Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 94


__ADS_3

Ratu sedang menunggu Neil yang tengah bersiap. Karena kedua orang tua Neil sedang keluar kota, Neil ingin menginap bersama Ratu lagi dihotel. Tentu saja gadis itu menurutinya, dengan maksud tertentu pastinya.


"Sayang, kita mau kemana?" Tanya Neil penasaran.


Ratu tak menjawab, ia masih fokus menyetir mobilnya. Dengan kecepatan sedang, Ratu membawa Neil ke suatu tempat. Tempat dimana mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


"Museum? Mau ketemu pria itu lagi ya?"


Ratu mengangguk, ini adalah kesempatan terakhir untuk mengakhiri semuanya. Kebenaran, ia yakin ada kebenaran lain disana. Langkahnya menuntun dirinya untuk mencari seseorang itu. Setiap sudut museum ia cari kehadirannya.


"Maaf, apa anda mengenali saya?" Tanya Ratu.


Pemuda itu tersenyum melihat Ratu dan Neil. Beliau yang memang tak bisa bicara, mengajak Ratu dan Neil pergi kesuatu tempat. Tempat dimana barang yang mereka cari ada disana.


"Terimakasih" ucap Ratu kemudian pergi setelah memberikan sejumlah uang. Ia mengajak Neil untuk segera pergi dari museum dan menuju ke hotel. Ratu menelepon semua temannya.


Sebelum temannya berkumpul, Ratu lebih dulu membuka kotak itu. Kunci yang selama ini ada di gelangnya, ia gunakan untuk membuka kotak. Lagi dan lagi sebuah flashdisk ditemukan. Ratu segera membuka leptopnya, melihat lebih dulu isi dari flashdisk tersebut.


Sebuah video ditayangkan, para komite sekolah yang sedang berkumpul diruang kepala sekolah.


"Neil, ada apa?" Tanya Ratu karena Neil terus saja bergerak dalam tidurnya.


"Kok aku tiba-tiba gelisah ya?"


Ratu tersenyum memandangi wajah Neil, wajah itu benar-benar sangat mirip dengan Daniel. Ia tutup leptopnya dan tidur disamping Neil. Mengelus rambut pemuda itu perlahan.


"Kamu sama teman-teman kamu lagi apa sih? Kalian itu lagi ngapain sebenarnya?"


"Kamu gak perlu tahu, tidur gih, nanti kita jalan-jalan lagi"


"Aku harap, kamu gak terluka lagi. I love you"


"Love you too sayang" ucap Ratu seraya mencium kening Neil. Ia lalu bangkit karena ketok kan pintu terdengar.


Semua teman-teman Ratu sudah berkumpul. Ia kembali membuka leptopnya, sembari menyebarkan file yang didapatkannya di grup chat mereka.


"Narkoba? Sekolah nyelundupin narkoba?"


"Gila, ini udah gak waras. Bukti sepenting ini"


"Pantes aja, mereka melakukan segara cara untuk membungkam Daniel"

__ADS_1


Berbagai opini terlontar. Ratu masih memandangi video itu dengan seksama, mencari celah yang terlewat. Hanya wajah para komite sekolah yang terlihat. Tak ada orang lain yang terlibat disana, mereka adalah pengedar. Pasti video ini yang mereka cari, atau mungkin mereka tidak tahu jika video ini ada?


Daniel bekerja dengan sangat baik. Tapi mustahil jika ia bekerja sendirian. Kembali terlintas sosok Ayahnya dalam benak Ratu. Ia ragu jika Ayahnya terlibat semua ini.


Pertanyaan ini mendorong Ratu untuk menelepon sang Ayah.


Ratu : "Ayah tahu semua ini? Tentang penyelundupan narkoba disekolah?"


Ayah : "Narkoba? Hm.... jadi ini yang coba Daniel sembunyikan dari Ayah. Ratu jangan gegabah, mereka pasti punya koneksi yang tinggi"


Ratu : "Ayah yakin tidak tahu?"


Ayah : "Sangat yakin nak. Tunggu, Ayah kirimkan seseorang untuk membantumu. Kau bisa mempercayai Ayah, tapi jangan lakukan apapun tanpa ijin Ayah"


Ratu : "Aku bisa mengurusnya"


Ayah : "Jangan bodoh, kau mau teman-temanmu kehilangan keluarganya? Kau mau kehilangan Neil? Jika tidak, dengarkan Ayah"


Ratu terdiam mendengar bentakan sang Ayah. Beliau terdengar sangat marah dan khawatir. Kali ini Ratu yakin jika ayahnya tak terlibat. Ratu hanya bisa mengiyakan setiap hal yang dikatakan oleh Ayahnya. Ia tak ingin kehilangan seseorang lagi.


"Kenapa loe berubah pikiran?" Tanya Gio disela-sela perbincangan. Padahal Ratu mengatakan ini berhenti, tapi ia memulainya lagi seorang diri.


