Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 14


__ADS_3

Ratu sedang sangat sensitif, ia langsung saja marah ketika ada seseorang yang membuatnya merasa kesal.


Ratu mengenakan kacamata hitam, berjalan menuju kantin dengan sangat angkuh. Ia enggan menoleh kanan dan kiri. Tak menghiraukan setiap panggilan yang ia dengar.


"Ck, punya mata gak sih loe? Kotor kan baju gue, ah sialan" bentak Ratu pada seorang siswi yang tak sengaja menabrak dan menumpahkan minuman diseragamnya.


Siswi itu hanya tertunduk dan terus meminta maaf. Para murid baru menatap Ratu begitu aneh. Ini pertama kalinya mereka melihat Ratu begitu sensitif. Sedangkan mereka yang sudah mengenal Ratu, memilih bungkam dan tak ikut campur.


"Kak Ratu kenapa?" Gumam Neil lirih. "Jangan ikut campur kalau dia lagi marah. Gue 100% yakin dia lagi sedih. Karena gak bisa nangis jadinya melampiaskan pada amarah" jawab David menanggapi gumaman Neil. Bahkan Bela dan Geya saja memilih diam hanya melihat.


"Ratu gak pernah nangis dihadapan kita. Tapi dihadapan pria itu, ia menjadi wanita yang begitu rapuh" sahut Ezra menunjukkan dagunya ke arah Bilal.


Bilal mencoba mendekati Ratu, untuk menanyakan perubahan sikap yang kejam ini. Tetapi yang terjadi malah, "Loe, udah mati buat gue" ucap Ratu kemudian pergi begitu saja meninggalkan kantin.


"Kalau gini, berarti Bilal alasan dia sedih" timpal Ubay. Anggota SS beserta Neil dan kawannya sedang menebak-nebak penyebab perubahan Ratu. Bela dan Geya ikut nimbrung, kesimpulan mereka sama seperti Ubay. Bilal adalah penyebab perubahan sikap Ratu.


Neil menatap para Kakak kelasnya yang sedang bergosip. Ia enggan ikut campur, berbeda dengan Liam dan Damar yang selalu ingin tahu. Setelah selesai makan, Neil pergi ke kamar mandi sebelum masuk ke kelasnya. Ia melewati lorong yang sepi, sebab bel masuk telah berbunyi.


Langkah kaki kecil Neil terhenti, suara pantulan bola basket menghentikan dirinya. Terlihat seorang siswi sedang mendribble bola basket seorang diri. Ditengah ruangan yang begitu luas, dengan kacamata hitam yang tertempel diwajahnya. Gadis itu adalah Ratu.


Neil memberanikan dirinya menghampiri Ratu. Berdiri disamping Ratu sambil terus menatapnya. "Apa?" Tanya Ratu sesaat setelah ia menyadari ada orang lain disana. Neil berdiri dihadapan Ratu, menyingkirkan bola basket dari tangan sang gadis. Ia menatap kacamata hitam yang Ratu kenakan.

__ADS_1


"Jangan" ucap Ratu ketika Neil mencoba melepas kacamata itu. Neil tak mengindahkan larangan Ratu, ia tetap memaksa membuka kacamata hitam tersebut. Terlihat mata sembab Ratu karena menangis semalaman. Neil menarik Ratu dalam pelukannya, sembari mengelus kepala Ratu perlahan.


Pelukan itu mampu membuat Ratu merasa nyaman. Hingga tanpa ia sadari, buliran bening kembali terjatuh dipipinya. Gadis itu terisak begitu dalam, sambil mencengkram seragam Neil, ia membenamkan kepalanya didada bidang Neil. Suara isakan Ratu terdengar lirih, ada luka dalam dihatinya. Luka yang membutuhkan waktu lama untuk kembali sembuh. Luka yang mungkin akan meninggalkan kenangan pilu. Masalalu yang menyakitkan dan akan selalu teringat haru.


"Aku melihatnya Neil. Bilal dan Hera berpelukan, berciuman dihadapan ku. Duniaku tiba-tiba saja hancur, aku tidak tahu harus bagaimana, sikap apa yang harus aku tunjukkan. Disaat aku menyadari harapan telah lama mati" lirik Ratu dalam isakkannya.


"Kak, mungkin ini yang terbaik buat Kak Ratu. Lebih baik membuka lembaran baru daripada mengharapkan masalalu" ucap Neil seraya mengelus rambut Ratu.


Ratu tertawa kecil mendengar ucapan Neil. Jawaban dari kebimbangannya selama ini. Ratu melingkarkan tangannya pada tubuh Neil, mendekapnya dengan erat. Begitu juga dengan Neil yang memeluk Ratu dengan erat.


