
Hari kedua penilaian...
Seperti sebelumnya, Ratu juga menyelesaikan ujiannya dengan sangat cepat. Ia kembali berkeliling sekolah, menuju tempat yang sama seperti sebelumnya.
Ratu merasa jika hari ini ia akan mendapatkan sebuah pesan lagi.
"Neil" panggil Ratu saat melihat Neil yang sedang celingukan.
"Kak Ratu, tadi aku.. aku .." jelas Neil sedikit bingung dengan situasinya.
Ratu menarik Neil, bersembunyi ditempat yang tak jauh dari mereka berdiri. Sebab Ratu mendengar ada suara seseorang yang mendekati mereka.
"Jangan keluar, aku akan mengatakannya dari sini" ujar orang itu. Ratu mendengarkan, ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari persembunyian.
"Ini tentang transaksi ganja, nanti malam, aku tidak tahu pasti jamnya, tapi ditempat tak jauh dari kau melihat mobil itu" imbuhnya. Ratu tersenyum miring, rupanya ia tahu jika semalam Ratu hadir.
"Kenapa? Transaksi ini tidak ada hubungannya denganku" sahut Ratu.
"Kau akan tahu alasannya setelah kau datang dan melihat" balas seseorang itu lalu pergi. Ratu bisa melihat bayangannya menghilang, sangat cepat.
Ratu mengalihkan pandangannya pada Neil, pemuda itu sedang tak baik-baik saja. Bisa Ratu rasakan napas Neil tak beraturan. Mungkin karena jarak mereka terlalu dekat karena bersembunyi ditempat yang sempit.
Gadis itu melingkarkan kedua tangannya dileher Neil. Ah, bekas luka karena pukulan Bilal masih ada disana, Neil yang malang.
"Aku menyuruhmu untuk menemuiku setelah mendapat peringkat pertama, tapi takdir kembali mempertemukan kita" ucap Ratu.
"Kak, aku harus pergi, ujianku belum selesai. Ayo kita keluar dari sini" pinta Neil.
Ratu menempelkan telinganya di dada Neil, detak jantung pemuda itu berdebar dengan kencang. Gadis itu merengek, karena Neil tidak suka berada didekatnya.
Sebenarnya Neil menyukainya, tapi ia ingin menemui Ratu setelah membuktikan jika dirinya bisa menjadi peringkat pertama setelah penilaian.
Alasan yang bagus, Ratu menyetujuinya. Ia mengecup singkat ujung bibir Neil. Tepat di bekas luka karena pukulan Bilal. Setelah itu ia membiarkan Neil yang pergi tergesa-gesa karena harus melanjutkan ujiannya.
"Bagus, dia tidak mendengar apapun. Kau sangat lucu, pantas aku menyukaimu" gumam Ratu malu. Gadis itu kini tersenyum sendiri, hatinya sedang berbunga-bunga.
__ADS_1
Ratu kembali berkeliling sekolah seperti sebelumnya. Setelah selesai, ia memutuskan untuk makan dikantin sambil menunggu bel pulang berbunyi.
Tting... Tting... Ttongg....
Begitu bel pulang berbunyi, beberapa siswa segera menyerbu kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong. Ratu menyaksikan kerumuman manusia yang mirip zombi, rela berdesak-desakan untuk lebih dulu mendapatkan makanan.
"Wah, asli susah bener soalnya" keluh Geya gusar.
"Parah parah parah" sahut Bela tak kalah gusarnya.
"Gampang kok" sela Ratu dengan santainya.
"Hoooooooo" seru setiap murid yang mendengar perkataan Ratu. Gadis itu terkekeh melihat ada banyak mata yang menyatakan peperangan dengannya.
Ratu mendengar suara Neil yang mendekat. Rupanya Neil dan kedua temannya juga mengeluh tentang soal ujian matematika hari ini. Ratu menatap Neil dengan senyuman, pemuda itu sontak menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Ratu heran.
"Emang boleh dekat Kak Ratu?" Ujar Neil ragu. Gadis itu tentu tertawa, ah pemuda konyol ini sukses membuatnya tersenyum riang.
"Woy Ratu, nomor 32 soal ...." teriak Gio memimpin para anggota SS.
"A" sahut Ratu sebelum mendengar kelanjutannya. "Aiishhh siaalllll" seru mereka semua kacau. Para pemuda itu mengomel tak karuan.
