Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 77


__ADS_3

"Mau lah" jawab Ratu seraya menarik Neil dalam pelukannya.


Raja bersorak kegirangan melihat adegan romantis dihadapannya, walau ia tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


Setelah selesai mengambil beberapa foto, ketiga remaja itu berjalan menuju asrama mereka. Sebelum berpisah, Ratu memberitahu Raja jika Neil dan dirinya baru saja jadian. Dan Neil menyatakan cintanya dihadapan Raja.


"Apa? Beraninya si gembel Neil nyatain cinta ke Ratu di depan Raja. Dasar, loe ..." ocehan Raja terpotong kala Ratu menendang kakinya. Hampir saja pemuda itu terjatuh karena hilang keseimbangan.


"Dah sayang" ucap Neil sembari mencium kening Ratu.


Gadis itu terkekeh kecil lalu pergi dengan riang gembira. Hatinya sedang berbunga-bunga, ia kembali ke kantin dan membeli semua makanan ringan yang ada disana. Ia juga meminta penjualnya untuk mengemas makanan ringan itu di beberapa kantong agar mudah dibagikan.


Ratu meminjam troli penjual dan membagikan makanan ringan ke setiap pintu di asrama putri. Ia menebarkan kebahagiaan tanpa memberitahu alasan pada mereka semua.


"Kenapa loe?" Tanya Geya saat melihat Ratu datang dengan banyak makanan.


"Gue, jadian sama Neil, aaahh" teriak gadis itu kegirangan.


"Ciye jadian juga akhirnya, dah yok, sana dandan yang cantik biar pacar loe itu makin sayang" timpal Bela.


Bela dan Geya sedang bersiap-siap untuk pergi ke lapangan basket. Karena acara selanjutnya akan diadakan disana. Teman sekamar mereka yang lain sudah pergi lebih dulu, karena mereka ingin mendapatkan tempat duduk terbaik disana.


Ratu bergegas mandi dan mulai berdandan. Ia memakai dress selutut berwarna putih dengan bunga-bunga merah, juga bandana berwarna merah. Tak lupa anting-anting, gelang dan jam tangan merah juga menghiasi tubuhnya. Rasa bahagia Ratu takkan lengkap jika ia tak mengenakan warna kesukaannya.


Mereka sudah sangat terlambat, karena Ratu sangat lama berdandan. Hampir saja pintu lapangan tertutup, mereka berhasil masuk kedalamnya.


"Cantik banget sih hari ini" puji Bilal. Ia yang menjaga pintu dan menutupnya. Setelah menutup pintu, ia berjalan disamping Ratu bersama Geya dan Bela juga beberapa panitia lainnya.


"Gue selalu cantik Lal" ujar Ratu ketus.

__ADS_1


Bilal memberikan setangkai bunga mawar yang ia simpan disaku belakang celananya. Aksi Bilal itu membuat Ratu menghentikan jalannya, dan menatap pemuda itu dengan seksama.


Pemuda yang pernah membuat Ratu jatuh cinta. Pemuda yang sukses membuat Ratu susah move on. Tapi kini, pemuda itu juga yang bisa menimbulkan amarah tak terkendali dalam diri Ratu.


"Lal, loe tahu kan cinta itu gak harus memiliki. Cinta itu tentang pengorbanan, kalau loe cinta sama gue, maka nikahi Hera. Dia lebih berhak atas cinta loe, bukan gue" jelas Ratu lalu pergi meninggalkan Bilal.


Namun Bilal tak ingin menyerah, ia kembali menarik tangan Ratu dengan kasar. Hingga membuat gadis itu berteriak dengan kesal. Mereka kini telah menjadi pusat perhatian, berdiri ditengah lapangan dengan sandiwara bak sebuah drama romansa.


"Beri aku satu kesempatan lagi, aku mohon Ratu" pinta Bilal seraya menggenggam tangan Ratu.


"Gue udah punya pacar Lal, dan dia sedang melihat kita saat ini. Jadi mending loe jauhin gue, cih" sentak Ratu kasar. Ia menepis tangan Bilal dan berlari sekencang mungkin menuju tempat duduk Neil.


