
"Aaahhh brengsek, gue ada dimana? keluar kalian sialan" teriak pemuda yang tersadar dari pingsannya.
Tangan dan kakinya terikat disebuah kursi. Ruangan sepi yang asing, pemuda itu tak tahu dimana ia berada.
Suara dentingan besi yang dipukul terdengar sangat jelas. Mendekati dengan suasana yang amat canggung. Ratu berdiri dihadapan dengan tongkat besi yang panjang. Dengan banyak balutan perban, dan memar ditubuhnya. Tapi gadis itu masih berjalan dengan sangat angkuh.
"Loe siapa? Dan apa mau loe?"
"Aaargh, katakan, kenapa harus Daniel?"
Pemuda itu kembali berontak dan menggoyangkan seluruh tubuhnya. Berusaha pergi dari sana bagaimana pun caranya.
Ratu menyodorkan tongkat besi tepat di ulu hati sang pemuda. Ia menekannya perlahan sambil terus meminta jawaban. Tapi pemuda itu terus memilih bungkam tanpa alasan.
"Berapa banyak yang mereka berikan pada loe? Gue akan beri lebih banyak lagi"
"Sebanyak apa Nona muda?"
"Sebanyak yang loe mau, jawab aja pertanyaan gue"
Ratu bisa melihat jika pemuda itu tergiur dengan tawaran Ratu. Untuk lebih meyakinkannya, Ratu menghubungi seseorang untuk membawakan uang.
Gio dan Faiq masuk dengan masing-masing membawa koper berisikan uang. Mata pemuda itu berubah menjadi pemangsa, ia menatap Ratu dengan senyuman. Cih, manusia rendah ini membuat Ratu muak melihatnya.
Gadis itu mengambil ponselnya dan mulai merekam.
"Kenapa Daniel?"
"Kami melakukan sesuai perintah"
"Siapa?"
"Daniel"
"Katakan yang sebenarnya!!"
"Pemuda naif itu benar, dia bilang, akan ada seseorang yang memberi gue banyak uang demi informasi tentangnya. Jadi, loe Ratu? Orang yang Daniel cinta?"
Ratu tersenyum kecil, lalu meludah kearah samping. Pemuda itu kembali berkata, ia memiliki sesuatu yang Daniel titipkan untuk Ratu.
"Berikan"
"Tidak semudah itu Nona, gue akan memberikannya setelah loe selesaikan apa yang gak bisa Daniel selesaikan"
"Maksud loe apa?"
"Pergilah kerumah singgah Daniel, cari pohon yang ada namanya. Gali dan temukan sebuah kotak"
"Apa yang loe punya tentang Daniel?"
"Nanti kita bicarakan, setelah loe jeblosin mereka semua ke penjara Nona Ratu Bulan Batara"
__ADS_1
Ratu, Gio, Faiq pergi meninggalkan ruangan. Kemudian Daren dan yang lainnya masuk, mereka membawa pemuda itu ke rumah sakit untuk diobati. Ratu tidak akan sekejam itu hingga tega membunuh seseorang.
Aidan, Ezra, David dan beberapa anak lain pergi menuju rumah singgah Daniel. Hari sudah terlalu malam, mereka tak akan mengijinkan Ratu pergi. Terlebih kondisi Ratu yang sedang tidak fit.
Gadis itu pergi kembali ke hotel, pasti Neil sudah sadar saat ini.
Ceklek.....
Kamar itu gelap, tak ada satupun cahaya disana. Ratu merasa jika kekasihnya itu sedang marah, sebab dirinya tak ada disampingnya.
"Darimana?" Celetuk Neil ketika Ratu menyalakan lampunya.
Neil tengah duduk diatas ranjang, menyenderkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
Cup...
Ratu mencium pipi Neil dan tidur dalam pelukannya.
"Kamu habis berantem?"
"Aku sayang kamu Neil"
"Jawab"
"Hanya bermain-main. Neil, apa kau percaya dengan orang disekitar mu?"
"Tentu, kenapa?"
"Tentu"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Esok hari tiba..
Ratu melajukan mobilnya menuju suatu tempat, di hotel lain yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya menginap. Ia sudah memulangkan Neil kerumah, ini bukan sesuatu yang harus Neil ketahui.
Dengan amplop coklat tebal, ia berjalan memasuki salah satu kamar.
"Kejutan yang menyenangkan, Pak Cipto, Papa, selamat siang"
"Ratu, ka..kau , apa yang kau lakukan disini?" Tanya Cipto terbata-bata.
Ratu melemparkan amplop yang ia bawa. Disana berisikan data diri Pak Cipto dan Papa Neil. Kebenaran lain, jati diri mereka.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?"