"Kak Ratu masih ingat soalnya?" Tanya Neil tak percaya. Ratu meminta Neil untuk mendekat kearahnya. "Aku juga masih ingat hari itu, kamu menyentuhku dengan kasar" bisik Ratu diselingi tawa kecilnya.
Spontan wajah Neil memerah padam, setiap kali ia mengingatnya, perasaan malu-malu itu muncul begitu saja. Ratu mencubit gemas pipi pemuda dihadapannya. Pria manis yang lucu.
"Hai sayang" panggil seseorang yang memeluk Ratu dari belakang. Pemuda itu bertatapan dengan Neil cukup lama, hingga Ratu membuyarkan semuanya.
"Gimana ujian kamu? Susah gak, gampang kan?" Tanya Ratu seraya menggeser duduknya.
"Iya buat kamu gampang, aku ya gitu lah kamu tahu sendiri" jawabnya.
"Kak Ratu sama Kak Bilal balikan?" Tanya Neil. Terlihat raut wajah Neil yang bingung, ada sedikit amarah disana.
__ADS_1
"Iya kenapa?" Sahut Bilal ketus. Ia menarik pinggang Ratu untuk lebih dekat kearahnya.
Sial, Kak Ratu kenapa jadi gini sih, batin Neil dalam hatinya. Liam dan Damar yang menyadari ini bukan suasana yang tepat, mereka mengajak Neil untuk segera pulang. Bahkan Geya dan Bela pun memilih pulang, tak ingin melihat kedekatan Bilal dan Ratu.
"Ratu kenapa sih?" Keluh Bela tak percaya. Ia bahkan tak pernah sekali saja berpikir jika Ratu dan Bilal akan kembali lagi. Apapun alasannya, ini adalah salah. Walau mereka berdua tau Ratu selalu seperti ini, tapi tetap saja, mereka kasihan pada Neil.
"Yaudah lah Bel, lagian Ratu juga bukan pacarnya siapa-siapa kan. Bilal juga udah putus" ucap Geya mencoba menenangkan Bela yang risau.
"Sejak kapan Kak?" Sela Neil mengejutkan Bela dan Geya. Mereka berdua menggeleng tidak tahu. Ini juga kejutan bagi mereka.
Neil merasa aneh dengan semua ini. Ia memutuskan untuk menunggu Ratu didekat mobilnya. Walau Liam dan Damar sudah membujuknya untuk pulang, pemuda itu masih kekeh ingin meminta penjelasan pada Ratu. Bahkan Bela dan Geya turut serta menemani Neil disana.
Ratu dan Bilal keluar gedung dengan tawa. Tangan Bilal melingkar indah dipinggang Ratu. "Hati-hati ya pulangnya" ujar Bilal lalu mencium pipi Ratu dan pergi menuju mobilnya.
"Kalian, ada apa?" Tanya Ratu menghampiri kerumunan didekat mobilnya.
"Penjelasan" jawab Bela kesal.
"Tidak ada, pergilah" balas Ratu.
Neil menarik Ratu, ia meminta penjelasan lewat matanya. Alasan kembalinya Ratu kepada sang mantan.
Ratu melingkarkan tangannya pada leher Neil, menatap mata pemuda itu. "Neil, jadikan aku kekasihmu, aku akan meninggalkan Bilal untukmu" ujar Ratu.
"Baiklah, jadilah pacarku" pinta Neil seraya menarik pinggang Ratu mendekat.
Gadis itu sedikit tertegun, ia tak mengira Neil akan benar-benar mengajaknya berkencan. Ratu mendorong Neil menjauh darinya, terlambat, disaat hati ini telah pergi, mengapa baru ingin mengikatnya.
"Maaf, aku hanya bercanda. Kalian pulanglah dan belajar, besok masih ada ujian kan. Bela, Geya, gue antar, masuk" ucap Ratu kemudian masuk kedalam mobilnya.
Bela dan Geya masuk kedalam mobil Ratu. Sedangkan Neil, ia masih menatap mobil Ratu tanpa bergeming. Hilang, semuanya, terlambat untuk mengerti, jika semua yang datang pasti akan pergi.
"Neil, ayo pulang, besok masih ada ujian" seru Liam menarik tangan Neil.
"Iya, tunjukkin ke Kak Ratu kalau loe bisa jadi nomor satu. Dia nyuruh loe kembali saat dapat peringkat satu kan, ayo kita belajar" imbuh Damar menguatkan sahabatnya.
__ADS_1