
Esok harinya, Ratu kembali pergi menemui pemilik tempat penghancuran mobil. Kini ia hanya seorang diri, sebab ia berpencar dengan Gio dan Faiq.
Ratu tak pergi ke tempat penghancuran mobil, melainkan ke rumah pemilik tempat tersebut.
Ttookk... Ttokkkk....
Ratu mengetuk pintu beberapakali, menunggu tuan rumah membukakan pintu untuknya.
"Iya, cari siapa ya Mbak?" Tanya seorang Ibu-Ibu paruh baya.
"Selamat pagi Ibu, saya Ratu. Apa benar ini rumah Pak Bambang?" Sahut Ratu dengan sangat sopan.
"Iya benar Mbak, ada yang bisa saya bantu?"
Ratu mengangguk, ia meminta ijin pada Ibu itu yang merupakan istri Pak Bambang untuk berbicara didalam. Setelah diijinkan, Ratu duduk diruang tamu, memandangi setiap foto yang ada disana.
"Maaf Bu sebelumnya, apakah kalian memiliki putra?" Tanya Ratu setelah melihat foto keluarga mereka.
Informasi ini tidak Ratu dapatkan, yang ia ketahui hanyalah Pak Bambang memiliki seorang putri.
"Iya Mbak, dia anak sulung kami. Tapi dia tidak sekolah disini, baru saja pindah sekolah keluar kota, ia bilang mau tinggal bersama Pamannya" jelas istri Pak Bambang.
Ratu mengangguk mendengarkan setiap penjelasan. Ia lalu menyalakan ponselnya dan menunjukkan foto beberapa orang yang mungkin pernah datang ke rumah Pak Bambang sebelumnya.
Beberapa foto telah terlewati, namun belum ada satupun orang yang dikenali oleh istri Pak Bambang.
"Oh, ini Pamannya, Kakak suami saya" celetuk istri Pak Bambang.
"Dia pernah datang kemari?"
"Iya, sebelum Elang pergi tinggal bersamanya"
"Kenapa kalian menyetujui putra kalian tinggal jauh dari kalian?"
"Suami saya merasa berhutang budi pada Kakaknya. Karena itu, dia membiarkan Elang untuk tinggal disana, sebab Kakak Ipar saya hanya tinggal seorang diri setelah kecelakaan yang menimpa keluarganya"
Kebenaran kembali terkuak, Ratu semakin dibebani oleh rasa bersalah. Ia sudah cukup mendengar semuanya, kenyataan yang menyakitkan.
Tujuan awal Ratu adalah mencari cara untuk mendapatkan informasi dari Pak Bambang. Namun ia malah mendapat kebenaran lainnya.
__ADS_1
Ratu menyudahi kunjungannya, ia lalu berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Pak Bambang.
"Daniel, apa kamu melihatku dari atas sana? Kau tau, Neil bilang tak menyesal telah mengenalku, tapi aku menyesal telah mengenalmu. Aku membenci cinta, itu hanyalah sebuah rasa yang akan selalu memberikan luka" gumam Ratu seorang diri. Ia berjalan menyusuri trotoar yang ramai siang itu.
"Aku sudah sejauh ini, berhenti pun percuma bukan? Dari awal kamu memang sudah menargetkan aku, karena kamu yakin, aku bisa menyelesaikan semuanya. Dasar lelaki bodoh" imbuh Ratu.
Gadis itu menertawakan dirinya sendiri, permainan yang dibuat oleh Daniel baru ia ketahui setelah tiga tahun lamanya. Namun Ratu masih tidak mengerti, mengapa Daniel pergi hanya karena pemuda itu mengetahui korupsi yang dilakukan oleh sekolah.
Uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Tapi apakah pantas nyawa seseorang diukur dengan jumlah uang yang tak seberapa.
Bukankah ini wajar terjadi, semua orang tua selalu ingin anak mereka menjadi yang terbaik. Selalu ingin putra dan putrinya mendapat citra baik serta diperlakukan dengan baik. Lalu apa salahnya mengeluarkan uang demi anak sendiri? Ratu mulai berpikir jika Daniel terlalu ikut campur dalam urusan orang lain.
"Huh, kenapa gue mikirin ini, semuanya sudah selesai. Bukti korupsi yang Daniel tinggalkan sudah gue sebar. Tapi, alasan kematian Daniel masih mengganjal, tidak mungkin hanya karena ini mereka membunuh Daniel. Terlebih saat mereka tahu, Daniel dekat denganku" lirih Ratu.
Hujan tiba-tiba saja turun, seolah langit tahu kesedihan Ratu kala itu. Di tengah guyuran hujan yang deras, Ratu masih nyaman melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Setidaknya hujan dapat menutupi kesedihannya.
