Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 69


__ADS_3

Ratu sedang mengemas pakaiannya, ia akan pergi ke luar kota malam ini juga. Tak lupa ia menghubungi seseorang untuk bersiap.


Gio dan Faiq sudah menunggu Ratu di ruang tamu. Mereka telah meminta ijin pada kedua orang tua mereka dengan alasan mengikuti kegiatan sekolah. Seolah mereka adalah panitia, karena itu harus berangkat lebih awal.


"Udah siap semua kan? Ya udah ayo berangkat" ujar Gio sembari mengambil alih koper Ratu.


"Tunggu, ada satu orang lagi yang akan ikut" sela Ratu.


Mereka semua saling berpandangan, pasalnya tak ada yang tahu mengenai keputusan ini. Ratu terus menatap ponselnya, sesekali ia menatap pintu rumahnya yang terbuka dengan lebar.


Tak berselang lama setelah Ratu menutup panggilan masuk dari ponselnya, Ratu berdiri menyambut kedatangan seorang wanita yang berjalan dengan segan diantara para teman-teman Ratu.


"Kita pergi sekarang" perintah Ratu seraya menatap Gio dan Faiq.


"Kenapa Hera ikut?" Tanya Faiq tak mengerti.


"Maaf semuanya, gue gak tahu urusan kalian apa. Hanya saja, gue butuh bukti buat ngebuktiin ke Bilal, kalau yang gue kandung adalah anaknya" sela Hera.


Semua orang tercengang mendengar apa yang Hera katakan. Mereka mulai berpikir jika Bilal memang laki-laki brengsek, berlagak sok hebat dan dipuja para wanita, nyatanya ia bahkan tak berani bertanggungjawab atas semua perbuatannya.


"Oh iya, gue juga titip Devan ya. Ajakin dia nongkrong, udah mulai suram aura tuh anak" pinta Ratu sebelum pergi.


Ratu, Gio, Faiq dan Hera akhirnya pergi keluar kota untuk urusan penting. Meninggalkan mereka semua yang kini harus memutar otak untuk menjalankan rencana tanpa arahan Ratu.


Dalam perjalanan, Ratu terus mengotak-atik leptopnya, menelepon tanpa henti dengan berbagai pertanyaan yang ia lontarkan pada lawan bicaranya. Ratu telah menyusun semua rencananya, pasti kini para orang suruhan Ayahnya sedang kelabakan karena tak menemukan Ratu dimanapun.


"Tiba-tiba gue kangen sama Neil, dia lagi apa ya?" Gumam Ratu sembari menatap keluar jendela.


Baru saja Ratu memikirkan Neil, nama pemuda itu muncul di layar ponsel Ratu. Ia menatap layar ponselnya, membiarkan telepon itu berdering hingga mati. Ratu masih terus menatap ponselnya, kemudian telepon dari Neil kembali masuk. Ia pun memutuskan untuk mengangkat telepon Neil kali ini.


Neil : "Kamu kemana aja sih? Dari tadi aku teleponin gak diangkat-angkat"


Ratu : "Neil, kau merindukanku?"


Neil : "Tidak, tidak akan pernah"

__ADS_1


Ratu : "Hahaha, baiklah sayang. Kamu sangat lucu, ada apa? Kamu membuat Papa dan Mama mu khawatir"


Neil : "Aku bilang pada Mama, ingin menikah dengan kamu, tapi Mama malah nampar aku"


Ratu : "Neil, berhentilah bersikap konyol. Sekarang kau benar-benar terobsesi padaku"


Neil : "Ini semua salah kamu"


Ratu : "Jaga dirimu baik-baik, aku harus pergi"


Ratu menutup teleponnya begitu saja. Ia tertawa kecil memikirkan tingkah konyol Neil saat ini. Pasti pemuda itu sedang mengoceh tidak jelas dikamarnya. Ini adalah tantangan pertama untuk Neil, ia harus terbiasa kala Ratu pergi tiba-tiba tanpa kabar seperti ini.


"Ratu, loe sayang banget ya sama Neil?" Tanya Hera setelah menatap Ratu yang tersenyum tanpa alasan.


"Her, loe tahu alasan gue tetap hidup? Karena Daniel ingin mempertemukan gue dengan Neil" jawab Ratu tanpa berpikir.


"Kasihan banget ya si Neil, harus dekat sama cewek kayak gini" sela Faiq.


