
Ratu sangat senang, hingga ia menepuk-nepuk pipi Neil gemas. Ia berharap acara ini akan berlangsung lama, sebab menyenangkan menghabiskan waktu bersama Neil.
"Kalian gak apa-apa nih duduknya gitu? Gimana kalau Neil duduk disini, terus aku duduk dipangkuan Neil aja ya" saran Ratu dengan wajah polosnya. Liam dan Damar membelalakkan kedua mata mereka. Sedangkan Neil menutup mulut gadis itu dan memarahinya.
Ratu terlihat puas setelah menggoda Neil. Wajah panik pemuda itu selalu bisa membuatnya tersenyum. Damar memberikan buket bonekanya pada Ratu, tetapi gadis itu meminta Damar untuk membuangnya. Karena ia sudah tak ingin menerima apapun dari Bilal.
"Sayang Kak kalau dibuang" celetuk Neil.
"Apa?" Tanya Ratu seolah tak mendengar.
"Sayang" jawab Neil.
"Sama, aku juga sayang" sahut Ratu.
"Ciyeeee" para murid yang mendengar perkataan mereka spontan menggoda keduanya. Tak berpikir jika celetukan mereka itu terdengar hingga dipenjuru ruangan. Bahkan Bapak Kepala Sekolah sampai harus menghentikan pidatonya karena kegaduhan ini. Seketika mereka semua pun diam setelah mendapat tatapan tajam dari Bapak Kepsek.
Ratu memerintahkan Neil untuk duduk kembali di kursinya, sedangkan dirinya duduk dibawah seraya menyenderkan punggungnya pada kaki Neil. Gadis itu memilih untuk bermain game diponselnya, sembari samar-samar mendengarkan apa yang disampaikan oleh pembawa acara.
Tiba-tiba saja para anggota geng kelas tiga berdiri secara bersamaan. Mereka bergegas untuk keluar ruangan. "Kak, ada apa? Kenapa pergi semua anak kelas tiga?" Tanya Damar penasaran.
Gadis itu segera berdiri dan melihat semua murid kelas tiga yang bersamaan berjalan keluar aula. Ratu tidak tahu apa yang terjadi, ia pun pergi menghampiri Bapak Kepala Sekolah.
"Pak, ada apa? Kenapa semuanya pergi?" Ucap Ratu. Bapak Kepala Sekolah yang berada di sudut panggung, menghampiri Ratu dan berbisik, "Ada tawuran di dekat sekolah. Ini saya barusan dapat info dari penjaga sekolah"
Mendengar hal itu Ratu segera berlari menyusul temannya keluar ruangan. Ia melihat para temannya sedang memandangi kerusuhan disana. Ratu menerobos kerumunan dan berdiri paling depan melihat aksi para remaja.
"SMA Nusa, SMA Buana, SMA Pelita. Tunggu, apa ini, kenapa? Kenapa ada tiga kelompok disini?" Gumam Ratu memerhatikan setiap bed sekolah.
Ratu menutup dan mengunci gerbangnya lagi, menghentikan teman-temannya yang hendak turun ke arena tawuran. "Tunggu, kalian perhatikan, ini tiga kelompok. Jangan terpancing" ujar Ratu tegas. Sesuai arahan Ratu mereka mulai memperhatikan seragam sekolah yang anak-anak itu kenakan. Benar saja, ini tawuran tiga kelompok, aneh, tidak masuk akal.
__ADS_1
Gadis itu menyuruh teman-temannya mencari informasi, juga penyebab tawuran ini.
"Sajam, eh, bisa mati nih anak orang" teriak Ratu lalu buru-buru keluar sekolah. Ia berusaha menolong salah seorang pemuda yang tak jauh dari lokasi mereka. Terkapar berlumuran darah karena senjata tajam. "Gio mobil, Pak tolong Pak" ujar Ratu memanggil beberapa orang dewasa disana.
Teriakan Ratu itu cukup kencang, hingga mampu menimbulkan perhatian. Beberapa murid yang mengikuti tawuran, melihat Ratu bersama satu orang yang telah terkapar tak berdaya. "Mundur-mundur" teriak salah seorang yang memimpin pasukannya untuk mundur.
Ditengah kericuhan mereka yang bubar kalang kabut, mobil polisi barulah tiba disana. Ratu dan Gio pergi membawa korban menuju rumah sakit. Sedangkan teman-teman yang lain kembali masuk ke dalam sekolah agar tidak menimbulkan kegaduhan lebih besar.
Acara pertemuan telah berakhir, para wali murid keluar aula dengan perasaan puas. Sebagian langsung pergi dari sekolah, dan yang lainnya sedang berkeliling sekolah. Mereka yang pulang lebih dulu, terlihat terkejut karena jalanan didepan sekolah begitu berantakan, juga ada beberapa aparat kepolisian disekitar jalan.
Anggota geng SS lainnya sudah berkumpul dikantin bersama geng lain. Mereka kembali membahas mengenai tawuran yang baru saja terjadi. Disudut kantin mereka berkumpul, karena ada beberapa murid dan orang tuanya yang sedang berada dikantin juga.
"Faiq, Ubay, Aidan, Ezra, David" panggil seorang wanita membuyarkan perbincangan mereka.
