Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 24


__ADS_3

Ratu terkejut sendiri dengan apa yang ia katakan. Ia tak bermaksud mengatakan hal seperti itu, tapi hal ini seakan diluar kendalinya. Tetapi mau bagaimana lagi, hati tidak bisa dibohongi.


"Eaak, udah ditolak dua kali masih mau nembak lagi loe?" Teriak Gio menggoda Ratu. Sontak saja semua mata terkejut dengan pernyataan Gio. Apalagi teman-teman Neil yang menganga tak percaya. Neil terdiam menatap Ratu yang sedang panik.


"Pantang nyerah sebelum jadian" imbuh Aidan diiringi sorakan. Ratu merasa sangat kelas, ia melempar gelas yang ada diatas meja ke arah temannya. Seketika semua bungkam dalam keheningan.


Gadis itu mengacak rambut Neil, lalu mengembalikan kotak P3K dan pergi menghampiri gerombolannya. Semua pemuda yang ada disana duduk berlawan dengan Ratu.


"Nyeremin bro, tapi cantik juga cewek loe" bisik Dion pada Neil. "Sembarang loe, bukan cewek gue" balas Neil. Dion terkekeh, lalu kembali melanjutkan reunian mereka. Walau ada sedikit rasa was-was dalam hati. Tak sedikit dari mereka yang sesekali mencuri pandang ke arah Ratu dan gerombolannya.


Terlihat mereka masih saling berhadapan, Ratu dan para pemuda disana. Mereka mendengarkan Ratu yang sedang menjelaskan sesuatu, di sebuah papan kecil yang entah sejak kapan sudah berada disana. Gadis itu menunjuk setiap pemuda dan mulai meminta hal yang mereka dapatkan. Samar Neil mendengar mengenai, foto, cctv, sketsa wajah, hingga plat nomor. Tak terdengar jelas, sebab suara mereka terlalu berbisik.


Setengah jam sudah Ratu mengadakan rapat dengan teman-temannya. Kini mereka sedang duduk bersantai sambil bermain game. Bercengkrama sambil menonton drama. "Wah, anj*ng nih cowoknya, bangs*t, bab*, mony*t" celetuk salah seorang pemuda yang asik menonton drama. "Semuanya aja loe sebutin, cowok itu sama aja" sahut Ratu.


Gadis itu tak menyadari jika semua temannya adalah pria, dan sedang menatapnya kesal. "Oh kalau sama, berarti dia juga dong" ujar pemuda lain sembari menunjuk Neil dengan dagunya. Refleks Ratu dan yang lainnya mengikuti petunjuk tersebut, mereka menatap Neil yang sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba saja Neil menoleh diikuti teman-temannya. Kini mereka semua saling berpandangan.


Para adik kelas itu nampak gugup dan kikuk. Mereka saling berbisik dan bertanya-tanya. "Eh, ngapain mereka lihatin kita?" Tanya Dion khawatir. "Hayoloh, wkwkwk" goda Damar yang membuat teman-temannya semakin gugup.


"Kak Ratu, Kak Ratu" panggilan itu membuyarkan aksi saling pandang disana. Devan tiba-tiba saja masuk sambil memanggil nama Ratu.


"Apa?" Tanya Ratu ketus. "Loe, dicariin om-om" jawab Devan dengan napas yang terengah-engah.


Kini giliran semua mata menatap ke arah Ratu. Perkataan Devan membuat pikiran orang-orang disana menjadi traveling tak menentu. Ratu dihujani oleh rentetan pertanyaan tak masuk akal dari temannya. Membuatnya kesal dan hampir saja sekali lagi melemparkan gelas yang ada dihadapannya.


Ratu menyuruh mereka semua diam, dan meminta Devan untuk bicara. "Dia bilang, loe belum bayar jasa pijatnya" jelas Devan.

__ADS_1


"Wah parah loe"


"Pijet sama om-om?"


"Gak ada tempat pijat lain?"


"Pakai segala ngutang lagi"


"Otak loe kemana?"


"Kan banyak pijet plus plus yang masih muda cowoknya"


Begitulah kiranya para pemuda itu kembali membuka mulut mereka. Untuk mencemooh apa yang mereka dengar. Ratu tidak habis pikir, mulut temannya lebih kejam daripada mulut tetangga.


"Pijat plus-plus pala loe peyang. Gue lupa tadi, nih bayarin, kembaliannya ambil" pinta Ratu pada Devan. Devan bergegas pergi setelah menerima uang dari Ratu. Lumayan untuk jajan.


