
Beberapa hari berlalu, Ratu sudah kembali dengan aktivitasnya. Bahkan kedua orangtua Ratu sudah kembali keluar negeri.
Ratu berjalan menyusuri lorong sekolah, dengan kacamata hitam kesayangannya. Beberapa mata tak pernah lepas dari sosok Ratu yang melintas. Rasa iba dan juga merendahkan bisa Ratu rasakan disetiap langkahnya.
Kesadarannya sudah kembali, ia tak peduli bagaimanapun pun para murid itu memandang dirinya. Karena memang ini kesalahan Ratu, mengambil keputusan dengan sangat gegabah.
"Ratu" panggil Bela. Ia menghampiri Ratu bersama dengan Geya.
"Loe tau gak sih, ternyata brondong loe itu dingin juga ya" celetuk Geya.
"Dingin gimana?"
"Irit banget kalau ngomong, beda kalau ada loe, manja kek bocil"
Ratu tertawa kecil mendengar curhatan temannya itu. Ia juga pernah mendengar dari Raja jika Neil sebenarnya pria yang cuek. Ratu juga tahu, ia kembali mengingat momen perkenalan awal mereka. Pemuda yang sulit Ratu taklukkan itu pada akhirnya jatuh dalam pelukannya.
"Kak Ratu" panggil Neil.
Gadis itu menoleh dengan senyuman, Neil juga terlihat tersenyum disana. Ia mendekat dan menepuk kepala Ratu perlahan.
"Pagi sayang" ucap Neil seraya mengecup bibir kekasihnya itu.
"Pagi, udah sana masuk kelas"
Sekali lagi Neil mencium pipi Ratu lalu berjalan menuju kelas bersama kedua sahabatnya. Bela dan Geya membelalakkan matanya tak percaya, Neil sangat berani melakukan hal itu, padahal mereka tengah berada di sekolah.
"Ini sekolah loh, kok dia.. hm... loe pasti udah ngajarin yang nggak-nggak" omel Bela.
"Karena ada Bilal disana, udah lah ayo masuk kelas"
Bela dan Geya mengalihkan pandangan mereka, benar saja Bilal tengah berdiri menatap para gadis itu. Pantas saja Neil begitu berani mencium Ratu padahal mereka tengah berada disekolah. Ia ingin membuktikan pada Bilal jika kini Ratu hanya miliknya.
Belum saja mereka sampai ke kelas, Ratu sudah dihadang oleh Daren dan yang lain. Ia memberikan sebuah amplop coklat, wajahnya terlihat begitu gelisah. Ada keraguan disana, seakan Daren tak ingin memberikan amplop coklat itu pada Ratu.
"Ini, anu.. em..."
"Apa?"
"Orang yang ngasih Neil narkoba"
__ADS_1
Secepat kilat Ratu menyambar amplop tersebut, ia ingin tahu orang bodoh macam apa yang berani menyakiti kekasihnya itu. Bela dan Geya juga tampak penasaran, mereka ikut memandangi amplop tersebut.
Ratu membukanya, ada beberapa lembar foto disana. Dengan seksama ia perhatikan, dan muncul wajah seseorang disana.
"Rizki? Bangsat nih anak, beraninya dia. Alasannya apa?"
"Balas dendam, karena loe permalukan dia di depan umum"
"Beraninya dia, dia pikir gue gak akan tahu, lihat aja, pembalasan akan selalu lebih kejam"
Ratu, Bela dan Geya hendak melanjutkan jalannya. Tetapi Daren menghentikan Ratu sekali lagi. Ada sesuatu yang coba Daren tunjukkan, tapi kali ini ia benar-benar ragu. Ratu yang menunggu menjadi jengkel karena Daren dan teman-temannya masih bungkam membisu. Kepala mereka tertunduk dan tak ada satupun yang berkata-kata.
"Cepetan dong, gue mau masuk kelas nih"
"Ini, anu, Hera.. di..dia kegu..guran"
"Apa? Kenapa bisa gitu? Gue udah minta kalian buat jagain dia kan?" Bentak Ratu sembari mencengkram pakaian Daren.
Bela dan Geya mencoba menenangkan Ratu, mereka juga sama terkejutnya, tapi amarah Ratu keluar begitu saja.
"Maaf Ratu, itu Bilal.. dia.."
