
Neil tersenyum ramah, ia berdiri dan memberi salam pada kedua orang tua Ratu, diikuti oleh Liam serta Damar. Ketiga pemuda itu pun saling bergantian memperkenalkan diri mereka.
"Cuma teman kok Om, bukan pacar" ujar Neil.
"Sakit tapi tak berdarah" sela Ratu yang sudah bosan mendengar kata teman dari bibir Neil.
Ratu juga memberi salam pada orang tua Neil, Liam dan Damar. Papa Neil memuji betapa hebatnya Ratu. Memenangkan olimpiade, menjadi peringkat satu disetiap penilaian, serta keahliannya dalam mesin. Tak henti-hentinya beliau memuji gadis yang sedang tersipu malu tersebut.
"Iya Ratu bisa dapetin semuanya, tapi dapetin hati anak Papa butuh kerja keras dan kesabaran ekstra" ujar Ratu menanggapi pujian dari Papa Neil.
"Apa apa? Siapa yang kamu panggil Papa?" Goda Bunda sembari menyikut lengan putrinya.
Ratu kembali menjadi salah tingkah, ia mengajak kedua orangtuanya untuk pergi dari sana. Bukannya pergi, orang tua Ratu malah ikut bergabung dengan orang tua Neil, berkenalan dan berbincang-bincang.
"Bunda jadi bingung, kalau Neil bukan pacar kamu, kamu balikan sama Bilal? Tadi Bunda lihat dia kasih kamu buket" Tanya Bunda menyelidik. Ratu langsung saja menyanggah perkataan Bunda. Dia mengatakan jika hal seperti itu tidak akan terjadi. Teman-teman Ratu hanya bisa tertawa melihat drama ini.
"Kamu jangan main-main sama anak orang ya Ratu" nasihat Ayah Ratu. Teman-teman Ratu tertawa terbahak-bahak mendengar hal tersebut, bahkan kedua orang tua Ratu tahu bagaimana sikap Ratu yang suka dekat dengan banyak pria.
"Ayah sama Bunda apa'an sih? Bukan salah Ratu dong kalau mereka suka, siapa suruh Bunda ngelahirin anak secantik aku" jawab Ratu menyombongkan dirinya. Ayah dan Bunda refleks menjewer telinga putrinya bersamaan. Membuat gadis itu mamanyunkan bibirnya.
"Ratu, ada info" teriak Daren yang baru saja datang dengan terengah-engah. Daren terkejut mendapati kedua orang tua Ratu masih berada diantara Ratu dan teman-temannya. Gadis itu mengangguk dan memberi tanda pada yang lain untuk pergi bersama Daren.
Ratu berpamitan kepada Ayah dan Bundanya, karena ia harus pergi mengurus hal yang penting. Membiarkan Ayah dan Bundanya berbincang bersama keluarga Neil.
"Ayah dan Bunda kalau mau disini silahkan, tapi aku gak bisa nemenin kalian. Kalian berdua disini aja ya bicara sama calon besan" ucap Ratu sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Anak nakal" sahut Bunda mencubit pipi Ratu gemas. Ratu menerima kecupan dipipi dari Ayah dan Bundanya sebelum pergi mengikuti teman-teman yang lainnya.
Neil, Liam dan Damar sedang berbisik ria. Sekali lagi mereka melihat Ratu yang berbeda. "Hei, kalian lihat kan? Kak Ratu sikapnya beda banget didepan orang tuanya" bisik Liam.
__ADS_1
"Iya, gue baru sadar kalau ternyata Kak Ratu cantik dan manis banget kalau dilihat-lihat" balas Damar malu-malu. Neil dan Liam sontak menatap Damar yang berperilaku seperti seorang yang sedang jatuh cinta. Neil menjitak kepala Damar dengan kesal.
"Kayaknya Bunda pernah lihat kamu deh Neil" celetuk Bunda sambil mencoba mengingat-ingat.
"Kan semalam ketemu Bun" sahut Ayah Ratu. Bunda hanya mengangguk, mungkin memang benar, masih terbayang wajah Neil karena kejadian semalam.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ratu sedang bersiap dikamarnya, ia akan pergi nongkrong bersama teman-temannya membahas tawuran yang telah terjadi hari ini. Bukan tanpa alasan hal ini mengusik Ratu. Masalahnya, tawuran itu terjadi didepan sekolahnya, sedangkan para siswa yang ikut tawuran berasal dari sekolah yang jauh dari SM.
"Ayah, Bunda. Ratu pergi dulu ya" ijin Ratu seraya mencium pipi kedua orangtuanya.
"Mau pergi sama Neil?" Tanya Ayah. Gadis itu mengangguk cepat, ia tahu jika Ayahnya tak akan mengijinkan dia pergi begitu saja. Karena itu ia berbohong akan pergi bersama Neil.