"Ratuuu" teriak seseorang dari dalam mobil.
Mobil itu menepi, lalu menarik Ratu masuk kedalamnya. Gio dan Faiq tida habis pikir dengan apa yang Ratu lakukan. Berjalan ditengah hujan bukanlah solusi untuk mengatasi masalah.
"Gila loe ya? Nanti kalau loe sakit gimana?" Oceh Gio yang khawatir.
"Nyawa gue hilang separuh, kalau pun hilang lagi pun tak masalah" jawab Ratu seenak jidatnya.
Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, jika menyangkut Neil, hatinya kembali melemah tak berdaya.
"Semua informasi yang loe kirim ke kami itu, masih ada lagi kan? Kenapa loe sembunyikan?" Tanya Gio.
"Karena ada nama-nama orang yang gue kenal, gue ingin memastikan kebenarannya sekali lagi. Sebab gue takut ini adalah jebakan" jelas Ratu.
Gio dan Faiq mencoba memahami maksud serta tujuan Ratu. Tapi mereka sedikit kecewa sebab Ratu menyembunyikan hal itu dari mereka semua.
"Hasilnya Hera udah keluar, dan itu memang anak Bilal" celetuk Faiq memberitahu.
"Bajingan cowok itu, kenapa bisa gue jatuh cinta sama cowok kayak dia? cuiih" maki Ratu kesal.
Seberapa besarpun rasa benci Ratu pada Bilal saat ini, ia tak bisa memungkiri jika pemuda itu pernah mengukir tawa dan kenangan bahagia dalam hidupnya.
"Kita pulang hari ini, besok gue mau ke sanggar lukis bokap nya Devan" imbuh Ratu.
__ADS_1
"Loe sendiri? Mending loe ajak si Lay sama Justin, mereka kan jago gambar" Saran Faiq.
"Hm, okedeh. Ntar gue hubungi mereka" jawab. Ratu menerima saran Faiq.
Ratu, Gio, dan Faiq pergi menuju hotel tempat mereka menginap. Hera sudah berada disana, sedang beristirahat karena ia merasa cepat lelah.
Ratu segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya yang basah karena air hujan. Setelah itu ia bergabung dengan Gio dan Faiq yang sedang menonton film di kamar mereka.
Gadis itu menunjukkan foto putra Pak Bambang pada Gio dan Faiq.
"Jangan tunjukkan ini pada siapapun, hanya kita bertiga yang tahu. Dia putra Pak Bambang, sekarang bersekolah di salah satu SMA di kota kita. Kita akan menemukannya saat acara sekolah nanti" jelas Ratu.
"Terus tugas kita apa?" Tanya Gio.
"Perhatikan, siapa yang ia pandangi saat gue bertemu dengannya nanti"
"Maksud loe?"
"Kita buat permainan, yang mengharuskan dia dan gue berhadapan"
"Tapi kan loe, ataupun kita gak pernah lihat dia. Gimana caranya?"
"Dia akan mendatangi gue, menawarkan sesuatu yang gue cari"
Gio dan Faiq masih tidak mengerti apa rencana Ratu sebenarnya. Gadis itu menjitak kedua temannya yang tak cepat memahami situasi.
Kedatangan mereka menemui Pak Bambang, pastilah akan disampaikan oleh Pak Bambang pada orang yang menghancurkan mobil yang mereka cari. Dan kedatangan Ratu ke rumah Pak Bambang, itu juga akan tersampaikan pada orang-orang yang terlibat.
Dengan kata lain, Ratu mengacaukan rencana mereka. Dan yang akan terjadi adalah, mereka akan mencari Ratu untuk bertukar informasi. Karena Ratu tidak menyebar semua bukti yang ia dapatkan.
Sebab gadis itu berpikir jauh kedepan, jika ada hal yang masih disembunyikan. Karena itulah mereka memancing Ratu untuk keluar dan mencari apa yang masih disembunyikan oleh Daniel dari mereka. Sebab mereka tak bisa menemukan barang-barang Daniel yang hilang.
"Kalau gitu, berarti orang yang ngasih kotak itu, dia membantu Daniel?" Tanya Faiq memperjelas.
"Dia tidak membantu Daniel, tapi dia ingin gue tahu"
"Kenapa dia ingin loe tahu?"
"Dia ingin gue tahu, jika cinta tidak pernah lebih berharga dari kedudukan dan pengetahuan. Karena cinta hanya akan membuat luka"
__ADS_1
Ratu menghembuskan napasnya kasar, ia menyalakan rokok untuk menenangkan pikirannya.
"Pertanyaannya adalah, kenapa Ayah gue ingin menghilangkan rasa cinta itu dalam diri Ratu? Dan kenapa ia bisa menyimpan kotak milik Daniel?"