"Daniel"


"Daniel pernah bertemu dengan Neil sebelumnya. Dan Pak Cipto, dia ada dipihak Daniel"


"Ha? Dia nyakitin loe, dia berusaha buat mengacaukan semuanya"


Keyakinan Ratu akan Daniel kembali muncul. Ia merasa jika Daniel mengirimkan Pak Cipto padanya agar Ratu tak berhenti ditengah jalan. Dan perihal Neil, Ratu mendapatkan foto Neil tiga tahun yang lalu. Ini memang bukan rencana Daniel, tapi takdir yang mempermudah pertemuan Ratu dan Neil.


"Kalian jagain Neil, gue ada urusan"


"Mau kemana loe? Kita tunggu bokap loe aja" tahan David.


"Gue akan jalan lebih dulu, nanti kalau orang itu datang, kalian kabari gue"


"Jangan gila loe, loe mau kemana?" Sentak Ezra kesal.


Ratu tersenyum, ia berjalan menghampiri Neil yang tertidur. Ia sudah menambahkan obat tidur pada minuman Neil. Agar pemuda itu tak mencarinya untuk beberapa saat. Ia mencium kening Neil sang membisikkan betapa Ratu mencintainya.


Setelah itu, ia bergegas pergi, melesat kencang dengan mobilnya. Kesebuah bangunan kosong yang sangat familiar bagi Ratu.

__ADS_1


"Lihat siapa yang datang" ucap salah seorang pemuda.


Mereka seketika mengalihkan pandangan, menatap Ratu yang berdiri dengan ekspresi datar. Ratu membuang tasnya dan segera memasang kuda-kuda. Ia gerakkan tangannya, memanggil para pemuda itu untuk mulai berduel.


"Bosen hidup loe?"


"Nih cewek nantangin kita"


"Cantik juga, main-main bentar lah"


Satu persatu para pemuda itu mulai mendekat. Ratu menepis semua tangan yang ingin menyentuhnya, memukuli para pemuda itu dengan bringas. Walau sesekali ia juga tersungkur karena pukulan, Ratu kembali bangkit lagi untuk melawan.


Ada sekitar 15 orang disana, dan Ratu mencoba menantang dirinya. Ia tak peduli walau babak belur sekalipun. Darah mengalir dari pelipisnya.


"Ratuuu, Ratuuuu" suara teriakan itu terdengar familiar.


Beberapa teman Ratu datang untuk melindunginya. Mereka sudah merasakan, ada hal yang Ratu sembunyikan. Karena itulah mereka mengikuti Ratu.


Ratu menatap temannya dengan senyum getir, darah mengalir di sekitar bibirnya masih menetes. Gio berlari dan memeluknya erat, sekali lagi mereka harus melihat Ratu yang kacau.


"Jangan terluka lagi, gue mohon. Loe masih punya Neil kan? Kenapa Ratu, kenapa?"


"Gue cuma lagi suntuk aja"


"Bohong, katakan apa yang loe sembunyikan"


"Kita selesaikan ini dulu Gio, aku merindukan Neil" bisik Ratu kemudian bangkit dan langsung terjun ke medan pertempuran. Ia kembali menghajar dengan membabi buta. Dengan senyuman lebar melampiaskan amarahnya.


Perkelahian berlangsung cukup lama, hingga kedua kubu sama-sama terluka. Ratu menghampiri pemimpin kubu lawannya. Ia memperhatikan wajah pemuda yang sudah babak belur itu. Setelah itu, ia meludahi nya.


"Si..si.. sialan loe, bangsat" lirih pemuda itu.


"Daniel. Loe kenal Daniel?"


Seketika raut wajah pemuda itu berubah setelah mendengar nama Daniel. Antara yakin tak yakin, pemuda itu mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat nama tersebut.


"Daniel, pemuda yang kalian pukuli ditempat ini tiga tahun yang lalu. Pemuda yang kalian jadikan alat untuk menyembunyikan narkoba. Persetan, bangsat" Maki Ratu seraya menendang kepala pemuda itu. Ia tak peduli bahkan jika pemuda itu mati sekalipun.


"Apa maksud loe Ratu?" Teriak Faiq tidak mengerti. Teman-teman Ratu tidak mengetahui kebenaran ini. Mereka semua terkejut bukan main.


"Kenapa harus Daniel? Harusnya Ayah gue tahu, harusnya dia ngawasin Daniel. Kenapa? Kenapa para brengsek ini bisa ketemu dengan Daniel"

__ADS_1


"Pemuda naif itu maksud loe? Loe pikir kenapa? Dia juga butuh uang, orang miskin kayak dia, pasti bakal melakukan apapun demi uang"


"Brengsek" sekali lagi Ratu menendangnya hingga pemuda itu pingsan.


__ADS_2