Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 16


__ADS_3

Liam dan Damar terus mengagumi mobil Ratu, mereka merasa senang karena bisa menaikinya. Ada begitu banyak aksesoris dan boneka gajah didalam mobil Ratu. Juga tergantung foto kecil Ratu yang sedang menunggangi gajah.


"Kak Ratu udah punya SIM kan?" Tanya Damar. "Punya, emangnya kalian masih dibawah umur" jawab Ratu dengan tawanya.


Ratu begitu fokus menyetir, membiarkan ketiga pemuda itu berbincang ria. Mereka terlihat seperti anak kecil dimata Ratu.


"Halo sayang" kata Ratu saat menerima telepon. Ratu terkekeh mendengar lawan bicaranya mengomel. "Sama teman, cuma teman" jawab Ratu sambil tertawa. Lawan bicara gadis itu tak percaya jika dirinya sedang keluar dengan teman-teman. Ratu melirik kearah Neil, dan mengatakan pada sang penelepon jika temannya adalah seorang lelaki.


Liam dan Damar tak menghiraukan Ratu yang sedang berbincang, mereka asik memainkan boneka gajah serta miniatur gajah milik Ratu. Sedangkan Neil menatap jalanan dan sesekali melirik ke arah gadis disampingnya. "Bye sayang, iya he'em" ucap Ratu sebelum mengakhiri panggilannya. Perbincangan Ratu membuat Neil benar-benar penasaran.


Ratu menghentikan mobilnya didepan sebuah warung kecil dipinggir jalan yang sepi. Ia menyuruh Neil untuk bertanya alamat rumah Mita. Neil mengeluarkan kepalanya dan bertanya pada salah seorang pemuda yang sedang berdiri. Pemuda itu menjelaskan kemana mereka harus pergi, namun Neil tidak bisa mengingat alurnya dengan pasti. "Kak Ratu ingat kan? Aku gak ingat sama sekali" ucap Neil sembari menatap Ratu sedih.


Gadis itu tertawa melihat raut wajah sedih Neil. Ia pun beranjak dari duduknya untuk mendekatkan diri pada sang pemuda. Ratu mengeluarkan kepalanya mendengarkan dengan seksama, setelah itu ia pun berterimakasih. Saat hendak kembali ke tempatnya, Ratu menatap Neil yang sedang gugup. Jarak mereka memang sangat dekat, hingga membuat Ratu menggoda Neil seakan ingin menciumnya. Neil malah memejamkan mata sembari menahan senyuman.


"Dah jangan berharap kamu" ucap Ratu seraya menjitak kepala Neil. Pemuda itu tersadar dari khayalannya, sedikit kecewa sebab tak terjadi apa-apa. Damar dan Liam mencoba menahan tawa mereka, sebab telah melihat semuanya.


Ratu kembali melajukan mobilnya, mengikuti petunjuk yang sudah diberikan. Mereka sudah sampai didepan sebuah gang. Karena jalanan yang sempit, mengharuskan Ratu memarkirkan mobilnya didekat toko yang masih buka.


Gang rumah Mita terlihat sepi dan gelap, padahal jam masih menunjukkan pukul tujuh malam. Dan beberapa toko yang berjejer juga masih buka. Ratu memimpin jalan, sedangkan ketiga pemuda itu saling bergandengan karena ketakutan.

__ADS_1


"Kak, kok serem sih" rengek Liam sembari menggandeng lengan Ratu. "Dasar penakut" celetuk Ratu seraya menjitak kepala Liam. Ratu membiarkan Liam menggandeng tangannya, membuat Damar juga ikut menggandeng tangan Ratu disisi lain. "Terus Neil gimana? Mau peluk depan atau belakang?" Goda Ratu sukses membuat pemuda itu tersipu.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Ratu menemukan rumah Mita. Ia melihat seorang wanita paruh baya dan anak remaja yang sedang berbincang ria didepan teras rumah. "Permisi, Mita ya?" Tanya Ratu dengan pelan. Mita sangat terkejut melihat kedatangan Ratu, sedangkan Ibu Mita menyambut keempat teman putrinya dengan ramah.


"Silahkan masuk nak" pinta Ibu Mita. Ratu masuk kedalam rumah, diikuti oleh ketiga pemuda. Sambil berbasa-basi menanyakan kabar, Ratu meminta Mita untuk berbicara berdua.


Ratu dan Mita duduk diatas kursi yang berada dibawah pohon tak jauh dari rumah. Ratu menepuk-nepuk pelan bahu Mita. "Loe gak kasihan sama orang tua loe? Gimana rasanya kalau mereka tahu semuanya? Anak kebanggaan mereka berbohong tentang sekolahnya?" Rentetan pertanyaan itu datang begitu saja dari bibir Ratu. Mita hanya bisa menunduk tak menjawab.


