
Neil kembali masuk kedalam kamar, membangunkan Ratu dari tidur lelapnya. Pemuda itu menggoyangkan tubuh Ratu sembari sesekali mengelus pipinya.
"Ah, ahahah geli tau" ujar Ratu saat Neil mengelus pipinya. "Jadi dari tadi ngerjain nih" balas Neil kembali menggelitik tubuh gadis itu. Ratu tertawa lepas, ia juga berusaha membalas Neil. Mereka berdua bermain seperti anak kecil.
Puas bermain, Neil mengajak Ratu untuk segera pergi, karena film yang mereka akan tonton akan segera dimulai. Gadis itu mengikuti langkah Neil, sembari merapikan baju dan rambutnya yang berantakan. Ratu memeluk pinggang Neil dengan sangat erat. Membuat Neil sesekali tersenyum karenanya.
Neil dan Ratu berjalan beriringan, menuju ke bioskop tempat mereka menonton. Ingin sekali rasanya Neil menggandeng tangan yang terayun bebas dihadapannya. Tetapi tak ada keberanian untuk memulai. Pemuda itu berusaha mendekat, ragu-ragu ia menyentuh tangan Ratu. Seolah tergesek secara tak sengaja. Setiap kali Ratu menoleh, ia berpura-pura menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mau dua mas" pinta Ratu kepada penjual popcorn. "Satu aja, aku gak mau" timpal Neil menolak. Ratu melirik pemuda itu dengan heran. Membuat Neil juga menatapnya penuh tanya.
"Jangan ge'er Neil, Kak Ratu kan makannya banyak" sahut Abizar yang baru saja tiba bersama Hani. Hani berteriak kegirangan sambil memeluk Ratu dengan erat. "Wih, udah jalan bareng aja nih. Jangan digelap-gelapan ya" nasihat Ratu. Gadis itu membayar popcornnya kemudian pergi meninggalkan pasangan baru tersebut.
"Pantes aja berat, makannya banyak" gumam Neil.
Ratu menghentikan jalannya, membuat Neil menabrak karena tak sempat berhenti. Gadis itu berjalan menuju Abizar dan Hani, memberikan popcornnya tanpa sepatah kata. "Kak Ratu, hei, ini kenapa?" Tanya Hani yang tidak mengerti dengan sikap gadis itu.
"Lumayan, biarin aja pasti lagi ngambek. Neil bego sih" bisik Abizar kemudian mengajak Hani untuk masuk ke teater tempat mereka akan menonton film.
Ratu berjalan melengos begitu saja meninggalkan Neil yang menatapnya heran. Ia memasuki teater seorang diri, duduk di kursinya sambil memainkan ponsel. Neil juga duduk disamping Ratu, berkali-kali bertanya apa yang terjadi. Tetapi tetap tak ada jawaban, Ratu memilih bungkam. Neil masih tidak menyadari kesalahannya.
Mereka berdua menonton film dalam diam, tak ada komunikasi apapun diantaranya. Ratu sesekali cekikikan ketika mendapati adegan sadis dalam film tersebut. Berbeda dengan Neil yang memejamkan matanya karena ngeri.
"Nih film ngapa kocak gini sih, massa iya ususnya keluar gitu. Hahaha" gumam Ratu bersama tawanya. Bahkan penonton disebelah Ratu pun menatapnya dengan aneh. Adegan yang membuat banyak orang merasa ngilu, malah nampak lucu dimata gadis ini.
"Kak" panggil Neil pelan.
__ADS_1
"Apa sih Bilal, aku kan lagi asik nonton" jawab Ratu spontan.
Mendengar nama Bilal disebut, membuat Neil enggan menyahuti pertanyaan Ratu. Sakit? Iya. Tapi lebih kecewa karena Ratu bahkan tak memandang dirinya. Neil memutuskan untuk terus menonton film dalam diamnya.
"Bilal, filmnya lucu ya" ujar Ratu seraya menoleh menatap Neil. Gadis itu tertegun, namun Neil lebih tercengang mendengarnya. Rupanya Ratu masih berpikir jika Neil adalah Bilal.
Neil mengangguk sembari memaksakan senyumnya. Ia mengajak Ratu untuk pergi keluar. Mereka masih saling diam, merenungkan kesalahan masingmasing. Tetapi Neil sudah berjanji akan membantu Ratu move on, karena itu ia memaklumi semuanya.
"Makan yuk, laper kan?" Ajak Neil dengan semangat. Namun Ratu menolaknya, ia sedang tidak ingin makan apapun. Lebih tepatnya ingin menghindari makanan.
Pemuda itu tahu jika Ratu kelaparan, karena sedari tadi gadis itu tak makan apapun. Tetapi ia masih tidak memahami alasan penolakan Ratu. Padahal yang ia ketahui, Ratu memang sangat suka makan.
