
Neil membalikkan badannya, ia ingin melihat kelanjutan adegan Ario dan Desi. Desi terlihat memunggungi mereka, sepertinya Ario melakukan hal lebih liar disana.
"Kak Ratu mereka ngapain?"
"Samperin gih kalau mau tahu"
Neil menatap tajam kekasihnya, ia kembali menelisik memperhatikan gerak-gerik pasangan dihadapannya itu. Pasti Ario tengah bermain dengan dada besar milik Desi. Ratu tersenyum kecut mendapati Neil begitu antusias menatap mantan pacarnya.
"Kok bisa ya punyanya Desi sebesar itu?"
"Iya, aku juga heran"
"Nyesel kamu Neil, karena gak pernah ngerasain?"
"Sedikit"
Ratu sangat kesal mendengar jawaban Neil, ia mendorong Neil menjauh dan bangkit dari duduknya. Ah, pria memang sama saja. Ia berjalan menuju kamar mandi, dengan Neil yang masih mengikuti langkah Ratu.
Gadis itu menjitak kepala Neil karena berani masuk ke kamar mandi wanita. Ia mendorong Neil untuk keluar dari sana. Tetapi Neil masih menunggu diluar kamar mandi hingga Ratu selesai dengan urusannya.
Setelah Ratu keluar, Neil mengajak kekasihnya ke tempat sepi. Ia ingin mengikuti jejak Ario yang bermain dengan liar. Baru saja mereka sampai, tapi mereka justru melihat pemandangan yang sama seperti sebelumnya.
"Ah, kok dimana-mana ada yang pacaran sih" gerutu Neil kesal.
Ratu hanya bisa terkekeh melihat sikap bodoh Neil. Tentu saja, justru dipuncak acara seperti ini, para panitia yang fokus dengan berlangsungnya acara, para pasangan pasti akan mencuri-curi waktu agar bisa memadu kasih tanpa ketahuan.
Neil sudah mengajak Ratu berkeliling, tapi mereka tak pernah bisa menemukan tempat sepi yang kosong. Bahkan suara desa han dapat terdengar saat jarak mereka masih cukup jauh dari tempat yang hendak didatangi.
"Nyerah nih?"
"Tau deh, balik aja yuk Kak"
Karena Neil telah menyerah, kini giliran Ratu mengajak kekasihnya untuk pergi ke kamarnya. Neil tampak was-was karena ini sangat beresiko tinggi. Tapi, dia bersama Ratu, segalanya akan berjalan sesuai keinginan Ratu.
"Main yuk sayang" ajak Neil manja.
Ratu menggeleng, ia tak ingin melakukan apapun. Justru ia memanggil Neil ke kamarnya, ingin menunjukkan sebuah video pada Neil. Video kecelakaan Daniel, alasan mengapa Ratu tak bisa lepas dari bayangan pemuda itu.
Terlihat Ratu dan Daniel yang hendak menyebrang jalan raya, tetapi ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kearah mereka. Daniel menarik Ratu kebelakang, hingga tepat dihadapan Ratu, pemuda yang dicintainya tertabrak dan terlempar jauh.
Kenangan itu, Ratu tak kuasa mengingatnya. Ia segera menutup leptopnya dan menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
"Jika saja Daniel masih ada disini, pasti yang duduk disamping kamu sekarang bukan aku, tapi dia"
"Tidak Neil, ini adalah takdir yang tak bisa aku hindari"
"Pertemuan kita juga takdir yang tak bisa dihindari, jadi jangan salahkan dirimu sayang"
Neil memeluk kekasihnya erat, kini ia mengerti mengapa Daniel begitu berarti. Ia juga berterimakasih pada Daniel, karena kepergiannya mempertemukan dirinya dengan sang kekasih.
Air mata Ratu akhirnya tumpah dalam pelukan Neil. Sudah sangat lama Ratu memendam kepedihan ini seorang diri. Kasih sayang Neil, meluluhkan hati dingin Ratu.
Neil mendekap kekasihnya dengan sayang, menepuk-nepuk lengan Ratu dengan lembut. Ia sesekali mencium pucuk kepala Ratu, berharap bisa mengambil separuh beban yang gadisnya pikul.
"Bikin baby Neil yuk"
"Ngaco kamu, sekolah yang benar dulu" jawab Ratu sembari menyentil bibir kekasihnya itu.
