Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 82


__ADS_3

Esok harinya, para murid telah berkumpul dilapangan indoor. Kegiatan mereka hari ini adalah mempelajari dasar dari bela diri. Zayden tengah memperkenalkan dirinya, juga menjelaskan beberapa hal mengenai salah satu bela diri yang ia pelajari, Muay Thai.


Beberapa murid tampak antusias mendengarkan, mereka tak sabar melihat bagaimana Zayden memulai dasar dari pembelajarannya.


Tepuk tangan riuh terdengar setiap kali Zayden mempraktekkan beberapa gerakan. Ia bahkan meminta para murid maju kedepan untuk mencoba. Tak sedikit yang ingin mencobanya, bahkan Neil juga terlihat tertarik mencoba.


Ratu tak bisa melepaskan pandangannya dari Neil. Ia duduk tepat dihadapan Neil, bela diri sama sekali tak menarik lagi untuknya. Ratu tak bisa tidur semalaman, bahkan wajahnya terlihat sangat kacau.


Kini gadis itu memperhatikan setiap gerak-gerik Neil. Ia tak ingin jika kekasihnya itu terluka, terlebih musuh itu berada didekat Neil.


"Tunggu-tunggu gue aja yang contohin" sela Ratu lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Zayden, dan kini berhadapan dengannya.


Mereka memulai pertunjukkan kecil dengan sedikit kekuatan. Awalnya semua berjalan lancar, tetapi Ratu mulai memancing amarah Zayden. Ia mengatakan jika cekikikan Zayden waktu itu tak terasa sakit sama sekali.


Bukan tanpa alasan Ratu memancing emosinya, sebab gadis itu tahu benar bagaimana watak teman latihannya. Benar saja, Zayden tiba-tiba merubah sikap dan membanting Ratu ke lantai. Ia menatap Ratu dengan mata penuh amarah. Dan seperti yang Ratu harapkan, Zayden mencekiknya.


Ratu menahan rasa sakit itu, ia tersenyum seolah semua baik-baik saja. Hingga amarah Zayden berada dipuncak, semua panitia masuk ke arena, menarik Zayden menjauh dari tubuh Ratu.


"Uhuk-uhuk" Ratu terbatuk-batuk karena kehabisan napas. Wajahnya sudah hampir pucat, serta lehernya kembali menunjukkan bekas merah.


"Gila loe, beraninya loe nyakitin Ratu" bentak Gio yang tak bisa mengendalikan amarahnya.


Beberapa guru juga ikut serta mengatasi masalah yang terjadi. Mereka sedang meminta penjelasan pada Zayden. Sedangkan Ratu, ia dikelilingi oleh para gerombolannya. Bahkan Neil pun ikut serta melihat keadaan Ratu dari dekat.


"Seandainya gue benar-benar pergi hari ini, gue gak perlu mikirin permintaan Neil" gumam Ratu.


"Terus kamu mau aku hidup dengan rasa penyesalan?" Sentak Neil tak kalah kalut dalam emosinya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Ratu.


Tentu saja Ratu tak ingin melakukannya, itu sangat menyakitkan. Bahkan sampai saat inipun ia masih hidup dengan rasa penyesalan itu. Ingin rasanya Ratu pergi, tetapi seolah ada hal yang masih menghantui dirinya.


"Elang" celetuk Faiq.


Mereka semua termasuk Ratu segera mengalihkan pandangan mengikuti arah pandang Faiq. Seorang siswa yang tengah berbincang dengan Pak Cipto. Siswa itu sangat mirip dengan Elang.

__ADS_1


"Pssstt" Ratu memberikan kode agar mereka tak terlalu lama menatap ke arah Elang.


Neil menggendong Ratu dan membawanya ke tepi lapangan, menyenderkan tubuh kekasihnya pada dinding. Ia memperhatikan bekas merah dileher Ratu, raut wajah khawatirnya tak bisa disembunyikan.


"Mau kamu itu apa? Aku itu salah apa? Sampai kamu mau pergi ninggalin aku?"


