
Ratu melajukan mobilnya menuju kafe didekat sekolah. Kafe tempat anak-anak nongkrong anak SM dan sekolah lain. Disanalah tempat dimana mereka membangun hubungan pertemanan antar geng.
"Aku rasa kita benar-benar berjodoh, sudah berapa kali takdir mencoba mempertemukan kita?" Ucap Ratu pada seseorang yang tak sengaja ia temui. Neil dan kedua temannya sedang berdiri diparkiran kafe sambil menatap ke arah dalam. Setelah mendengar suara Ratu, mereka mengalihkan pandangan padanya.
Ratu mengajak mereka untuk masuk, namun ketiganya menolak. Sebab alasan ketiganya berada diluar adalah karena para murid yang ada di kafe tidak memperbolehkan mereka masuk dengan alasan bukan seorang member. Gadis itu tertawa terbahak-bahak, alasan konyol yang digunakan untuk mengerjai anak baru, selalu seperti itu. Ratu meyakinkan jika tidak akan ada yang mengusir mereka lagi sebab dirinya ada disana. Merekapun berjalan mengikuti Ratu menuju kafe dilantai dua.
"Kalian lagi" teriak seseorang sembari menunjuk kearah belakang Ratu. Mereka berhenti sedangkan Ratu terus berjalan santai menuju mejanya. "Berani ngusilin mereka, kalian berhadapan dengan gue" sela Ratu seraya melambaikan tangganya pada Neil dan kawannya. Ketiga pemuda itu lalu bergegas menghampiri Ratu, tak ingin jauh darinya karena seakan mereka kini berada dikandang singa yang kelaparan.
Setelah memesan Ratu berbincang dengan beberapa siswa dari sekolah berbeda. Ratu memanggil salah satu dari mereka seraya memperagakkan gestur merokok. Salah satu pemuda itupun melempar rokok dan korek pada gadis cantik itu. "Kak Ratu ngerokok?" Tanya Neil memberanikan dirinya. Gadis itu mengangguk dan hendak menyalakan korek apinya, tetapi Neil menahannya. "Gak baik buat kesehatan" nasihat Neil.
Ratu tertawa kecil dan tersenyum miring. "Iya deh, gak ngerokok nih" ucap Ratu kemudian melempar rokok dan koreknya kembali.
Ini pertama kalinya bagi murid disana mendengar Ratu menolak dan menuruti permintaan seseorang. Mereka sontak mengalihkan pandangan pada pemuda yang berada disamping Ratu tersebut. Mereka mulai bertanya-tanya dan mengambil kesimpulan terhadap pemuda itu.
"Gebetan baru? Kok nurut banget? Bilal aja sampai harus jitak kepala loe dulu baru nurut" celetuk salah satu pemuda disana.
__ADS_1
"Iya nih, udah dua kali gue ditolak" sahut Ratu.
"Ratu ditolak? Serius loe? Jual mahal banget nih anak" timpal pemuda lainnya.
"Dia gak jual mahal, dia emang istimewa. Titip mereka ya, gue harus pergi nih" kata Ratu lalu pergi setelah menerima pesan masuk. Ratu melangkah kakinya keluar kafe, tetapi gerombolan pemuda membuatnya tertegun.
Plakk..
Suara yang begitu nyaring menciptakan keheningan. Sekali lagi tangan itu hendak melayang, sebelum Gio berhasil menahannya. Didepan semua orang, Ratu tertunduk dalam diamnya. Ratu yang paling ditakuti kini tak bisa berkutik dihadapan pemuda yang berani menamparnya tanpa basa-basi. Gadis itu tak sanggup mengangkat kepalanya, ia masih tertunduk menahan amarah.
"Pssst sini" panggil Faiq pada Neil. Faiq meminta Neil untuk membawa Ratu ke mejanya. Sementara Faiq dan anggota SS lainnya mengikuti Melvin yang sudah pergi ke basecamp mereka. Basecamp itu terletak di area basement kafe yang sudah mereka sulap menjadi tempat berkumpul.
