
Ratu baru saja kembali dari kamar mandi. Dengan rokok yang masih ada ditangannya, ia meniupkan asap ke langit-langit sekolah.
"Kak Ratu" panggil seseorang menghentikan langkah Ratu.
Ratu menoleh menatap seseorang yang sedang memandangi dirinya ditangga. Gadis itu berjalan mendekat dan meniupkan asap rokok ke wajah pemuda itu.
"Kenapa ngerokok? Disekolah pula" omel pemuda itu kesal. Ia mengambil rokok Ratu lalu membuangnya ke tempat sampah setelah mematikan apinya. Ratu memandangi tingkah pemuda itu, ia duduk sambil terkekeh.
"Neil, kau melihat semuanya? Bagaimana aksiku? Apa aku terlihat keren?" Tanya Ratu.
Neil duduk di bagian bawah, ia meluruskan kakinya, seraya berhadapan dengan Ratu. Pemuda itu hanya mengacungkan jempol untuk pertanyaan Ratu.
"Kenapa kau sedih?" Imbuh Ratu melihat raut wajah Neil. Pemuda itu lalu mendekat, menidurkan kepalanya dipaha Ratu. Ia nampak sedih dan kesal.
"Aku tidak mendapatkan peringkat satu, aku berada diperingkat ketiga" jelas Neil. Rupanya Neil baru saja melihat pengumuman nilai yang sudah dipasang saat ia hendak ke kamar mandi. Dan itu menciutkan nyalinya, ia merasa tak ingin melakukan apapun.
"Peringkat ketiga itu juga tinggi sayang" hibur Ratu sembari mengelus rambut Neil.
"Kak Ratu nomor satu lagi, bagaimana kamu bisa mendapatkan nilai sempurna disetiap mata pelajaran? Rentan nilai kamu dan nilai peringkat dua juga lumayan jauh. Terus kalau aku gak dapat peringkat satu, aku gak bisa dekat kamu lagi?"
Ratu terkejut mendapati Neil mengoceh begitu banyak. Ia tak menyangka jika pemuda yang selalu diam saat dia mendekati dirinya ini, ternyata suka sekali berbicara.
"Neil, kenyataannya adalah, kita selalu ditakdirkan untuk bertemu" ucap Ratu. Neil menatap Ratu, ia menghembuskan napasnya kasar. "Mainlah ke rumahku malam ini, Tania pasti senang melihat Kakak Iparnya" sambung Ratu.
"Kak Bilal gimana? Nanti dia marah" sahut Neil.
"Apapun yang aku katakan adalah perintah, bahkan Bilal tak akan berani menentang keputusanku" bisik Ratu.
Ratu menarik Neil untuk berdiri, meminta Neil untuk kembali ke kelas. Ratu pun mengantar Neil untuk menuju kelasnya, sembari menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama pemuda yang ia rindukan kehadirannya.
"Kak, aku mau ke kamar mandi dulu" pamit Neil lalu masuk kedalam kamar mandi. Ratu menunggu sambil menatap langit-langit, hari ini langit begitu cerah. Sangat pas untuk berkencan.
Tak berselang lama, Neil kembali keluar, ia menatap Ratu dengan ragu. Ratu menggerakkan dagunya, meminta penjelasan.
"Aku denger suara des*han" bisik Neil tak yakin.
Berbeda dengan Ratu yang malah tersenyum miring setelah mendengarnya.
Ratu melangkahkan kakinya masuk kedalam toilet pria, perlahan ia menempelkan telinganya di bilik yang tertutup. Neil juga ikut bersamanya, berjalan perlahan dibelakang Ratu.
"Sial, masih siang gini, nih anak-anak emang ya" gumam Ratu menahan tawanya. Ia lalu berjalan dan duduk diwastafel, tepat di depan bilik toilet yang tertutup.
__ADS_1
"Neil, masuk gih, katanya mau pipis" teriak Ratu dengan kencang. Neil yang mengangguk ragu segera masuk ke salah satu bilik toilet yang terbuka. Setelah Neil selesai, ia meminta pemuda itu untuk kembali ke kelasnya, sedangkan dirinya masih menunggu diatas wastafel.
Cukup lama Ratu menunggu hingga pintu bilik terbuka.
Ceklek....
"Asik nih mainnya" celetuk Ratu begitu melihat sepasang murid yang baru saja keluar. Mereka berdua saling berpandangan, lalu menunduk setelah menatap Ratu.
"Cowok squat 50, cewek setengahnya, sekarang" perintah Ratu. Mereka berdua saling berpandangan dan melaksanakan apa yang Ratu katakan.
1,2,3.....50.
