Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 86


__ADS_3

"Kamu masih suka Kak Bilal?"


"Sedikit sayang, Bilal itu kayak pria idamanku. Sebelum aku tahu busuknya"


"Hmm,, kalau aku?"


"Biasa aja"


Neil berdehem lalu menyenderkan kepalanya di pundak Ratu. Menggenggam tangan kekasihnya erat, sambil sesekali menciumnya.


Sedangkan Ratu, tengah berbincang serius dengan para teman-temannya. Mereka telah siap kapanpun Ratu memulai peperangan, tapi bukan itu yang Ratu inginkan. Ia ingin semuanya berakhir damai dan adil. Tidak ada lagi ketidakadilan yang mengharuskan menghilangkan nyawa seseorang.


"Kak Ratu"


"Iya sayang, ada apa?"


Pemuda itu merasa bosan karena Ratu tak memperhatikannya. Ia terus saja berbisik memanggil nama kekasihnya, berharap Ratu akan menoleh dan mengajaknya berbincang. Tapi gadis itu, tetap berbincang dengan teman-temannya.


Hingga Neil sudah tak tahan lagi, ia memanggil Ratu, dan saat gadisnya menoleh, ia melu mat bibir itu tanpa ampun. Bukannya menghentikan aksi Neil, Ratu malah membalasnya dengan lebih liar. Untung saja, sebagian besar murid tengah tertidur karena kelelahan.


"Ratu, hei" panggil Gio dari bangku belakang. Ia melempar botol kosong yang tepat jatuh mengenai kepala gadis itu.


Seketika Ratu menarik dirinya dari Neil, walau ada rasa tak rela disana. Neil terlihat sedikit terengah-engah, ia mencoba meraih bibir Ratu kembali.


"Udah tidur gih, kamu capek" pinta Ratu seraya menarik kepala kekasihnya dalam dekapannya.


Pemuda nakal itu malah menggosokkan wajahnya di dada Ratu. Neil masih saja mencari cara untuk membuat Ratu hanya mengurus dirinya. Ratu mengambil jaket dan memakainya secara terbalik, ia berusaha menutupi tubuhnya.


"Pegang aja ya, terus tidur"


Neil mengangguk, tangannya sudah mulai meraba dua gundukan kembar itu. Ia melapas kaitan pakaian dalam Ratu, dan mulai mengelus nya perlahan. Sesekali ia remas dan mainkan dengan penuh cinta.


Sedangkan Ratu masih menatap temannya dan berbincang melanjutkan rencana mereka. Tetapi sekali lagi gangguan itu datang, Neil yang nakal memasukkan kepalanya kedalam pakaian Ratu. Ia memainkan dada Ratu dengan mulutnya, menghisap dan menggigitnya sesekali.


"Bentar" celetuk Ratu minta waktu pada temannya. Mereka hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Neil dan Ratu.


Gadis itu tertawa geli karena Neil bermain dengan liar disana. Ratu tak bisa menghentikannya begitu saja, ia menekan kepala Neil agar bisa lebih liar lagi. Hingga sekali lagi Gio memukul kepala gadis itu karena geram.


Neil masih bermain disana tanpa tahu apa yang terjadi.


"Neil, kalau kamu gak keluar sekarang, aku pukul ya"


"Tadi katanya boleh"

__ADS_1


"Cuma pegang, bukan main kayak gitu. Nanti diterusin lagi dirumah, kamu tidur ya sayang"


"Udah bangun nih yang bawah"


Ratu membelalakkan matanya, ia menjitak kepala Neil dan menatapnya tajam. Kali ini Neil tak bisa berkutik, ia senderkan tubuhnya ke jendela bus dan mencoba memejamkan matanya. Sedangkan Ratu kembali berbincang setelah membenarkan pakaiannya.


Jelas rencana mereka tak akan berjalan tanpa bantuan Ayah Ratu. Karena pasti mereka butuh koneksi untuk masuk lebih dalam. Terlebih, Ratu merasa jika Ayahnya adalah alasan mengapa dirinya dan Daniel bisa dekat.


Karena Ratu tahu benar, Ayahnya tak pernah membiarkan Ratu dekat dengan siapapun tanpa beliau ketahui. Bahkan kedekatan Bilal dengan dirinya itu juga karena sang Ayah.


Ratu menyalakan ponselnya, ada banyak pesan masuk dari Ayah dan Bundanya. Rupanya mereka telah sampai dirumah kemarin. Dan hari ini, mereka tengah mengadakan pertemuan dengan keluarga Neil.


"Ada apa ini?" Gumam Ratu seraya menatap Neil yang sudah terlelap.


