
Yang sebenarnya terjadi adalah, tiga tahun yang lalu, setelah mobil yang menabrak Daniel dihancurkan. Seseorang datang membawa sebuah kotak yang harusnya Daniel berikan pada Ratu, orang tersebut yakin jika Ratu akan mencari tahu kebenarannya. Karena itulah ia menitipkan kotak tersebut kepada salah satu pegawai yang membutuhkan uang.
Setelah mendengar penjelasan dari pegawai tersebut, Ratu memberikan sejumlah uang sesuai janjinya. Ia lalu pergi bersama Gio menuju kantor pemilik tempat penghancuran mobil itu.
"Gio, setelah mobil itu hancur, tidak ada satupun orang yang datang untuk menanyakannya. Loe tau apa artinya?" Tanya Ratu diselingi senyuman.
"Orang yang membawa mobil itu, pastilah orang kepercayaan mereka. Dan kita sudah semakin dekat, tapi, apa menurut loe pemilik itu akan mau bekerja sama?" Sahut Gio tak yakin. Karena pemilik tersebut bersikukuh tak memiliki data apapun.
"Maka kita akan cari cara lain. Ayo pergi dari sini" ajak Ratu membawa Gio pergi.
Di dalam mobil, Ratu mendial nomor seseorang. Memberikan perintah untuk mengumpulkan infomasi sebanyak apapun mengenai pemilik tempat penghancuran mobil yang baru saja ia datangi.
"Gio, gue harus cepat-cepat ketemu Argam dan menggali informasi darinya. Jika mereka telah menghancurkan mobil yang menabrak Daniel tiga tahun yang lalu, berarti mobil yang dipakai oleh penjual ganja itu..." penjelasan Ratu terpotong karena Gio menyelanya.
"Pancingan untuk loe, mereka berusaha menyembunyikan ini, membuat kita keluar jalur. Berarti kecelakaan loe itu rencana mereka Ratu. Kita salah mengartikan semuanya, kita harus mulai dari awal" sela Gio.
Ratu menghembuskan napasnya kasar, ia semakin tak bisa memahami permainan seperti apa yang sedang ia ikuti. Jelas ini telah diatur oleh seseorang. Ratu memejamkan matanya, ia mencoba mengingat kembali semua bukti dan informasi yang telah mereka kumpulkan sejauh ini.
Setelah sejenak berpikir, Ratu membuka kotak yang ada ditangannya.
"Gio, ini, kita kembali ke hotel sekarang" pinta Ratu tergesa-gesa.
Gio segera melajukan mobilnya menuju hotel. Ia menurunkan Ratu didepan hotel lalu pergi menjemput Faiq dan Hera dirumah sakit.
Ratu bergegas masuk kedalam kamarnya, membuka leptop dan mulai memeriksa flashdisk yang ada dalam kotak tersebut.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Korupsi? Sebanyak ini? Untuk apa?" Gumam Ratu keheranan. Ia kembali membuka file lainnya.
"Huh, jadi ini? Hanya karena ini Daniel ku harus pergi meninggalkanku?" Oceh Ratu kesal.
Ratu membaca satu persatu nama yang tertera dalam list tersebut. Ratu tidak menyangka jika Daniel bisa mengumpulkan semua ini sendiri. Sekeras apapun Ratu berpikir, jawabannya adalah tidak mungkin. Pasti ada seseorang yang membantu Daniel.
Gadis itu mencabut flashdisk dan menutup leptopnya. Memasukkan kembali semua barang pemberian Daniel kedalam kotak, lalu menguncinya seperti semula.
Ratu berjalan keluar menuju balkon kamar, ia kembali menyalakan rokoknya. Pikiran Ratu kembali kalut dalam masalalu.
Kini Ratu mulai ragu, apakah Daniel benar-benar mencintainya atau tidak. Ataukah semua yang Daniel lakukan selama ini hanyalah untuk menutupi semua rencananya. Sebab Daniel tahu, berada didekat Ratu akan membawa keuntungan.
"Daniel, kini siapa yang akan menjelaskan keraguan dalam hatiku? Bagaimana aku bisa tahu kebenaran dari perasaanmu padaku? Benarkah kamu juga mencintaiku atau aku hanya mengejar rasa yang semu?" Curhat Ratu pada langit-langit yang cerah.
__ADS_1
Ratu kembali meniupkan asap rokoknya ke langit-langit. Membiarkan angin membawanya menuju tempat yang Ratu rindukan. Tempat dimana ada Daniel disana.
"Daniel, aku akan menyelesaikan semuanya. Terimakasih telah hadir dalam hidupku" imbuh Ratu.
