Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 9


__ADS_3

Bilal tidak merasa sakit hati mendengar hal itu. Ia malah menarik Ratu mendekat ke arahnya. Hanya beberapa detik sebelum dirinya mencium bibir gadis itu, melum*tnya mesra. Bukannya melawan, Ratu malah terbawa suasana, membalas setiap ciuman yang diberikan oleh Bilal.


"Kamu tau? Aku mencintaimu tanpa aku sadari, aku muak dengan pertengkaran kita. Aku selalu ingin menjadikanmu milikku" ujar Bilal seraya menatap mata Ratu. Gadis itu tersipu malu, kedua pipinya merona merah. "Aku juga mencintaimu. Hanya pertengkaran itu yang bisa mendekatkan kita, karena aku tak bisa mencari alasan lain untuk bisa dekat denganmu" ucap Ratu malu-malu. Keduanya lalu berpelukan, itulah cara mereka menjadi sepasang kekasih.


Esoknya harinya disekolah, mereka membuat keributan karena berjalan bergandengan tangan, bercanda dan tertawa dengan mesra. Tak ada yang tahu bagaimana keduanya bisa begitu dekat seakan tak pernah ada jarak diantara mereka.


Ratu masih sering kali merindukan kebersamaannya bersama Bilal. Perlakuan manis dan pelukan hangat itu. Ratu mengenangnya lagi ketika Bilal memeluknya dihari ini. "Maaf" ujar Bilal sembari melepaskan pelukannya. Pemuda itu lalu berjalan pergi meninggalkan Ratu yang masih terdiam diruangan.


Para murid sudah duduk manis dikelas mereka, mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Sedangkan Ratu masih berjalan-jalan mengelilingi sekolah, ia diberi kebebasan libur satu hari untuk beristirahat setelah olimpiade tersebut. Tempat favoritnya tentu saja ruang UKS. Ratu berbaring disana dan sesekali bermain game diponselnya. Hingga panggilan masuk diponselnya, mengharuskan ia bangkit dari kemalasan.


Dengan malas langkah kakinya menaiki tangga, menuju sebuah ruang kelas, Kelas 1-2. Ratu mengetuk pintu kelas, lalu masuk setelah mendapat ijin dari sang guru. Kehadiran Ratu tentu menarik perhatian seluruh murid dikelas. Mereka mulai berbisik dan berbincang, menimbulkan kegaduhan. "Diam" teriak Pak Cipto sembari memukul papan tulis dengan penggaris panjangnya.


Gadis itu dengan santai duduk di kursi Pak Cipto, membiarkan sang guru berdiri karena masih menulis dipapan tulis. Sembari menunggu Pak Cipto, Ratu menyempatkan diri untuk bermain game diponselnya. Sekali lagi tingkah gadis itu menimbulkan perbincangan kecil diantara murid-murid. Gadis itu mendongakkan kepalanya, dan serempak semua murid bungkam tertunduk membisu. Menghindari pandangan mata Ratu yang menatap seluruh kelas seperti laser.


"Ratu, salah satu murid dikelas saya tidak masuk selama seminggu" ucap Pak Cipto memulai pembicaraan. "Kamu tahu alasannya?" sambung Pak Cipto lagi. Ratu menggeleng diam memandangi Pak Cipto dengan serius.


"Perundungan, dia dirundung oleh Kakak kelasnya" jelas Pak Cipto singkat.


"Lalu? Bapak tau benar saya tidak pernah melakukan hal seperti itu" bela Ratu dengan percaya diri.

__ADS_1


Pak Cipto tahu benar seperti apa murid dihadapannya itu. Ratu memang terlihat kejam dan suka berkuasa, tapi dirinya tak pernah melakukan perundungan tanpa alasan yang jelas. Bisa dibilang jika dia melakukan sesuatu pada orang lain, itu karena seseorang itu telah melewati batas kesabaran yang dimiliki oleh Ratu.


"Saya mau, kamu bawa dia kembali. Yakinkan dia bahwa kamu akan menjaganya" pinta Pak Cipto.


Gadis itu tersenyum miring. Ia berlalu pergi sebagai tanda penolakan atas permintaan tersebut.


"Apakah saya harus berlutut agar kamu mau mendengarkan saya?" Ucap Pak Cipto perlahan menurunkan kakinya. Ratu menoleh dan menghentikan aksi sang guru. Gadis itu mendudukkan sang guru di kursi, kemudian dirinya bersandar didinding sembari melipat kedua tangannya didepan dada.


"Beri saya alasan yang kuat untuk ini. Pak saya sudah ditingkat akhir, dan saya tidak ingin memulai sebuah permusuhan ditingkat ini. Bapak tahu, kami memiliki perjanjian untuk ini" jelas Ratu mulai gusar.