"Mita, tau kenapa gue ada disini?" Sambung Ratu. Mita tak menjawab, tetapi dirinya memandang ketiga pemuda yang sedang menatap mereka. Mita berpikir jika Neil adalah alasan terkuat mengapa Ratu menemuinya.


"Salah, ini karena wali kelas loe, Pak Cipto. Beliau meminta gue untuk menjemput loe. Loe punya wali kelas yang menjaga loe, orang tua yang menyayangi loe, apa loe akan mengecewakan mereka hanya karena takut?" jelas Ratu dengan lirih. Gadis itu tersenyum miring jika mengingat semua yang terjadi.


"Tapi Kak.." Mita tampak ragu untuk berbicara dengan Ratu.


Ratu bangkit dari duduknya, ia berdiri dihadapan Mita. Ia menggenggam tangan Mita dan berkata, "Salah satu orang yang gue suka adalah, orang yang pantang menyerah. Mita, gue lebih suka berteman dengan orang yang memiliki pengetahuan daripada kekayaan. Karena orang tua gue udah kaya, hehehe"


Mita tak bisa menahan tawanya, melihat Ratu yang begitu percaya diri. Kakak kelas yang tahu hanya dari nama, dingin, kejam dan tak mudah bergaul. Tetapi Mita melihat sosok lain dari apa yang ia dengar. Seorang Kakak yang sangat menyayangi adiknya, benar, Ratu memperlakukan dirinya seperti seorang adik.


"Gue dulu punya teman waktu SMP, pinter banget, dia selalu belajar dan belajar. Saat gue tanya kenapa, jawabannya seperti yang gue jelasin. Karena orang tuanya tidak memiliki kedudukan tinggi, dia ingin meraih pendidikan setinggi mungkin" ucap Ratu dengan senyuman.

__ADS_1


"Cowok ya Kak?" Tanya Mita penasaran. Ratu terkejut mendengar pertanyaan tersebut, bagaimana mungkin Mita bisa menebaknya dengan benar. "Iya, dia cinta pertama gue" jawab Ratu sambil tersenyum malu.


"Kelihatan kok Kak, wajah Kak Ratu merona gitu waktu ngomongin dia" balas Mita yang membuat Ratu semakin tersipu.


Ratu berharap, kelak dia akan bertemu kembali dengan dia. Cinta pertamanya, yang mengajarkan banyak hal pada Ratu.


Mita kembali mengeluh pada Ratu, jika ia tidak bisa lagi menghadapi Fiona dan gengnya. Mita hanya ingin bersekolah dengan tenang. Belajar dengan rajin demi mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter. Tertekan karena perundungan, membuat Mita tak bisa fokus belajar.


"Tenang, ada Ratu disini" ujar Ratu seraya memberikan sebuah ponsel dan smartwatch pada Mita. Ratu tau jika ponsel Mita rusak karena Fiona dan gengnya.


Mata Mita terbelalak tak percaya. Ia tahu jika Ratu adalah anak orang kaya, tapi menghabiskan banyak uang untuk orang lain, membuat Mita tak mengerti, sosok seperti apa Ratu ini.


"Non Ratu" teriak seorang pria. Terlihat dua orang pria sedang berjalan sembari mendorong sebuah motor. Ratu melambaikan tangannya, memanggil kedua pria tersebut. Ia dan Mita lalu berjalan kembali menuju rumah.


"Kok lama sih Pak? Untung saya masih disini" omel Ratu kesal. "Non ini gimana, mintanya dadakan, mana bisa Bapak ngurus semuanya langsung" jelas Pria itu seraya memberikan kunci dan surat-surat motor pada Ratu.


"Tadi Mas Afzam nyariin, Non pasti diomelin ngehabisin uang sebanyak ini" ucap Pria itu lagi. "Tenang aja Pak, nanti Ratu yang tanggung jawab. Bapak pulang aja, makasih ya Pak" ujar Ratu dengan sopan. Kedua pria itupun berpamitan pergi setelah menyerahkan motor.


Ratu memberikan kunci dan surat-surat pada Mita, mengatakan jika ini adalah hadiah darinya. Mita dan kedua orangtuanya menangis haru mendapat begitu banyak hal dari Ratu. "Nanti gue cicil ya Kak, gue pasti kerja keras buat bayar semua ini" kata Kita dalam tangisnya. "Cukup tunjukkin ke gue, kalau loe bisa jadi orang yang sukses. Belajar yang rajin ya" nasihat Ratu.

__ADS_1


Gadis itu memang sengaja membelikan Mita motor, karena mengetahui jarak rumah Mita yang jauh dari jalanan umum. Pasti membuat Mita kesulitan untuk berangkat sekolah. Orang tua Mita juga sangat berterimakasih pada Ratu, tak henti-hentinya mereka memuji kebaikan gadis itu.


__ADS_2