
Ratu sedang berbincang ditelepon, sembari menunggu Neil yang tak kunjung selesai bersiap. Ia merasa bosan karena tak ada siapapun yang menemaninya. Karena kedua orang tua Neil sedang menghadiri sebuah acara. Jadilah dia menunggu seorang diri.
"Kak Ratu" panggil Neil. Pemuda itu sudah berdiri tegak dibelakang Ratu. Gadis itu pun menoleh, ia menatap Neil.
"Kamu" gumam Ratu lalu tersenyum tipis. Tak terasa air matanya kembali menetes. Hati Ratu terasa sakit, sesak, begitu pilu. Neil memeluknya, mengelus rambut Ratu penuh kasih sayang. "Kamu mirip banget sama dia, wajah, mata, senyuman itu. Aku merindukannya" gumam Ratu lirih.
Neil tidak tahu siapa yang Ratu maksud dengan dia. Masalalu apa yang Ratu miliki, hingga menatap wajahnya bisa membuat gadis ini menangis. Neil juga tidak ingin mencari tahu untuk saat ini, karena hal itu tidak mengusik dirinya. Pemuda itu menyeka air mata Ratu, kemudian mencium keningnya.
"Kenapa disana? Disini aja" rengek Ratu seraya menunjuk bibirnya. Neil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, menyentuhkan jari itu pada bibirnya lalu pada bibir Ratu. Hal konyol itu, sukses membuat Ratu mengukir senyuman lebar diwajahnya.
"Kak Ratu udah makan belum? Kok perutnya bunyi sih" goda Neil. Ratu memukul lengan Neil, ia menyangkal jika itu adalah bunyi perutnya.
Neil mengajak Ratu untuk duduk, sambil menunggu Liam dan Damar bersiap. Ratu kembali tidur dipangkuan Neil, menatap pemuda itu dengan senyuman. "Kamu bilang kita teman, bisa gak kita lebih akrab? Kamu ngobrol sama aku jangan kaku gitu, formal banget" pinta Ratu. Neil tidak mengerti maksud pembicaraan Ratu, ia merasa jika dirinya tidak kaku saat berbincang dengan Ratu.
Ratu kembali menyuruh Neil mengulang pertanyaan yang Neil tanyakan sebelumnya.
"Bisa gak, Kak Ratu diganti kamu?" Tanya Ratu.
"Diganti namaku?" Balas Neil bingung.
"Bukan sayang, ih gemesin deh kamu. Kak Ratu diganti kata kamu. Coba deh" pinta Ratu.
"Kamu udah makan? Oh gitu, tapi kan Kak..." ucapan Neil itu terpotong karena Ratu membungkam mulutnya.
Ratu bangun dari tidurnya, menatap mata Neil tajam. Ia tak suka jika perintahnya ditentang, sayangnya ini adalah sebuah permintaan dan bukan perintah. Gadis itu mendekatkan wajahnya, mencium tangannya yang sedang membekap bibir Neil.
"Ehem, ehem" suara deheman Liam dan Damar menghentikan adegan romansa tersebut.
"Lain kali, tidak akan ada penghalang" bisik Ratu diselingi senyuman. Gadis itu segera berdiri dan berjalan menuju motornya. Diikuti oleh ketiga pemuda tersebut.
__ADS_1
Ratu sudah duduk manis diatas motor, tetapi Neil meminta agar dirinya saja yang menyetir. Gadis itu mengalah, ia sedang tidak ingin berdebat panjang. Merekapun melajukan motor menuju kafe Blue Sky.
Teman-teman Ratu sudah berkumpul di kafe, menunggu sang ketua yang tak kunjung datang. Mereka enggan memulai jika Ratu belum tiba, tak ingin mengulang pembicaraan yang sama.
"Pantesan lama, pacaran mulu si loe" celetuk Justin ketika melihat Ratu datang bersama dengan tiga pemuda.
Gadis itu tak menggubrisnya, ia meminta Neil dan kawannya duduk, serta memesan apapun yang mereka inginkan. Sebagai imbalan telah membantu dirinya. Tak lupa Ratu mengambil selfie bersama Neil lalu ia kirimkan pada sang Ayah.
"Dibawah aja, disini rame banget" ajak Ratu mendahului. Teman-temannya mengikuti Ratu, mereka persis seperti segerombolan anak yang hendak melakukan tawuran.
Mereka telah berkumpul di basecamp. Satu persatu informasi mulai mereka satukan. Kebenaran dibalik tawuran ini. Ratu terlihat begitu gelisah, ada hal yang menganggu pikirannya.
"Kenapa harus di SM? Apa semua ini ulah anak SM? Gue jadi takut" gumam Ratu lirih.