Aku berharap waktu berhenti, disaat aku menemukan tempat ternyaman ini, Batin Ratu.


Ratu menarik tubuhnya dari Neil, mengambil bola basket yang sudah menggelinding jauh. Ia mendribble bola dan menantang pemuda itu untuk bermain satu lawan satu.


"Aku ajarin ayo" ucap Ratu sembari menarik tangan Neil. Ratu menjelaskan dasar permainan basket. Mengajarkan Neil teknik sederhana agar mudah dipelajari. Kini keduanya saling berhadapan. Ratu meminta Neil untuk merebut bola darinya.


Cukup lama mereka saling berhadapan. Neil masih mencari celah untuk mulai menyerang. Tetapi dengan lihai Ratu menghindari serangan itu. Dan dengan bodohnya, bukannya merebut bola, Neil malah memeluk Ratu. "Aku menyuruhmu merebut bola, bukan memelukku" ujar Ratu dengan tawa kecilnya.


Neil segera melepaskan pelukannya. Kemudian berdiri canggung dengan senyum kikuk.


"Gue pikir loe ketiduran dikamar mandi, eh malah pacaran disini" celetuk Liam yang sudah berdiri dipintu masuk.

__ADS_1


Liam masuk kelapangan basket, menghampiri Ratu dan Neil. Ia juga sama terkejutnya karena mengetahui Ratu bisa bermain basket. Ratu terlihat kesal karena para adik kelasnya itu meremehkan dirinya. Ia pun melempar bola basket, dan sukses masuk kedalam ring.


"Aku bisa melakukan semua hal, kecuali membuat Neil jatuh cinta. Sudah sana kalian masuk kelas" ujar Ratu sembari memakai kacamata hitamnya lagi dan pergi meninggalkan kedua pemuda.


Ratu berjalan menuju kelasnya, masuk ke kelasnya melalui pintu belakang. Mengendap-endap dan duduk dengan tenang di bangkunya. Ratu mengangkat tangannya sebahu, menandakan jika dirinya tak ingin mendengar pertanyaan apapun dari teman-teman. Pelajaran dikelas Ratu berjalan dengan lancar dan tertib hingga jam pelajaran usai.


"Hoee" teriak Ratu mengagetkan Neil dan kawannya. Neil tertawa sedangkan Liam dan Damar mengelus dada mereka karena terkejut.


Gadis itu menggeser tubuh Liam dan berjalan beriringan disamping Neil. Walau tak ada perbincangan, Ratu merasa sangat senang hanya dengan berada disamping pemuda tersebut.


"He loe" panggil Ratu pada gerombolan siswi didepannya. Keempat siswi itu berhenti dan meminggirkan tubuh mereka. Memberi jalan untuk Ratu. Semua mata memandang ke arah Ratu yang menghampiri gerombolan siswi itu. Sebab salah satu dari siswi itu adalah siswi yang Ratu bentak saat dikantin.


Semua ponsel sudah mereka siapkan untuk merekam. Berpikir jika akan ada sebuah perkelahian. Setidaknya mereka berharap ada adegan jambak-menjambak.


"Maaf ya, tadi gue marah-marah" ucap Ratu seraya mengulurkan tangannya. Keempat gadis itu saling bertatapan, sang siswi ragu untuk membalas uluran tangan Ratu. "Ehem pegel nih gue" sindir Ratu pelan.


Refleks siswi itu segera membalas uluran tangan Ratu. "I..iiya Kak, ta..tadi ju..juga salah gue" ucapnya lirih. "Tidak apa-apa, sampai jumpa daaahh" balas Ratu dengan riang.


Ratu, Neil, Liam dan Damar kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju parkiran. Para murid merasa kecewa tak ada pertengkaran disana. Tetapi mereka memiliki gosip baru tentang kedekatan Ratu dan Neil. "Aku masih merasa bersalah sama dia. Apa aku traktir makan aja ya besok?" Tanya Ratu meminta saran.


Neil menatap mata Ratu, ekspresi wajah Ratu membuatnya tersenyum tanpa alasan. "Iya, terserah kamu aja" ucap Neil seraya mengelus manja rambut pendek Ratu.

__ADS_1


Liam dan Damar yang memperhatikan kedua remaja itu, ternganga tak percaya. Hingga menyebabkan mereka tak memperhatikan jalan. Alhasil mereka menabrak geng Devan yang sedang lewat. "Kalian lagi. Hm..." sentak Devan kesal.


__ADS_2