Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 12


__ADS_3

Esok harinya, Ratu terlihat begitu ceria. Mengenakan jaket merah over size, jam tangan merah, serta bandana berwarna merah yang terlihat cantik dengan rambut pendeknya. Gadis itu berjalan sembari menari-nari kecil.


"Hai Neil, hai semua" sapa Ratu seraya mengacak rambut Neil.


Ratu duduk disamping Neil, membalas pesan singkat diponselnya lalu memesan makanan. Neil menatapnya dengan sangat aneh. "Iya terimakasih. Kamu mau bilang aku kelihatan cantik kan? Gemes deh" ujar Ratu seraya mencubit pipi Neil. Neil mengangguk, ia memang ingin memuji penampilan Ratu. Tetapi bibirnya terasa seakan terkunci begitu rapat.


Gadis itu mengeluarkan sebuah boneka gajah dari jaketnya. "Hadiah untuk kamu" ujar Ratu ceria. Ia memberikan boneka tersebut untuk Neil.


"Heh, Ratu, gila loe ya? Serius itu buat dia? Kan loe nungguin itu dari satu bulan yang lalu" sela Bela.


"Tau nih, loe gak inget, ngomel-ngomel karena boneka itu gak datang-datang?" Timpal Geya kesal.


Ratu menoleh, menatap kedua temannya itu dengan tatapan tajam. Seolah ia ingin menerkam mereka berdua saat itu juga. Ratu menunjukkan nama Neil diboneka itu, yang berarti ia memesan boneka gajah itu memang untuk Neil. "Cowok kan gak main boneka, emang dia suka boneka?" Sahut Bian.


"Ya terserah dia mau suka atau enggak. Tapi kan gue suka, iya kan Niel?" Jawab Ratu sembari menatap Neil. Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum, ia juga tak lupa berterimakasih pada Ratu. Ratu sesekali melirik ke arah seseorang yang memandangnya dengan dingin. Orang itu adalah Bilal. Padahal Hera sedang bergelayut manja ditangannya, tetapi pikirannya malah teralihkan pada Ratu.


"Dasar cewek egois" celetuk Irfan dan Dafa secara bersamaan. "Mau gue tendang lagi kesayangan loe itu? Biar sekalian gak bisa pipis" sahut Ratu ketus sambil menunjukkan bogemannya. Kedua pemuda itu langsung terdiam setelah mendapat jitakan dari Bian.


Ratu menyantap makanannya dengan lahap. Sembari berbincang dengan Bela dan Geya. Tiba-tiba saja Devan datang dan membisikkan sesuatu pada Ratu. Membuat wanita itu tertawa cekikikan. "Loe emang yang terbaik Dev" puji Ratu seraya memukul pelan perut Devan. Gadis itu mengeluarkan sebuah earbuds dari saku, kemudian memberikannya pada Devan.


"Serius loe Kak? Mahal nih, thanks ya. Kalau butuh yang lain hubungi gue aja" ucap Devan lalu pergi bersama gengnya.


"Gue juga mau dong, emang loe suruh ngapain sih tuh anak?" Celetuk Irfan memelas.

__ADS_1


"Gue juga mau, bekas loe gak apa deh" timpal Bian.


"Jangan didengerin, mereka emang gak berguna. Kalau ada lagi kasih gue aja" sahut Dafa tak mau kalah.


Bela dan Geya menarik tangan Ratu untuk menjauh dari kerumunan. Disana mereka mulai menginterogasi gadis itu. Sebab, jika Ratu sudah mulai memberi imbalan yang mahal, pasti ada informasi serius yang ingin ia dapatkan. Ratu yang sadar jika dirinya tak bisa melakukan hal ini sendiri, mengajak Bela dan Geya untuk bekerja sama.


Ratu mulai bercerita maksud dan tujuannya adalah untuk membantu Mita. Mita murid kelas 1-2 yang telah dirundung oleh Fiona, Willow dan Zara, anak kelas 2-3. "Apa? Serius loe? Berani bener mereka?" Celetuk Bela. Bela dan Geya sudah lama tak pernah ikut campur masalah seperti ini. Semenjak mereka berteman dengan Ratu, perundungan adalah hal yang paling tak mereka kenali. Tak ada yang bisa menyentuh mereka, bahkan sekedar menyapa saja hawa ketakutan mereka pada Ratu tertempel pada diri Bela dan Geya.


Siapapun yang melihat Geya dan Bela, seolah mereka melihat bayangan Ratu disana. Setelah perbincangan singkat, mereka bertiga kembali ketempat duduknya.


"Kak" panggil Neil perlahan. "Iya sayang kenapa?" Jawab Ratu dengan senyumannya. Neil membelalakkan matanya, lalu membungkam bibir Ratu dengan tangannya. Mereka saling bertatapan, ada perasaan berbeda dalam diri Ratu.


"Ciye ehem hoek oek" riuh suara dikantin menggema membuyarkan drama singkat tersebut. Neil melepas tangannya, menjadi salah tingkah. Sedangkan Ratu melanjutkan makannya seakan tak terjadi apa-apa. "Apa, mau ngomong apa? Mau ngajak gue jalan ya?" goda Ratu sembari mencolek-colek lengan Neil.


