Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 30


__ADS_3

Esok hari disekolah, para wali murid sudah berada di aula sekolah. Duduk sembari menunggu dimulainya acara. Para murid kelas satu, juga telah duduk dengan tertib.


Acara belum dimulai, sebab murid-murid masih belum berkumpul. Walau sudah diumumkan berkali-kali, mereka masih saja tidak segera memasuki aula. Sepuluh menit terbuang sudah dari waktu yang telah ditentukan.


Ratu dan geng SS memasuki aula layaknya segerombolan James Bond. Mereka berjalan dengan angkuh menuju tempat duduk dibagian depan. Tempat duduk untuk para anak kelas tiga. "Kok kosong?" celetuk Ezra ketika mereka duduk dibagian depan. Mereka saling dan tidak peduli akan hal itu.


Lima menit berlalu sudah, dan acara masih belum berlangsung. Para wali murid sudah saling berbincang dan mengeluh karena hal ini.


Ratu berdiri, berjalan menuju kursi Neil. Tetapi langkahnya terhenti ketika Bapak Kepala Sekolah memanggilnya. "Ratu, sini, naik keatas panggung" perintah Bapak Kepala Sekolah. Dengan malas gadis itu melangkah menuruti perintah. Pak Kepsek membisikkan sesuatu pada Ratu, lalu gadis itu mengambil alih mikrofon.


"Pengumuman, untuk seluruh murid SMA Sinar Mutia harap pergi ke aula sekarang juga. SELURUHNYA TANPA TERKECUALI. Satu menit dari sekarang, atau saya akan menjemput kalian" ucap Ratu dengan tegas. Gadis itu kemudian berdiri memandangi pintu masuk aula.


Tak berselang lama kerumunan murid masuk saling berdesakan. Mereka bergegas duduk ditempat duduk mereka. Masih terlihat beberapa murid yang berjalan malas-malasan. Membuat Ratu mengangkat tangannya menghitung mundur. Kembali semuanya berlari sekuat tenaga menuju tempat duduk mereka.


Ratu berpamitan pada Pak Kepsek untuk turun dari panggung dan menuju tempat duduk. "Terimakasih ya, silahkan duduk" ujar Pak Kepsek seraya menepuk bahu Ratu. Gadis itu turun dari panggung, tetapi langkahnya tak berhenti di tempat duduknya. Ia berjalan menuju kursi Neil.


"Eits mau kemana kamu?" Tanya seseorang seraya menarik kerah belakangan seragam Ratu. Ratu sangat kesal, ia pun menoleh, dan..


Deg...


"Bilal" gumam Ratu lirih.


Pemuda itu menggiring Ratu untuk duduk di kursinya. Dan dia juga duduk disamping Ratu, seraya menaruh tangannya di kursi gadis itu. Seolah ia tak akan membiarkan Ratu pergi darinya.

__ADS_1


Acara telah dimulai, sambutan-sambutan, petuah-petuah dari Bapak Kepala Sekolah telah tersampaikan. Penjelasan mengenai sistem belajar, rencana-rencana yang akan dilakukan sekolah untuk kedepannya juga telah tersampaikan. Para murid beserta orang tua mereka telah mengetahui visi dan misi sekolah untuk kedepannya.


Walau ada hal yang begitu penting disampaikan oleh Pak Kepsek. Perhatian Ratu masih teralihkan pada seseorang dibelakang sana. Seseorang yang mencuri perhatian dan fokusnya. Gadis itu menoleh kebelakang, menatap Neil yang sedang mendengarkan dengan serius. Ingin rasanya Ratu berlari kesana, tetapi Bilal terus memegang bahunya, menghentikan setiap tindakan Ratu.


"Gimana gue bisa move on, kalau masalalu terus memaksa untuk tinggal" gerutu Ratu lirih. Matanya masih saja menatap Neil, walau banyak murid yang menghalangi. Para murid itu merasa tak nyaman dan ketakutan, berpikir jika Ratu sedang menatap mereka.


"Ratu Bulan Batara, selamat, silahkan naik ke atas panggung" ujar Kepala Sekolah diiringi riuh tepuk tangan penonton.


Bagaimana gadis itu bisa mendengar, jika fokusnya pada hal lain disana.


Bilal menyadarkan Ratu dari lamunannya. Membantu gadis itu untuk berdiri dan berjalan naik ke atas panggung. Gadis itu masih linglung, ia tak tahu alasan mengapa dirinya harus naik ke atas panggung.