"Yaelah Kak, cuma nyapa gue. Kalau gak ada loe udah gue tonjok nih satu-satu" sahut Devan kemudian segera berlari sebelum mendengar omelan panjang Ratu.


Sebelum datang ke kafe, Ratu memang pergi ke tempat pijat. Badannya terasa sakit setelah sibuk belajar untuk olimpiade IPA. Ia harus terus mengikuti instruksi guru dan tak bisa menghabiskan waktunya, karena itu ia menyempatkan diri untuk pijat.


"Gue heran sama loe, ketua geng tapi kesibukan loe malah belajar buat lomba. Panutan emang" celetuk salah seorang pemuda memuji Ratu.


"Iyalah, karena gue Ratu" balas Ratu dengan bangga.


"Hahahaha" suara tawa cukup nyaring. Hingga dapat didengar oleh Ratu dan teman-temannya. Mereka semua menoleh ke arah tempat duduk Neil. Kembali para adik kelas merasakan suasana tegang, itu karena tawa Neil yang tiba-tiba.

__ADS_1


Salah seorang pemuda bertanya siapa yang tertawa tapi tak ada yang menjawab. Mereka memilih bungkam dan pura-pura tak tahu apapun. "Udah-udah, suaranya si Neil" sela Ratu ditengah kebingungan.


Neil terbelalak tak percaya, Ratu bisa mengenali suara tawanya. Jika sudah suka memang susah, hal sekecil apapun tidak akan pernah bisa lupa. Mereka kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.


Tak berselang lama Devan kembali memanggil Ratu. Ia tak masuk kedalam dan hanya berdiri dipintu sembari bersender disana. "Apa lagi Dev? Loe mah seneng banget manggil-manggil nama gue, loe pikir gue Jailani" ujar Ratu kesal.


"Jelangkung goblok" bentak Daren ngegas. Ratu sontak menendang tubuh Daren yang duduk tak jauh dari dirinya. Membuat pemuda itu terjatuh dan meringis kesakitan.


"Ini mah lebih parah dari jelangkung. Asli Kak" sahut Devan dengan wajah serius.


Ratu berdiri dan perlahan menghampiri Devan yang sedang mengintip ke arah luar. Devan menunjukkan sesuatu pada Ratu, bayangan yang ada disekitar motor Ratu. "Loe lihat kan, ini lebih nyeremin, bayangan masalalu" celetuk Devan.


"Heaaaaaa" teriak para penonton bersamaan.


"Anjir ngapain dia disana? Wah mau mesum nih pasti" balas Ratu sambil terkekeh.


"Eh goblok nih anak, itu kan Bilal" ujar Ratu geram lalu kembali ketempat duduknya. Ia merasa Devan telah mempermainkannya. Padahal apa yang dikatakan Devan tidaklah salah, Bilal memang bayangan masalalu Ratu. Masalalu yang tidak bisa Ratu lupakan begitu saja.


Ratu bergumam tanpa alasan, ia mengira Bilal sedang berada disana bersama dengan kekasihnya Hera. Tak ada yang istimewa, dan Ratu tak mau tau mengenai hubungan mereka berdua.


"Loe gak tau kalau mereka udah putus?" Celetuk Ubay yang dihadiahi semburan oleh Ratu. Gadis itu terbatuk-batuk, sedangkan Ubay mengomel dan membersihkan wajahnya yang basah. Ubay merasa sangat kesal dan menjambak rambut Ratu, memainkannya ke kanan dan ke kiri hingga puas.


Sudah bukan berita baru mengenai putusnya hubungan Bilal dan Hera. Ini terjadi saat Ratu tidak berada disekolah dan sibuk dengan olimpiade nya. Ratu masih tak yakin, tapi semua orang berkata itu memang benar. Bahkan berita itu juga sampai ke telinga anak sekolah lain.


Devan kembali masuk kedalam kafe, ia kembali memanggil nama Ratu. "Kak, dipanggil noh sama masalalu" teriak Devan dari arah pintu. Pemuda itu sangat malas berjalan bolak-balik hanya karena menyampaikan pesan sepele.

__ADS_1


Ratu terkejut bukan main, ia segera merapikan rambut dan pakaiannya. Tak lupa menambahkan pewarna merah dibibirnya. "Dih, cakep bener" celetuk Lay mengomentari penampilan Ratu.


"Sapa tau gue diajak balikan, cabut dulu ya" pamit Ratu kemudian berjalan keluar kafe.


__ADS_2