Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 36


__ADS_3

Setelah Bilal pergi, Neil memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Ratu. Ditemani oleh Liam dan Damar. Didalam kamar Ratu, Ayah Ratu sedang duduk sembari berkutik dengan leptopnya begitu juga dengan Afzam.


Neil duduk memandangi Ratu, ia menggenggam tangan gadis itu. "Kak Ratu" panggil Neil ragu. "Tolong kembalilah, aku masih ingin bersama denganmu. Aku merindukanmu" sambung Neil. Pemuda itu mencium tangan Ratu, menaruh tangan mungil itu dipipinya. Ini pertama kalinya Neil berani menggenggam tangan Ratu.


"Eh, eh, om-om tangan Kak Ratu gerak" teriak Damar heboh. Ayah dan Afzam bergegas menghampiri ranjang Ratu. Mereka tampak bahagia melihatnya, Afzam segera berlari memanggil dokter.


Dokter memeriksa keadaan Ratu. Bunda, Tania dan Melvin juga sudah bergabung dengan mereka. Kabar baik yang mereka dapatkan, Ratu telah sadar, kini perlahan matanya mulai terbuka.


Ratu menatap langit-langit, ruangan sekitar dan wajah-wajah yang sangat ia kenali. Wajah yang sangat ia rindukan. Ayah dan Bunda begitu bahagia, mereka bergantian memeluk Ratu dan menciuminya. Tania juga langsung jatuh ke pelukan Ratu, memeluk sang Kakak dengan sangat erat. Ratu mencoba tersenyum, menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut Tania.


"Cengeng" ejek Ratu pada adiknya yang sedang menangis. Ayah, Bunda dan Afzam mengikuti dokter untuk mengetahui keadaan Ratu lebih lanjut. Semua teman-teman Ratu telah berkumpul didepan ruangan, menunggu kabar baik dari dalam. Ayah Ratu mengangguk dan memberikan dua jempol, sebagai pertanda jika semuanya baik-baik saja.


Merekapun segera bergegas masuk, membuat ruangan itu menjadi sempit dan pengap.


Ratu mengedarkan pandangannya, ia terhenti ketika menatap Neil. "Ne..neil" lirih Ratu dengan bibir gemetar. Neil berjalan mendekat, Ratu mencoba untuk bangun dari tidurnya dengan bantuan Neil dan Melvin. "Apa mereka tidak menjagamu? Kenapa wajahmu terlihat kacau? Kau menangis? Uhuk uhuk" Ratu terbatuk-batuk setelah pertanyaan panjangnya.


Neil tidak menjawab, ia hanya diam menatap Ratu. Air matanya kembali tumpah, melihat gadis yang ia sayangi kini berada didepannya. Neil memeluk Ratu dan menangis dalam pelukannya. Berjuta kata Maaf terus Neil lontarkan tanpa henti. Ia masih merasa bersalah karena kejadian ini. Ratu menepuk pelan kepala pemuda itu.


"Kamu.. uhuk.. benar-benar mirip.. uhuk-uhuk dengan dia" lirih Ratu terengah-engah.


"Dia siapa?" Tanya Neil yang masih memeluk Ratu.


Ratu tak menjawab, ia malah membalas pelukan Neil dengan sangat erat. Menyeka air mata Neil lalu memukul pelan dahi pemuda itu.


"Ratu, hei, sayang" celetuk Bilal yang baru saja datang. Ia menarik Neil menjauh dari Ratu, memeluk gadis itu dengan erat. Mata Bilal terlihat berbinar-binar, kebahagiaan melihat gadisnya telah sadar. Bilal mencium kening Ratu mengelus rambutnya penuh sayang. Tak peduli walau disana banyak teman-teman yang memandang.

__ADS_1


Ratu masih merasa begitu nyaman dengan pelukan Bilal, tapi ia menahan diri untuk tidak membalasnya. Gadis itu memberikan kode pada Gio, Gio segera mendorong semua temannya untuk keluar ruangan, termasuk Neil.


Neil menatap Ratu dan Bilal yang hanya berdua didalam ruangan. Hatinya terasa sesak, pemandangan yang paling ia benci.


Tania menggenggam tangan Neil, "Kakak ipar, tenang. Aku gak setuju kok kalau Kak Ratu balikan sama Kak Bilal. Jadi Kakak ipar tenang aja"


"Heh? Siapa Kakak ipar?" Tanya Melvin heran.