"Gue akan menjadikan Neil milik gue, apapun yang terjadi" ucap Ratu dengan nada serius. Tekadnya sudah bulat untuk menjadikan Neil miliknya.


Pagi itu, mereka memutuskan untuk tidur terlebih dahulu karena perjalanan panjang. Ratu baru saja selesai mandi, ia memeriksa ponselnya, banyak pesan masuk disana. Semuanya hanya membahas mengenai Neil yang menunggu Ratu didepan kelas.


"Pemuda kecilku, kamu sangat lucu" gumam Ratu memandangi foto-foto yang dibagikan oleh teman-temannya.


Ratu mengirimkan pesan siaran pada seluruh temannya, meminta mereka untuk menjaga Neil selagi Ratu jauh. Memastikan Neil makan tepat waktu dan tidak ada satupun yang menganggu Neil disana.


Setelah mengirim pesan, gadis itu duduk dibalkon, menyalakan pemantik, dan merokok dengan santai. Udara pagi begitu menyegarkan, sangat pas untuk merokok.


Ponsel Ratu kembali berdering, lagi-lagi Neil meneleponnya. Kali ini pemuda itu melakukan panggilan video. Ratu tentu menerima panggilan tersebut.


Ratu : "Pagi manis"


Neil : "Kamu gak sekolah? Kamu dimana?"


Ratu : "Aku diluar kota, ada apa?"

__ADS_1


Neil : "Sama siapa? Kenapa gak bilang aku? Kenapa semalam telepon kamu mati?"


Ratu : "Kamu sangat cerewet ya, Daniel dulu tidak seperti ini"


Neil : "Berhenti membandingkan aku dengannya, aku dan dia berbeda"


Ratu : "Iya iya maaf, ada apa? Ini kan hari terakhir sekolah sayang, nanti kita ketemu di acara sekolah"


Neil : "Janji ya!! Kamu jangan ngerokok lagi, jaga kesehatan"


Ratu : "Iya, aku sayang kamu Neil, sangat. Udah sana masuk kelas"


Neil : "Aku ju..."


Ratu lagi-lagi menutup teleponnya. Ia senang sekali menggoda Neil.


Kini ia harus segera menyelesaikan urusannya disini dan pergi menemui Neil. Ratu berdiri, menghembuskan napas rokok ke langit-langit. "Neil, apa yang akan terjadi jika nanti aku pergi darimu? Pergi dan tak akan pernah kembali? Bisakah kau hidup tanpaku? Apa aku salah mendekatimu? Apakah harusnya aku tak pernah membuatmu dekat denganku?" Gumam Ratu.


Ia kembali menghembuskan asap rokok ke langit-langit. "Tapi Neil, kenyataannya adalah kau yang pertama mendekati aku. Seperti aku mendekati Daniel, dan pada akhirnya, aku harus pergi meninggalkanmu seperti yang Daniel lakukan" oceh Ratu sekali lagi.


Ratu kembali menghembuskan asap rokok untuk ketiga kalinya. "Neil, aku membenci kisah kita. Perpisahan yang tak bisa ku hindari, aku tak pernah ingin membuatmu terluka" lirih Ratu diselingi tetesan air mata.


Ratu terdiam sesaat, rokok ditangan kembali ia hisap. Asap rokok adalah obat melepas penat. Ia kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Neil. Pemuda lugu nan polos yang belum dewasa. Sikap kekanakan dan pemikiran labil Neil. Semua adalah hal yang Ratu sukai.


Tingkah konyol, penolakan cinta, perhatian malu-malu, semua tampak menggemaskan dalam kenangan Ratu.


Ratu membuka ponselnya, mengambil selca dirinya yang sedang meniupkan asap rokok ke udara. Setelah melihat hasilnya cukup bagus, Ratu memposting foto itu ke media sosialnya. Tak lupa dengan tambahan caption, Suatu hari nanti, kamu hanya bisa mengenang asap rokokku.


Hanya beberapa detik sebelum postingan Ratu dibanjiri like dan komentar dari teman-temannya di sosial media.


"Hahaha, sudah berapa lama kita saling mengenal? Kenapa aku tak memiliki satupun foto bersamamu, mainan kecilku" gumam Ratu setelah membaca komentar Neil.


neil_kenzo


BERHENTILAH MEROKOK!! MEROKOK MEMPERPENDEK UMURMU...

__ADS_1


__ADS_2