Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 93


__ADS_3

Ratu sedang melajukan mobilnya menuju sekolah. Hari ini, Ratu akan memulai semuanya dari awal lagi. Mengubah rencana secara mendadak agar musuh tak bisa menebak. Seolah tak terjadi apapun, Ratu berjalan menuju kantin dan menjadi pusat perhatian para murid.


"Lihat, siapa nih yang dateng" sapa Hera yang duduk bersama gengnya di kantin.


Senyuman miring terlihat di wajah Ratu, ia menghembuskan asap rokok ke langit-langit kantin. Ia berjalan mendekati Hera dan duduk diatas meja gadis itu. Tak berselang lama, Geya, Bela dan para siswi seangkatan Ratu datang bergabung.


Kantin kini sudah dipenuhi oleh para siswi. Ratu terlihat masih asik merokok disana.


"Ratu, ini sekolah, kenapa ngerokok?" Ucap Bilal yang datang mendekati gadis itu.


Tak ada yang menggubris kehadiran Bilal, para siswi itu masih fokus berbincang ria. Bahkan Ratu malah meniupkan asap rokoknya ke wajah sang Ketua OSIS SM. Bilal mencengkram tangan Ratu dan menatapnya tajam.


Ratu sebenarnya tengah mencoba menahan amarahnya. Kejadian yang menimpa Hera masih tak bisa ia lupakan. Tapi karena permintaan Hera yang ingin melupakan mantan bangsatnya itu. Ratu menyetujui untuk tidak mengungkit apapun dimasa lalu.


"Sayang" panggil seseorang yang sudah berdiri tak jauh dari Bilal.


"Hai sayang" balas Ratu. Ia turun dari duduknya, mematikan rokok yang ada ditangannya dan menghampiri sang kekasih.


Neil mencium kening Ratu sambil menatap ke arah Bilal. Ia benar-benar terusik dengan kehadiran Bilal didekat Ratu. Walau ia tahu, tak ada ruang lagi untuk Bilal dalam hidup Ratu.


"Aku ke kelas dulu ya, jangan ngerokok lagi"


"Iya, maaf ya"


Neil menepuk pucuk kepala Ratu kemudian melanjutkan jalannya menuju kelas bersama Liam dan Damar.


Setelah Neil pergi dan tak terlihat lagi. Ratu berbalik dan kembali menatap Bilal yang masih berdiri disana. Memandangi Ratu dengan tatapan yang membuat gadis itu merasa jijik karenanya.


"Girls, cabut yuk" ajak Ratu.


Hanya dalam hitungan detik, para siswi itu kompak berdiri. Mereka berjalan melewati Bilal, menabrak pemuda itu dengan sengaja. Ratu seperti pemimpin para pasukan siswi tersebut.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Jam pelajaran telah dimulai, para murid sudah memasuki kelas dan mengikuti kegiatan belajar mengajar.


Disisi lain, Hera dan Ratu tengah bermain basket di lapangan. Mereka memutuskan membolos hanya untuk sekedar berbincang bersama. Ratu tak menanyakan penyebab Hera kehilangan calon anaknya, sebab ia tahu benar jika hati Hera masih berduka karenanya.


"Loe masih gak bisa ngalahin gue?" Tanya Ratu seraya mendribble bola basket.

__ADS_1


Hera tampak mencari celah dalam permainan Ratu. Tetapi ia tak kunjung menemukannya. Sudah lama mereka tak pernah bermain berdua seperti ini. Karena jarak yang dipisahkan hanya demi lelaki brengsek tak tahu diri itu.


"Loe makin jago aja, capek nih gue" rengek Hera.


Ratu mengoper bolanya pada Hera, oleh Hera ia lempar dan sukses mencetak poin. Kedua gadis itu kini saling bertatapan, kemudian duduk sambil menatap ke arah ring basket.


Hening...


A few moments later....


"Ratu, gue sebenarnya Daniel"


"Daniel? Kenapa tiba-tiba membahasnya?"


Hera merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak yang digembok.


"Ini, Daniel memberikan ini ke gue, untuk loe"


"Dan loe baru ngasih gue sekarang?"


