
"Kenapa Neil? Kau takut aku pergi menjauh?" Tanya Ratu. Neil mengangguk.
"Jadi karena itu? Bukan karena kau benar-benar menginginkan aku? Maka aku akan menolak" sambung Ratu tegas.
"Kenapa?"
"Bilal tak pernah takut kehilangan aku Neil. Belajarlah dari dia"
Ratu melepas genggaman tangan Neil, ia duduk bersandar seraya menatap keluar. Indah, ia menyukai pemandangan itu. Namun pandangannya teralihkan pada Neil yang tertunduk lesuh.
"Kenapa kau sedih? Neil, kau bisa mencobanya lagi bukan. Aku masih ingin bermain-main dengan Bilal. Maafkan aku" ucap Ratu.
Ratu melingkarkan tangannya pada leher Neil. Memandangi wajah sedih itu cukup lama. Mencium singkat mata yang pernah meneteskan air mata untuknya. Lalu mencium hidung Neil dan berakhir di bibir pemuda itu.
"Apakah Kak Ratu tidak bisa melupakan Kak Bilal dan bersamaku saja?" Pinta Neil lirih.
Ratu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak. Jam tangan mahal bertuliskan nama Neil disana. Ratu harus menunggu tiga bulan lamanya untuk mendapatkan jam yang ia inginkan.
"Neil, aku menikmati saat-saat kau menolak ku. Tapi kini, ah kau sudah jatuh dalam genggaman ku. Aku bosan tidak memiliki mainan lagi" bisik Ratu. Ia memberikan jam tangan itu pada Neil, hadiah perpisahan.
"Maksud kamu, ini semua hanya permainan? Kamu hanya ingin bermain denganku?" Sahut Neil tak percaya.
"Kau pikir apa? Aku benar-benar menyukaimu? Aku menjatuhkan harga diriku hanya untuk mengejarmu setelah kau menolak ku?" balas Ratu dengan senyum miringnya.
"Tunggu, itu tidak mungkin" ujar Neil. Ia tak ingin mempercayai apapun yang Ratu katakan. Ia masih yakin dengan apa yang ia rasakan.
"Kita sudah selesai sayang. Permainan yang menyenangkan" ucap Ratu. Ia lalu berdiri dan keluar dari bianglala saat mereka sudah berada dibawah.
Ratu melangkah dengan cepat menuju tempat dimana Tania dan yang lainnya sedang berkumpul untuk makan.
"Kakak Ipar kenapaaaaa?" Teriak Tania menatap Neil yang berjalan lesuh dibelakang Ratu. Neil berusaha tersenyum dengan suasana hati yang hancur. Hari terburuk yang pernah ia lalui, bahkan rasanya ia tak ingin menatap Ratu untuk saat ini.
"Kak Ratu" panggil Neil. Ratu menoleh dan menatap datar ke arah Neil. Neil menarik tangan Ratu dan mengembalikan jam tangannya. "Permainan yang menyenangkan, terimakasih. Aku berharap tidak akan pernah melihatmu lagi" ujar Neil kesal. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Ratu dan yang lain.
Damar dan Liam saling berpandangan, mereka menduga pasti ada hal buruk yang terjadi. Kedua pemuda itu pergi setelah menitipkan Leo pada Ratu. Karena sudah mendapatkan ijin untuk menginap, Liam bisa pergi meninggalkan adiknya.
__ADS_1
Ratu menatap kotak jam tangan yang ada ditangannya. "Maaf Neil" gumam Ratu lirih.
"Gimana mainnya, seru gak? Udah malem nih, pulang yuk" ajak Ratu pada adik-adiknya yang sudah terlihat lelah. Mereka semua mengangguk dan mengikuti Ratu untuk pulang.
Tania terus menggenggam tangan Kakaknya. Ia bisa merasakan jika ada hal yang mengusik sang Kakak. Neil yang terlihat marah serta kecewa, dan Ratu terlihat sedih akan sesuatu.
"Kakak, aku percaya semua yang Kakak lakukan untuk membuat orang lain bahagia. Tapi Kakak, bermain dengan perasaan orang itu tidak baik" ujar Tania. Ia menatap Ratu begitu dalam, berharap sang Kakak bisa mengerti.
"Tania, semua harus seperti apa yang Kakak inginkan" jawab Ratu singkat.
Gadis kecil itu menghembuskan napasnya kasar. Ia memalingkan wajah, memandangi jalanan yang sepi. Sang Kakak memang keras kepala, tak ada yang bisa mengubah keputusannya.
Saat sampai dirumah, Tania mengajak kedua teman perempuan untuk tidur dikamarnya. Dan dua teman laki-lakinya tidur dikamar tamu. Mereka mengucapkan selamat malam pada Ratu dan kawan-kawan lalu pergi memasuki kamar masing-masing.
Ratu dan anggota SS sedang duduk diruang tamu. Ia menunjukkan sebuah foto jam tangan di ponselnya.
"Neil, memiliki jam ini. Gue gak tahu dia lihat pemiliknya atau tidak. Tapi yang jelas, kalian harus mengambilnya" ucap Ratu dengan serius.
