Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 35


__ADS_3

Didepan ruang ICU, seluruh keluarga Ratu telah berkumpul. Teman-teman Ratu juga sudah berada disana. Tiga jam sudah berlalu, dokter masih tak kunjung keluar ruangan. Rasa cemas hadir diantara mereka.


Bunda dan Tania terus menangis, memanggil nama Ratu. Ayah, Afzam dan Melvin tak kalah khawatir, mereka terus mondar mandir menunggu kabar. Para anggota SS juga berada disana, mereka berharap hasil yang baik untuk Ratu.


"Pa, harusnya aku anterin Kak Ratu pulang kan Pa. Ini salah aku Pa, aku aku..." ujar Neil dalam tangisnya. Pemuda itu tak mampu lagi menahan air matanya.


Neil bersama keluarganya, serta Damar dan Liam juga turut berada disana. Sebab saat kejadian, Neil sempat mencoba menghubungi Ratu, karena itulah para warga mengabarinya terlebih dahulu.


Papa Neil memeluk putranya, mencoba menenangkan hati putranya yang rapuh. "Pa, aku takut, gimana kalau Kak Ratu, hiks" gumam Neil tersedu-sedu.


"Nak, kenapa kamu takut? Anak Ayah itu sangat kuat, dia bahkan bisa ngalahin lima preman. Kenapa hal kecil seperti ini bisa membuatnya lemah? Kamu jangan nangis, kalau Ratu tau kamu nangis, dia nanti juga nangis" hibur Ayah Ratu pada Neil.


Tak berselang lama, dokter keluar dari ruang ICU. Para orang tua berkumpul untuk mendengarkan apa yang dokter katakan. Keadaan Ratu cukup kritis, karena benturan keras itu membuatnya hingga terlempar lumayan jauh. Para dokter sudah melakukan yang terbaik untuk mengobati Ratu, kini hanya tinggal menunggu. Secepat apa Ratu bisa melawan semua rasa sakit itu.


Mereka sedikit lega, Ratu sudah melewati masa kritisnya, walau dirinya masih terbaring lemah. Orang tua Ratu memerintahkan semua pemuda itu untuk pulang. Hari sudah hampir pagi, dan mereka semua masih harus ke sekolah. Afzam dan Melvin mengantar mereka semua untuk pulang. Begitu juga dengan Neil dan keluarganya. Bunda dan Tania juga pulang bersama supir. Sedangkan Ayah, menunggu putrinya di rumah sakit.


Ayah Ratu menatap putrinya dari luar ruangan. Beliau menangis menitihkan air mata. Hati Ayah mana yang tak terluka, melihat putri tercinta terbaring lemah tak berdaya.


"Ratu, Ayah tahu semuanya tentang kamu. Semua hal yang coba kamu sembunyikan. Ketua geng? Haha, Bunda kamu pasti marah besar jika tahu. Tapi Ayah selalu percaya, kamu tidak akan pernah mengecewakan Ayah dan Bunda. Bangun ya nak, banyak yang sayang kamu" ujar Ayah Ratu dalam tangisnya.


Ayah Ratu memiliki banyak koneksi dan uang. Beliau tak akan membiarkan anak-anaknya hidup tanpa pengawasan. Walau tak ikut campur, beliau selalu menjaga dari kejauhan. Semua kegiatan Afzam, Melvin, Ratu dan Tania, diketahui oleh Ayah mereka dengan sangat baik. Termasuk kehadiran Neil dalam hidup Ratu. Beliau juga tahu alasan Ratu begitu menyukai Neil.

__ADS_1


"Kamu pasti merindukan dia kan? Dia ada disini, kamu harus bangun agar bisa jagain dia" sambung Ayah. Walah Ratu tak mendengar, matanya masih terpejam, Ayah Ratu terus berbicara didepan ruangan. Berharap putrinya merasakan kehadiran dirinya disana.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Sekolah masih sama, kantin ramai seperti biasanya. Hari ini seluruh kantin hanya dipenuhi wajah baru, seluruh murid kelas tiga yang biasa nongkrong dikantin, enggan untuk pergi. Mereka sedang berada dikelas, dengan. sebuah buku didepannya. Sembari menatap ponsel yang hening menunggu kabar.


Perasaan gelisah mereka rasakan, sebentar lagi waktu penilaian. Disisi lain, semangat mereka telah hilang. Pikiran mereka teralihkan oleh Ratu yang masih terbaring dirumah sakit. Asumsi-asumsi mengenai kecelakaan Ratu mulai mengusik mereka.


Bela dan Geya juga enggan pergi ke kantin, mereka berdua memilih berbaring di UKS. Tempat favorit Ratu disekolah, berharap Ratu datang dan mengusir mereka seperti biasanya.


