Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 38


__ADS_3

Ratu terkejut mendengar perkataan Neil. Saking terkejutnya ia menyemburkan minuman yang sedang ia minum ke arah Neil. Neil sungguh sial, ia mengajak kencan malah mendapat semburan.


Gadis itu tak kalah terkejut, ia berdiri dan membantu Neil membersihkan wajahnya. Tak sadar ia mengeluarkan seragamnya hendak ia gunakan untuk mengelap wajah Neil.


"Kak, ini ada tisu" teriak Damar terkejut melihat apa yang hendak Ratu lakukan. Ratu mengeluarkan banyak tisu dan menepuk-nepuk wajah Neil yang basah. Membuat pemuda itu tertawa karenanya.


"Maaf, gak sengaja. Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Ratu khawatir. Neil mengangguk, ia lalu berpamitan untuk pergi ke kamar mandi.


Ratu sedang menyesali perbuatan bodohnya, bagaimana bisa ia malah menyembur Neil saat diajak kencan. Ah, wanita bodoh, padahal ini adalah hal yang selalu ia tunggu setelah kenal dengan Neil.


"Kak, ikut aku" ujar Neil seraya menarik Ratu. Neil mengajak Ratu untuk pergi menuju kamar mandi pria.


Terlihat Daren dan gengnya sedang memberi pelajaran yang setimpal pada dua orang adik kelas. Melakukan apa yang telah dua orang itu lakukan pada siswa lainnya. Ratu menatap mereka, tak ada kejutan, hanya hal biasa. Setelah melihatnya, ia kemudian pergi keluar kamar mandi.


"Kak, ini.." ucap Neil tak bisa berkata-kata. Ini adalah perundungan. Padahal Ratu baru diberi tugas sebagai pengawas, dan temannya malah melakukan hal seperti ini.


Ratu mengajak Neil untuk pergi dari kamar mandi. Sembari berjalan mereka berbincang.


Tidak semua orang bisa berubah setelah kita memberitahu kebenaran atau melarang mereka melakukan ini dan itu. Keras kepala adalah sifat asli setiap orang. Karena itulah, terkadang perubahan itu datang setelah mereka merasakan sendiri apa yang orang lain rasakan. Bagaimana sakitnya menjadi seseorang yang mereka tindas. Ketakutan datang karena ada orang yang lebih berani atau berkuasa.


"Neil, semakin kamu terlihat lemah. Itu adalah kekuatan untuk musuhmu. Walau kamu takut, tunjukkan jika kamu berani. Menghindar, lari, itu bukan solusi. Percaya diri dan lawan, kamu pasti menang walau bukan sekarang" jelas Ratu.


Pemuda itu mengagumi pemikiran dewasa Ratu. Tapi tetap saja, ia tak membenarkan adanya kekerasan. Walau gadis dihadapannya telah menjelaskan panjang lebar, pikiran Neil masih kekeh pada pendapatnya.


"Itulah masalahnya, setiap orang memiliki pendapatnya sendiri" sambung Ratu seolah ia mendengar apa yang Neil katakan dalam pikirannya.


"Wajah kamu kok pucat sih? Belum makan ya? A..at..atau sakit?" Sahut Neil ketika mendapati wajah Ratu yang pucat. Gadis itu menggeleng, ia tersenyum miring menatap Neil, sebelum dirinya jatuh pingsan.


"Kak Ratuuu, bangun, Kak, Kak" teriak Neil mencoba membangunkan Ratu.

__ADS_1


Daren yang mendengar teriakan itu tak jauh dari tempatnya, segera berlari menghampiri Neil. Tak butuh kata apapun, pemuda itu segera menggendong Ratu dan membawanya menuju UKS. Neil mengikuti Daren dengan perasaan khawatir.


"Bu, Ratu kenapa Bu? Dia baik-baik aja kan? Apa kita perlu ke rumah sakit? Saya siapkan mobil ya" ocehan Daren tak kunjung henti.


Ibu penjaga UKS menghentikan langkah Daren yang hendak pergi. Beliau mengatakan jika Ratu hanya butuh istirahat karena terlalu lelah dan banyak berpikir. Perasaan lega dirasakan oleh Daren dan juga Neil yang masih menunggu di ruangan.


Daren memberikan isyarat jika semuanya baik-baik saja, pada semua mata yang menatap dari luar ruangan. Rupanya mereka berdua tak sendiri, langkah mereka diikuti oleh rombongan murid lain yang merasa khawatir ataupun hanya sekedar ingin tahu saja.