Neil menatap Ratu yang kini berbalik tidur dipangkuannya. Dengan tubuh yang menyender pada sebelah kaki Neil. Ia mencium pipi Ratu berkali-kali, ingin sekali Neil menjadikan Ratu miliknya seorang.
Mereka berdua saling memandang sambil berbincang singkat, hingga kantuk datang dan membuat keduanya tertidur pulas.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Hm, nyaman ya tidurnya" ejek Bela.
Ratu menatap Neil yang masih belum sepenuhnya tersadar.
"Kok gak ada yang bangunin?" Tanya Ratu.
"Si Daren semalem juga tidur disini bareng Gio dan Faiq. Jagain kalian" imbuh Bela.
Ratu hanya mengangguk dan mulai membangunkan kekasihnya. Bukannya bangun, Neil malah semakin mendekap Ratu dalam peluknya. Sontak saja para wanita itu mengeluh karena iri dengan Ratu yang sudah layaknya suami istri bersama Neil.
"Eh, kok banyak orang" celetuk Neil yang tersadar karena seruan para teman-teman Ratu.
Secepat kilat Neil bangun dan merapikan pakaiannya. Ia menyelinap pergi setelah Daren datang dan membawanya untuk kembali ke asrama putra.
Ratu tertawa terpingkal-pingkal mengingat kejadian semalam. Ah, padahal tak ada yang istimewa, tapi rasanya sangat berkesan. Setelah tawanya, Ratu segera membersihkan diri dan mengemas pakaiannya. Mengikuti semua murid yang berkumpul di lapangan.
Ia tak sengaja berpapasan dengan Zayden, pemuda itu menatap Ratu dengan sendu. Sedangkan Ratu tersenyum miring menatapnya.
"Loser" gumam Ratu tepat saat mereka berpapasan. Ia memang selalu saja mencari masalah.
__ADS_1
Zayden menarik tangan gadis itu dengan kasar, menatap Ratu dengan tajam.
"Loe gak tahu apapun, jadi diem aja"
Ratu menepis tangan Zayden, lalu membenarkan pakaiannya sendiri. Kemudian menepuk pundak Zayden dan berkata, "Gue Ratu, gue tahu segalanya"
"Ratu, cukup, duduk" teriak Bilal yang melihat gelagat mantan kekasihnya.
Ratu mengacungkan jempol dan duduk bergabung dengan semua murid. Tapi sebelum itu, ia kembali memancing amarah Zayden dengan berucap, "Sehebat apapun seorang pejuang, ia bakal kalah dan gelap mata karena uang"
"Mau loe apa?"
Gadis itu tak mengatakan apapun, ia hanya menunjuk Zayden dengan jari telunjuknya. Lalu memperagakan seolah hendak menggorok leher seseorang.
Bilal kembali menyuruh Ratu untuk duduk, barulah gadis itu duduk setelahnya.
Gio dan Faiq tampak memperhatikan arah pandang Zayden. Menatap ke arah para guru yang tengah berbaris memandangi murid-muridnya. Ada Pak Cipto rupanya.
"Eh, gue sama Neil semalam ngapain aja?" Tanya Ratu sambil cekikikan.
"Mana gue tahu, si Zayden lihatin Pak Cipto ya?" Ucap Gio penasaran.
"Aaahh, maunya ngapa-ngapain dong"
"Fokus Ratu, kita harus ke rencana selanjutnya"
Ratu memutar bola matanya malas, padahal ia sudah berkata jika mereka akan berhenti dan melanjutkannya lagi setelah Ratu berbicara dengan Ayahnya.
"Sayang"
"Neil, kok kamu disini? ehm..."
"Bucin anjing"
"Au ah Hoek Hoek"
Para teman-teman Ratu hanya bisa menatap pasangan itu dengan kesal. Mereka memilih memejamkan mata dan mengenakan headset agar tak mendengarkan apa yang para bucin ini katakan.
Terlihat senyuman lebar diwajah Ratu, pemandangan yang langka. Hanya Neil yang bisa melakukan hal tersebut, hanya Neil.
Neil menaruh dagunya dibahu Ratu, sambil mendengarkan kata penutup dari Bilal selaku ketua panitia. Sesekali matanya dan Bilal bertemu, Neil sudah tidak peduli, karena Ratu kini miliknya.
__ADS_1