Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 15


__ADS_3

Devan dan kawannya merangkul pundak Liam dan Damar. Memberi peringatan pada kedua siswa itu untuk berhati-hati jika berjalan.


"Deevv, lepas" perintah Ratu dingin. Devan dengan malas melepas kambing buruannya. Ia menunjukkan sebuah kotak dan mengajak Ratu untuk berbincang sebentar. Mereka berdua berada jauh dari kerumunan, memperbincangkan hal yang penting.


Sedangkan Neil, Damar serta Liam dibiarkan diapit oleh para anggota geng TB. "Fattah, tangan" teriak Ratu saat melihat Fattah merangkul pundak Neil. Fattah langsung menurunkan tangannya setelah menoyor kepala Neil. Tidak bisa dipungkiri, geng TB merasa kesal dan iri karena ketiga adik kelas mereka mendapatkan perhatian lebih dari Ratu.


Devan menunjukkan foto-foto yang membuat Ratu merasa begitu gembira dan kagum dengan kinerja pemuda itu. "Thanks ya, emang loe the best Dev" puji Ratu sembari memperhatikan setiap foto. Devan juga merasa senang, hingga tak sadar ia mengelus kepala Ratu seperti yang dilakukan Neil.


"Dev, gue potong tangan loe baru tau rasa" ancam Ratu dengan nada dinginnya. Devan mengeluh sedih, ia mengatakan jika dirinya iri dengan Neil yang bisa dekat dengan Ratu. Padahal Devan yang selalu membantu Ratu, tetapi ia dan kawannya malah tak memiliki tempat dihati Ratu. Sontak saja kejujuran Devan membuat Ratu terpingkal tak karuan. Ia tak menyangka jika selama ini Devan menginginkan tempat dihati Ratu.


"Jangan kayak bocil deh, loe tetep adik kelas yang paling gue sayang" hibur Ratu seraya mencubit kedua pipi Devan gemas. Devan dan gengnya memang terkenal sangat nakal. Tetapi mereka adalah anak yang baik dan penurut dihadapan Ratu.


"Eh eeh" lirik Ratu membantu seseorang yang hampir terjatuh disampingnya. "Ratu, maaf maaf, makasih ya" ucapnya sembari mengacak rambut gadis itu pelan.


"Loe gak apa-apa kan?" Tanya Ratu memastikan jika sang pemuda itu baik-baik saja.


"Apa?" Ucap sang pemuda. Ratu kembali mengucapkan kalimat yang sama. Tetapi wajah pemuda itu masih terkejut keheranan. "Sejak kapan, jadi loe gue diantara kita?" Ujarnya tak percaya.


"Harusnya gue ngelakuin ini sejak dulu. Melepas loe yang udah bahagia sama orang lain Lal. Tuh si Hera lihatin kita" jawab Ratu ketus. Ratu berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Devan, Neil dan yang lainnya.

__ADS_1


Jika harapan itu tak dilepas, selamanya akan membekas. Jika tak ada keberanian untuk melupakan, maka selamanya akan tenggelam dalam kenangan. Ratu mengambil langkah besar dalam hidupnya. Membuang masalalu yang membuatnya tak bisa maju. Dan berani mengambil resiko untuk membuka lembaran baru. Seseorang tak akan bisa maju jika tak berani menghadapi resiko. Dan resiko terbesar dari setiap orang adalah takut mengambil resiko.


Ratu terdiam sejenak disamping mobilnya. Kemudian dia berbalik, "Neil, Liam, Damar, jam lima gue ke rumah kalian. Siap-siap jangan tanya alasannya" perintah Ratu lalu masuk kedalam mobil.


Ketiga pemuda itu masih tertegun memandangi mobil Ratu yang sudah keluar dari parkiran sekolah. Mereka saling berpandangan dan menghardikkan bahu bersamaan. Lalu bergegas pulang agar tak membuat Ratu menunggu lama.


Ratu sudah sampai dirumahnya, ia masuk kedalam kamar dan bersiap diri. Dandanan yang cukup sederhana, kaos berwarna merah dipadukan dengan rok jeans pendek. Dengan topi, kacamata hitam dan sepatu kets sebagai pelengkap.


"Hai sayang" panggil Ratu pada seseorang yang sedang duduk diruang tamunya. "Hai Kak, Kakak mau kemana?" Tanya Tania. Tania memperhatikan kakaknya dari atas hingga bawah, tak ada yang istimewa, jadi bukan kencan. Ratu mengajak adiknya untuk bermain tebak-tebakan, namun gadis kecil itu tidak tertarik. Karena ia tahu, kakaknya hanya akan bermain dan bukan berkencan. Ketertarikan Tania menjadi hilang saat itu juga.