"Dia belum makan, obatnya juga belum diminum" imbuh Ibu penjaga sebelum beliau meninggalkan ruangan.


"Neil, jagain dia, gue beliin makan sama ambil obatnya dulu. Dan ya, jangan mau kalah sama Bilal, tuh dia datang" kata Daren seraya menepuk pundak Neil.


Pemuda itu keluar ruangan berpapasan dengan Bilal yang masuk. Neil segera duduk diranjang Ratu, mengusap-usap tangan Ratu agar suhu tubuhnya kembali normal.


"Minggir" pinta Bilal sembari menarik kerah seragam Neil. Neil menepis tangan Bilal, ia tidak ingin jauh dari Ratu walau sedetikpun. Tidak, dan tidak akan pernah.


"Loe juga bukan siapa-siapa dia kan" sahut Neil yang masih menatap Ratu.


Bilal mengumpat tak bisa menahan amarahnya, ia kembali menarik lengan Neil agar berhadapan langsung dengan dirinya. Mereka berdua saling menatap dengan amarah. Keberanian Neil datang begitu saja, melawan Bilal pun seakan tak masalah baginya.


"Uhuk uhuk, kalian ngapain?" Celetuk Ratu membuyarkan adegan pandang itu.


Kedua pemuda menoleh, menghampiri Ratu dan duduk dimasing-masing sisi ranjangnya. Ratu memegangi kepalanya, sembari sesekali ia memejamkan mata menahan sakit.


"Bilal, ada apa? Katakan padaku" pinta Ratu tak ingin basa-basi.


"Suruh dia pergi" perintah Bilal seraya melirik Neil. Ratu ikut memandang Neil, dan mengodenya agar pergi dari ruangan. Tetapi Neil menolak, ia bersikukuh untuk tetap tinggal, apapun yang terjadi.


Ratu tersenyum kecil, ia memandang sikap Neil dengan lucu. Lalu meminta Bilal untuk membisikkan saja pada dirinya.

__ADS_1


Bilal mendekati Ratu membisikkan hal yang sedang mereka kerjakan sejak Ratu dirumah sakit. Itulah alasan mengapa Ratu meminta berbicara berdua dengan Bilal saat dirumah sakit. Gadis itu mengangguk-angguk mendengarkan perkataan Bilal.


Cup...


Bilal meninggalkan kecupan singkat dipipi Ratu. Gadis melotot dan memukul dahi Bilal karena kesal. "Habisnya kamu gemesin banget kalau dari dekat, jadi pingin cium" ucap Bilal tak merasa bersalah sama sekali.


"Gue dulu an ya Neil" pamit Bilal kemudian pergi keluar dengan senyuman lebarnya.


Neil menatap Ratu yang sedang menggosok pipinya, mencoba menghilangkan bekas kecupan Bilal hingga pipinya terlihat memerah. Pemuda itu menarik tangan Ratu, menghentikan sikap konyolnya.


Ratu menaruh tangan Neil dipipinya. "Maunya dicium kamu, tapi kamunya gak mau. Ya udah elus aja" pinta Ratu dengan nada manja.


"Kalian ngapain?" Sentak Daren yang baru saja masuk. "Wah parah kalian, tuh didepan banyak penonton, pantes aja mereka betah nungguin diluar" oceh Daren tak kunjung henti.


Padahal Ratu dan Neil tak terlihat dari luar karena tertutup tirai. Lalu apa yang mereka semua perhatikan tanpa alasan. Ratu hanya memutar bola matanya malas, pasti sekumpulan orang-orang yang hanya ingin tahu.


Daren memberikan makanan pada Neil, memintanya untuk menyuapi Ratu serta memberikan obatnya. Kemudian ia pergi mengusir semua murid yang kepo dan tak ingin masuk kelas itu.


"Neil, Neil, Neil, nanti jadi jalan kan?" Tanya Ratu dengan wajah memelasnya.


"Nggak" jawab Neil cuek. Karena jawaban itu, Ratu tidak ingin makan lagi, ia menolak suapan Neil.


"Jangan keras kepala" imbuh Neil. Ratu malah membuang muka, ia tak ingin menatap Neil.


"Iya jadi, tapi di rumahku aja ya. Papa sama Mama lagi keluar kota. Gak mau keluar dulu, kamu masih belum sehat" bujuk Neil seraya kembali mencoba menyuapi Ratu.


"Maaauuu, berdua aja nih bisa itu dong gitu.. hehehe" goda Ratu.


...******...

__ADS_1


__ADS_2