
"Ratu, tentang Neil. Gue dapat informasi dari anak-anak. Sepertinya orang yang ngikutin Neil itu, bukan orang jahat" ujar Faiq.
Ratu duduk dan mendengarkan penjelasan Faiq dengan seksama. Sebenarnya, Ubay dan Aidan hendak pergi ke suatu tempat, lalu tak sengaja mereka melihat Neil yang berjalan seorang diri.
Awalnya mereka tak masalah, namun seseorang dengan wajah yang pernah mereka lihat sebelumnya, sedang mengikuti Neil. Seseorang yang Ratu pikir adalah mata-mata untuk memantau Neil.
Karena Aidan dan Ubay merasa penasaran, terlebih mereka tak tega melihat Ratu yang harus berusaha keras menjauh dari Neil. Padahal hatinya sangat terluka karena hal itu. Mereka pun memberanikan diri mengambil resiko untuk mengintrogasi orang tersebut.
Layaknya seorang penculik, kedua pemuda itu menarik paksa orang itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Tak butuh banyak pemaksaan, sebab orang itu segera mengaku hanya dengan satu pertanyaan.
Dia memang bukan orang jahat, karena itulah mengaku dengan cepat. Ia rupanya adalah orang suruhan Ayah Ratu, dan beberapa kali ia bersama dengan banyak orang. Mereka juga orang-orang suruhan Ayah Ratu untuk menjaga Neil.
"Kayaknya Ayah gue tahu sesuatu" celetuk Ratu setelah mendengar semua cerita Faiq.
"Apa mungkin, Daniel dan bokap loe punya hubungan seperti halnya dengan Bilal?" Tanya Faiq.
"Makin rumit nih masalahnya, otak gue udah gak kuat mikir" sela Gio.
"Hahahah, kabar bagusnya, gue gak perlu jauh dari Neil, horeeeee" sorak Ratu kegirangan. Ia juga melompat-lompat diatas kasur dengan hati yang begitu ceria.
Ratu berlari kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya dan bergegas menelepon Neil. Ia keluar menuju balkon dan melakukan panggilan video dengan Neil.
Ratu : "Hai sayang"
Neil : "Apa?"
Ratu : "Jutek banget sih, yaudah aku matiin aja"
Neil : "Eh, eh jangan. Habisnya kamu kemana aja? Kapan pulang? Kamu baik-baik aja kan?"
Ratu : "Sekarang jadi bawel. Kamu mau gak, ngelewatin malam bersamaku lagi?"
Neil : "Ap.. apa sih Kak, itu itu kan aku lagi mabuk"
Ratu : "Terus karena kamu mabuk, kamu gak mau tanggung jawab?"
Neil : "Mau kok Kak, aku mau nikahin Kak Ratu"
Ratu : "Ha? Nikah? Eh bentar Neil, nanti disambung lagi ya"
__ADS_1
Ratu menutup teleponnya. Karena ia menerima panggilan masuk dari Ayahnya.
Ratu : "Halo, ada apa Yah?"
Ayah : "Kamu gak apa-apa kan?"
Ratu : "Gak apa-apa Yah, nih aku lagi jalan-jalan sama teman-teman. Kan liburan Yah"
Ayah : "Oh yaudah kalau gitu. Kalau ada apa-apa kabarin Ayah ya, daaaah sayang"
Ayah menutup teleponnya.
"Jadi, Ayah sudah mendapat beritanya ya? Gue harus nonton televisi nih" gumam Ratu dan bergegas berlari ke kamar Gio untuk menonton televisi bersama.
Tanpa basa-basi, Ratu mengganti channel televisi ke acara berita.
Benar saja, berita eksklusif, beberapa saluran televisi juga menayangkan berita yang sama. Tentang korupsi besar-besaran beberapa Sekolah Menengah Pertama yang ternama. Sekolah swasta yang memiliki banyak minat dari berbagai kalangan keluarga. Sekolah yang selalu menjadi unggulan dalam banyak prestasinya.
Berita terkini, informasi mengenai para komite sekolah dibeberapa sekolah unggulan yang menerima SANTUNAN dari para wali murid dengan jaminan nilai prestasi yang tinggi untuk anak-anak terpilih.
"Lah, dikata orang gak mampu kali ya, nyindirnya syadies bener" komentar Faiq setelah membaca beberapa judul berita yang membuatnya tertawa.
"Ratu, apa ada nama-nama orang tua kita disana?" Celetuk Gio. Hal itu membuat Ratu tertegun, ia menggeleng dan tetap fokus menonton berita itu.