"Capek? Kalau ketahuan lagi, gue gandakan hukumnya, balik kalian ke kelas, udah bel pulang tuh" seru Ratu ditemani suara bel. Kedua siswa itu tentu saja berlari secepat mungkin, meninggalkan Ratu yang masih duduk diatas wastafel.
"Eh, Kak Ratu ngapain disini? Ini kan toilet cowok" ucap Devan yang hendak masuk ke toilet.
"Mau lihat punya loe, udah tumbuh belum" goda Ratu seraya mengedipkan matanya. Devan tercengang ia menutupi bagian bawahnya dan pergi mencari toilet lain.
Ratu terkekeh melihat tingkah konyol adik kelasnya itu. Ia kemudian berjalan keluar toilet, mengambil tasnya dikelas dan pergi menuju parkiran.
Ditengah perjalanan, ia melihat kerumunan di depan papan pengumuman. Ratu hanya menatap sekilas dan tak penasaran dengan apa yang tertulis disana, karena sudah pasti ia ada diperingkat atas.
"Makanya kalau ngerjakan itu pakai otak, jangan pakai perasaan" sahut Ratu.
"Maksud loe?" Tanya Bian tak mengerti.
"Perasaan gini deh caranya, perasaan ini deh jawabannya. Udah tahu kalau pakai perasaan bikin sakit masih aja di lakuin. Ckckck" jelas Ratu. Mereka semua yang mendengar tertawa karena penjelasan konyol itu. Tetapi tidak dipungkiri jika itu sering kali terjadi.
"Bosen gue lihat nama loe diatas mulu" sela Dafa.
"Daf, ini terakhir kalinya loe lihat nama gue disana. Karena tahun depan gue udah memutuskan untuk pergi dari sekolah ini" sahut Ratu dengan wajah sedihnya. Ratu duduk di kursi yang ada di tengah sekolah. Perpustakaan terbuka untuk para siswa.
Pernyataan Ratu membuat mereka semua mengalihkan perhatian, menatap gadis yang sedang bersandar di rak buku.
"Ma..maksud loe apa?"
"Loe mau pindah?"
"Kenapa? Dari sekolah mewah ini?"
"Bacot loe ya, apa jadinya SM tanpa Ratu"
__ADS_1
"Gak gak, gak boleh"
"Gue gak akan biarin loe pergi"
"Kak Ratu mau pindah sekolah? Kenapa?" Sela Devan yang baru saja bergabung dengan gengnya.
"Habisnya, loe gak mau nunjukin itu sih" jawab Ratu seraya menggerakkan dagunya.
Mereka semua tak mengerti apa yang sedang Devan dan Ratu bicarakan. Tetapi semuanya jelas begitu Devan menutupi bagian bawahnya.
"Biar gue yang tunjukkin ke loe, tapi loe gak boleh pindah sekolah" sahut Daren. Ia mulai mencengkram Devan menariknya ke dekat Ratu. Devan berusaha berontak dan meminta tolong, hal itu membuat Ratu tertawa terbahak-bahak.
"Udah-udah bercanda kok. Gue emang harus pergi, dan itu udah keputusan bulat" ujar Ratu. Ratu berdiri dan hendak berjalan keluar gedung. Tapi sekali lagi seseorang menghentikan langkahnya.
"Ninggalin aku?" Tanya Bilal. Ratu mengangguk pasti, ia memang harus pergi apapun yang terjadi. Itu sudah jadi keputusannya sejak ia menginjakkan kaki disekolah ini.
Ratu kembali berdalih jika semua murid tahu akan hal ini, siapapun itu, bahkan murid baru juga tahu jika ia harus pergi.
"Sayang, ini gak lucu" ucap Bilal.
"Tapi kan, tahun depan kita udah lulus sayang" balas Ratu seraya mencubit gemas pipi kekasihnya itu.
"Ooooooo Ratu sialan" umpat para murid yang sukses terjebak dengan kebohongan Ratu.
"Ratu sialan"
"Bangsat"
"Anjing"
"Bajing"
Berbagai macam makian mereka utarakan karena drama konyol yang membuang tenaga. Hampir saja mereka satu persatu melempari Ratu dengan buku-buku.
"Aauh" teriak Ratu karena Bilal menjitak kepalanya. Bilal mewakili para murid yang kesal.
"Udah kan dramanya, sekarang ikut keruang BK. Kamu kan yang bikin rusuh dikantin tadi pagi" tembak Bilal sukses mengenai sasaran. Ratu hanya bisa cengengesan. Ia pun pasrah saat Bilal menariknya ke ruang BK.
Jauh dari tempat mereka, ada sepasang mata yang terus menatap kedekatan sepasang kekasih ini.
"Kenapa kamu nurut banget sih sama Kak Bilal? Apa karena rasa cinta itu masih ada?" Gumam Neil melihat kepergian keduanya.
__ADS_1