"Sorry, karena masalah Bilal itu gue jadi lupa. Terus waktu gue dirumah, kotak itu muncul. Maafin gue Ratu"


Hera mulai memutar kembali kenangan lalu. Tiga tahun yang lalu, dua Minggu sebelum kecelakaan Daniel. Hera bertemu dengan pemuda yang sudah membuat sahabatnya berubah. Pemuda yang sukses merebut banyak waktu Ratu hanya untuk dirinya. Hal itu tentu membuat Hera dan yang lainnya marah, karena Ratu tak seasik dulu, sebelum dekat dengan Daniel.


"He kumuh" panggil Hera.


Daniel menoleh dan memperhatikan Hera dengan seksama. Ia hanya diam menatap gadis yang sedang marah dihadapannya itu. Sedangkan Hera, terus mengoceh dan meluapkan amarahnya pada Daniel. Entah sihir apa yang Daniel berikan hingga Ratu berubah begitu saja.


"Gue gak suka loe buat Ratu berubah"


"Dia jadi lebih baik"


"Gue tahu, loe, hm.... Awas aja kalau loe berani nyakitin dia"


"Loe tahu apa?"


"Rencana busuk loe, manfaatin Ratu kan? Gue udah dengar semuanya, brengsek loe, bangsat"


Daniel tertegun dengan ucapan Hera. Ia lalu meminta Hera untuk tidak mengatakan apapun pada Ratu. Memang benar jika rencana awal Daniel adalah memanfaatkan Ratu, tapi seiring berjalannya waktu, perasaan itu tumbuh tanpa ragu. Daniel jatuh cinta pada sosok Ratu.

__ADS_1


Setelah mengancam Daniel, Hera hendak pergi, namun Daniel menahannya. Ia memberikan sebuah kotak yang kini sudah Hera sampaikan pada Ratu. Titipan dari Daniel.


"Hera, jika terjadi sesuatu dengan gue. Berikan ini pada Ratu"


"Apa ini?"


"Hanya Ratu yang boleh tahu, dan hanya dia yang akan mengerti"


"Awas .." belum sempat Hera menyelesaikan perkataannya, Daniel sudah pergi begitu saja setelah celingak-celinguk sesaat.


Awalnya Hera tak yakin, namun ia menyimpan kotak itu. Semuanya kembali seolah tak terjadi apapun, hingga saat kecelakaan Daniel. Hera terus menatap kotak pemberian Daniel. Ia ingin memberikannya pada Ratu, tapi sahabatnya itu terpuruk begitu rapuh. Hingga tak pernah terlihat lagi batang hidungnya.


"Dan saat kita bertemu lagi, ada Bilal diantara kita. Harusnya gue berikan itu secepat mungkin, semua hal buruk gak akan terjadi ke loe"


"Her, ini adalah takdir"


"Ratu, tolong jangan berpikir untuk mengakhiri hidup loe. Apa yang akan terjadi dengan gue?"


Ratu menoleh dan menatap Hera yang tengah tertunduk lesuh.


"Loe yang yakinin gue buat terus melanjutkan hidup apapun yang terjadi. Dan sekarang loe mau nyerah gitu aja?"


"Her, loe punya banyak alasan untuk melanjutkan hidup"


"Loe juga masih punya mimpi yang belum tercapai. Loe bilang mau bangun sekolahan untuk anak-anak yang kurang mampu kan? Daniel yang kasih tau gue, dia minta gue buat nemenin loe. Buat dukung impian itu, dan memastikan loe gak lupa Ratu"


Ratu kembali merenung, ia kembali berpikir jika Daniel mengetahui hal-hal yang akan terjadi kedepannya. Seolah Daniel sudah mengantisipasi, menebak setiap kejadian.


"Saat loe mengatakan itu, apa loe terbesit sesuatu?"


"Iya. Gue rasa, Daniel sudah bisa menebak, jika dia akan pergi, dan hal itu akan mempengaruhi kehidupan loe"


"Hera, apa loe pernah lihat Daniel ngobrol dengan orang yang mencurigakan?"


Setelah Hera berpikir cukup lama, ia mulai mengotak-atik ponselnya, mencari sesuatu disana. Cukup lama Hera terpaku dengan ponselnya, lalu ia menunjukkan sesuatu pada Ratu.


"Loe kenal dia kan Ratu?"


"Jadi, Daniel pernah bertemu dengan Argam? Tapi Hera, kenapa semua yang terlibat adalah orang yang gue kenal?"

__ADS_1


"Loe aja gak tahu, apalagi gue"


__ADS_2