Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 91


__ADS_3

Ratu masih berbaring dirumah sakit, dokter belum mengijinkannya pulang kerumah. Ayah dan Bunda Ratu selalu menemani dirinya disana. Terlebih saat di jam sekolah, karena Neil dan teman-temannya masih sibuk belajar di sekolah.


"Sayang, mau Bunda kupas kan apel?"


"Aku kan gak suka apel Bund"


"Mau buah pir?"


"Gak suka juga Bunda, mau pisang aja"


Bunda terlihat sedih, bagaimana tidak, putrinya kini sudah berusia 18 tahun dan beliau tak tahu apa kesukaan putrinya. Hidup jauh selama beberapa tahun dari anak-anak, membuat Bunda lupa kesukaan dan kebiasaannya.


"Ratu, kamu mau ambil jurusan apa saat kuliah nanti sayang? Pasti gak sabar ya masuk universitas impian kamu"


"Terserah Ayah, Bund. Bukan impianku, aku tidak ingin kuliah disana, tapi Ayah memaksa"


Ayah Ratu yang mendengar hal itu hanya bisa berdehem. Sedangkan Bunda lagi-lagi merasa gelisah, beliau tak tahu apapun tentang Ratu. Cukup lama Bunda berusaha mencari topik untuk berbincang dengan Ratu. Padahal gadis itu sudah malas dengan semuanya. Ia terus fokus dengan leptopnya, membaca setiap file yang diberikan oleh Ayahnya.


"Kenapa Ayah tega melakukan ini? Ayah merebut Daniel dariku"


Ratu menutup leptopnya, memandangi Ayahnya yang masih fokus dengan pekerjaan. Bunda mencoba menenangkan Ratu, menggenggam tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Bunda, andai Ayah tak pernah mengenalkan aku dengan Daniel. Bunda akan melihat sosok Ratu yang lain"


"Sayang, tidak, ini semua adalah takdir. Berhenti menyalahkan dirimu dan Ayahmu"


"Aku... aku adalah alasan dibalik kematian Daniel. Aku adalah penyebab kematian orang yang aku sayangi. Aku benci hidupku"


"Tidak nak, jangan mengatakan itu"


Air mata Bunda kembali mengalir, bagaimana caranya menjelaskan pada Ratu jika semua ini bukanlah kesalahannya. Takdir yang menciptakan kenyataan pahit ini. Bunda mencoba menarik Neil masuk dalam topik pembicaraan mereka. Tetapi yang terjadi, Ratu malah semakin menyalahkan dirinya.


"Harusnya, aku juga tidak bertemu Neil. Hidupnya akan kacau karena dekat denganku, aku memang...."


"Cukup Ratu cukup. Ayah mengerti apa maumu, akan Ayah lakukan, beri Ayah waktu"


"Ini yang ingin aku dengar dari Ayah, dan apakah aku boleh meminta sesuatu"


"Kau mau apa lagi?"


"Biarkan aku melanjutkan kuliah disini, aku tidak ingin pergi Ayah"

__ADS_1


Dengan tegas Ayah Ratu menolak permintaan putrinya. Keputusannya sudah bulat, perjanjian tetaplah perjanjian. Ratu menatap Ayahnya, beliau bahkan tak menoleh sedikitpun. Tetapi ini memanglah perjanjian sejak awal, namun meninggalkan Neil, rasanya gadis itu masih tak sanggup.


"Bunda, aku tidak ingin jauh dari Neil"


"Tidak Bund, ini sudah menjadi kesepakatan antara aku dan Ratu" sahut Ayah sebelum Bunda sempat mengatakan sesuatu.


Ratu mendengus kesal, ia kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur. Mencoba memejamkan mata, tidur adalah cara terbaik untuk menenangkan pikiran.


Malam menjelang, Ratu masih tertidur pulas. Padahal para teman-temannya sudah berkumpul untuk menemui Ratu. Karena tak kunjung bangun, teman-teman Ratu kembali pulang kerumah. Berbeda dengan Neil yang masih setia duduk disamping kekasihnya. Ia terus menggenggam tangan Ratu, berharap sang kekasih segera membuka matanya.


Walau kedua orang tua Ratu meminta Neil untuk pulang, pemuda itu berkata jika dirinya akan pulang setelah berbicara dengan Ratu. Ayah Ratu sudah menghubungi orang tua Neil, mengatakan jika putranya akan menginap dengan penjagaan yang ketat di rumah sakit.


Ayah Ratu sudah memerintahkan beberapa bodyguard untuk menjaga Ratu dirumah sakit. Mereka akan berada disana selama 24 jam, non-stop.