Para pemuda yang merasa namanya dipanggil menoleh terkejut, mendapati kedua orangtua Ratu sedang berdiri memandangi mereka. Kelima pemuda itu menghampiri Ayah dan Bunda Ratu, memberi salam dan saling bertukar kabar. "Gio sama Ratu kemana? Tante sudah cari keliling-keliling tapi gak ketemu" ujar Bunda Ratu.
"Kalian sudah dapat informasi?" Celetuk Ratu yang tiba-tiba saja muncul dengan seragam penuh noda darah.
Semua mata terkejut melihat kehadiran gadis itu, anggota SS sampai kelabakan berusaha berdiri dibelakang kedua orang tua Ratu. Menutupinya agar tak melihat Ratu yang datang dengan seragam penuh noda darah. "Kalian ini ngapain berdiri sini, duduk sini kita ngobrol" ucap Bunda Ratu.
"Bunda? Itu suara Bunda" sahut Ratu terkejut. "Itu Ratu" balas Bunda Ratu.
Ubay memberikan kode pada Gio dan Ratu, untuk menutupi seragamnya yang penuh noda darah.
Ratu menunduk memperhatikan seragamnya yang penuh warna merah disana. Ia dan Gio melihat sekitar mencari sesuatu untuk menutupi noda tersebut sebelum kedua orangtuanya melihat dirinya. "Kak Ratu" panggil Neil seraya melempar jaket miliknya. Ratu bergegas mengenakan jaket itu dan pergi menemui kedua orangtuanya.
"Neil, mantu Papa kenapa seragamnya jadi merah-merah?" Tanya Papa Neil. "Tadi didepan sekolah ada kecelakaan om, Kak Ratu yang nolongin ke rumah sakit" jelas Liam.
Neil, Liam dan Damar sedang berkumpul bersama keluarga mereka di satu meja. Untuk sekadar berbincang mengenai sekolah baru anak-anaknya.
__ADS_1
"Ayah sama Bunda kok gak ngabarin Ratu kalau sudah pulang?" Tanya Ratu sembari mencium tangan kedua orangtuanya. Gadis itu duduk dihadapan kedua orangtuanya, tersenyum riang .
Bunda Ratu menjelaskan jika mereka ingin memberi kejutan untuk Ratu. Tetapi kejutan itu sepertinya gagal, karena Ratu tak terkejut sama sekali. Bunda mengelus rambut Ratu seperti seekor anak kucing. Beliau juga mencubit gemas pipi putrinya tersebut.
"Waahh, Kak Ratu ternyata anak Mama ya" celetuk Devan mengejek.
"Loe gak tau Dev, dia kan manja banget kalau sama Bundanya" timpal Bela.
"Iya, makan aja minta disuapin. Hm..." imbuh Geya.
Ratu tertawa mendengar pernyataan itu. Bagitu juga dengan Bunda yang senang mendengar putrinya memiliki banyak teman dekat.
"Anak om ini memang kelihatannya jutek, padahal aslinya manjaaaa banget, kayak anak kecil" sahut Ayah Ratu setelah selesai menerima telepon. Ratu merasa tak nyaman dengan perbincangan tersebut, ia mengajak kedua orangtuanya untuk pulang kerumah. Tetapi mereka tak ingin pulang sebab masih rindu sang putri.
"Kamu kan juara satu lagi nih, mau hadiah apa dari Ayah?" Tawar Ayah Ratu. Ratu menggeleng tak ingin apapun, ia malah menyuruh Ayah dan Bundanya untuk segera pulang. Karena dirinya tak mau imej kejam dan wibawanya hilang karena kehadiran kedua orangtuanya. Sebab Ratu adalah anak yang periang dan penuh kasih sayang didepan Ayah dan Bundanya.
"Yakin gak mau apa-apa tumben" celetuk Bunda keheranan. "Gak mau restu juga? Mana pacar kamu, yang semalam makan berdua di restoran. Yang gendong-gendong kamu itu, ehem uhuk uhuk" goda Ayah Ratu.
Ratu tersenyum kaku, menatap semua temannya yang kini memandangi dirinya.
"Ratu udah punya pacar gak bilang-bilang nih" celetuk Geya.
"Tau nih, disimpen mulu pacarnya. Emang seganteng apa sih, takut banget ada yang ambil" timpal Bela kesal. Mereka berdua merasa kesal karena Ratu tak memberitahu apapun tentang kencan mereka.
"Ayah, Bunda, kalian mau jemput Tania kan? Sebentar lagi dia mau pulang, mending Ayah sama Bunda berangkat sekarang, kasihan nanti Tania nungguin" bujuk Ratu sekali lagi untuk membuat kedua orangtuanya pergi.
Dengan alasan itu, kedua orangtua Ratu setuju, mereka akan menemui Kepala Sekolah sebelum pergi menjemput Tania. Ratu berjalan mengikuti kedua orang tuanya, mengantarkan mereka bertemu Bapak Kepala Sekolah.
"Loh ini pacarnya Ratu kan? Yang semalam makan bareng di restoran" celetuk Ayah Ratu saat melihat Neil.
__ADS_1