Ratu masih diam, seolah tak mendengar apa yang Gio katakan.
"Jadi cuma segini rasa percaya loe pada pertemanan kita selama belasan tahun?" Imbuh Gio lagi.
"Bukannya gitu, ntar gue kasih tahu, beri gue waktu. Pasti akan gue kasih tahu ke kalian" jelas Ratu.
Gio masih kekeh meminta bukti itu pada Ratu, namun Faiq berusaha menghentikannya. Faiq tak ingin mereka berdebat seperti anak kecil.
"Oke gue ngalah, gue kasih tahu kalian berdua. Tapi jangan disebar dulu, dan ingat, ini masalalu. Jangan sampai kalian terbawa perasaan" ujar Ratu lalu menunjukkan file yang tersimpan di ponselnya.
Benar saja, informasi yang masih disembunyikan oleh Ratu adalah nama-nama orang tua dari teman-teman sekumpulan nya, tak terkecuali para anggota SS.
Gio dan Faiq terkejut bukan main, jadi selama SMP nilai yang mereka dapat, bisa jadi karena pemberian orang tua mereka. Membeli nilai dengan harga fantastis, demi masuk ke sekolah bergengsi.
"Apa di SMA nilai gue juga pemberian orang tua gue?" Lirih Gio begitu terpukul.
__ADS_1
Faiq juga ikut lunglai, ia sudah berusaha keras selama ini. Belajar ini dan itu, menambah waktu lesnya. Ia juga tak ingin jika nilainya tercemari oleh campur tangan kedua orangtuanya.
"Udahlah, ini kan waktu SMP. Ini bukan salah kalian" hibur Ratu.
"Tapi Ratu, gue ngerasa semua sia-sia tahu gak. Gue udah belajar rajin, les sana-sini, tapi kedua orang tua gue gak percaya sama kemampuan anaknya. Ck, hm" curhat Gio.
"Sama, gue juga ngerasa gitu. Padahal orang tua Ratu jauh, tapi mereka sangat percaya dengan kemampuan loe. Buktinya gak ada nama orang tua loe disini. Pingin deh sekali aja hidup jadi Ratu" imbuh Faiq.
"Yakin mau hidup jadi gue?"
"Eh gak deh hehehehe, ribet hidup jadi Ratu"
"Terus ini mau loe gimanain? Gak perlu disimpan, ungkap aja semua, kita juga ngerti kok"
"Kalian udah dewasa ya, jadi terharu gue"
Ratu memeluk kedua temannya itu secara bergantian. Ia memang sengaja tak mempublikasikan sisanya, karena merasa jika ini hanya akan menyakiti temannya. Tetapi Ratu lupa, temannya kini telah tumbuh dewasa dengan pemikiran yang mengagumkan.
"Jangan sekarang, kita bisa buat ini sebagai alat pertukaran" ujar Ratu lalu meminta ponselnya.
"Maksudnya gimana sih?"
"Kan gue udah bilang, mereka ingin ini. Tapi Ayah gue lebih dulu menemukannya dan menyembunyikan dari mereka. Dan, mereka memiliki apa yang gue cari, kita lakukan barter"
"Apa yang loe cari?"
"Kita lihat aja nanti. Udah lah jangan bahas ini lagi, gue lagi pingin nikmatin waktu gue sama Neil. Pulang yuk, kangen sama dedek Neil" rengek Ratu sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Gio dan Faiq bergidik ngeri menatap Ratu yang aneh. Mereka bergegas mengemasi pakaian dan check out dari hotel.
Di dalam mobil....
Ratu terus menatap ponselnya, memandangi foto-foto Neil di sosial media.
"Gimana jadinya nanti kalau gue pergi ninggalin Neil? Gue gak rela kalau dia dekat sama cewek lain" gumam Ratu sambil cekikikan.
"Loe tuh sedih tapi ketawa, stres emang" celetuk Faiq.
"Loe udah mutusin buat kuliah di Jakarta? Pikirin lagi deh, ntar loe nyesel kalau Neil dekat sama cewek lain" saran Hera.
__ADS_1
"Hera, secinta apapun gue sama Neil. Dia gak akan bisa ngehalangin jalan gue buat nempuh pendidikan lebih tinggi. Ini kan keputusan Ayah, sebagai ganti karena telah membiarkan gue melakukan apapun yang gue mau" curhat Ratu lirih.
Ratu memang memiliki perjanjian dengan Ayahnya, ia boleh melakukan apapun yang dia mau, tetapi sang Ayah yang akan menentukan pendidikan Ratu kedepannya.