Ratu berjalan perlahan mendekati Pak Kepsek. Beliau menyalami Ratu dan memberikan medali, piagam serta piala kemenangan Ratu. Sekali lagi Ratu membanggakan SM karena meraih juara satu dalam olimpiade matematika, dan juara satu juga dalam olimpiade IPA. Riuh tepuk tangan menggema di aula. Sahut menyahut mereka memuji Ratu.


"Terimakasih, semuanya karena Ayah dan Bunda. Dan, saya berharap, tidak ada lagi murid lain yang menyia-nyiakan prestasinya karena hal sepele. Saya akan selalu mengatakan hal yang sama setiap kali saya berdiri diatas sini. Pendidikan dan kedudukan. Jika kita tidak memiliki kedudukan maka kita harus memiliki pendidikan, bagitu pula sebaliknya. Karena saat kita tidak memiliki keduanya, kita tidak akan pernah bisa menjadi apapun dimata siapapun." pidato singkat Ratu selalu sama setiap kali dirinya menerima penghargaan. Ia berharap, kalimatnya yang ia katakan akan selalu membekas. Dan suatu hari nanti, ada orang lain yang mengatakan hal itu menggantikan Ratu. Ratu menunggu saat-saat itu.


"Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Aku siap datang ke penghulu, untuk menemani kamu yang kesepian. Terimakasih. " imbuh Ratu yang sukses membuat penonton tertawa dan bersorak. Ia juga sukses mendapat jeweran dari Bapak Kepala Sekolah didepan para tamu undangan.


Seorang pemuda tiba-tiba saja berjalan menuju panggung. Memberikan buket boneka gajah untuk Ratu. Gadis itu tertegun, bukan ini yang ia harapkan. Disaat perasaan perlahan mulai menghilang, masalalu itu kembali muncul tanpa alasan. Riuh tepuk tangan dan cie cie semakin membara. Membuat Ratu mengambilnya untuk segera menyudahi ini semua. "Terimakasih, Bilal" ucap Ratu dengan senyuman tipisnya. Bilal mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya.


"Ratu adalah murid terpandai dan berbakat di sekolah ini. Ia juga menjadi satu-satunya murid yang mampu bertahan diperingkat satu dalam masa penilaian selama dua tahun berturut-turut. Sekali lagi, tepuk tangan untuk murid kebanggaan kita, Ratu Bulan Batara" puji Kepala Sekolah memberikan tepuk tangan yang meriah.


Ratu tersenyum, menundukkan tubuhnya sebagai ucapan terimakasih. Ia pun kembali ke tempat duduknya dengan membawa buket pemberian Bilal.

__ADS_1


"Ciyee balikan nih uhuk uhuk" sahut salah seorang siswa.


"Gak galau lagi nih"


"Gagal move on dong"


"Awas ada mak nya macan siap menerkam"


Ratu sangat kesal mendengar semua itu, dan lebih menyebalkan lagi karena dirinya harus duduk disamping Bilal. Gadis itu berhenti sejenak, ia kemudian berjalan menuju arah berlawanan. Ia tidak ingin duduk disamping Bilal, tidak lagi, semuanya sudah berakhir.


Gadis itu berjalan memutar melewati area pinggir dan paling belakang. Benar, menuju tempat duduk Neil. Ia tak peduli walau banyak pasang mata yang menatapnya. Ratu melewati barisan kursi para juniornya, membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke tempat duduk Neil.


"Neil, auh" panggil Ratu sembari merintih kesakitan. Neil terkejut mendapati Ratu berada disana, ia pun memberikan kursinya pada Ratu. Membiarkan dirinya duduk berhimpitan dengan Liam. Gadis itu memberikan buketnya pada Damar, karena ia hendak memeriksa lututnya yang terasa sakit.


"Kak, biru, kok bisa?" Tanya Neil panik.


"Ungu goblok" timpal Liam mengoreksi.


"Terbentur kursi kayaknya, maaf ya" ucap Ratu lirih. Ia tak menatap Neil, wajahnya tertunduk memandangi lututnya.


Neil menatap Ratu, senyuman mulai terukir disana. Ia merasa jika Ratu mulai menghargai dirinya. Sangat yakin jika permintaan maaf itu karena kedekatannya dengan Bilal. Walau itu bukan salah Ratu, tapi Neil sangat senang mendengar permintaan maaf itu.


Neil menata rambut Ratu, ia sisipkan kebelakang telinga. Mendekatkan jarak bibirnya pada telinga Ratu. "Kak Ratu hebat, aku kagum" bisikkan Neil itu sukses membuat Ratu tersenyum dan salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2