Gadis itu menarik kepala Neil dan menaruhnya di pundak, ia tak ingin kekasihnya terluka karena kepalanya terus terbentur jendela. Ia lalu mencoba menghubungi Ayahnya, tapi tidak diangkat, sama halnya dengan nomor Bundanya.


Akhirnya Ratu memutuskan untuk menelepon Tania, pasti adiknya berada dirumah dan bermain dikamar.


Ratu : "Ayah sama Bunda kemana? Kakak telepon gak diangkat"


Melvin : "Ini Kak Melvin, kamu gila ya"


Melvin berjalan menjauh dari Tania.


Ratu : "Ngaco...aku..."


Terdengar suara Ayah memanggil, Melvin segera menutup panggilan teleponnya.


Ratu menatap ponselnya tak mengerti, sedangkan Neil masih terlelap dalam tidurnya. Ia memberitahu pada Gio dan Faiq, agar mencari tahu apa yang tengah terjadi dirumah Ratu sekarang. Bahkan mereka juga nampak terkejut karena perkataan Ratu.


Cup....


Kecupan singkat didahi Neil, Ratu memainkan tangan kekasihnya. Tak sengaja matanya menatap sesuatu yang terbangun disana. Ratu terkekeh pelan, ia menduga jik Neil tengah bermimpi yang tidak-tidak. Segera gadis itu menyelimuti Neil dengan jaketnya.


"Anak nakal" gumam Ratu pelan. Ia pun ikut tertidur selama perjalanan.


...≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah sampai di sekolah, Ratu segera pulang kerumah bersama dengan Neil, seperti permintaan Ayahnya. Gio dan Faiq tak dapat informasi apapun, sebab rumah Ratu yang tiba-tiba saja diperketat penjagaannya. Bahkan para pegawai pun tak mengatakan apapun saat ada yang bertanya.


Sampai dirumah, Ratu dan Neil sudah disambut tatapan tajam oleh kedua orang tua Ratu. Bunda Ratu terlihat tengah menangis sesenggukan.


"Ada apa?" Tanya Ratu heran.

__ADS_1


"Duduk"


Sesuai perintah Ayah, Ratu dan Neil duduk berdampingan. Keduanya saling memandang dan menghardikkan bahu mereka.


"Kita akan segera menikahkan kalian. Kamu sudah mengecewakan Ayah dan Bunda"


"Nikah? Neil masih sekolah Yah"


"Itu salah kalian, sudah ikuti perkataan kami"


Ratu menghampiri Bunda yang masih sesenggukan, ia tidak mengerti ada apa dengan semua ini. Sedangkan Neil mencoba memahami situasinya. Ia menatap kedua orangtuanya yang tertunduk tanpa mengatakan apapun.


Plakkk....


"Cukup Ratu, Bunda kecewa sama kamu. Kita terima saja dan lahirkan bayi yang ada dikandunganmu"


"Tunggu-tunggu, ini salah paham" sela Neil.


Ratu terdiam, ini pertama kalinya Bunda menampar dirinya. Dan pertama kalinya Bunda mengatakan jika dirinya kecewa terhadap Ratu.


"Bahkan tanpa bertanya padaku, Bunda langsung menamparku?"


"Tidak ada yang harus dibicarakan, memalukan"


Ratu berdiri dan duduk kembali disamping Neil sembari memegangi pipinya. Ia meminta Neil untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.


Untuk pertama kalinya, Ratu tak memiliki keberanian untuk menjelaskan permasalahan. Ia sudah lebih dulu kalah dengan emosi Bundanya.


"Kita akan membawa kalian untuk tinggal di luar negeri"


"Tidak Bunda, ini salah paham. Kak Ratu tidak hamil, dan kami tidak melakukannya"


"Kamu itu bicara apa Neil? Kamu bilang ke Mama kalau kalian, dan Ratu..."


Neil berlutut dihadapan Ayah Ratu, meminta maaf atas kecerobohannya. Ia hanya salah mengira, ia juga melakukan hal yang sama dengan tidak bertanya lebih dulu pada Ratu. Neil tertunduk dan terus meminta maaf.


"Cukup Neil, biarkan saja mereka berbuat semaunya" ucap Ratu menarik Neil untuk bangkit.


"Ini salahku"


"Mereka yang membesarkan aku, tapi mereka bahkan tak mempercayai diriku. Sudah jangan rendahkan harga dirimu dihadapan orang tuaku"


"Tapi, jika itu mungkin, aku ingin menikahi Kak Ratu"

__ADS_1


__ADS_2