"Aku juga ingin tahu kesalahanku Neil, sampai Daniel pergi ninggalin aku"


"Cukup, ini aku bukan Daniel"


Neil tak suka jika Ratu terus saja membandingkan dirinya dengan Daniel. Seolah Ratu masih mencari sosok Daniel dalam diri Neil.


Ratu tersenyum, ia mengelus pipi Neil. Ia sangat menyayangi Neil, tidak, Ratu bahkan mencintai pemuda itu. Separuh nyawa Ratu kini ada pada diri Neil.


"I love you Neil, sangat"


"I love you too, sayang" ucap Neil lalu mencium kening kekasihnya.


Setelah adegan manis itu, terdengar suara deheman dari belakang Neil. Para teman-teman Ratu tengah memandangi pasangan itu dengan tatapan tajam. Mereka tak habis pikir, sedang terluka pun Ratu masih bisa mencari kesempatan untuk meminta kasih sayang dari Neil.


Bahkan Gio dan Faiq juga ikut resah mengetahui semuanya. Mereka berdiri dan pergi meninggalkan Ratu bersama Neil.


"Ada apa? Kenapa mereka terlihat gelisah?"


"Kamu gak perlu tau sayang ku, cium dong" pinta Ratu seraya memanyunkan bibirnya.


Neil menepuk jidat Ratu, ia menggeleng dan pergi kembali ke tempat duduknya. Ia masih marah dengan Ratu, walau gadis itu tahu sebenarnya Neil pun tersiksa karena amarahnya sendiri.


Setelah mendapat oksigen yang cukup, dan napasnya kembali teratur. Ratu berdiri menghampiri teman-temannya. Terlihat Bilal dan beberapa guru berjalan mendekati Ratu.


Mereka ingin memeriksa keadaan Ratu, namun gadis itu sudah berdiri tegak seolah tak ada hal buruk yang menimpanya.


"Ratu, kau baik-baik saja? Coba aku lihat" ucap Bilal. Ia memutar-mutar tubuh gadis itu, mencari disetiap inci bila saja ada luka yang tak terlihat selain lehernya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa Ratu?" Tanya Pak Cipto.


Refleks Ratu melangkah mundur ketika Pak Cipto berjalan mendekati dirinya. Ia tak bisa menahan diri dan berpura-pura tidak ada hal diantara mereka. Tetapi Gio dan Faiq menahannya, mereka sudah berdiri dibelakang Ratu.


"Tidak apa-apa Pak, saya hanya butuh istirahat saja" jawab Ratu.


Gio berpamitan pada para guru dan panitia lainnya untuk membawa Ratu pergi dari lapangan. Mereka menuju kamar Gio dan mulai menyusun rencana selanjutnya. Kini mereka tahu, Pak Cipto juga ikut andil, tapi tidak dipihak dengan Ratu dan kawannya.


"Sialan, selama ini kita berbagi informasi dengan Pak Cipto" gerutu Gio kesal.


"Loe udah tahu sejak kapan Ratu? Dan kenapa loe diem aja?" Sentak Faiq.


"Sejak gue tahu tentang Elang" jawab Ratu.


Mereka semua mengacak rambut mereka gusar. Pantas saja tak ada lagi informasi lebih lanjut yang mereka dapat, pasti Pak Cipto memihak orang lain dan menghambat penyelidikan para murid ini.


Jika mereka saja gelisah seperti ini, apalagi Ratu yang sangat mempercayai Pak Cipto. Ia bahkan selalu mencurahkan isi hatinya pada guru tersebut.


Pengkhianatan memang selalu menyakitkan, Pak Cipto rupanya memiliki rencana lain.


"Kita culik saja Pak Cipto"


"Lalu kita buang ke luar negeri"


"Gue gak nyangka, ini gila"


Ratu tak menggubris temannya yang sedang marah, ia memikirkan rencana lain. Rencana untuk membuka mulut Zayden, sebelum pria itu mendekati Neil.


"Lupakan dia, kita pikirkan cara untuk membuka mulut Zayden" perintah Ratu.


"Zayden juga?"


"Tapi dia kan, oh astaga"

__ADS_1


"Apa semua ini rencana mereka? Sejauh ini? Loe yakin?"


__ADS_2