"Kak Ratu bilang, dia Kakak iparku. Berarti adik ipar Kak Melvin. Kak Ratu bilang, aku harus panggil Kakak ipar" jelas Tania begitu polos.


Melvin mencoba menahan tawanya, mendengar penjelasan lucu Tania. "Santai Bro, emang susah sih buat Ratu move on. Tapi ini pertama kalinya, dia nyuruh Tania panggil cowok kakak ipar, hahahah. Anjir ngakak gue" hibur Melvin.


Tania menendang kaki Melvin, karena Kakak nya mengatakan hal yang kasar. Ratu sudah mewanti-wanti Tania untuk memukul siapapun yang mengatakan kata yang kasar, karena itu bukanlah hal yang baik. Melvin kesakitan karena Tania menendang tulang keringnya, membuat para penonton tertawa terbahak-bahak.


"Mending loe masuk gih sekarang, kalau loe biarin mereka bisa-bisa balikan. Ya nggak Kak?" Saran Liam seraya melipat kedua tangannya.


Mereka sontak menarik Liam dan Damar untuk duduk kembali, serta merangkul bahu kedua pemuda itu dengan senang. Tak lupa mereka tersenyum lebar pada Tania, menunjukkan jika semuanya baik-baik saja.


Tania membuka pintu, ia mendorong Neil untuk masuk ke ruangan, kemudian menutup pintunya kembali. Neil terlihat kikuk kala Ratu dan Bilal memandangi dirinya. Ratu melambaikan tangan memanggil Neil untuk mendekat.


"Ganggu aja nih anak" celetuk Bilal pelan. Ratu memukul tangan Bilal.


"Yaelah Kak, emangnya kenapa? Kan Kak Ratu mantan bukan pacar" sahut Neil sinis.


Ratu terkejut melihat Neil menjawab perkataan Bilal, ia mencoba menahan tawanya. Neil duduk disisi lain berlawanan dengan Bilal. Ia juga menggenggam tangan Ratu seperti apa yang dilakukan Bilal.

__ADS_1


"Yaudah aku pergi dulu ya, cepat sembuh" pamit Bilal sembari mengelus rambut Ratu. Ia hendak mencium keningnya, tetapi Ratu menahan dan menggeleng. Bilal pun pergi setelah menatap Neil.


"Kamu masih belum move on ya?" Selidik Neil.


"Iya, susah ya kalau sudah cinta. Ada apa? Tumben kamu pingin dekat-dekat aku" Sahut Ratu senang. Neil menggeleng, tapi tangannya masih menggenggam Ratu.


Ayah, Bunda dan Afzam masuk kedalam ruangan. Rana tersenyum lebar menyambut ketiga orang tersibuk itu.


"Baru sembuh sudah pacaran aja" goda Bunda sembari mencium pucuk kepala Ratu. Ratu mencium pipi Bundanya seraya berkata jika dirinya sangat menyayangi Bunda.


"Kamu tau gak, pacar kamu ini nangis lihat kamu masuk ICU. Padahal dia baru lihat sekali, Ayah udah berapa kali lihat kamu masuk ruangan itu" ujar Ayah Ratu dengan tawanya.


Neil menjadi malu mengingatnya, ia menangis tersedu-sedu melihat Ratu yang terbaring tak berdaya.


"Nangis? Neil? Kenapa? Udah sayang ya? Atau cinta?" Tanya Ratu begitu gembira.


"A..apa sih, kkk..kan kita teman. PP..pas..ti se.. dih lah" jawab Neil tergagap.


Ratu memanyunkan bibirnya, ia benar-benar muak dengan kata teman itu. Mengapa kata itu selalu hadir diantaranya dan Neil, menyebalkan. Ratu mendekat kearah Neil, memeluknya dengan erat. Ia menepuk-nepuk pundak pemuda itu.


"Ayah, Bunda, aku mau ngelamar Neil kalau dia lulus nanti" pinta Ratu begitu lugas. Ayah dan Bundanya saling memandang lalu tertawa. Mereka sudah tidak bisa berkata-kata lagi mengenai tingkah putrinya.


"Kamu minta ke orangtuanya, kalau setuju mah Bunda juga setuju. Iya kan Yah?" Jawab Bunda diselingi kedipan mata.


"Makanya, kamu cepat sembuh. Jangan sakit lagi" sela Neil yang sukses membuat seisi ruangan tertawa karenanya.

__ADS_1


...******...


__ADS_2