
Ratu sudah menerima pesanannya, dikirim dengan bambu yang Mbak Yem dekatkan lewat jendela. Tak lupa ia membayar dan juga berterimakasih.
Geya dan Bela masih sibuk menata pesanan mereka. Dengan perbincangan kecil yang masih melekat disana. "Bel, tapi kan pacar kita itu mantannya Ratu" ujar Geya yang baru saja teringat sesuatu. "OMG, loe bener" sentak Bela terkejut. Karena hal itu Bela melepas pegangan pada tumpuan Ratu, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan.
"Eh, eh, Bundaaaa" teriak Ratu saat terjatuh setelah bergoyang-goyang cukup lama. Sua mata terkejut dan refleks berdiri melihat Ratu terjatuh.
Hhuupp...
"Mati nih gue, mati" gumam Ratu dengan detak jantung yang kencang. "Aargh, Kak Ratu berat" ucap seseorang lalu jatuh bersama dengan Ratu.
Mereka semua merasa lega, Neil dengan sigap menangkap tubuh mungil Ratu. Walau pada akhirnya mereka berdua harus terjatuh.
Ratu membuka matanya perlahan, ia menatap Neil yang jatuh bersamanya. "Kak Ratu gak apa-apa kan? Ada yang luka?" Tanya Neil khawatir. Gadis itu tersenyum miring, menepuk pipi Neil dan berkata, "Aku baik-baik saja. Terimakasih sekali lagi"
Bela menarik Ratu untuk bangun, dan Damar membantu Neil untuk berdiri. Mereka bertiga berterimakasih lalu pergi setelah memberikan apel pada seluruh murid dikelas Neil. Ketiga gadis ini berlari menuju kamar mandi paling ujung. Irfan, Bian dan Dafa sudah menunggu ketiganya disana.
"Lama banget sih kalian" omel Dafa yang sudah tidak sabar. Para gadis itu menceritakan insiden konyol yang terjadi, menjadi hiburan tersendiri bagi mereka sembari meracik ramuan. Mereka bertiga membolos pelajaran selama satu jam demi untuk melaksanakan kenakalannya. Setelah semua siap, mereka menyimpannya diujung kamar mandi dan ditutupi oleh kantong plastik, agar tak ada yang membukanya.
Mereka menaruh ramuan itu didekat pintu, agar tak ada yang masuk ke kamar mandi setelah mencium aroma busuk dari racikan mereka. Mereka lalu kembali ke kelas setelah menghabiskan satu botol parfum untuk menghilangkan bau menyengat.
Waktu berjalan begitu lama, tak ada satupun pelajaran yang mempu mendorong pikiran jail. Walau beberapa jam telah berlalu, ada begitu banyak materi yang masuk, tetap pikiran ini selalu menunggu bel pulang sekolah.
Tting..Ttingg.. Ttongg...
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Mereka berlari menuju kamar mandi dan menyiapkan semuanya di parkiran. Tak lupa mereka juga meminta Hani untuk menunggu disana bersama teman-temannya.
Diparkiran yang hampir sepi, batang hidung Rizki tak kunjung terlihat. Hingga pikiran mereka mulai pesimis jika pemuda itu tidak akan datang.
__ADS_1
"Hani" panggil seorang pemuda ditemani dua orang temannya. Hani terlihat takut, tetapi ia percaya pada Ratu. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Rizki. Terlihat Rizki meminta maaf dan menginginkan Hani untuk kembali padanya. Bersamaan dengan janji-janji palsu yang selalu ia ingkari.
"Uwaaah, ah" teriak Ratu.
Bbuukk... Byuurr....
"So..sorry" ujar Ratu gugup.
Pyyar.... pyaar.. pyaar... (suara telur pecah)
Ratu tidak sengaja menabrak Rizki, menjegal pemuda itu agar jatuh. Ember penuh ramuan yang dibawa Ratu dan Bela tumpah diatasnya. Ditambah Geya yang tak sengaja memecahkan tumpukan telur diatas tubuh Rizki yang terjatuh. Pemuda itu tampak terkejut, tertegun kehabisan kata-kata. Bahkan kedua temannya pun tak tahu harus bagaimana.
"Bego banget sih kalian, ini kan tugas praktek kita" teriak Bian yang muncul sambil berlari, diikuti oleh Dafa dan Irfan. Keenam murid tersebut saling berdebat membahas tugas praktek mereka. Tak memedulikan Rizki yang sudah basah dan lengket, ditambah bau busuk yang menyengat. "Woy, punya otak nggak kalian?" Teriak Rizki bangkit dari jatuhnya.
