Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 90


__ADS_3

"Ah, ruangan ini, aroma ini, gue membencinya" gumam Ratu ketika membuka matanya. Ia tengah berbaring di ruangan yang sangat ia benci, rumah sakit.


Ratu mengedarkan matanya, ia melihat sosok pemuda yang sedang tertidur sambil memegang tangannya. Entah sudah berapa hari Ratu terbaring disana, badannya terasa sakit karena tidur terlalu lama. Tak ada yang ia ingat, selain bayangan Neil sebelum kegelapan datang menerjang.


Gadis itu terus memandangi pemuda yang tertidur dengan seragam sekolahnya. Pasti Ratu tidur cukup lama hingga saat dimana masuk sekolah tiba. Ia mencoba menggerakkan tangannya, menepuk kepala pemuda itu.


"Mhhmm..."


Pemuda itu terbangun, meregangkan tubuhnya dan menatap Ratu. Matanya seketika terbelalak kala tak sengaja bertatapan langsung dengan Ratu.


"Sayang, eh Kak Ratu"


Neil hendak bangkit dari duduknya, tapi Ratu menahan tangannya. Ia sejenak memperhatikan Neil, wajah kacau dan mata sembab itu, hal yang Ratu benci. Ia sudah mengira jika semuanya akan seperti ini, Ratu kembali menyesali sikap bodohnya.


Sikap yang sangat tak dewasa, hanya karena amarah Ratu mencoba mengakhiri hidupnya lagi. Ah, Ratu memang pengecut. Ia ingin lari dari takdir yang ia pikir tak bisa dilalui.


"Maafkan aku Neil, aku pengecut"


"Tidak hei, kamu adalah nyawaku. Ku mohon jangan pergi seperti ini"


Neil kembali meneteskan air matanya, entah sudah berapa kali Ratu membuat pemuda itu menangis. Ia menarik Neil dalam pelukannya, menepuk-nepuk kepala Neil dan mengecupnya.


"Neil, Ratu sudah sadar?" Tanya seseorang yang baru saja masuk.


Pemuda itu melepaskan pelukan Ratu, lalu menoleh dan berkata, "Sudah Bunda, Kak Ratu sudah sadar"


Bunda segera berlari dan menghampiri Ratu, ia peluk dan cium putrinya berkali-kali. Rasa bahagia yang tak pernah bisa beliau jelaskan. Ayah juga berada disana, menatap Ratu dengan khawatir. Tiga hari sudah Ratu tertidur, karena kehabisan darah. Untung saja Ayah Ratu memiliki firasat kuat terhadap putrinya, sayangnya beliau harus melihat Ratu yang sudah berlumuran darah disana.


"Berhenti melakukan hal konyol seperti ini lagi Ratu, ini sudah kedua kalinya. Kau sangat keras kepala"


"Maaf Yah, aku tidak bisa berpikir jernih"


"Ayah sudah memberikan semua informasi yang Ayah ketahui pada teman-teman mu. Jadi jangan melakukan hal seperti ini lagi, Bundamu bisa sakit karena kau Ratu"

__ADS_1


"Maafkan aku Bunda, aku..." ucapan Ratu terpotong karena Bundanya. Bunda Ratu sangat bahagia karena putrinya telah sadar, ia tak butuh apapun didunia ini selain para anaknya bisa hidup bahagia.


Ayah tak sengaja menatap Neil, beliau kemudian mengajak Bunda Ratu untuk pergi keluar ruangan menemui dokter. Kini Ratu dan Neil kembali berdua didalam ruangan.


"Apa ini rencana Kak Ratu? Permainan lainnya?


"Tidak sayang, kemarilah dan peluk aku"


Neil berjalan mendekat dan memeluk Ratu dengan erat. Hangat, Ratu menyukainya. Sekarang giliran air mata Ratu yang menetes dipundak Neil. Dadanya terasa sesak, ia lelah dengan semuanya, semua hal yang ada dalam hidupnya.


Ratu ingin pergi, ketempat dimana ia tidak lagi dibayangi kematian Daniel. Penyesalan dan rasa bersalah tanpa sebab terus menghantui Ratu.


"Neil, apa Daniel membenciku? Apa Ayahku melakukan sesuatu yang membuat Daniel marah? Kenapa dia menyiksaku seperti ini? Aku lelah dengan semuanya, aku ingin pergi dan hidup tenang"


"Tidak sayang, dia tidak membencimu. Hanya saja, kamu masih tak rela melepas kepergian Daniel"


Ratu masih terus terisak dalam tangisnya.


