Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 39 (!!)


__ADS_3

Seperti sebelumnya, Neil akan mengantar Ratu ganti baju sebelum mereka pergi kencan. Ratu melemparkan kunci mobilnya pada Faiq. Ratu akan pulang bersama dengan Neil.


"Dasar loe, kalau ada gebetan baru ya gini. Waktu loe ke buang buat pacaran mulu, udah kayak Geya sama Bela aja loe bucin" teriak Ubay.


"Untung loe pinter, coba kalau bego, hm.." timpal Ezra.


"Daripada kalian ngurusin gue, mending berangkat les sana. Lagi pula kalian gak akan bisa geser peringkat gue. Ratu kok mau dilawan, hancur kalian yang ada" sahut Ratu dengan tawanya. Gadis itu melambaikan tangan pada semuanya dan pergi bersama Neil.


Ratu memeluk Neil begitu erat. Ia menyukainya, pulang bersama pemuda yang ia sukai. Kali ini Ratu tak butuh waktu lama untuk bersiap. Karena hanya bermain kerumah Neil, ia hanya mengenakan kaos dan celana pendeknya, baju santai.


Sesampainya di rumah Neil, Ratu berbaring diatas sofa ruang tamu, sembari menunggu sang pemilik rumah untuk berganti pakaian.


"Mau makan apa? Aku pesenin ya, gak ada makanan soalnya" tawar Neil mulai mengotak-atik ponselnya. Ratu berjalan menuju kulkas, melihat apa saja yang ada didapur. "Aku masakin" sahutnya setelah survei.


"Kamu bisa masak?" Tanya Neil tak percaya. Ratu mengangguk, ia sudah bersiap-siap untuk memulai karyanya.


Semua bahan makanan ia tata rapi diatas meja. Tangannya begitu lihai menggunakan pisau, memotong setiap bahan masakan tanpa pikir panjang. Pemuda itu menganga tak percaya, dari kejauhan ia menatap dengan sedikit rasa khawatir. Sekali lagi, Ratu menunjukkan sisi yang tak pernah Neil bayangkan sebelumnya.


Aneh, anak konglomerat, dia bisa memiliki segala hal, tapi dia juga bisa melakukan apapun. Neil sedikit ragu, kenapa gadis konglomerat itu mau belajar begitu banyak hal. Padahal ia bisa menyuruh siapapun untuk melakukan apapun demi dirinya.


"Kamu mau masak apa? Kok banyak banget? Tapi aromanya harum" ucap Neil menghampiri Ratu.


"Iya buat Liam juga" goda Ratu. Sontak saja mata Neil melotot, ia tak ingin berpikir hal yang aneh lagi mengenai Ratu dan sahabatnya itu.


Ratu tertawa kecil, menyombongkan dirinya kepada Neil karena pernah membuat kedua sahabat itu bertengkar karenanya. Menyombongkan betapa banyak pria yang menginginkan dirinya, tapi Neil malah menolaknya.


"Jadi kamu suka sama Liam? Ya udah, aku panggilin Liam biar disini sama kamu" ucap Neil.

__ADS_1


Ratu menahan tangan pemuda itu, menariknya untuk mendekat. Ia tidak bodoh, mata Neil jelas memancarkan kecemburuan. Tapi kenapa? Kenapa ia ingin hanya sebatas teman? Apakah dia tidak sadar, ada hati yang terluka karenanya. Gadis itu memeluk Neil dengan erat, "Seandainya itu bisa, aku akan lebih memilih menyukai Liam daripada dirimu. Memilih pria yang jelas menyukaiku juga, itu lebih menyenangkan. Bertepuk sebelah tangan sungguh menyakitkan" gumam Ratu.


Aku tidak sekedar menyukaimu, bahkan aku telah mencintaimu, batin Neil.


Pemuda itu mengelus kepala Ratu, ia bersikap seolah tak ada apapun diantara mereka. Memang benar tak ada apapun diantara mereka, karena cinta itu masih disembunyikan.


Aroma wangi makanan yang Ratu buat memenuhi seluruh ruangan. Ada empat porsi makanan diatas meja. Ratu meminta Neil untuk memberikannya pada Liam juga Damar.


"Enak katanya Kak, salam buat Kak Ratu" kata Neil sepulang dari memberikan makanan. Ia kini duduk disamping Ratu. Mencicipi makanan buatan Ratu. "Iya enak, kamu hebat ya, udah pinter, bisa masak, cantik lagi" puji Neil seraya menikmati masakan Ratu.