Neil menatap pipi Ratu yang memerah karena tamparan itu. Iya sesekali meniup pipi Ratu tanpa sadar, membuat gadis itu menahan tawanya karena merasakan hembusan dingin dipipi. Ratu menoleh ke arah Neil, mendekatkan jarak pandang keduanya. Neil yang terkejut hanya bisa tertegun menatap Ratu dengan mata yang membesar. "Coba cium deh, pasti sakitnya langsung ilang" goda Ratu seraya menyodorkan pipinya pada Neil.
Liam dan Damar berdehem menggoda Neil yang sedang malu-malu. Pemuda itu menarik tubuhnya menjauh sejauh mungkin dari Ratu. "Kak, kalau boleh tahu ada masalah apa? Terus cowok yang nampar Kak Ratu tadi siapa?" Tanya Liam penasaran. Ratu mengalihkan pandangannya menatap Liam, membuat sang pemuda menjadi diam dan tak bisa duduk tenang. "Apa aku terlihat kejam?" Balas Ratu ketika melihat gelagat Liam yang ketakutan.
__ADS_1
Ketiga pemuda itu saling berpandangan lalu menunduk tak ada jawaban. "Kalian cuma belum kenal Ratu aja, dia emang kelihatan kejam sih, tapi perhatiin lagi deh, kayak nenek sihir" sahut salah seorang pemuda. Tanpa basa-basi Ratu melempar vas bunga yang ada di mejanya. Membuat pemuda itu mengomel tak karuan, memaki Ratu karena hampir saja melukai dirinya.
"Tadi itu Kakak gue, mereka cuma salah paham. Lihat aja sebentar lagi juga bakalan nyamperin gue dan minta maaf" jelas Ratu cuek.
"Kenapa Kak Ratu bisa seyakin itu?" Pertanyaan itu datang dari Damar yang masih menunduk.
"Karena gue Ratu, dan semuanya pasti akan terjadi seperti apa yang gue ucapkan" jawab Ratu santai. Ratu berkata ia ingin pergi ke kamar kecil dan meminta mereka bertiga untuk memesan makanan lagi karena dirinya lapar. Sesuai perintah Ratu, mereka memesan makanan lagi untuk menemani gadis itu makan.
Ratu berjalan menuju mejanya setelah berada dikamar mandi cukup lama. Alasannya begitu lama adalah sebab mengobati luka-lukanya yang terasa sakit. Terlihat Melvin sudah duduk disamping Neil, dan ketiga pemuda itu telah dikerumuni oleh anak-anak yang mengikuti Melvin. "Bisa tolong pergi, kalian membuat mereka merasa tidak nyaman" pinta Ratu dengan nada dinginnya. Melvin berdiri, membiarkan Ratu duduk, lalu berlutut dihadapan gadis itu. Seperti yang Ratu katakan, mereka akan meminta maaf padanya. "Maaf ya, Kakak tadi emosi, Ratu gak apa-apa kan?" Pinta Melvin seraya melihat pipi Ratu. Bekas tamparannya masih disana.
"Aku maafin, tapi Kakak harus cari alasan buat Kak Afzam supaya masalah ini gak jadi panjang" tawar Ratu.
"Iya-iya oke, lain kali kalau ada masalah gini lagi, kasih tau Kakak atau teman-teman kamu. Kamu gak bisa ngehadepin mereka sendiri, ngerti?" Nasihat Melvin. Ratu mengangguk pasti, ia berjanji pada Kakaknya tidak akan melakukannya lagi. Melvin lalu pergi bersama gerombolannya itu.
Anggota SS duduk di meja samping Ratu, mereka begitu lega masalah telah selesai. Dan yang terpenting adalah ini bukan kesalahan Ratu. "Sumpah bisa gila gue, tegang banget dibawah sana. Untung ya loe gak macem-macem" keluh Aidan. Mereka semua lalu menatap Ratu dengan kesal, kesal karena gadis itu tak menghubungi mereka saat kejadiannya terjadi.
__ADS_1
"Kalian percaya kan sekarang? Karena gue Ratu" ucap Ratu pada ketiga pemuda yang menatapnya tak percaya. Liam dan Damar sontak memberikan dua acungan jempol untuk gadis itu. Seakan mereka percaya jika Ratu bisa meramal masa depan.