Sepasang mata menatap Ratu dengan iba, bahkan air matanya juga ikut mengalir disana. Ayah Ratu tak benar-benar pergi, beliau beralasan mengambil ponsel yang tertinggal. Hanya untuk mendengar apa yang dikatakan oleh anak gadisnya.


Memori kembali berputar di kepala Ayah Ratu. Hari dimana beliau mengetahui kebenaran tentang manipulasi nilai disekolah anak gadisnya. Saat itulah ia merasa Ratu pasti akan bosan karena tak memiliki saingan disana. Sebab nilai akhir tak menunjukkan seberapa besar potensi sang anak.


Ayah Ratu mulai menyebar anak buahnya, mencari seseorang yang seumuran dengan Ratu, tetapi memiliki kecerdasan yang sama dengan putrinya. Dan darisanalah beliau bertemu dengan Daniel. Pemuda yang tinggal di rumah singgah setelah kepergian kedua orangtuanya ini. Memiliki kecerdasan yang sebanding dengan Ratu.


Ayah Ratu mulai mendatangi pengurus rumah singgah, beliau menjanjikan akan menjadi donatur tetap asalkan Daniel bersekolah di sekolah putrinya. Beliau menjamin semua kebutuhan Daniel akan terpenuhi tanpa kekurangan apapun.


Disinilah, sebenarnya hidup Ratu sudah mulai diatur oleh sang Ayah. Pertemuannya dengan Daniel memang tak sengaja, tapi sang Ayah yang mempersiapkan semuanya. Beliau ingin Ratu bisa bersaing dengan seseorang yang benar-benar memiliki kecerdasan yang sama dengannya.


Namun sayangnya, kecerdasan Daniel membuatnya harus jatuh terlalu dalam. Ia begitu tertarik dengan urusan sekolah, dan tak menyukai manipulasi besar-besaran yang terjadi disana. Dengan bantuan Pak Cipto, Daniel memiliki banyak informasi mengenai sekolah. Ia juga membaginya dengan Ayah Ratu, tetapi Ayah Ratu meminta Daniel untuk menutup mata dan telinga. Beliau tak ingin Daniel ikut campur urusan seperti ini.


Tapi desakan dari Pak Cipto, membuat Daniel berani melanjutkannya, hingga pada akhirnya kenyataan pahit menunggu. Saat semua pengurus sekolah dan juga semua orang yang terlibat mengetahui tentang rencana Daniel. Mereka mulai memikirkan cara untuk membuat Daniel bungkam, selamanya.


Hanya kebenaran itu yang Ayah Ratu ketahui, Beliau tak mengetahui hal lebih banyak lagi dari ini. Sebab Daniel tak sepenuhnya mempercayai Ayah Ratu.

__ADS_1


"Harusnya Ayah tak perlu ikut campur, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Ayah menyesal nak. Maafkan Ayah"


Ayah Ratu menyeka air matanya, lalu pergi menemui sang istri yang telah menunggu.


Sedangkan didalam ruangan, Ratu masih menangis dalam pelukan Neil.


"Neil, apakah pertemuan kita ini, adalah rencana Ayahku juga?"


"Tidak sayang, ini adalah takdir. Kak David sudah memeriksa semuanya, bahkan Ayah kamu juga mengatakan jika pertemuan kita diluar skenario"


"Hm... Semoga itu benar"


"Rencana Ayah atau bukan, aku tidak akan pergi meninggalkan mu. Aku berjanji, aku sayang kamu"


Neil mengelus pipi Ratu, menatap matanya dengan dalam. Ia kecup bibirnya lalu menarik Ratu sekali lagi dalam pelukannya.


"Sayang, aku akan kembali setelah kamu lulus nanti"


"Aku tidak apa-apa jika tidak bersekolah"


"Mulutnya, jangan dong, nanti cari kerjanya susah. Anak kita nanti mau kamu kasih makan apa ?"


"Belum juga nikah, udah mikir anak aja, dasar Ratu"


Ratu menjitak kepala Neil, beraninya ia memanggil nama gadis itu seolah mereka seumuran. Ratu tak menyukainya, ia tak akan membiarkan seseorang memanggilnya dengan santai apalagi jika orang itu adalah junior Ratu.


"Kan calon suamimu, massa aku harus manggil Kak Ratu terus?"


"Haruslah, enak aja kamu. Tidak ada penawaran Neil"


"Dasar cewek nyebelin"


Plakkk.....

__ADS_1


"Auh, sakit sayang"


Ratu tertawa puas setelah melihat Neil meringkuk kesakitan. Pemuda itu hanya bisa bersabar dan menerima karena Ratu sedang sakit.


__ADS_2