
Sudah dua minggu berlalu sejak terakhir kali Neil dan Ratu berbincang. Neil tak bisa menemukan Ratu dimanapun, bahkan geng SS juga tak terlihat olehnya. Semakin hari, Neil dan kedua temannya didekati oleh beberapa teman lain. Mereka mencoba untuk berteman lebih dekat dengan Neil, sebab ada keuntungan besar dalam pertemanan itu. Jauh dari perundungan.
Neil tak pernah menolak siapapun yang ingin mendekat, mereka bahkan menempati tempat duduk geng SS, setelah mendapat ijin dari Ratu. Ya, itu adalah pesan pertama dan terakhir yang Neil kirimkan pada Ratu. Meminta ijin untuk menempati tempat duduk mereka dikantin.
Seminggu lagi berlalu sudah, Neil masih tak melihat Ratu disana. Walau kini ia mulai melihat anggota geng SS lagi, tetapi kehadiran Ratu masih tak tertangkap oleh matanya. Hingga saat dimana Neil dan kawannya sedang makan bersama Ubay. Ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Hm.. Kak Ubay, Kak Ratu kok gak pernah kelihatan?" Tanya Neil. "Kenapa? Loe kangen ya?" Jawaban Ubay itu justru membuat Neil tersedak. Ubay segera memberikan minuman pada Neil, sembari menepuk-nepuk punggungnya. Neil kembali beralasan jika dirinya sudah lama tak melihat Ratu, dan hanya sekedar ingin tahu kabarnya.
"Ada kok Neil, cuma seminggu ini dia harus keluar kota buat ikut olimpiade matematika. Emang dia gak ngabarin loe? Massa sih, kan Ratu suka banget sama loe" sahut Bela menjelaskan. Geya juga ikut serta membenarkan perkataan Bela. Memang seminggu terakhir Ratu harus keluar kota untuk olimpiade. Sedangkan dua Minggu yang lalu, dirinya sibuk untuk belajar. Ratu hanya pergi ke kelas, perpustakaan serta ruangan belajar khusus untuk anak-anak yang akan mengikuti perlombaan.
"Kangen aku gak?" Celetuk Ratu yang tiba-tiba saja sudah berada dibelakang Neil. Ratu menyodorkan kepalanya sejajar dengan Neil, membuat pemuda itu terkejut bukan main. Neil sontak menolehkan wajahnya dan cup...
Sebuah kecupan sukses mendarat dipipi Ratu. Neil menarik tubuhnya menjauh secepat kilat, sedangkan Ratu masih tertegun disana. Semua mata yang menatap tersenyum tanpa alasan.
Sayangnya mata Ratu menatap seseorang yang juga menatapnya, Bilal. Kejadian itu membuat Ratu begitu bimbang, ia sedikit terkejut, entah mengapa ia merasa mengkhianati Bilal. Padahal sudah tak ada hubungan apapun diantara mereka. Tetap saja Ratu tak enak sebab Bilal melihat semuanya.
__ADS_1
Bilal pergi begitu saja dari kantin, meninggalkan Hera yang masih sibuk makan serta berbincang bersama temannya. Refleks Ratu mengejar Bilal yang pergi. Tetapi Hera menahannya, wanita itu menarik tangan Ratu dan melemparnya begitu saja. "Belum move on loe? Cih jangan kayak cewek murahan" maki Hera merendahkan Ratu.
Ratu sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, selama ini dia membiarkan Hera karena Bilal. Dan sekarang sudah batas dimana Ratu tak ingin menahan amarahnya lagi. "Ah sial" umpat Ratu ketika melihat telapak tangannya berdaraah karena tergores pinggiran meja.
Hera sekali lagi menarik seragam bagian belakang Ratu yang masih tertunduk. Dengan segala cacian ia melontarkan kata-kata begitu kasar. Merasa Ratu tak akan berani menyentuhnya, membuat Hera buta, tak bisa melihat amarah yang begitu besar dalam mata Ratu. Semua murid hanya menonton disana, tak berani ikut campur diantara mereka.
Ratu menjegal kaki Hera, membuat wanita itu terjatuh dengan keras ke lantai. Tangan Ratu mencengkram kerah seragam Hera. "Ra, loe pikir gue gak akan berani nyentuh loe cuma karena Bilal? Ra, gue mungkin akan berpikir seribu kali buat mukul Bilal, karena gue cinta sama dia. Tapi loe siapa? Sekalipun nyakitin loe bakal bikin Bilal sakit, gue akan tetap ngelakuin itu" ujar Ratu seraya melatih kepalan tangannya.