Para murid kelas 1-2 sesekali mencuri dengar pembicaraan Pak Cipto dan Ratu. Mengakibatkan pekerjaan mereka menjadi terhambat karena rasa penasaran yang begitu besar. Terlihat Pak Cipto memikirkan sesuatu, sepertinya alasan kuat agar Ratu mau membantu sang murid.


Ratu menghembuskan napasnya kasar, matanya mulai menatap langit-langit. Jelas terlihat jika fakta itu mengusik hatinya. Ratu mengacak rambutnya gusar, kini ia mulai dilanda kebimbangan.


"Siapa yang merundung dia?" Tanya Ratu seraya menatap seluruh murid kelas 1-2. Tak ada yang berani menjawab, semuanya terdiam dan menunduk. Ratu menatap Pak Cipto dengan sedih, bagaimana ia bisa bertindak jika teman sekelasnya saja tak ada yang mau membantu.


"Liam" panggil Ratu.


"Gu..gue gak tau Kak" jawabnya gugup.

__ADS_1


"Kelas 2 atau 3?" Pancing Ratu sekali lagi. Tetap saja tak ada yang menjawabnya. Mereka masih bungkam, entah takut, tidak tahu, atau memang tidak peduli. Bahkan Pak Cipto juga ikut membantu Ratu untuk mencari informasi, tetapi muridnya memang menguji emosi.


"Yaudah gak apa-apa, kalian belajar aja. Biar gue cari tau sendiri. Gue jadi penasaran siapa yang kalian takuti lebih dari gue, hm.." gumam Ratu.


Para murid saling berpandangan dan kembali berbisik. Ratu sudah mendial sebuah nomor diponselnya, menunggu lawan bicara mengangkat panggilan darinya. Salah seorang siswi mengangkat tangannya dengan ragu-ragu. "Kak" panggilnya dengan lirih. Siswi itu melambaikan tangan memanggil Ratu untuk mendekat. Membisikkan sebuah nama ditelinga gadis itu.


"Hahaha, serius dia?" Tanya Ratu mencoba memastikan sekali lagi. Siswi itu mengangguk pelan. "Hp loe mana?" Ucap Ratu mengadakan tangannya. Dengan cepat siswi itu memberikan ponselnya pada Ratu.


Ratu mengetikkan nomornya diponsel siswi itu, menyimpannya dengan nama Sang Ratu.


"Kalau ada apa-apa, hubungi gue ya. Keamanan loe terjamin, selama ada Ratu" ujar Ratu seraya mengedipkan matanya. Gadis itu pergi keluar kelas dan mulai berbincang ringan dengan lawan bicaranya. Ratu sesekali menatap Pak Cipto dan mengacungkan jempolnya. Seakan semuanya telah beres dan akan berakhir dengan indah.


"Pak Cipto, maaf, tapi ini tidak gratis" celetuk Ratu setelah menyelesaikan panggilannya. "Iya, kamu mau apa? Nilai kamu dinaikkan?" Tawar Pak Cipto.


"Lah, Bapak mah, saya Ratu, saya selalu nomor satu. Apalagi masalah nilai, siapa yang bisa ngalahin saya? Ratu adalah Sang Ratu" puji gadis itu pada dirinya sendiri.


Sontak saja Pak Cipto dan murid dikelasnya tertawa lebar. Ratu terlalu menyanjung dirinya sendiri. Tetapi itu memang kenyataan yang ada, gadis itu selalu ada diperingkat satu masalah nilai. Gadis itu menghampiri Pak Cipto dan membisikkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan, Pak Cipto tanpa enggan memukulnya begitu saja. Gadis itu meringis kesakitan, sambil menahan tawanya. Dengan senyuman manis ia menunggu jawaban sang guru.


"Iya oke-oke, tapi cuma sekali ya. Jangan aneh-aneh, ngertii!!" ancam Pak Cipto sembari menjewer telinga muridnya itu. Ratu mengangguk lalu pergi setelah menerima tawaran yang bagus. Hatinya berbunga-bunga, berjalan sambil melompat ria. Seakan telah mendapatkan apa yang ia impikan.

__ADS_1


"Kalian, jangan tiru dia ya. Tiru pintar, bakat dan baiknya saja, selebihnya jangan mencoba menjadi seperti Ratu. Untung cuma satu, kalau ada Ratu lain, Bapak bisa masuk rumah sakit sehari sekali" curhat Pak Cipto pada muridnya. Tentu saja semua muridnya tertawa terbahak-bahak mendengar keluh kesah sang guru.


__ADS_2