"Pujian doang, gak mau kasih aku apa gitu?" Balas Ratu. Neil menggeleng setelah mendengar pertanyaan Ratu. Menyebalkan, ia membuat Ratu memutar bola matanya. Ratu harus ekstra sabar dihadapan pemuda yang tidak peka itu.


Setelah makan dan membersihkan peralatan masak, Ratu menuju kamar Neil. Pemuda itu sedang memutar film horor. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Ratu yang tiba-tiba muncul didepan pintu.


"Penakut kok nonton horor, kamu itu polos atau bego sih" cetus Ratu. Gadis itu lalu tidur dipangkuan Neil. Ia merasa bosan karena hanya melihat Neil yang sedang ketakutan sebab menonton film pilihannya sendiri.


Mata mereka saling bertemu, kala Ratu yang terbaring dengan Neil dihadapannya. Perasaan apa ini, hasrat mendorong Neil untuk berani mendekatkan jaraknya pada Ratu. Ia mengecup bibir Ratu beberapa kali. Kemudian membantu Ratu untuk duduk dipangkuannya.


Neil mulai melu mat bibir Ratu, ada nafsu yang tak bisa ia tahan. Mereka saling berciuman memadu kasih, hingga terlena akan keadaan. Tangan nakal Neil mulai menjalar, memasuki kaos Ratu yang terbuka tanpa penghalang. Degup jantung yang kencang mengiringi setiap kemesraan. Bahkan tangan nakal itu kini berada di dada Ratu, meremasnya tanpa Ragu.


"Aahh" des*h Ratu sedikit terkejut.


Neil kembali menjatuhkan Ratu diatas ranjang, mereka masih saling berciuman. Tangan Neil memulai kembali aksinya, mengelus paha mulus itu, serta mencoba membuka kaitan celana pendek Ratu.


"Tidak, tidak untuk ini. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat sejauh itu" ujar Ratu kemudian bangun dari tidurnya. Ia kembali mengaitkan celana pendeknya. Membiarkan Neil yang masih berpikir tentang apa yang baru saja terjadi.


"Kak, aa..a.. aku i..itu tadi a..anu maaf" sahut Neil tergagap setelah menyadari apa yang telah ia lakukan. "Menyenangkan, kenapa kau harus minta maaf?" Balas Ratu seraya menarik Neil dalam pelukannya. Ia mengecup bibir Neil, lalu menepuk pucuk kepalanya. Ratu bergegas pergi karena ada urusan yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Ratu melambaikan tangannya pada gerombolan motor yang mendekat ke arah rumah Neil. "Wah habis ngapain kalian? Masih berdiri tuh" celetuk Aidan menatap ke arah bawah Neil. Mereka semua ikut menatap ke arah itu, refleks Neil menutupinya dengan kedua tangannya.


"Pergi dulu ya, jangan keluar-keluar, udah malem ini" nasihat Ratu seraya mengecup pipi Neil. "Makasih ya, lain kali mainnya jangan kasar" bisik Ratu kemudian pergi menaiki motor Aidan. Gadis itu melambaikan tangannya pergi meninggalkan Neil yang tertegun dengan wajah merahnya.


Geng SS sedang melaju bersama menuju basecamp mereka. Anak-anak lain telah berkumpul disana.


"Ini jebakan" celetuk Ratu begitu tiba di basecamp. Ratu membalik papan tulis, disana sudah tertempel beberapa foto dan coretan. Ia lalu menempelkan beberapa foto lagi. Hasil dari penyelidikan mereka.


"Loe udah dapet buktinya?"


"Tunggu, kalau ini jebakan.."


"Berarti kecelakaan loe juga kesengajaan?"


"Tidak, kecelakaan itu diluar rencana mereka" jawab Ratu.


"Ha? Jadi mereka melakukan kesalahan?"


"Tapi kenapa?"


"Apa rencana kita ketahuan? Mereka sudah tahu?"


"Ini akan berbahaya"


"Kita hentikan ini sejenak, ada sesuatu yang mengusik gue. Dan kalian, jangan kumpul disini sampai ada perintah dari gue. Gue curiga, ada mata-mata. Oke cukup sekian" ucap Ratu mengakhiri rapat mereka.


......******......

__ADS_1


__ADS_2