
"Raja, gue gak suka kalau ada yang nyalahin Neil" celetuk Ratu yang terbangun dari tidurnya.
"Gue tau loe egois, tapi dia juga egois"
Ratu bangkit dari tidurnya, ia menatap Neil. Darah segar mengalir dari hidung Ratu. Membuat pemuda dihadapannya panik dan kelabakan.
"Maaf, harusnya aku gak pernah masuk dalam hidup kamu" lirih Ratu.
Penyesalan itu kembali menghantui, kata seandainya seakan kembali terngiang dalam benak Ratu. Bagaimana jika, terus berputar di kepalanya.
Gio dan Faiq mengajak semua orang untuk pergi keluar ruangan, kecuali Neil. Memberikan ruang untuk keduanya berbincang. Neil mendekap kekasihnya, mengelus lembut rambut Ratu.
"Ini bukan salahmu, ini adalah takdir"
"Aku takdir yang harusnya kau hindari"
Neil menangkup kedua pipi Ratu, menatap matanya dalam. Kemudian ia melu mat bibir tipis itu. Ia ingin Ratu tahu, jika kehadirannya adalah kebahagiaan untuk Neil. Pemuda itu tak ingin Ratu pergi jauh darinya sampai kapanpun.
Setelah ciuman singkat itu, Ratu meminta Neil dan teman-temannya untuk kembali ke acara. Mereka harus mengikuti penutupan, dan Ratu, ia harus mengurus sesuatu.
Sebelum berpisah, Ratu menugaskan Raja untuk mengawasi Neil, karena Ubay dan Aidan harus pergi bersamanya. Ada sedikit rasa kesal dalam raut wajah Raja, tetapi Ratu berhasil meyakinkan adiknya itu.
"Jangan aneh-aneh ya" pinta Neil lalu mengecup singkat bibir Ratu.
Gadis itu mengangguk, ia masih terus memandangi Neil sebelum pemuda itu menghilang dari hadapannya.
Barulah saat itu, Ratu mulai memberikan perintah, untuk semua orang yang ada disana. Ia sudah mendapatkan kabar dari Ezra dan David. Jika kedua temannya itu sudah berhasil mendapatkan informasi terkait keterlibatan Zayden.
Lagi dan lagi, semua karena kebutuhan ekonomi. Uang adalah alasan dibalik keterlibatan Zayden.
"Ibu Zayden sedang sakit dan butuh banyak uang untuk operasi" jelas Ezra.
"Jadi, dia adalah member baru" imbuh David.
Ratu membuka leptopnya, ia menunjukkan apa yang ada pada layar leptop pada semua temannya. CCTV di tempat penghancuran mobil dihari setelah Daniel kecelakaan. Gadis itu harus merogoh sakunya untuk mendapatkan rekaman tersebut.
"Pak Cipto?" ujar salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Kita batalkan rencana selanjutnya, gue harus bertemu dengan Ayah" ucap Ratu. Ini adalah perintah terakhir yang Ratu berikan. Sebelum mereka semua kembali mengikuti acara terakhir.
Ratu tak kembali ke lapangan indoor itu, ia lebih memilih duduk didalam kamar dan memandangi leptop dihadapannya. Seberapa sering pun Ratu mengulang video yang ia lihat, tetap saja wajah Pak Cipto tak berubah disana.
Setelah Daniel, Pak Cipto adalah orang yang berkontribusi paling banyak. Beliau memberikan setiap informasi yang didapat pada Ratu. Beliau juga mengenal Daniel dengan sangat baik.
Ratu pikir itu adalah kebetulan, saat mengetahui Pak Cipto dipindah tugaskan di SM. Ia merasa senang karena bisa bertukar pikiran dengan beliau, entah itu mengenai Daniel atau mengenai pelajaran. Tetapi kenyataannya begitu pahit, Pak Cipto adalah bagian dari mereka. Orang yang Ratu benci.
"Apakah semua yang dikatakan Pak Cipto mengenai Daniel adalah kebenaran? gue mulai ragu sekarang" gumam Ratu. Ia memandangi foto Daniel yang diletakkan di dompetnya. Foto terakhir Ratu bersama Daniel sebelum pemuda itu pergi untuk selamanya.
"Ratu, loe sudah baik-baik aja?" Tanya Daren yang baru saja memasuki kamar Ratu.
"Ini asrama cewek, ngapain loe disini?"
"Gue kan panitia, lagian gue juga sama yang lain kok"
"Hm.."