"Ini kan, kenapa ada di Neil?" Tanya Ubay.
"Neil gak boleh deketin loe?" Sahut Gio memperjelas. Ratu mengangguk, Neil tidak boleh berada didekatnya untuk beberapa hari terakhir. Tapi Ratu tidak boleh meninggalkan Neil.
"Mending loe ceritain semuanya ke Neil, atau loe bakal kehilangan dia. Kalau loe gak sanggup cerita, biar gue yang cerita" saran Ezra.
Ratu nampak ragu akan saran tersebut, ia merasa belum waktunya Neil tahu. Tapi apa yang dikatakan oleh Ezra adalah benar. Ia tidak ingin kehilangan seseorang lagi.
"Kami akan menemanimu" sahut Aidan seraya menepuk pundak Ratu. Aidan berusaha meyakinkan Ratu jika teman-temannya akan selalu ada bersama dirinya.
"Jadilah seorang Ratu dan tunjukkan keberanian mu" sela David. Perkataan itu membuat Ratu memukul kepalanya, tentu saja Ratu tak pernah takut apapun.
"Aku akan pergi sekarang" ujar Ratu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Tapi itu tak mengurungkan niat Ratu untuk menemui Neil. Ia melajukan motornya pergi kerumah Neil. Sepi, gelap, tak ada satupun kendaraan atau orang yang lalu lalang.
Ratu pergi seorang diri, melarang temannya untuk ikut. Ia yakin bisa menyelesaikan semuanya sendiri.
__ADS_1
Beberapa kali Ratu mencoba menghubungi Neil, tapi tak ada jawaban. Neil tak menerima panggilannya. Bahkan Liam dan Damar juga tak menerima telepon Ratu. Gadis itu yakin mereka bertiga sedang bersama-sama.
Ratu memarkirkan motornya didepan rumah Neil, ia berdiri seraya memandangi kamar Neil. Ia terus mencoba menghubungi Neil walau tak ada jawaban. Hingga dinginnya malam mulai terasa, Ratu tak mengganti pakaiannya, ia masih mengenakan pakaian yang sama. Kini tubuhnya sudah sedingin es. Ditambah rintik hujan yang mulai turun.
"Neil, mungkin ini balasan untukku karena menyakitimu" gumam Ratu lirih. Tubuhnya telah basah oleh air hujan. Ratu mulai berpikir jika Neil mungkin telah tertidur, dan dia berniat untuk kembali pulang. Sudah lebih dari satu jam Ratu berdiri disana. Menunggu sesuatu yang tak jelas kedepannya.
"Begaaaallll, toloong" teriak seseorang. Ratu bisa mendengarnya, ia mengurungkan niat untuk kembali pulang.
Ratu menyalakan motornya dan menghadang ditengah jalan. Sebab ia melihat ada cahaya motor yang mendekat.
"Berani sekali orang itu membegal disini, aku harus menangkapnya sebelum mereka mulai menyentuh Neil. Begal sialan" umpat Ratu dengan amarahnya.
Para begal itu mendekat dengan kecepatan tinggi, tapi Ratu tak goyah sedikitpun. Lampu sepeda motornya ia nyalakan, diselingi suara bising motornya yang ia mainkan. Ratu sudah bersiap untuk mengadu motornya dengan sang begal.
"Bego gue, jelas mereka motornya ada dua lah. Kalau gini mah mending hajar salah satu" gumam Ratu kesal. Ia mengubah rencananya, berdiri dipinggir jalan. Melompat-lompat untuk memanasi kakinya.
"Satu.... dua... ti.."
Bbuukkk... Braakkk...
Ratu menjatuhkan salah seorang yang sedang menyetir sendirian. Dengan cepat ia menghadang sang begal. Sayangnya begal yang terjatuh membawa sebilah pisau.
"Saatnya bermain teman" ujar Ratu.
Ratu tak berniat melawan, ia hanya menangkis setiap pukulan yang datang. Ah, pisau itu meningkatkan gairahnya, menyenangkan. Pukulan demi pukulan Ratu tangkis dengan keras.
"Wanita sialan, minggir kau" teriak begal itu. Ia mulai mengacungkan pisaunya ke arah Ratu. Tapi itu tidak membuat Ratu takut, ia malah tersenyum menikmati.
"Begaaaallll" teriak seseorang mengejutkan. Ratu sedikit hilang konsentrasi, hingga pisau itu menyayat bagian bawah lehernya.
"Aash, sial" umpat Ratu melihat darah mulai mengalir. Ia sudah tidak ingin meneruskan permainan ini. Ratu langsung melayangkan tendangan ke area kepala begal itu. Membuatnya jungkir balik tersungkur ke tanah.
Beberapa orang mulai mendekat, mengamankan sang begal bejat. Walau kedua temannya telah kabur entah kemana, Ratu masih mengingat plat nomor motor mereka.
Kini Ratu dikerumuni oleh orang-orang, menanyakan keadaannya yang terluka terkena sayatan.
__ADS_1
"Menantu" celetuk seseorang yang hadir diantara mereka.