Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 25


__ADS_3

Hari ini kelas Ratu sedang melakukan pelajaran olahraga. Bersama dengan kelas 1-2 dan kelas 2-2. Mereka sedang mempelajari tentang basket. Sedangkan khusus untuk kelas 3-2, melakukan penilaian permainan basket.


"Eh Ratu, gimana, jadi balikan loe sama Bilal?" Tanya Ubay penasaran.


"Jangankan balikan, dia cuma ngajak gue makan sama bahas hal gak penting. Kan gedek gue, buang waktu" gerutu Ratu kesal.


Bela dan Geya menghampiri Ratu, memarahi gadis itu karena mau keluar bersama Bilal. Padahal kedua teman wanitanya sudah mewanti-wanti untuk menjauhi Bilal. Karena pemuda itu tak pantas Ratu kejar apalagi ia kenang. Tetapi gadis itu tak ingin mendengarkan, ia hanya berdehem dan terus mendribble bola basketnya.


Ratu berbaring menyamping dipinggir lapangan, sambil memandangi Neil yang sedang bermain basket bersama temannya. Perlahan gadis itu mulai terserang kantuk, ia pun terlelap dalam tidurnya. Tak ada yang berani membangunkan Ratu, bahkan para guru pun membiarkan gadis itu tidur setelah semua tugasnya selesai.


Bela dan Geya menggoyangkan tubuh Ratu, mencoba membangunkannya, karena sebentar lagi sudah pergantian jam. Tetapi Ratu tak kunjung bangun, sehingga kedua gadis itu menyerah dan membiarkan Ratu tertidur. Gio dan Ubay tak membiarkan gadis itu tidur dilapangan, mereka mengambil tandu lalu memindahkan Ratu ke ranjang UKS. Berakhirlah Ratu ditempat favoritnya disekolah.


Bel istirahat membangunkan sang putri tidur dari tidur lelapnya. Ratu mengucek matanya, meregangkan tubuhnya sambil berjalan menuju kantin. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Mita dan kawannya.


"Hai Mit" sapa Ratu mengejutkan mereka. "Kak Ratu bangun tidur? Lecek amat wajahnya Kak, hehe" goda Mita. Ratu melirik gadis itu dengan senyum miring, ia hanya bisa memaki pelan Mita.


Ratu berjalan menuju kantin sembari merangkul bahu Mita dan temannya, mengakrabkan diri dengan adik kelasnya. Tampak Fiona dan gengnya memandangi kehadiran mereka. Raut wajah gelisah kini terlihat, ketakutan dan amarah yang tidak bisa dijelaskan.


Ratu terus berjalan menuju mejanya, duduk disamping Neil yang sedang makan. Ia sangat lapar tapi juga sangat malas untuk makan.

__ADS_1


"Wah, enak nih gado-gado" ujar Ratu sembari menatap Neil yang sedang makan. Neil menoleh, hampir saja ia menyemburkan makanannya. Tak kuasa menahan tawa melihat wajah Ratu yang berantakan dan rambut tak karuan. Gadis itu memanyunkan bibirnya kesal, ekspresi Neil menyebalkan.


Neil merapikan rambut Ratu dengan tangannya. Perlahan namun pasti ia menata rapi rambut gadis dihadapannya. Perlakuan manis Neil membuat Ratu tersenyum senang. Senyuman megah yang tak dapat ia sembunyikan. "Kamu lucu deh" ceplos Neil tak sengaja.


"Apa? Apa?" Goda Ratu seakan tak mendengar perkataan Neil. Neil enggan meladeni tingkah Ratu, ia memilih untuk melanjutkan makannya.


"Wah, lampu hijau nih" sela Aidan yang sedang makan dihadapan kedua remaja itu. Para anggota SS tak menghiraukan kedua remaja yang sedang jatuh cinta. Mereka sibuk makan dan membaca materi diponsel mereka. Sebab sebentar lagi adalah penilaian semester. Mereka tak ingin jika peringkat mereka turun, karena itu hanya akan merugikan mereka.


Berbeda dengan Ratu yang begitu menikmati hidupnya. Bahkan tak belajar satu hari saja tak masalah untuknya. Ratu memang terlahir cerdas, tetapi ia juga terus mengasah otaknya. Terkadang ada kalanya dimana gadis ini menghabiskan banyak waktu hanya untuk belajar.