Suara pelan Ratu itu cukup keras diruangan yang sunyi ini. Semua mata menatap pada gadis yang sedang gelisah. Wanita yang tak kenal takut kini tertunduk lesuh. Dia bukan Ratu yang mereka kenal. Bukan gadis pemberani yang memimpin mereka berperang. Hanya seorang gadis remaja yang sedang sedih ketakutan.
Aidan menghampiri Ratu, ia berlutut disampingnya. Menggenggam tangan gadis remaja yang sedang bersedih. "Kita tau kok, karena Neil kan? Loe harus ingat, untuk siapa semua ini dimulai. Loe pasti bisa, kita semua disini, kita bakal lakuin apapun agar tidak ada lagi kejadian seperti dimasalalu" hibur Aidan. Ia mengelus tangan Ratu, mencoba menguatkan hati yang telah rapuh.
Ratu tersenyum getir, ia seakan telah kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.
"Gak usah sok lemah deh loe, gak inget pernah mukul gue sampai hidung gue berdarah? Ck drama loe. Udah kita lanjutin pembahasan kita" sahut Daren. Perkataan Daren sukses membuat dirinya mendapat banyak pukulan.
"Loe bener, kalian juga harus bantuin gue buat jagain dia. Suatu hari nanti, saat gue pergi, dia pasti kesepian, merindukan sosok Ratu" ujar Ratu.
Mereka merasa sangat malas mendengar ocehan itu, Ratu selalu saja menyombongkan dirinya. Tetapi mereka juga merasa lega, karena pemimpin mereka telah kembali.
"Kayaknya ada yang coba adu domba disini, pesan yang diterima sama. Pengirimanya mengaku sebagai anak SM dan menantang sekolah lain"
"Iya, tapi anak SM malah gak ada sama sekali"
__ADS_1
"Anehnya, semua anak kelas dua. Gak ada anak kelas tiga yang terlibat"
"Ya jelas lah, kalau kita terlibat, pasti tawuran itu gak bakal jalan"
"Terus ini gimana?"
"Nomor dan akun sosmednya udah gak aktif. Gimana cara melacaknya"
Para pemuda itu tampak gusar, sebab mereka menemukan jalan buntu. Tak ada akses untuk bisa mengetahui dalang dibalik semua ini. Serta alasan mengapa harus didepan sekolah SM, dan mengapa semua mengatasnamakan SM.
"Gue urus yang ini, nanti gue minta tolong orang buat melacaknya. Tapi kalian tolong bantu gue, cari tahu disekolah kalian" pinta Ratu.
"Cari gimana maksudnya?" Tanya salah seorang pemuda.
"Nguping aja, setiap kali ada yang kumpul kalian nguping. Cowok ya, jangan nguping pembicaraan cewek. Mereka jelas gak akan bahas ini" jelas Ratu.
Mereka kembali menggerutu, merasa jika Ratu hanya mencurigai para lelaki saja. Bukankah wanita juga bisa melakukan kesalahan. Tapi mengapa hanya pria yang seolah selalu berbuat jahat.
"Baperan mah kalian ini, kan yang tawuran cowok semua, begonya sampai ke ubun-ubun" sela Ratu ditengah gosip mereka. Gadis itu merapikan semua bukti dan menyimpannya didalam lemari yang terkunci.
Rapat telah usai, kini hanya tinggal beraksi. Ratu membubarkan semuanya membebaskan kemanapun para pemuda itu hendak pergi. Begitu pula dengan dirinya yang kembali menghampiri sang pujaan hati.
"Loe gak punya pan tat sendiri? Ngapain loe pegang-pegang pan tat dia?" Teriak Ratu seraya mencengkram tangan salah satu pengunjung kafe. Pengunjung tersebut menghempaskan tangan Ratu kasar. "Loe itu siapa? Loe gak tau siapa gue?" Balas pemuda itu dengan kasar.
Ratu menarik waitress yang berdiri disana, mendorongnya untuk menjauh dari pertengkaran mereka. Gadis itu tersenyum miring, ia lelah menjelaskan pada setiap orang yang bertanya siapa dirinya.
"Manager mana manager? Ini kenapa dibiarin ada orang gila disini" teriak pemuda itu kesal.
Tak lama sang manager kafe keluar, menanyakan apa yang telah terjadi disana. Pemuda itu menceritakan yang terjadi dengan versinya, menempatkan dirinya berada di pihak yang tak bersalah. Ratu masih mendengarkan hingga kisah itu selesai.
__ADS_1
"Mbaknya, gimana versi dari mbak?" Tanya Ratu ketus. Waitress itu menunduk, ia nampak ragu untuk bercerita. Pada akhirnya wanita itu hanya memilih bungkam, membuat sang pemuda semakin sombong dibuatnya.