
Di rumah Ratu....
Ratu hanya bisa termenung, kala seorang dokter mencoba mengobati lukanya. Ia sangat keras kepala tak ingin pergi kerumah sakit, mengharuskan teman-temannya memanggil dokter ke rumah.
Tak hanya mengobati luka Ratu, dokter itu juga memeriksa keadaan gadis itu. Sepertinya Ratu sedikit terguncang karena sesuatu.
"Dokter, apakah masalalu bisa terulang kembali?" Tanya Ratu dengan wajah polosnya.
Ratu terngiang kembali dengan apa yang Neil ucapkan. Dejavu, ia pernah mengalami ini sebelumnya. Pemuda yang begitu membenci Ratu. Pemuda yang menentang apapun keputusan Ratu. Dan pemuda pertama yang sukses membuat Ratu berubah karena cinta.
Daniel, teman SMP Ratu. Pemuda yang mengajari Ratu ada hal lain didunia ini selain kekuasaan. Cinta, pemuda yang mengajari Ratu bagaimana bertindak berdasarkan hati dan kasih sayang.
Dulu, Ratu adalah gadis yang sangat keras kepala. Apapun, apapun yang ia inginkan harus sesuai dengan kemauannya. Ia bisa bertindak sangat kasar pada setiap orang yang tak ingin mendengar perkataannya. Ratu menggunakan nama Ayahnya untuk mengintimidasi setiap temannya, menjadikan dirinya yang paling tinggi. Walau terkenal pandai, Ratu juga adalah perundung. Ia bahkan tak segan memukul siapapun yang berani mengusik hidupnya.
Bahkan jika ada salah seorang murid yang berani menyenggolnya, sengaja atau tidak, Ratu melakukan pembalasan yang begitu keji. Ruang BK dan Kepala Sekolah sudah tidak asing baginya. Karena Ratu yakin, Ayah dan Bunda tidak akan membiarkan dia berada dalam masalah. Kepercayaan itu, Ratu pegang hingga hari ini, dan itu memang kenyataan.
Daniel adalah satu-satunya siswa yang berani menentang apapun keputusan Ratu. Ia bahkan tak bahkan tak peduli jika harus berurusan dengan pihak sekolah dan orang tua Ratu. Sebab, ia dibesarkan disebuah panti asuhan. Tak memiliki kedua orangtua, Daniel adalah siswa yang pandai. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar.
Kedudukan dan pendidikan, Ratu mendengar istilah itu dari Daniel. Cara untuk bertahan menjadi seorang pemenang.
"Hei, kumal, apa loe akan menghabiskan waktumu hanya untuk belajar? Ah masa depanmu sangat suram" ejek Ratu saat melihat Daniel yang sedang fokus belajar.
Daniel tak menggubris apa yang Ratu katakan, bahkan melirik pun tidak.
"Nih cowok tuli kali ya, loe gak denger gue ngomong apa? Hei bangsat" sentak Ratu kesal. Ia menendang-nendang meja Daniel, mengganggu pemuda itu.
Daniel menarik tangan Ratu untuk duduk dihadapannya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Ratu, aku tidak memiliki kekuasaan seperti dirimu. Bagaimana aku bisa mengalahkan kamu?" Tanya Daniel.
Ratu mencoba berpikir, jika berhubungan dengan uang ataupun kekuasaan, jelas Daniel tak akan bisa mengalahkan dirinya.
__ADS_1
"Aahh, loe benar. Loe bisa ngalahin gue dalam pelajaran, loe bisa jadi peringkat satu kan? Itupun kalau gue ngalah hahahaha" tawa Ratu menggelegar.
Setelah Ratu mengucapkan jawabannya, Daniel menyuruh gadis itu untuk pergi. Karena dia ingin melanjutkan belajarnya dengan tenang.
Tapi Ratu tak sampai disana, esok harinya ia kembali menghampiri Daniel dengan perlakuan yang sama.
"Kucel, loe kenapa nolongin dia? Loe kan gak kenal sama dia? Kenapa loe ikut campur urusan orang lain? Kenapa Lo..." pertanyaan Ratu terpotong karena Daniel mengajaknya pergi.
Daniel mengajak Ratu untuk pergi dari sekolah, melewati jalan pintas yang ia ketahui. Di perjalanan pun Ratu tak henti-hentinya berbicara, menanyakan mengapa Daniel membolos, ini dan itu tak pernah kehabisan topik.