"Enggak kok. Mama ngundang Kak Ratu buat makan malam dirumah, malam ini" bisik Neil lirih. Neil tak ingin semua murid tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Benar saja, para murid mencoba membuka telinga mereka dan mendekatkan jarak. Sayangnya mereka tak mendengar apapun.


Neil menatap Liam dan Damar yang ikut-ikutan menggodanya. Meminta bantuan untuk mengurangi rasa malunya. "Kak, kalau ada janji gak apa-apa, nanti aku bilangin Mama" celetuk Neil gugup. Ratu masih berbincang dengan lawan bicaranya, ia bersikukuh untuk membatalkan semua janjinya.


"Gila loe main batalin aja, kita udah sepakat sejak dua minggu yang lalu" teriak Gio dengan amarah. Geng SS tiba-tiba saja datang dan membuat keributan. Gio mengomel begitu lancar, diikuti oleh anggota SS yang lain. Belum sempat Ratu melakukan pembelaan, anggota SS semakin mendekat dan sukses membuatnya berlari dari kantin.


"Neil, sorry, tapi ini janji gak bisa dibatalin. Ini penting banget, emang tuh anak kadang otaknya gak dipakai" maki Gio yang masih kesal. Neil ketakutan melihat gerombolan anggota SS mengerubunginya, dengan gugup dirinya mengiyakan apapun yang dikatakan oleh Gio.


Aidan lalu menyuruh semuanya pergi karena telah membuat keributan. Membuat para murid takut melihat mereka.

__ADS_1


"Giiooo, nih si Ratu balik nih" teriak Geya ketika melihat Ratu kembali. Ratu memelototkan matanya mengarah pada Geya.


"Bilang Mama, lain waktu calon mantunya main kesana. Aku pergi dulu ya, ada urusan" ujar Ratu kemudian berlari pergi ke arah yang berbeda dari anggota SS lainnya.


Ratu berjalan menyusuri koridor, banyak pasang mata yang menatapnya. Kagum, benci, iri dan harapan. Banyak dari mereka yang ingin dekat dengan Ratu, bahkan mungkin hanya sekadar menyapa. Namun, mereka terlalu takut untuk memulai. Setelah mendengar semua hal tentang Ratu, ketakutan itu muncul tanpa alasan yang jelas.


Gadis itu duduk di mejanya, membenamkan kepalanya diatas meja. Menunggu jam pelajaran berikutnya. Masih sepuluh menit lagi sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai. Ratu membuka loker dikelasnya, mencari buku catatan kecil miliknya. Tetapi ia tak menemukan apapun disana.


"Kok gak ada ya? Perasaan gue selalu taruh di loker deh. Apa diloker satunya ya?" gumam Ratu seorang diri. Ia melangkahkan kakinya menuju loker besar yang terletak diujung tangga. Setiap murid di SM memiliki 2 loker, satu di dalam kelas dan yang lain ada diluar kelas. Loker besar untuk menyimpan sepatu dan baju seragam cadangan setiap murid.


"Udah lama gue gak pernah buka nih loker, untung ada yang ngebersihin, coba gak ada pasti udah berdebu kayak masa lalu nih" gumamnya lagi.


Ratu membuka lokernya, dan banyak surat terjatuh dilantai. Ada begitu banyak surat di loker Ratu, yang tak pernah ia ketahui. "Wah gilaa, siapa nih yang jadiin loker gue tempat sampah. Banyak banget kertasnya" keluh Ratu dengan amarah. Ia mengeluarkan semua surat yang masih tertinggal didalam, mencari buku catatan kecil miliknya. Rupanya buku itu juga tak ada disana.


"He Mak lampir, ngapain loe buang-buang kertas disini?" celetuk Bela yang tak sengaja lewat. Geya yang penasaran membantu Ratu untuk menata tumpukan surat itu. "Geya, biarin aja, ntar dibersihin sama tukang bersih-bersih" ujar Ratu menarik Geya untuk berdiri.


"Gila loe gila gila, ini kan surat cinta, wah parah parah parah. Sebanyak ini? Pengagum rahasia loe? Sejak kapan nih loker gak pernah loe buka?" Tanya Geya menyelidik. Ada begitu banyak surat cinta yang tak tertera pengirimanya disana, termasuk undangan ulang tahun untuk Ratu.


"Pantesan loe gak pernah datang ke ulang tahun anak-anak, undangannya aja gak nyampe ke loe" sahut Bela lagi. Geya membenarkaan hal itu. Ratu memang tak pernah menghadiri pesta ulang tahun siapapun kecuali teman-teman terdekatnya. Padahal Ratu sangat menyukai pesta.


"Wih dari Bilal nih" teriak Bian yang tiba-tiba nimbrung. Ratu mencoba merebut surat yang ada ditangan Bian. Tetapi Bian malah menggoda gadis itu dan mengajaknya berlarian.


Bruukkk...

__ADS_1


Ratu menabrak seseorang disana. Mereka berdua sama-sama terjatuh ke lantai.


"Nih Neil, surat buat Ratu dari Bilal" ujar Bian memberikannya pada Neil yang ternyata adalah murid yang Ratu tabrak.


__ADS_2