"Pak Cipto lupa? Ayahku memiliki koneksi dinegara ini. Jadi kalian dari satresnarkoba?"
"Ratu, ini bisa kita bicarakan"
"Apa Pa? Kenapa harus Daniel, aku hanya ingin tahu jawabannya"
__ADS_1
Papa Neil berdiri dan mendudukkan Ratu dihadapan mereka. Tak lupa beliau mengunci kamar hotel lebih dulu.
Disinilah Ratu mulai bertemu dengan kebenaran yang selama ini ia cari.
Memang benar jika Daniel masuk kedalam SMP mewah itu karena dukungan Ayah Ratu. Seiring berjalannya waktu, Daniel yang cerdas dan peka akan segala hal. Ia mulai menyadari tentang manipulasi nilai disana. Daniel membagikan apa yang ia ketahui kepada Ayah Ratu mengenai manipulasi nilai. Tetapi Ayah Ratu memilih diam dan tak ingin ikut campur.
Hari dimana Daniel tak sengaja menemukan bungkusan putih. Dan secara kebetulan ia berpapasan pada Pak Cipto yang lewat. Daniel tau itu adalah narkoba, Pak Cipto yang melihat ingin merebutnya. Tapi si cerdas Daniel tak bisa terbujuk begitu saja.
Daniel meminta alasan mengapa ia harus menyerahkan barang itu. Walau banyak kebohongan yang Pak Cipto katakan, itu tak membuat hati Daniel tergerak.
"Anda pikir saya bodoh? Anda adalah mata-mata bukan?"
"Daniel, apa yang kau katakan?"
"Saya melihat semuanya, saya memiliki bukti untuk hal ini. Biarkan saya terlibat"
"Tidak, anggap kau tak tahu apapun. Ini sangat berbahaya"
"Karena itulah saya ingin terlibat, saya ingin merubah dunia yang berbahaya ini. Agar tak banyak korban yang jatuh kedalamannya"
Pak Cipto masih berpikir mengenai tawaran Daniel, beliau meminta waktu beberapa saat untuk mendiskusikan dengan tim lainnya.
Keputusan jatuh pada Daniel yang bergabung. Mereka butuh informasi secepatnya, dan atas pengorbanan itu, mereka membantu rumah singgah Daniel sampai saat ini.
Semua informasi yang terkumpul, Daniel berikan pada Pak Cipto. Ia bahkan rela menjadi salah satu kurir untuk mengedarkan narkoba.
Sekolah kejam itu, memanfaatkan beberapa murid kelas bawah. Mengiming-imingi mereka dengan imbalan uang untuk menjadi kurir. Bahkan mereka tega membuat tubuh para remaja itu sebagai wadah narkoba.
Awalnya berjalan sangat lancar, hingga kedekatan Daniel dan Ratu sedikit mengganggu rencana. Ratu yang tak pernah melepaskan Daniel sedetikpun dari pandangannya. Ia selalu mengikuti Daniel kemanapun pemuda itu pergi.
Keberadaan Ratu didekatnya sangat mengancam kedua belah pihak. Bukan tidak mungkin Ratu akan tahu segalanya. Tapi Daniel juga butuh bantuan Ratu, ia memastikan jika rencananya tidak akan gagal dan sia-sia.
Walau berada di pihak satresnarkoba, tidak sepenuhnya informasi Daniel berikan. Ia ingin mengungkap manipulasi nilai lebih dulu. Barulah jaringan bandar besar ini ia ungkapkan.
"Ratu, jika sesuatu terjadi dengan gue. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa mengambil alih" gumam Daniel. Ia merasakan sakit ditubuhnya, seakan akhir hidupnya semakin dekat.
Daniel mulai merubah rencana, beberapa orang ia datangi. Ia sembunyikan banyak bukti agar Ratu tahu kemana harus pergi. Karena komite sekolah memiliki dukungan besar dari petinggi diatas sana. Bahkan, Pak Cipto menerima teguran untuk tidak melanjutkan penyelidikan.
"Tapi kenapa Bapak masih menyelidiki?"
"Kami mencari bukti yang Daniel tinggalkan"
"Apakah Neil masuk dalam rencana?"
"Ini permintaan Daniel. Ia tak sengaja melihat Neil, dan meminta kami agar mempertemukan dirimu dengan Neil"
"Ratu, Papa juga khawatir dengan keadaan Neil. Papa dengar mereka mulai mengincar Neil, dan ...." sela Papa Neil.
"Kenapa dia ingin mempertemukan aku dengan Neil?"
"Agar kau tidak lupa dengannya dan tujuan mu"
__ADS_1