"Kak Ratu kapan sih mau punya pacar? Risih tau gak setiap kali manggil sayang ke aku. Teman-teman ku ketawa waktu dengar Kak Ratu panggil gitu. Mereka bilang itu karena Kakak kelamaan jomblo" omel Tania panjang lebar. Ratu menatap gemas adiknya yang sedang mengomel. Mencium pipi Tania berkali-kali lalu berpamitan pergi.


Ratu keluar dari mobilnya dan menghampiri seorang pria yang sedang menelepon dengan kesal. Kap mesin mobilnya terbuka, sepertinya mobil pria itu mogok. "Maaf, Papanya Neil?" Tanya Ratu sopan. Pria itu mengangguk dan mempersilahkan Ratu untuk masuk. Karena Neil sedang bersiap-siap didalam.


"Ratu bantuin Pa" gadis itu mengajukan diri untuk memeriksa mobil Papa Neil. "Kamu tahu mesin?" Tanya Pria itu keheranan.


Ratu mengangguk percaya diri, ia mulai melihat-lihat mesin mobil Papa Neil. "Papa mau kemana?" Tanya Ratu membuka pembicaraan. "Kamu ini lucu ya, udah manggil Papa aja. Mau ke kantor ada meeting penting, eh mobilnya mogok" jelas Papa Neil.


"Ratu kan calon mantu Papa, gak apa-apa kan kalau manggil Papa?" Balas Ratu. "Iya, kalau mobilnya bener langsung jadi mantu saya saja" goda Papa Neil menanggapi lelucon Ratu. Gadis itu mengotak-atik mesin mobil, layaknya seorang profesional. Setelah beberapa menit, Ratu meminta Papa Neil untuk menyalakan mobilnya.

__ADS_1


Brrmmm...Brmmm...


Sungguh luar biasa, memang benar, tak ada yang tak bisa Ratu lakukan selain membuat Neil jatuh cinta. Papa Neil bersorak kegirangan, beliau berdecak kagum pada gadis muda dihadapannya ini.


"Montirnya udah datang Pa?" Teriak Mama Neil berjalan keluar rumah. "Gak butuh montir, menantuku yang memperbaiki" jawab Papa Neil bangga. Papa Neil menepuk bahu Ratu, ia benar-benar bangga pada anak muda jaman sekarang. Sedangkan Mama Neil tertawa melihat tingkah konyol suaminya dan Ratu.


"Kenapa Ma?" Celetuk Neil yang juga ikut keluar rumah. Disusul Liam dan Damar yang datang menghampiri mereka. "Papamu dan mantunya" ujar Mama Neil singkat lalu memberikan tas kerja pada sang suami. Papa Neil mencium istrinya dan juga anak semata wayangnya. Tak lupa menyapa Liam dan Damar.


"Menantu, Papa berangkat dulu ya" pamit Papa Neil pada Ratu. "Iya, hati-hati Pa" balas Ratu seraya melambaikan tangannya.


"Menantu?" Kata Neil, Liam dan Damar bersamaan.


Ratu tersenyum lebar memandang ketiga remaja tersebut. Tak lama Mama Neil keluar dengan tisu basah, membersihkan wajah Ratu yang belepotan karena membenarkan mesin mobil suaminya. "Papa kamu keterlaluan, massa menantunya dibikin kotor gini wajahnya. Kamu mau masuk dulu?" Tawar Mama Neil dengan ramah.


Ketiga pemuda disana masih tak bisa memahami drama apa yang sedang berlangsung. Liam dan Damar bahkan mendesak Neil untuk mengatakan yang sebenarnya. Sebab mereka curiga jika Ratu dan Neil telah jadian.


"Lain waktu aja Ma, keburu malam" ujar Ratu lalu berpamitan pada Mama Neil. Neil menyuruh ketiga pemuda itu untuk masuk kedalam mobilnya. Merekapun pergi menuju suatu tempat.


"Kak, Papanya Neil itu galak loh, kok loe bisa secepat itu akrab dan dapat restu?" Celetuk Liam penasaran.

__ADS_1


Mereka masih belum belajar rupanya. Masih belum memahami siapa yang sedang bersama mereka. Gadis yang selalu bisa mengatasi segala hal sesuai keinginannya. "Harus berapa kali gue bilang ini, karena gue adalah Ratu" jawab Ratu dengan senyuman tipis.


__ADS_2