Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 62


__ADS_3

Ratu yang salah tingkah pergi meninggalkan para juniornya. Ia tak pernah menyangka jika jatuh cinta bisa membuatnya seperti orang gila.


"Perasaan dulu gue ke Bilal gak gini-gini amat. Kita awal-awal malah berantem mulu, kenapa ketemu Neil rasanya pingin dekat terus. Hush, pasti gue gila ini, fix gue gila" gumam Ratu sembari menyenderkan kepalanya ke pintu mobil.


"Kak Ratu" panggil seseorang mengalihkan kegiatan bodoh Ratu.


"Devan? Ada apa?" Tanya Ratu heran. Tidak biasanya ia melihat wajah sedih pemuda dihadapannya ini.


Tanpa berkata-kata, Devan memeluk Ratu begitu saja, menitihkan air matanya dipundak Ratu. Gadis itu sedikit tersentak, namun tangis Devan terdengar sangat menyedihkan.


Ratu tak tahu harus berbuat apa, tetapi ia menepuk-nepuk punggung Devan. Mencoba menenangkan tangis adik kelasnya itu. Ratu perlahan membuka pintu mobilnya dan menyuruh Devan untuk segera masuk, agar tak ada murid lain yang melihatnya menangis.


"Dev, ke rumah gue ya, cerita disana. Udah jangan cengeng, bukan loe banget tau gak" ucap Ratu seraya menyeka air mata Devan.


Ratu lalu pergi sejenak, menghampiri Daren yang masih ada disekitar sekolah bersama gengnya. "Cari tahu tentang Argam, apapun itu, kabarin gue secepatnya" perintah Ratu lalu kembali ke mobilnya.


"Raja, ayo pulang" ajak Ratu pada Raja yang masih mengobrol dengan Neil dan yang lain.


"Gak jadi Kak, gue mau main kerumah Neil. Ntar loe jemput gue ya" pinta Raja.


"Pulang sendiri bisa kan?" sahut Ratu ketus.


"Yakin gak mau jemput? Ntar gue ajak Desi main juga kerumah Neil pasti mau" goda Raja.


"Gue gak apa-apa kalau emang Neil masih belum bisa move on, lagian gue juga punya pacar kan. Gue gak punya hak, gue tahu. Gue duluan ya" jelas Ratu dengan nada sedih.


Gadis itu berjalan masuk kedalam mobilnya, melajukan mobilnya dengan kencang karena sangat kesal. Selama perjalanan ia terus saja mengomel tak karuan, hingga melupakan Devan yang sedang bersedih.


"Kak Ratu" teriak Devan seraya menggedor-gedor kaca mobil.


Ratu merasa ada seseorang yang memanggilnya, ia pun berbalik dan samar mendengar teriak Devan dari dalam mobil.


"Ah bego, kan Devan tadi bareng gue" gumam Ratu sembari membuka pintu mobilnya. Ia meminta maaf karena melupakan Devan, benar-benar melupakannya.

__ADS_1


"Gak apa-apa Kak, sedih gue jadi sedikit hilang karena ini. Hehehe" sahut Devan dengan tawa kecilnya.


Ratu mengajak Devan untuk masuk kedalam rumahnya, berbincang sejenak diruang tamu. Sebelum mereka berbincang, Ratu lebih dulu mendapatkan pesan dari Daren. Kebenaran tentang hubungan Devan dan Argam.


******From****** : Daren


Devan dan Argam, mereka saudara tiri. Papa Devan menikah lagi dengan Mama Argam.


Setelah membaca pesan singkat itu, Ratu mengelus kepala Devan. Meminta pemuda itu menjelaskannya secara perlahan dengan tenang.


Devan dan Argam dulunya adalah teman dekat. Mereka bertemu saat baru masuk SMP, mereka menjadi teman dekat karena satu kelas. Namun kedekatan mereka retak, karena Papa Devan dan Mama Argam memutuskan untuk menikah saat kedua anak itu duduk dikelas dua SMP.


Devan maupun Argam tentu menolak, mereka tak ingin hal ini terjadi. Sebab Argam masih menginginkan Papa kandungnya kembali lagi bersama ia dan Mamanya. Karena itulah, mereka menjadi musuh, bahkan Argam menyalahkan Devan atas semua yang terjadi.


Mama Argam adalah wanita yang baik, beliau sangat penyayang. Begitu juga dengan Papa Devan, beliau juga pria yang baik. Ratu pernah bertemu satu kali dengannya saat disekolah, itu pun karena tidak sengaja. Bahkan Ratu memiliki kartu nama Papa Devan, sebab beliau menawarkan Ratu untuk mengikuti kelas melukis di sanggar lukis miliknya.