Walau Bilal masih berdiri memandangi Ratu, tetapi gadis itu tak peduli. Cerita tentang dia dan Bilal telah usai. Kini hanya akan ada kisah antara Ratu dan Neil.


Ratu duduk diantara Neil dan Raja, napasnya masih terengah-engah karena berlari begitu kencang.


"Dih gaya, orang dulu kamu susah move on gitu" goda Neil seraya menyenggol lengan Ratu.


Gadis itu tertawa mendengar kebenaran dari bibir Neil. Dia juga merasa bahagia karena Neil bisa menerima masalalu Ratu yang terus menghantui.


Ratu menyenderkan kepalanya pada bahu Neil, sembari menggenggam tangannya dengan sangat erat. Ia tak peduli apapun yang ditampilkan di lapangan. Tarian, drama, dance atau apalah itu, ia hanya suka menghabiskan waktu bersama sang kekasih.


"Hei ganteng, loe anak Buana kan?" Celetuk Ratu ketika melihat pemuda yang pernah ia temui saat di sekolahnya.


"Iya Kak, ada apa ya? Oh Kakak yang waktu itu kan" ucapnya diselingi senyuman.


Gadis itu tersenyum lebar karena pemuda tersebut mengingat dirinya. Ratu mengulurkan tangannya mengajak kenalan, tetapi sekali lagi Adelia muncul entah darimana. Ia menyuruh adik kelasnya untuk pergi sejauh mungkin dari Ratu.


"Apa'an sih Del, cuma mau kenalan" ujar Ratu santai. Ia hendak kembali duduk ke tempatnya, tetapi Adelia menarik tangan Ratu dengan kasar.

__ADS_1


Plakkk....


"Bego, goblok, tolol, atau apa sih loe? Loe berasa hebat? Loe pikir loe pahlawan super? Kenapa semua hal harus atas ijin loe?" Bentak Adelia dengan amarahnya.


Ratu memegangi pipinya, ia menatap Adelia dengan heran. Tanpa tahu sebabnya, Adelia marah begitu saja, hanya karena Ratu mencoba mendekati adik kelasnya.


Bintang dan Clara tiba dengan napas yang ngos-ngosan. Mereka mencoba menarik Adelia untuk menjauh dari Ratu. Menenangkan amarah temannya dengan beberapa nasihat.


"Emang dia siapa? Kenapa dia sok berkuasa? Apa dia pikir dia adalah Ratu di dunia ini?" Oceh Adelia.


"Cukup Del, loe gak tahu kebenarannya kan. Cukup" sela Hera yang baru saja datang bergabung.


Melihat kepanikan dalam raut wajah Hera, Ratu mulai mengerti alasan dibalik kemarahan Adelia. Pasti ini karena Ratu yang meminta Hera untuk menyembunyikan kehamilannya. Ia hanya tak ingin jika berita menyebar dan Hera harus berhenti sekolah, padahal mereka sebentar lagi akan lulus.


Adelia tak menghiraukan, ia kembali mencoba menarik Ratu.


"Lepasin dia" perintah Ratu pada Bintang dan Clara. Ia berjalan dan berdiri dihadapan Adelia. Ratu melayangkan tangannya, ingin membalas tamparan Adelia padanya.


"Gue beri loe kesempatan untuk membuat alasan karena menampar gue" ujar Ratu dingin. Matanya sudah memancarkan permusuhan pada Adelia.


Adelia tak bicara, ia hanya menatap Hera. Pastilah Ratu tahu apa alasannya, sebab gadis itu mengerti banyak hal dan cepat peka terhadap situasi apapun.


"Seandainya loe tahu, apa loe bisa merubahnya?" Bisik Ratu pada telinga Adelia. Ia membuat Adelia terduduk lalu mencengkram dagunya.


Selalu saja Ratu harus dihadapkan pada para remaja konyol yang tak tahu apapun tetapi emosinya tak karuan.


"Kalian ini apa-apaan? Bikin ulah lagi? Kalian itu senior, sebagai contoh, kenapa malah bertengkar di depan para adik kelas?" Bentak Bilal yang datang bersama para panitia lainnya.


Kelima remaja putri itu lalu digiring untuk turun dari podium menuju tempat khusus untuk menyelesaikan masalah mereka.

__ADS_1


__ADS_2