Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 44


__ADS_3

Ratu baru saja sampai di sekolah. Ia memarkirkan mobilnya ditempat biasa. Saat ia keluar dari mobil, semua mata menatap ke arahnya. Entah apa yang sedang mereka lihat, tapi Ratu tidak penasaran.


Gadis itu berbalik, betapa terkejutnya ia mendapati sebuah balon berbentuk gajah dihadapannya. Matanya menatap lekat kearah balon tersebut.


"Pagi" sapa seseorang yang bersembunyi dibalik balon.


"Pagi Neil" jawab Ratu dengan senyuman malu. Ia mencoba meraih balon itu tetapi Neil malah melepaskannya. Membiarkan balon itu terbang ke langit.


Mata Ratu menatapnya, menatap kepergian balon. Ia sangat kesal, Neil payah dan bodoh, mengapa melepas balon sebelum ia menyentuhnya.


"Itu bukan buat kamu, emang sengaja aku lepas" sahut Neil lalu menepi membiarkan Ratu lewat.


Ratu menatap sinis ke arah Neil, pagi yang buruk. Ia melanjutkan jalannya, tapi kali ini Damar dan Liam menghadang. Tingkah konyol apa lagi yang hendak para bocil ini lakukan. Ratu tidak tertarik sama sekali.


"Sekarang apa? Minggir atau gue..." perkataan Ratu terpotong, sebab ada sebuah boneka gajah bertuliskan namanya dihadapannya.


"Masih pagi udah marah-marah, nanti cantiknya ilang loh" bisik Neil dari belakang Ratu. Neil mendekatkan boneka tersebut, menempelkannya pada pipi Ratu.


Senyuman itu kembali, jelas Ratu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ratu berbalik menatap Neil, berharap ada sesuatu yang penting keluar dari bibir pemuda itu. Pernyataan cinta yang sudah Ratu tunggu.


Neil menggapai tangan Ratu, menaruh boneka itu pada tangannya. "Hadiah pertemanan" ucap Neil dengan senyuman.


Daarrrr....


Petir seolah menyambar di pagi hari, Ratu tersenyum kecut. Pertemanan? Ia membenci kata itu hadir diantara dirinya dan Neil. Sangat membencinya.


Setelah mengucapkan hal itu, Neil pergi masuk kedalam sekolah bersama teman-temannya. Meninggalkan Ratu yang masih terpaku menatap boneka ditangannya.


Untung saja kacamata hitamnya tak pernah lepas. Menyembunyikan tatapan mata sedih gadis malang yang ditolak cintanya untuk kesekian kali. Cukup lama Ratu terdiam sebelum ia masuk kedalam sekolah.


Rutinitas Ratu kini berkeliling sekolah sebelum ia memasuki kelas. Sangat sepi dan membosankan. Gadis itu berkeliling sembari menggunakan headphone, menemani kesunyiannya.


"Gu..gue mau lewat Kak" ujar seorang siswi.


"Main dulu lah, mumpung sepi" jawab siswa yang mencengkram tangan siswi tersebut. Siswi itu memberontak, ia berusaha menghindar.

__ADS_1


Siswa itu malah menarik siswi menuju kamar mandi. Gadis itu berusaha menahannya, tapi pemuda sialan itu malah meremas kedua dadanya. Membuat sang siswi meringis kesakitan.


"Hachiuu" suara bersin Ratu membuat pemuda itu berlari sekuat tenaga.


Ratu menatap siswi itu, sedang membenarkan bajunya dan berlalu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ratu. Siswi itu berlari sekuat tenaga menuju kelasnya, ia langsung duduk dan membenamkan kepalanya di meja. Ia tak menggubris setiap pertanyaan yang datang.


Brakk...


Suara pintu terbuka begitu keras.


"Kak Ratu, ada apa?" Tanya Liam mewakili keterkejutan seluruh murid.


Ratu membuat seorang siswa berlutut dihadapannya. Sembari mencari seseorang yang menjadi tujuannya datang ke kelas 1-2.


"Loe, sini" tunjuk Ratu pada siswi yang menatapnya dengan takut. Siswi itu menatap pemuda yang sedang berlutut, lalu ia menggeleng dengan raut wajah sedihnya.


"SINI" bentak Ratu dengan emosi. Beberapa siswi lainnya membantu siswi itu untuk mendekat ke arah Ratu.