Ratu merogoh sakunya, mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar. Ia menatap nama Aidan dilayar ponselnya, pasti Neil masih saja membuat ulah. Ia menolak panggilan itu, kemudian membuka semua kontak Neil yang ia blokir.
Ratu menelepon Neil.
Ratu : "Neil"
Neil : "Kenapa diblokir?"
Ratu : "Biar gak stalker kamu, kamu kan gak suka"
Neil : "Hm.... Ada apa?"
Ratu : "Neil, apakah menurutmu pertemuan kita ini salah? Apa kau menyesal telah mengenalku?"
Neil : "Tidak. Kak Ratu, ini semua adalah takdir. Bahkan sejauh apapun aku atau kamu menghindar, kita pasti akan dipertemukan"
Ratu : "Bahkan jika akhirnya kita tidak bersama?"
Ratu kembali menitihkan air matanya. Isak tangisnya membuat Neil diam mendengarkan. Ratu sangat ingin memeluk Neil, kehadiran pemuda itu akan menghilangkan separuh kesedihan Ratu. Namun saat ini mereka sedang dipisahkan oleh jarak.
Neil : "Kamu bosan ya? Gimana kalau kita memutar waktu? Kembali ke saat dimana kamu berusaha mendekati ku"
Ratu : "Kenapa harus aku?"
Neil : "Agar kamu kembali percaya, jika pertemuan kita adalah takdir yang sudah ditentukan"
Ratu : "Baiklah, terdengar menyenangkan. Sampai jumpa"
Neil : "Jaga dirimu dan kandungan mu. Sampai jumpa"
Neil memutuskan telepon tersebut, kini giliran Ratu yang ragu dengan pendengarannya.
"Kandungan? Dia sudah mulai melantur padahal belum sehari jauh dariku" gumam Ratu diselingi tawa.
Ratu kembali menyalakan sebatang rokok, berbicara sejenak dengan Neil, membuat harinya merasa lega. Ratu sangat mudah menangis dihadapan Neil.
__ADS_1
Sekuat dan semenakutkan apapun Ratu Dimata orang lain, ia ingin terlihat lemah dan tak berdaya dimata orang yang ia cintai. Hanya agar orang itu lebih memperhatikan dirinya.
Triing.....
From : Agent
Semua informasi telah saya kirim ke email anda.
Setelah membaca pesan singkat itu, Ratu membuka email melalui ponselnya. Ia membaca setiap lampiran dengan sangat teliti dan hati-hati.
"Anda memiliki seorang putri rupanya. Ini akan lebih mudah untuk mempengaruhi anda" gumam Ratu.
Ratu kembali menelepon seseorang yang lain. Hari ini adalah hari sibuk untuknya, banyak hal yang harus ia lakukan. "Halo, kabari saya setiap hal yang Neil lakukan. Jangan sampai kalian kehilangan pengawasan, jika perlu tambah orang lagi untuk berjaga-jaga" perintah Ratu begitu tegas.
"Ada masalah?" Celetuk seseorang dari balik punggung Ratu.
"Gimana hasilnya?"
"Tunggu tiga hari, kita disini tiga hari dong. Hm..."
"Nikmatin aja Her, sekalian refreshing"
Hera mengangguk mendengar saran Ratu. Ketika Ratu hendak pergi, Hera kembali menahan tangannya. "Loe beneran udah gak suka Bilal kan?" Tanya Hera lesuh.
"Hera, aku sudah tidak tertarik bermain dengannya. Aku memiliki mainan baru yang lebih menyenangkan" jawab Ratu kemudian pergi meninggalkan Hera.
Ratu berjalan menuju kamar Gio dan Faiq. Kedua pemuda itu sedang memainkan ponselnya sambil berbaring diatas ranjang.
"Loe yakin si Hera gak tahu apapun tentang rencana Bilal?" Tanya Faiq.
"Kita lihat saja nanti, untuk sekarang kita percaya saja padanya" jawab Ratu santai.
Ratu mengirim lampiran file di grup obrolan mereka. Meminta semua temannya membaca dengan seksama.
"Eh, ini, loe yakin nyebarin informasi sepenting ini?" Celetuk Gio setelah membaca apa yang Ratu bagikan.
Semua informasi yang Daniel dapatkan, Ratu sebarkan pada teman-temannya. Ia juga memberi perintah untuk menyebarkan kembali ke semua grup yang ada pada kontak mereka masing-masing.
"Loe pikir, mereka akan menargetkan semua orang yang tahu hal ini, setelah infomasi ini menyebar? Ini adalah cara paling efektif, gue sudah mengirimkannya pada beberapa media. Kita tunggu saja boom nya" jelas Ratu.
__ADS_1