Neil juga tak pergi ke kantin, menatap kantin saja membuatnya semakin merindukan sosok Ratu. Disana adalah tempat mereka sering bertemu. Neil berjalan mengitari sekolah, mencari ketenangan untuk hatinya. Sesekali ia melihat murid yang sedang dirundung tak berdaya. Ia baru menyadarinya, padahal saat Ratu dan gengnya sering berkeliling sekolah, ia tak pernah melihat hal sekeji ini.


Kini Neil mengerti, mungkin kekuasaan Ratu disekolah menekan semua orang agar tak semena-mena. Padahal baru sehari gadis itu tak masuk, tapi perundungan kembali merajalela. Para anggota SS juga tak terlihat dimanapun. Seluruh anggota geng kelas 3 tak ia temui sama sekali batang hidungnya.


Hatinya mulai merindukan sosok Ratu, walau hanya sehari ketakutan akan kehilangan Ratu membuat Neil tak memiliki semangat. Liam dan Damar berusaha menghibur temannya itu, membuat lelucon serta tingkah konyol.


"Stop" perintah Daren menghadang Neil dan kawan-kawan. Teman-teman Daren dan teman-temannya sudah membawa berbagai makanan ditangan mereka.


"Makan Neil, kita gak mau disalahin sama Ratu kalau loe sakit" pinta Daren. Dari sisi lain Devan anggota SS membawakan kursi untuk mereka duduk bersama. Mereka masih mengingat apa yang dikatakan oleh Ratu sebelumnya.


"Ratu bilang, kita harus jagain loe, karena loe pasti merindukan dia saat dia pergi" ujar Tristan. Harusnya mereka menangkap sinyal itu, Ratu sudah memperingatkan mereka sebelumnya. Tetapi tak ada yang menyadarinya sama sekali.

__ADS_1


Mereka menghembuskan napas gusar, setiap kali mengingat malam itu. Menyalahkan diri mereka sendiri karena terlalu percaya pada Ratu. Ratu tetaplah seorang gadis, seberapa hebat dan kuat pun dirinya. Ia pasti juga bisa terluka. Bahkan Neil juga mendapat sinyal itu.


"Udah jangan sedih, cewek gue gak selemah itu. Bentar lagi juga dia bangun dan bikin ulah lagi" sela Bilal yang baru saja tiba. Mereka semua menatap ke arah Bilal. Tidak ada kekuatan untuk menyanggah setiap kata yang diucapkan oleh pemuda itu.


Bilal sebenarnya juga bersedih, tapi ia yakin pada kekuatan Ratu. Sangat yakin hingga membuatnya begitu percaya diri mengatakan gadis itu akan baik-baik saja.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di rumah sakit, Ratu masih tak ingin membuka matanya. Bunda, Ayah dan Afzam masih setia menemani Ratu. Mereka yang dulu sibuk dengan pekerjaan, kini merelakan semua itu demi gadis yang terbaring lemah diatas ranjang.


Hari berganti, Neil selalu menyempatkan diri mengunjungi Ratu. Walau keadaan Ratu semakin membaik, ia masih enggan membuka matanya. Ruangan Ratu tak pernah sepi pengunjung, silih berganti teman-temannya menjenguk dirinya. Bahkan dari sekolah lain pun menyempatkan diri menjenguk gadis itu. Boneka gajah tersusun rapi di ruangan Ratu, buah, coklat dan hal lainnya.


"Masih betah tidur ya? Aku kangen banget marahin kamu, jitak kepala kamu, kapan sih kamu bangun" ucap Bilal seraya menggenggam tangan Ratu. Bilal tak pernah sekalipun absen menjenguk Ratu, ia selalu berada disana untuk sekedar mengajak Ratu berbincang. Meluapkan kerinduannya pada sang mantan kekasih.


"Kenapa Kak Ratu belum bangun ya? Ini sudah satu Minggu, gue kangen Kak Ratu, kangen banget" gumam Neil memandangi Ratu dari luar ruangan. Liam dan Damar menepuk pundak Neil, menguatkan sang sahabat.


"Loe sendiri, kenapa selalu lihat dari sini? Coba loe masuk, bilang ke Kak Ratu kalau loe kangen dia" saran Liam.


"Iya, daripada loe berdiri disini setiap hari. Loe juga bawa bunga setiap hari tapi gak mau gantiin di vas bunga itu. Biar Kak Ratu tau, kalau loe peduli sama dia" imbuh Damar.


Neil memang selalu datang dengan setangkai bunga matahari setiap harinya. Berharap kehadiran bunga itu membantu Ratu cepat pulih. Sayangnya, Neil tak pernah masuk kedalam ruangan Ratu, entah apa yang membuatnya ragu.

__ADS_1


"Gue takut, gue gak bisa lihat Kak Ratu kayak gini" gumam Neil lirih.


__ADS_2