"Karena kalau loe pergi, gue bisa gantiin posisi loe" ancam Ratu lalu melayangkan tinjunya.
Ratu berjalan menelusuri koridor sekolah, dengan darah yang masih menetes ditangannya. Rasa sakit itu sama sekali tak terasa saat amarahnya sudah lebih dulu menguasai dirinya. Seragam Ratu sudah tak karuan, baju yang tak rapi dan dasi yang sudah tak beraturan.
"Ratu" panggil seseorang sembari memegang tangan gadis itu. Pemuda itu menarik Ratu untuk masuk keruangan OSIS. Benar, pemuda itu adalah Bilal. Bilal tak tahu apa yang terjadi dikantin setelah ia pergi, tetapi dirinya tak bisa membiarkan Ratu berjalan-jalan dengan luka ditangannya. Bilal mengobati luka mantan kekasihnya itu.
"Apa kita benar-benar akan berakhir seperti ini?" Tanya Ratu dengan lirih. Bilal hanya berdehem menanggapi pertanyaan itu. Ratu yang duduk diatas meja, terus menggoyangkan kakinya. Sembari menunggu Bilal yang fokus mengobati tangannya yang terluka.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati luka Ratu, Bilal menatap gadis dihadapannya tersebut. Mereka saling memandang dalam diam. Jantung Ratu kembali berdetak kencang, mendapati orang yang paling ia sayangi ada dihadapannya. Salah satu pemuda yang membuat Ratu merasa nyaman, pemuda yang bisa melihat air mata Ratu terjatuh tanpa ragu.
Bilal dan Ratu dipertemukan dikelas yang sama. Saat baru saja masuk sekolah, mereka terlibat masalah yang besar. Perbedaan pendapat yang mengakibatkan mereka menjadi musuh bebuyutan. Sebenarnya itu adalah hal sepele, tetapi kedua remaja ini membuatnya terlihat layaknya masalah serius.
Hal yang mereka perdebatkan adalah ketika mereka berdua menjadi satu kelompok dan pikiran mereka memiliki jalan yang berbeda. Dari sanalah setiap hal kecil selalu menjadi perdebatan. Setiap masalah sepele selalu menjadi ledakan emosi diantara mereka. Bilal dan Ratu yang sama-sama keras kepala serta tidak mau mengalah.
Hingga saat dimana mereka harus berpisah, para guru memisahkan kelas mereka agar tak terus terjadi kekacauan setiap jam pelajaran. Mulailah timbul rindu yang tak pernah mereka duga. Walau Ratu sudah bergonta-ganti pacar, tetap saja ia masih merindukan Bilal. Tak sengaja berpapasan menjadi alasan melepas rindu.
"Auuh, jalan pakai mata dong" teriak Ratu kesal. Ia mendapati Bilal sedang berdiri menatapnya. "Loe yang jalannya pakai mata, punya mata tapi cuma buat lihat hp mulu, buang aja" balas Bilal tak kalah kejam. Mata mereka saling memancarkan kemarahan, lalu berlalu begitu saja.
Selalu seperti itu setiap kali mereka bertemu. Hanya ada perdebatan dan cemooh diantara keduanya.
Sampai suatu hari, Ratu tak sengaja melihat Bilal yang sedang dihadang oleh dua orang pemuda dari sekolah lain. Gadis itu hanya melihat dari kejauhan sembari memakan es krim menikmati tontonan malam. "Kita lihat, seberapa jagonya lelaki pemarah itu" gumam Ratu senang.
Perkelahian ketiga pemuda itu tak berlangsung lama. Sebab Bilal sudah tersungkur karena kalah jumlah dan tenaga. Ratu bergegas turun dari motornya dan berlari menghampiri. "Oey oey, satu lawan satu yok" celetuk Ratu berjalan santai. Kedua pemuda itu saling berpandangan, kemudian salah satunya tersenyum miring meremehkan kehadiran Ratu. Hanya dalam lima detik, Ratu melumpuhkan lawannya dengan satu pukulan. "Loe mau pingsan juga? Terus nanti siapa yang bawa kalian pergi?" Ejek Ratu dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Pemuda itu tampak berpikir, pada akhirnya ia memilih untuk membawa temannya pergi. Ratu mengajak Bilal ke motornya, mendudukkan pemuda itu disana dan mengobati luka-luka ditubuh dan wajah Bilal. "Selain pemarah, apa hal yang bisa loe lakuin? Berantem aja gak sanggup, ckck" ujar Ratu.