Neil mengikuti keinginan Ratu yang ingin pulang kerumah. Tetapi tidak semudah itu, ia malah melajukan motornya menuju salah satu restoran. Ratu terus merajuk dan mengatakan ingin pulang, namun Neil tetap menariknya paksa. Neil memesan makanan kesukaan Ratu, ia mengetahuinya dari Ubay.
Walau sudah digoda makanan kesukaannya, tetap saja Ratu tak ingin makan. Ia hanya menatap Neil yang makan dengan lahap. Neil berulang kali menyuruh Ratu makan walau selalu berakhir dengan penolakan.
Ratu mengernyitkan dahinya, perkataan Neil sungguh tidak masuk diakal. "Kenapa sakit jadi rindu?" Sahut gadis itu penasaran.
"Soalnya gak ketemu aku" jawab Neil singkat. Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal, hingga mengundang beberapa tatapan mata untuk menatapnya.
Mereka berdua tidak menyadari, ada satu pasangan yang memperhatikan keduanya sejak mereka memasuki restoran. Ditempat duduk yang tak jauh dari mereka. Keduanya masih saja asik bertengkar dan bercanda. Neil kembali menyuruh Ratu untuk makan.
"Kamu kok gak peka sih, aku itu gak mau makan, soalnya kamu bilang aku berat. Hm..." jawab Ratu ketus.
Hampir saja Neil menyemburkan makanannya, rupanya perkataannya yang membuat Ratu marah. Neil menyangkal jika dia mengatakan hal itu, dan memuji jika Ratu tidaklah berat. Tetapi gadis itu tidak percaya, ia memutar bola matanya malas. Malas mendengar rayuan bodoh dari pria disampingnya itu.
__ADS_1
Neil bangkit dari duduknya, ia langsung mengangkat tubuh Ratu tanpa permisi. Gadis itu sontak membelalakkan matanya tak percaya. "Tuh gak berat kan, makan ya" pinta Neil dengan raut wajah putus asa. Ratu mengangguk cepat dan meminta Neil menurunkan dirinya.
"Aaaahhh, kamu mah bikin malu aja, dilihatin banyak orang tuh" bisik Ratu pada Neil. "Kak Ratu kan suka jadi pusat perhatian, kenapa malu, aneh" celetuk Neil yang sukses mendapat jitakan dari Ratu.
Neil menyuapi Ratu agar gadis itu mau makan. Acuh tak acuh, Ratu tetap memakan makanan yang telah Neil pesan untuk dirinya. Padahal sebenarnya dia memang lapar.
"Oh iya, besok Mama kamu datang ke sekolah kan?" Tanya Ratu ditengah acara makannya. "Sama Papa juga. Orang tua Kak Ratu datang?" Ujar Neil.
"Biasanya sih datang, soalnya kan ini sebelum penilaian. Tapi, masih belum dapat kabar hari ini" jelas Ratu.
"Tapi aku berharap mereka gak pulang bulan ini. Soalnya kalau mereka ada dirumah, aku gak bisa keluar malam, kan aku mau jalan sama kamu setiap hari" sambungnya dengan santai.
"Eh tapi emangnya Papa gak kerja?" Imbuh Ratu lagi.
"Ambil cuti katanya, dia mau lihat sekolah, lagian ini juga penilaian pertama ku. Jadi mereka berdua ingin tahu sistemnya" jawab Neil.
Ratu kembali terdiam memandangi Neil yang sedang makan. Ia lalu tertawa kecil setelah memandangi Neil. "Neil, kamu beneran gak suka aku?" Sekali lagi Ratu mencoba mengungkapkan perasaannya pada Neil.
Padahal jelas ia tahu jika Neil menyukai dirinya. Tetapi mengapa Neil tak mengungkapkan perasaannya? Neil justru menolak Ratu.
"Suka kok, kita kan teman" jawab Neil sekenanya.
Sekali lagi hanya penolakan yang Ratu terima. Sudah kesekian kalinya, Ratu dihempas sebelum sempat singgah sesaat. Walau ini sudah kesekian kalinya, tapi rasa sakit itu masih sedikit tertinggal disana.
Para pengunjung yang tak sengaja mendengar perbincangan mereka. Menatap Ratu dengan iba, gadis malang yang ini sedang memaki-maki dedaunan disampingnya.
__ADS_1
"Yah, anak kita kenapa ya? Kayak orang gila gini. Segala nembak cowok didepan umum segala" ujar seorang wanita paruh baya. "Itu baru cowok, jual mahal, massa harus ngalah mulu ke cewek" balas lelaki paruh baya disampingnya. Pasangan ini terus menatap meja Ratu dan Neil. Walau mereka harus menutupi wajah mereka dengan koran dan buku menu, demi melihat kencan putri mereka.
Pasangan ini adalah Ayah dan Bunda Ratu. Ingin hati membuat kejutan untuk anak-anak mereka, apalah daya jika kejutan itu berbalik pada mereka.