Ratu menendang pemuda itu, menyuruhnya untuk berdiri. Ia lalu menggenggam tangan sang siswi, meniupnya beberapa kali. "Tampar, sekencang mungkin" perintah Ratu. Ia menatap gadis itu dengan tajam, memancing amarah sang siswi.


Siswi itu nampak ragu, ia beberapakali menatap Ratu yang berdiri dibelakang sang pemuda. Ratu mengangguk, memintanya untuk segera eksekusi.


Tamparan yang keras, pipi pemuda itu terlihat sangat merah. Pemuda bodoh itu memegangi pipinya, ia hanya bisa diam menunduk.


"Kak Ratu, siapa yang sakit? Ini tandu buat apa?" Sahut Fattah yang baru saja tiba bersama Vano. Mereka berdua membawa tandu seperti instruksi dari Ratu. Mereka mengedarkan pandangan tapi tak menemukan ada yang sedang sakit.


Ratu menunjuk ke arah pemuda yang baru saja mendapat tamparan keras.


"Lah, ni anak baik-baik aja, bisa berdiri juga" celetuk Vano keheranan.


Bbuukk...


Ratu menonjok pemuda itu hingga pingsan. "Tuh, malah tidur dia. Bawa ke UKS" ujar Ratu.


Fattah dan Vano saling bertatapan, mereka segera membawa pemuda itu untuk pergi. Mereka juga merasakan ketakutan didekat Ratu. Lebih baik pergi secepat mungkin sebelum sang Ratu berubah pikiran.

__ADS_1


"Kak Ratu, terimakasih" ucap siswi itu.


"Loe tau gimana caranya ngucapin terimakasih? Dengan memukul setiap pria seperti dia yang coba mendekati wanita" balas Ratu.


"Dan ya, untuk semua wanita, jika ada pria yang mencoba melecehkan kalian, tampar sekeras mungkin. Jika tidak mempan, tendang kesayangannya" imbuh Ratu sembari menunjuk area sensitif.


"Sadisss" celetuk salah seorang siswa.


"Cuma ditendang kan, loe mau gue potong? Biar tambah pendek, terus kalau pipis jongkok" sahut Ratu. Ratu mengatakan semuanya dengan raut wajah datar. Ia menatap seluruh murid dibalik kacamata hitamnya. Sontak saja semua tertawa mendengar perkataan Ratu.


Ratu memeluk siswi itu, menepuk kepalanya pelan. "Tidak apa-apa, luka seorang wanita adalah kekuatan mereka" nasihat Ratu begitu menyentuh.


"Ratu, kamu sedang apa disini?" Tanya seorang guru yang baru saja memasuki kelas. Ratu hanya tertawa cengengesan lalu pergi menuju kelasnya. Ada begitu banyak masalah yang datang, ia mencoba setegar mungkin untuk melewatinya.


Ratu mengikuti pelajaran seperti biasa. Ia juga harus belajar untuk mempertahankan peringkatnya, walau kini ia disibukkan oleh hal lain.


Jam istirahat dikantin.......


Daren dan gengnya tiba-tiba saja berdiri ketika melihat Ratu memasuki kantin. Segera saja mereka semua berlari menghindari Ratu.


"Lah kenapa tuh, ngapa pada lari-lari?" Celetuk Ersya keheranan.


"Kebelet deh kayaknya" jawab Abizar sekenanya.


Ratu tak peduli pada tingkah konyol Daren dan gengnya. Padahal ia tak melakukan apapun namun mereka yang ketakutan sendiri.


Ratu berjalan menuju mejanya, tempat ia dan gengnya biasa duduk.


"Loe semalem habis minum berapa botol? Gue dengar club kacau gara-gara loe ngamuk" celetuk Gio.


"Bukan karena minum, anak-anak sialan itu, berani nyentuh milik gue" jawab Ratu gusar. Ia membenamkan kepalanya diatas meja, seakan lelah dengan semua yang terjadi.


"Ha? Siapa yang berani nyentuh loe? Wah asli gak takut mati tuh orang" sahut Aidan heboh.


"Iya bener, punya nyawa berapa tuh anak" imbuh David tak kalah hebohnya.

__ADS_1


"Neil, kamu punya nyawa berapa berani menyentuhku?" Tanya Ratu seraya menatap ke arah Neil. Neil yang terkejut tersedak makanannya, jika dipikir ia memang begitu berani menyentuh Ratu.


Neil menatap Ratu, ia menarik pinggang Ratu agar lebih dekat dengannya. "Cuma punya satu" jawab Neil tanpa ekspresi.


__ADS_2