"Ratu bangun dong, kangen nih" rengek Neil.


"Aku udah bangun, sini tidur sini" jawab Ratu.


Neil terkejut karena kekasihnya itu menjawab, sayangnya ia tak ambil pusing, segera saja ia berbaring disamping Ratu.


"Ada apa Neil?"


"Kangen kamu, cepat sembuh ya sayang"


"Neil, kalau aku hamil gimana?"


"Ayo nikah"


"Dih, mimpi kamu. Btw, aku jadi pingin main lagi sama kamu, tapi permainan kamu kasar"


"Mau main sekarang?" Tantang Neil yang sudah memposisikan dirinya diatas Ratu.


Ratu tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Neil. Ia menarik Neil mendekat dan memulai ciuman singkat, sebelum pemuda itu berteriak kesakitan karena Ratu menendang daerah sensitifnya.


Neil terjatuh ke samping dan meringkuk kesakitan, pemandangan yang Ratu sukai ini. Tak pernah mengecewakan, wajah kesakitan kekasihnya itu terlihat menggemaskan.


"Jangan berulah deh"


"Kan kamu yang mau sayang, aku mah nurut aja"


"Ih, itu mah maunya kamu. Udah sana pulang, udah malem nih"

__ADS_1


Ratu mengacak rambut Neil singkat, ia lalu bangkit dan memposisikan dirinya duduk bersandar di atas ranjang. Ia meraih ponselnya, membaca setiap pesan masuk yang ada di grup. Teman-teman Ratu sudah menjalankan apa yang Ratu perintahkan.


Mendapatkan informasi mengenai semua orang tua murid yang terlibat dalam manipulasi nilai. Mencari tahu tentang pihak ke tiga yang menghubungi Zayden untuk bermitra. Dan juga, mencari tahu tentang seseorang yang Daniel temui sebelum ia mengalami kecelakaan.


Ratu baru mengingat sesuatu, Daniel pernah berpesan untuk menemui seseorang suatu hari nanti. Gadis itu baru mengingatnya setelah tidur yang cukup lama tersebut.


"Sayang, hei, cium dulu sini"


"Ada apa?"


"Neil, ganteng banget sih kamu, gemes deh"


Ratu melepas gelang yang dikenakannya. Ini adalah gelang yang diberikan oleh Pak Cipto sebelumnya. Ratu yakin ada sesuatu yang Daniel sembunyikan disana.


"Neil, bawa ini dan berikan pada Gio. Katakan padanya untuk membawa gelang ini saat ia bertemu dengan seseorang. Kau ikutlah bersamanya Neil"


"Kenapa aku?"


"Kita akan tahu jawabannya setelah Gio mendapatkan sesuatu dari orang tersebut"


Neil masih tidak mengerti dengan rencana kekasihnya, tapi Ratu meyakinkan Neil jika semua ini akan membantu Ratu menyelesaikan masalah hidupnya. Dengan begitu Neil pasti tidak akan menolak permintaan Ratu. Karena ia tak ingin melihat sang kekasih terluka lagi.


"Neil, cobalah mencintai wanita lain selain aku"


"Bodoh, bagaimana mungkin. Jangan mengatakan hal konyol, aku tidak menyukainya"


"Saat aku pergi nanti, aku tidak mau kamu menungguku. Carilah penggantiku, tapi jangan yang seperti mantanmu itu"


"Kamu ngomong apa sih? Jangan ngaco, aku cuma cinta sama kamu"


Ratu tidak ingin Neil terpuruk jika ia pergi nanti, sebab ia sangat tahu, rasanya ditinggalkan oleh orang yang paling kita cintai. Karena Ratu tak bisa menjamin jika dirinya akan kembali dengan sosok Ratu yang sama. Ia tak ingin Neil kecewa jika Ratu berubah suatu hari nanti.


"Neil, berjanjilah, kau tidak akan menangisi kepergian ku nanti"


"Cukup, aku tidak ingin mendengarkan"


"Neil, aku serius"


"Aku lebih serius"


Neil yang gusar mendengarkan omong kosong Ratu, menatap kekasihnya itu dengan tajam. Seperti dugaan, Ratu bisa melihat kesedihan itu, ia tak ingin Neil terpuruk seperti dirinya dulu. Tapi keputusan Ayah Ratu sudah tak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


Ratu mengelus pipi Neil, lalu mengecup bibirnya. Perasaan menyesal itu kembali datang, dan air mata kembali menetes tanpa alasan.


"Aku sayang kamu, Neil"


__ADS_2