Ratu masih terus menatap Neil yang sedang makan. Pemuda itu sudah menawarkan akan memesan makanan untuk Ratu, namun gadis itu menolak. "Punya kamu aja, males makan kalau banyak" rengek Ratu seraya membuka mulutnya.


"Tap..tapi kan Kak, ini udah aku makan. Yakin Kak Ratu mau?" Tanya Neil. Ratu mengangguk yakin dan terus membuka mulutnya.


Neil menyeka sisa saus dibibir Ratu dengan tangannya. Kini mereka sudah mirip seperti sepasang kekasih. Tontonan dan gosip baru bagi para murid SM. Mereka mulai menduga jika sebenarnya Ratu dan Neil sudah jadian.


Ratu mulai merasa ada peluang untuk mendekati Neil, ia pun memberanikan diri untuk mengajak pemuda itu berkencan.


"Neil, nanti malem sibuk gak? Nonton yuk" ujar Ratu. Neil mencoba berpikir, mengingat apa saja yang akan ia lakukan hari ini. "Boleh Kak, berdua aja kan?" Tanya Neil mencoba memastikan.

__ADS_1


Blush, pipi Ratu memanas menahan malu. Ia menutupi wajahnya dengan tangan. Menghentakkan kakinya seperti seseorang yang akan berlari. Ratu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ia terus tersenyum dan mengembangkan tawanya. Merasa jika kerja kerasnya tak sia-sia.


"Aku jemput ya, kamu manis banget sih" kata Ratu sembari mencubit gemas pipi Neil.


"Hoek hoek" para anggota SS beserta Damar dan Liam memperagakan gestur ingin muntah.


Ratu menatap Bela dan Geya, seraya menggerakkan alisnya naik turun. Sukses membuat kedua siswi itu memutar bola matanya malas meladeni Ratu yang sedang bahagia. Gadis itu berpindah tempat duduk, bergabung dengan Bela, Geya, dan Mita. Ia mengatakan jika dirinya akan mentraktir para gadis-gadis karena kebahagiaan ini.


Irfan, Bian dan Dafa yang tak sengaja curi dengar, menyela perkataan Ratu. Mereka juga ingin mendapatkan traktiran dari sang ketua. Alhasil, semua siswa menjadi saling menyahut dan ingin mendapatkan traktiran juga. Ratu hanya bisa menggeleng dan menepuk jidatnya.


"Kalian pikir gue ap.. Hani? Loe kenapa?" Ucap Ratu ketika melihat wajah salah satu adik kelasnya terluka. Ia menghampiri Hani, menatap wajah gadis manis itu sembari merasakan ngilu.


Hani menggeleng, iya mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Hani berdalih jika lukanya karena terjatuh, dan Ratu tak perlu mengkhawatirkannya. Tetapi Ratu tak percaya begitu saja, ia tahu benar jika luka lebam itu bekas pukulan.


"Loe mau kasih tau gue, atau gue cari tahu sendiri?" Tawar Ratu dengan nada dingin khas miliknya. Sontak seluruh kantin menjadi hening, menatap Ratu yang sedang serius. Hani menelan ludahnya, ia begitu gugup dihadapan Ratu. Seakan ada hal besar yang ia sembunyikan dan tak ingin Ratu tau.


Ratu sudah menunggu cukup lama, ia mulai mengotak-atik ponselnya. "Kak" lirih Hani sambil menahan tangan Ratu. "Kak Rizki" bisik Hani pada Ratu.


"Wah, sialan tuh cowok" ujar Ratu begitu kesal. "Bela, Geya, ijinin gue ke guru. Gue mau cabut" pinta Ratu lalu bergegas pergi.

__ADS_1


Daren yang baru saja datang menarik kaos bagian belakang Ratu. Ia dan teman-temannya mendudukkan Ratu di kursi. Mencegah gadis itu untuk pergi. Daren menyentil dahi Ratu, hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras. Membuat Ratu meringis, mengusap dahinya yang memerah.


"Kalau loe mau belain teman loe, gue juga mau belain adik gue" tantang Ratu pada Daren. Pemuda itu kembali mendorong bahu Ratu agar duduk kembali. Menaruh tangannya diatas kepala Ratu. "Loe mau mati konyol?" Sentak Daren yang kesal.


__ADS_2