"Ah, iu, disini kotor Daniel" rengek Ratu. Mereka berada disebuah gang tak jauh dari sekolah. Bisa dibilang jika ini adalah perkampungan kumuh. Daniel menunjukkan pada Ratu setiap rumah yang ada.
Susahnya mereka bertahan hidup, bagaimana kerasnya usaha yang mereka lakukan hanya demi sesuap nasi.
"Kamu tahu, hal yang lebih besar dari kedudukan dan pendidikan?" Tanya Daniel. Ratu menatap pemuda itu dengan bingung, ia pikir kedua hal itu adalah kunci untuk bisa bertahan diatas.
"Cinta. Cinta itu tidak mahal, tapi pengaruhnya lebih kuat dari kekuasaan dan pengetahuan. Tau kenapa?" Sambung Daniel. Ratu lagi-lagi hanya menatap pemuda itu dengan bingung.
Ratu masih menatap pemuda dihadapannya, ia mencoba memikirkan sekali lagi. Cukup lama hingga dia mengatakan jika ia bahagia dengan semua yang ia miliki.
Daniel tertawa mendengar jawaban gadis itu. Ia kembali mengajak Ratu untuk pergi ke tempat lainnnya.
"Apa kau punya uang?" Tanya Daniel memastikan. Ratu langsung saja menyentak Daniel, tentu saja ia memiliki uang, dan itu tidak sedikit.
Pemuda itu menyuruh Ratu untuk membeli beberapa bungkus makanan di warung, sebanyak yang ia mau. Bukan Ratu namanya jika menolak tantangan. Ia membeli dua ratus bungkus makanan dengan uang yang ia miliki. Daniel tersenyum mengetahui Ratu begitu loyal dengan uang.
"Sekarang, kita jalan dari sini ke sana, kamu bagikan pada setiap orang yang kamu temui. Jangan mengatakan apapun dan hanya tersenyumlah" ucap Daniel.
Ratu menyetujui apa yang Daniel katakan, ia ingin melihat apa yang coba pemuda ini tunjukkan. Ratu mulai memberikan bungkusan nasi pada satu persatu orang yang ia temui. Hanya dalam hitungan detik, ada begitu banyak orang yang mengantri dihadapannya. Ia sejenak menatap Daniel, pemuda itu tersenyum.
"Terimakasih ya nak"
__ADS_1
"Terimakasih Kakak cantik"
"Ini sangat membantu kami"
"Nak, kamu sangat baik"
"Semoga semua yang kamu impikan terwujud"
Pujian demi pujian Ratu dapatkan dari setiap orang tua. Ucapan terimakasih dari dari anak-anak kecil pun turut ia dapatkan. Tanpa sadar sudut bibir Ratu tertarik ke atas, menciptakan senyuman.
"Huft, capek ya bagiin makanan ke banyak orang" keluh Ratu.
Daniel memberikan minuman untuk Ratu, mereka berdua sedang duduk di tempat duduk yang ada ditrotoar.
"Gimana? Ini hanya hal kecil untukmu kan? Tapi bagi orang lain, ini adalah rejeki untuk mereka. Kenapa kau menindas seseorang demi mendapatkan pujian dan dukungan? Padahal dengan cara mudah, kamu bisa mendapatkan lebih banyak pujian dan dukungan. Mereka memujimu layaknya seorang Ratu" jelas Daniel panjang lebar.
"Ratu, apakah ini kebahagiaan yang sama saat aku bertanya padamu tentang kebahagiaanmu?" Sambung Daniel lagi.
Ratu tersenyum kecil, ia memegangi dadanya, bisa ia rasakan jantungnya berdetak begitu kencang.
"Loe benar, ini berbeda. Perasaan ini, gue pernah merasakannya, saat Ayah mengatakan pada semua orang jika gue adalah kebanggaannya, dihari dimana gue jadi juara pertama saat SD" sahut Ratu dengan tawanya.
Ratu kembali merasakan kenangan itu. Kebahagian yang sama hanya karena hal sederhana. Kini Ratu mulai memandang Daniel dengan cara yang berbeda.
"Ratu, itu yang namanya cinta" balas Daniel.
......***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Suami Pilihan Papa.........
...Terimakasih sudah membaca......
...lope lope Kakak...🥰🥰***...
__ADS_1