersama Ratu.
"Kita akan menjaga mereka, jadi kenapa kalian tidak jalan-jalan berdua saja?" Saran Gio.
"Tidak perlu, gue ikutin kalian aja" jawab Ratu cuek.
"Oke, gue akan ajak Kak Ratu jalan. Kalian have fun ya, byee" sela Neil lalu menarik tangan Ratu ke arah yang berbeda.
Neil menggandeng tangan Ratu erat, membawanya berjalan-jalan keliling pasar malam. Langkahnya tahu benar kemana tempat tujuan itu. Antrean panjang untuk menaiki wahana tertinggi di pasar malam.
"Males nunggu panjang, pasti lama" gerutu Ratu setelah melihat antrean didepannya.
"Mau aku gendong biar gak capek?" Tawar Neil. Ratu tertawa kecil menanggapi perkataan bodoh pemuda dihadapannya. Pada akhirnya ia mengikuti permintaan Neil. Walau rasa khawatir akan adik-adiknya terus menghantui.
Setiap lima menit sekali, Ratu akan menelepon Gio, menanyakan apa saja yang sedang mereka lakukan. Ia bahkan kerap mengabaikan Neil yang mengajaknya berbincang.
"Kak, kita lagi makan. Kak Ratu senang-senang aja sama Kakak Ipar, jangan telepon lagi. Byeee" ucap Tania mematikan teleponnya. Ratu tersenyum kecil, adiknya memang nakal.
"Kak, giliran kita naik" ujar Neil menarik tangan Ratu untuk naik bianglala.
Bianglala itu sangat tinggi, karena itu antreannya sangat panjang. Memerlukan waktu beberapa menit untuk sekali putaran penuh.
Ratu duduk berhadapan dengan Neil, ia tak berniat menikmati apapun dibawah disana. Begitu juga dengan Neil yang hanya menatap gadis dihadapannya.
"Kak Ratu" panggil Neil. Ia menggenggam kedua tangan Ratu, menatapnya dengan serius. Ratu berbalik menatap Neil, mencari jawaban dari panggilannya.
"Kamu..." ujar Neil sedikit ragu. Ia berusaha menenangkan hatinya, menarik kepercayaan dirinya kembali.
"Aku sayang kamu, sangat. Aku mencintaimu, kamu... mau jadi pacarku?" Sambung Neil tanpa terbata-bata.
__ADS_1