Daren berjalan mendekat, ia memeriksa keadaan Ratu. Setelah memastikan jika temannya itu baik-baik saja, Daren mengajak Ratu untuk pergi mengikuti acara penutupan. Semua panitia memastikan jika para murid hair diacara penutupan acara. Karena itulah mereka semua berkeliling memeriksa.
Kehadiran Ratu kembali mengundang perhatian para murid. Refleks sorakan nama Ratu terdengar, para murid sangat antusias melihat pemain basket putri terbaik. Walau dalam keadaan sakitpun Ratu masih tak tertandingi.
"Lihat penggemar loe" bisik Daren.
"Biasa aja, gue kan emang idola. Siapa sih yang gak mengidolakan sosok Ratu? Gue bisa ngelakuin apapun, dan selalu menjadi peringkat satu"
"Hm, sombong anjing"
Ratu tertawa dan berjalan dengan angkuh. Ia tahu benar dimana tempatnya.
Daren mengantarkan Ratu untuk duduk disamping Bela dan Geya. Gadis itu tersenyum kecut dan duduk begitu saja. Ia tak tertarik dengan acara penutupan. Pertunjukkan yang tak ingin Ratu lihat.
Saat para murid tengah fokus memperhatikan pertunjukkan, Ratu secepat kilat menyelinap kebarisan tempat duduk paling belakang. Ia menyalakan rokok yang berhasil dia sembunyikan dibalik bra nya.
"Acara yang membosankan" gumam Ratu.
"Bagus ya, siapa suruh ngerokok?"
__ADS_1
"Sayang, kamu kok disini?" Ucap Ratu terkejut. Ia menarik Neil mendekat dan mengecup singkat bibir kekasihnya. Sedangkan Neil, merebut rokok dari tangan Ratu dan membuangnya.
"Kak Ratu mau gak nikah sama aku?"
"Gak mau, kamu masih kecil soalnya, punya kamu juga kecil"
Neil tak terima jika miliknya dikatakan kecil, ia menarik tangan Ratu dan menaruh tangan itu untuk meraba miliknya. Ratu tak bisa berhenti tertawa, merasakan milik kekasihnya yang menegang.
Ratu menarik tangannya dan menjitak kepala Neil. Ia merasa merinding karena takut Neil akan hilang kendali. Ia merogoh saku mengambil satu batang rokok lagi.
"Jangan Neil, kumohon" pinta Ratu kala Neil berusaha merebutnya lagi.
"Baiklah, hanya kali ini saja"
Ratu kembali menyalakan rokoknya, ia hisap dalam-dalam dan ia hembuskan asap ke wajah Neil. Setelah itu ia mengecup singkat bibir kekasihnya. Menyenangkan, Ratu menyukainya, tapi Neil berusaha keras untuk tidak menghirup asap rokok Ratu.
Suara riuh penonton kembali terdengar keras, kedua sejoli itu masih saja terdiam di barisan belakang. Memunggungi acara yang tak menyenangkan. Tak hanya mereka, beberapa pasang murid juga mulai mencuri-curi waktu. Entah apa yang mereka lakukan disana.
Bahkan Ario dan Desi juga terlihat tengah asik memadu kasih, persis di samping Ratu tapi dipisahkan oleh jauhnya jarak.
Ratu memperhatikan permainan Ario, pemuda itu tahu benar bagaimana cara bermain dengan seorang wanita. Entah sudah berapa kali Desi jatuh dalam rayuan Ario. Ia menarik kepala Neil, menunjukkan pada Neil bagaimana cara Ario bermain.
"Lihat, seperti itu caranya" bisik Ratu.
Mereka berdua dapat melihat wajah Desi yang begitu menikmati sentuhan Ario, ditambah tangan nakal pemuda itu yang sudah bermain di daerah sensitifnya.
"Kamu cemburu Neil?"
"Mana ada, gak peduli tuh" jawab Neil cuek. Ia membaringkan tubuhnya dipangkuan Ratu, menggenggam tangan kekasihnya erat.
"Kak Ratu, aku pernah bertemu seseorang, dan dia mengatakan jika aku adalah Daniel"
"Oh ya? Siapa?"
"Seorang Ibu-ibu, aku tidak mengingatnya jelas"
Ratu mencoba berpikir, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Ibu panti tempat Daniel tinggal. Tetapi Neil mengatakan bukan dia orangnya. Ia lalu meminta Neil mengingat ciri-ciri wanita tersebut, setiap hal yang Neil ingat. Ratu meminta Neil menjelaskannya, dan Ratu menyimpan setiap detail perkataan Neil dalam ingatannya.
__ADS_1