Sebenarnya Ratu ingin menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya. Tetapi masalah ini lebih mendesak, ia tak ingin ada kejadian seperti ini lagi.
"Nanti kalau udah sampai di restoran foto berdua ya, kirim ke Ayah" perintah Ayah dengan tegas.
Disisi lain, Neil sedang bermain PS bersama Liam dan Damar dirumah Liam. Mereka begitu asik bermain hingga tak menyadari hari telah petang.
Ttiing...
Notifikasi pesan masuk berbunyi diponsel Neil. "Neil, Kak Ratu mau jemput loe nih, 30 menit lagi, dia lagi otw" ucap Damar membaca pesan yang masuk.
"Oohh.. Ha? Apa? Kak Ratu? Sekarang? Gue belum mandi nih" sahut Neil panik. Liam dan Damar tidak mengerti apa yang diributkan oleh temannya itu. Ia hanya harus pulang, mandi dan bersiap, mengapa malah begitu heboh disini.
"Gi..gimana dong? Gue kucel gini, nanti Kak Ratu ilfeel lagi. Gue jadi kebayang waktu gue pakai bokser gambar Patrick" celoteh Neil gusar. Ia berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya.
Liam dan Damar berbisik-bisik, kini mereka semakin yakin jika Neil menaruh hati pada Ratu. Kedua pemuda itu menarik Neil, membaringkannya diatas tempat tidur. Mereka berdua menahan kedua tangan Neil, agar dirinya tak bisa bergerak.
__ADS_1
"Jujur, loe suka Kak Ratu kan? Ngaku aja deh loe" sidak Liam bersama dengan tatapan tajamnya.
"Kalau loe gak jujur, kita gak bakal lepasin loe. Biarin aja Kak Ratu lihat loe kucel gini, biar ilfeel sekalian" imbuh Damar.
Neil berusaha memberontak, melepaskan kedua cengkraman tangan temannya. Memang benar ia menyukai Ratu, tapi ia masih ragu dengan perasaan itu. Terlebih dirinya tak ingin menjadi bahan candaan Liam dan Damar. Sayangnya, Liam dan Damar sungguh-sungguh pada perkataan mereka. Tak membiarkan Neil lepas dari cengkraman sebelum menceritakan kebenaran.
"Iya gue suka Kak Ratu, tapi gue masih gak yakin" ujar Neil ragu.
Akhirnya kejujuran Neil melepaskan dirinya dari cengkraman Liam dan Damar.
"Apa lagi sih yang loe pikirin? Jelas Kak Ratu suka sama loe" ucap Liam.
"Tau nih, udah berapa kali dia nembak loe bego loe. Gak bego lagi sih, udah ke goblok ini mah" imbuh Damar.
Mereka berdua begitu gemas melihat Neil yang tidak bisa melihat dengan jelas. Padahal Ratu terang-terangan menunjukkan jika dirinya menyukai Neil.
Liam dan Damar menggiring Neil untuk pulang kerumahnya. Mereka menyuruh Neil mandi, sedangkan keduanya memilihkan baju untuk Neil.
Ttook ttok ttok...
Terdengar suara pintu diketuk. Damar segera turun ke bawah membukakan pintu. "Kak Ratu" sapa Damar lalu mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Damar meminta Ratu untuk duduk sembari menunggu Neil yang sedang bersiap dibantu oleh Liam.
"Kalian berdua ikut juga ya, buat nemenin Neil" ujar Ratu tanpa basa-basi.
Damar menatap heran, ia berpikir ini ide yang buruk jika berada ditengah-tengah pasangan yang sedang berkencan. Ia pun beralasan jika dirinya dan Liam memiliki urusan lain. "Apa urusannya sepenting itu?" Tanya Ratu lagi. Damar mengangguk secepat yang ia bisa.
Gadis itu tampak berpikir sejenak, lalu kembali menjelaskan pada Damar maksud kedatangannya mengajak Neil pergi. Ini hanya karena Ayah Ratu, sebab jika Ratu tidak pergi bersama Neil pasti beliau akan melarang Ratu untuk pergi. Sedangkan, gadis itu harus berbincang serius dengan teman-temannya.
Kembali Damar terkejut, rupanya ini bukan sebuah kencan. "Masalah tawuran tadi Kak?" Balas Damar ragu. Gadis itu mengangguk pasti, ini memang masalah tawuran.
__ADS_1
Damar segera berlari menuju kamar Neil, menjemput Liam untuk segera bersiap-siap karena ia memutuskan untuk ikut pergi bersama Ratu. Liam awalnya juga tak setuju, begitu juga dengan Neil, tetapi Damar menjelaskannya situasinya. Liam pun ikut bersama Damar untuk bersiap dirumah mereka. Sedangkan Neil, ia menatap cermin dengan kecewa.
"Apa yang coba kau harapkan Neil? Bodoh" gumam Neil seraya menatap dirinya dicermin.