Ratu sudah dipenuhi oleh amarah, ia berjalan menuju kelas Bilal. Daren dan yang lain sudah berusaha menghentikan Ratu tapi amarahnya sudah tak bisa dibendung. Ia memukul setiap murid yang berusaha menghentikannya.
"Ratu tunggu" ucap Gio menghadang jalan gadis itu bersama dengan Faiq dan juga Neil.
"Sialan kalian" umpat Ratu kesal. Ia berbalik kembali menuju kelasnya. Kelemahan Ratu ada disana, ia tak bisa melukai Neil demi menemui Bilal. Itu sangat tidak mungkin. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Selepas pulang sekolah, Ratu pergi melajukan mobilnya menuju BS. Para teman-teman Ratu sudah menata semua bukti yang mereka temukan. Saat Ratu tiba, gadis itu memeriksa semuanya, sudah tak ada lagi air mata yang tersisa. Kebenaran pahit itu jelas melukai dirinya.
"Gue masih belum dapat kabar dari Ayah, gue tahu masih ada yang Ayah sembunyikan" gumam Ratu.
"Ratu, orang itu gak mau bicara apapun, dia bilang hanya akan bicara jika Neil datang dengan seorang wanita. Mungkin yang dia maksud itu loe" jelas Gio.
Ratu kembali membuka beberapa file disana, ia melirik ke arah teman-temannya yang fokus menatap dirinya. Mereka tahu apa yang sedang Ratu pikirkan.
"Tidak apa lanjutkan saja"
__ADS_1
"Orang tua gue juga salah, mereka berhak dihukum"
"Gue juga gak apa-apa"
Gadis itu membuang file ditangannya, ia menghembuskan napasnya kasar. Kebenaran ini, membuat Ratu lemah. Para orang tua temannya juga terlibat, ini akan terlalu menyakitkan. Ia tak ingin jika teman-temannya mengalami kesulitan, padahal mereka tak tahu apapun tentang kegiatan orang tua mereka.
"Kita keep saja semua ini, gue gak bisa"
"Gak bisa gimana? Kita sudah sejauh ini" bentak Gio.
"Ingat Ratu, mereka mengorbankan Daniel" imbuh Faiq.
"Gue gak bisa, gue mundur"
"Bangsat, sialan loe, kita udah menghabiskan banyak waktu untuk ini, dan loe mau mundur gitu aja?" Sahut Daren. Ia begitu kesal dan mencengkram kerah seragam Ratu. Kini giliran Daren yang menatap Ratu dengan amarah.
Ratu tak ingin masa depan temannya menjadi taruhan. Ini terlalu besar, pasti akan mempengaruhi pendidikan mereka semua. Juga mungkin akan menghancurkan usaha kedua orang tua mereka nantinya.
"Terus loe mau kita berhenti sampai sini? Setelah semua ini?" Tanya Aidan.
"Baiklah, katakanlah kita berhenti, loe pikir mereka akan berhenti buat nyakitin Neil?" Ucap David.
"Kita berhenti, dan jika mereka masih berusaha menyentuh Neil. Itu akan menjadi urusan lain"
"Loe gila Ratu, kita lanjutkan, dengan atau tanpa persetujuan loe" ujar Gio kemudian pergi diikuti oleh para teman lainnya. Mereka meninggalkan Ratu yang masih duduk menenangkan pikirannya.
Ratu hanya tak ingin terjadi sesuatu dengan masa depan teman-temannya. Kebenaran ini rupanya terlalu beresiko, Ratu memikirkan ulang kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Ia memandangi beberapa foto yang berjejer di papan. Menelisik setiap lembar foto tersebut.
"Kenapa gue merasa, jika Daniel pernah bertemu Neil sebelumnya?"
Ratu kembali menatap setiap foto itu, hingga sebuah foto menarik perhatiannya.
"Daniel, Neil, Daniel, Neil"
"Ahahhah, bodoh, kenapa gue gak memikirkan ini sebelumnya?"
Suara tawa Ratu terdengar begitu nyaring di ruangan sepi itu. Ia terus melihat lembaran foto Daniel disana, dan di samping Daniel ada sosok Ratu.
"Aku tidak pernah menghabiskan waktu bersama Neil, aku harus mengajaknya berkencan" gumam Ratu. Ia pikir, menghabiskan waktu bersama Neil akan mengingatkan sesuatu yang ia lupakan saat bersama Daniel. Ia ingin mengulang kembali kebersamaannya dengan Daniel.
__ADS_1