Pemuda itu menatap ke enam murid dihadapannya. Murid terakhir yang berdiri paling belakang, menunduk dengan tawanya. Kini mereka telah menjadi pusat perhatian disana. Para murid berusaha menahan tawa dan menutup hidung mereka. Rizki benar-benar dipermalukan.
"Kalian gak tau siapa gue ha?" Bentak Rizki dengan amarah.
"Hm.. hihihi sorry" ucap Ratu mencoba menahan tawanya.
Mendengar dirinya ditertawakan, Rizki tak segan melayangkan tangannya. Mencoba memukul Ratu, tak peduli wanita atau pria.
Pukulan Rizki ditangkis oleh Ratu, gadis itu membanting si pemuda kasar ke tanah. Sorak riuh untuk kehebatan Ratu, dan tawa untuk si pecundang.
"Kenalin, gue Ratu" ujar Ratu seraya membalik topi yang ia kenakan. Kini wajah sang Ratu terlihat jelas. Senyum penuh kemenangan. Teman-teman Rizki membantunya berdiri, walau mereka harus menahan bau yang membuat mereka mual dan hendak muntah.
Ratu melipat kedua tangannya, menunggu pembelaan apa yang ingin Rizki katakan. Nihil, ia dan kedua temannya memilih pergi meninggalkan SM. Tanpa sepatah katapun, tiga tikus itu pergi tak berpamitan.
__ADS_1
"Kak Ratuuu, i love you" teriak Hani memeluk Ratu dengan erat. Gadis itu membalas pelukan Hani, mengelus rambut adik kelasnya dengan sayang. Ratu berkata ia memiliki satu hadiah lagi untuk Hani, hadiah spesial.
"Abizar" panggil Ratu. Abizar berjalan mendekat dengan wajah yang merah merona. Persis dengan Hani yang kini juga sedang salah tingkah. Ratu menjentikkan jarinya, teman se-geng Abizar memberikan satu persatu hadiah. Devan membawa bunga, Vano membawa sekotak coklat, Ersya membawa sebuah boneka beruang besar dan Fattah membawa sekotak gelang bertuliskan nama Hani.
Didepan semua orang Abizar menggenggam tangan Hani. Menatap lembut Matta gadis pemalu nan lugu itu. "Hani, aku sudah lama suka sama kamu. Bahkan sebelum kamu punya pacar, aku sudah memiliki perasaan itu. Tapi aku takut, takut kamu menolak dan jarak kita semakin jauh. Didepan semua orang, didepan Kak Ratu, apakah kamu mau menjadi kekasihku?" Ucap Abizar dengan tegas tanpa ragu.
Hani tampak malu-malu, ia menunduk dan mengangguk pelan. Abizar terkejut kegirangan, ia melompat dan berteriak riang, "Kak Ratuuu, I love you" teriaknya hendak memeluk Ratu.
Ratu tersenyum dan memberi Abizar pukulan diperut. "Pacar loe dia, bukan gue dodol" sentak Ratu sembari mengarahkan tangan Abizar untuk memeluk Hani. Para penonton bertepuk tangan riuh. Ini adalah pemandangan yang sangat absurd. Satu orang dipermalukan dan yang lainnya bahagia karena itu.
Para penonton pun pergi setelah Abizar dan Hani resmi jadian. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Ratu yang berjalan mendekati Neil. "Kamu, gak mau bilang juga?" Tanya Ratu seraya duduk diatas motor Neil. "Bilang apa?" Jawab Neil tak mengerti.
"I love you" sahut Ratu lagi.
"I love you too" timpal Neil untuk menggoda Ratu. Ratu tersenyum malu mendengar jawaban itu.
Sayangnya masih banyak pasang mata yang menatap mereka. Hingga spontan mereka berteriak tak percaya.
"Ka..kalian?"
"Jadian yyaa"
"Kak Ratu sama Neil?"
"Sejak kapan?"
"Cihuyyy"
__ADS_1
Sahutan itu membuat keduanya tertawa canggung. Mereka tidak bermaksud untuk apapun, itu murni sebuah candaan. Tetapi para murid lainnya tak percaya begitu saja. Mengingat betapa Ratu begitu menggebu-gebu mengejar Neil. Ratu masih dengan tawanya, hingga matanya menatap satu sosok. Berdiri dengan sedih, seakan kehilangan harapannya.
"Bilal" gumam Ratu lirih.