"Kak, kalau loe nyari dia, berarti dia ngelakuin hal gak baik kan? Gue gak mau bikin Papa sedih karena hal ini" curhat Devan. Jadi itulah alasan dibalik tangis dan penolakan Devan.


Devan tak menjawab, ia hanya menunduk. Ratu tak pernah melihat Devan yang ceria serapuh ini. Devan yang selalu menggodanya kini menjadi pemuda lemah. Pemuda yang biasanya memimpin salah satu geng di sekolah, kini tertunduk dan menangis.


Sekuat apapun seseorang ingin terlihat hebat dan kenal takut. Namun dalam hati kecilnya, ada beberapa hal yang bahkan tak bisa orang lain mengerti. Hal kecil yang bisa membuatnya menangis tersedu-sedu. Hal kecil yang membuatnya berlutut minta ampun. Hal kecil yang bisa membuatnya menyerah pada kehidupan.


"Dev, loe itu kesayangan gue. Gue akan bantu loe semampu gue. Tidak, gue pasti akan bantu loe sampai berhasil. Percaya sama gue" ujar Ratu sembari memeluk Devan. Mengelus kepala pemuda itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya, loe gak sendirian kok" celetuk Fattah. Fattah, Abizar, Vano, dan Ersya, anggota TB sekaligus teman-teman terbaik Devan. Mereka datang kerumah Ratu karena mengikuti mobil Ratu yang membawa Devan kemari.


"Ada kita kan, masalah loe juga masalah kita. Kan kita keluarga" perkataan Abizar sungguh menyentuh lubuk hati terdalam pendengarnya.


"Hoek, para bocil sok bijak" ejek Ratu. Ia pergi ke dapur dan meminta para asisten rumah tangga menyiapkan jamuan untuk junior tersayangnya.


"Kak, informasi apa aja yang loe dapat tentang dia?" Tanya Devan.


Ratu memberikan foto yang ia dapatkan saat Argam sedang melakukan transaksi ganja. Memang tak terlihat jika bungkusan itu adalah ganja, namun pengirim pesan yang datang pada Ratu mengatakan jika itu ganja.

__ADS_1


"Dev, mobilnya, penjual ganja itu yang nabrak gue" jelas Ratu.


Devan dan kawannya nampak terkejut, mereka mulai mengerti, yang Ratu incar bukanlah Argam namun penjual ganja tersebut.


"Terus rencana loe apa Kak?" Tanya Devan.


"Bertemu dengan Argam, lewat bokap loe" jawab Ratu singkat.


"Kenapa? Loe bisa main ke rumah gue bareng anak-anak ini kan" sahut Devan.


"Lalu? Gue buka jalan buat Argam biar bisa nyalahin loe lagi? Lagian bokap loe kan gak tahu kalau kita saling kenal Dev, gue bisa cari alasan untuk itu" jelas Ratu. Ia sudah memikirkan semua rencananya dengan sangat matang dan mendetail.


Mereka mengangguk, apapun yang Ratu lakukan pastilah yang terbaik.


Selagi Devan dan kawan-kawan menikmati hidangan, Ratu masuk ke kamarnya, bersiap-siap untuk segera pergi menjemput Tania yang rewel. Sedari tadi Tania terus menelepon, namun karena Ratu masih sibuk, ia mengabaikan telepon itu.


"Itu leher sama kaki loe kenapa Kak?" Celetuk Vano setelah memperhatikan Ratu.


Ratu mengenakan baju seperti biasanya, kaos dan celana pendek. Tetapi kini kaosnya sedikit ketat, menunjukkan lekuk tubuh dan area perut gadis itu.


"Biasa, habis berantem sama begal" ucap Ratu santai. Para pemuda itu hanya ber-oh ria mendengarnya. Tak ada kejutan yang istimewa.


"Gue harus pergi, kalian kalau mau disini ya silahkan" pamit Ratu lalu pergi menuju mobilnya.


Mendapat ijin dari Ratu untuk bermain dirumahnya, tentu para pemuda itu tak menolak. Mereka menghabiskan waktu mereka disana hanya untuk sekedar mengobrol dan makan.


"Lumayan hemat uang jajan" celetuk Ersya.


.........***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Suami Pilihan Papa............


...Terimakasih sudah membaca......


...lope lope Kakak...🥰🥰***...

__ADS_1


__ADS_2