
Bilal sedang berdiri didepan ruang BK. Ia menunggu kekasihnya yang sedang diomeli dan diberi hukuman oleh guru BK.
"Makanya jangan nakal" nasihat Bilal seraya menjewer kedua telinga kekasihnya. Ratu hanya berdehem menanggapinya, ia berjalan begitu saja meninggalkan Bilal.
"Sayang, kok aku ditinggal" teriak Bilal menyusul Ratu yang sudah lumayan jauh. Ia berlari dan menarik pinggang Ratu untuk mendekati dirinya.
Cup...
Bilal yang nakal mencium pipi Ratu. Ia bahkan tak peduli ada beberapa siswa yang menatap mereka disana.
"Kak Ratuuu" teriak Damar menghampiri. Damar dan Liam berdiri diantara Ratu dan Bilal, mereka membiarkan Neil berada disisi lain Ratu. Secepat kilat Neil mengusap pipi Ratu yang baru saja dicium oleh Bilal, ia merasa sangat kesal melihat semua itu. Sedangkan Ratu, ia tertawa melihat kecemburuan Neil.
"Ini apa'an sih bocah-bocah, ganggu orang pacaran aja" omel Bilal seraya mendorong Damar dan Liam menjauh. Ia kembali menarik Ratu didekatnya, merangkul pundak sang kekasih.
Neil, Damar dan Liam berpamitan pergi begitu saja. Mereka hanya ingin membantu Neil melakukan apa yang ia inginkan.
Setelah berpisah dengan Bilal diparkiran, Ratu melajukan mobilnya pulang kerumah. Ia tak sabar menyambut tamu yang datang, atau mungkin tamu itu sudah menunggunya.
Ratu jelas tak bisa menyembunyikan senyumannya. Kedua ujung bibirnya terus saja naik tanpa alasan.
Saat sampai dirumah, Ratu tak langsung masuk kedalam. Ia duduk di mobil sembari menatap sekitar, tak lupa ia juga menghubungi Afzam, setelah memastikan ada tamu datang. Mobil yang familiar, Ratu tau benar siapa pemiliknya.
Ratu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Ia tak terkejut dengan tamu yang sedang duduk sembari berbincang dengan Melvin dan Tania.
"Kak Ratu, ini ada temannya" ujar Tania menghentikan Ratu.
"Bukan urusan Kakak, Kakak capek mau tidur" jawab Ratu ketus.
"Ratu, gue udah turutin mau loe, jangan bawa-bawa keluarga gue" teriak Hera kesal.
__ADS_1
Ratu menghentikan langkahnya, berbalik sembari menyambar sebuah vas bunga. Vas bunga itu ia lempar dengan penuh amarah.
"Loe yang ngusik keluarga gue" ucap Ratu. Ekpresi datarnya dan suara dingin Ratu membuat kedua orang tua Hera semakin tertunduk pasrah.
"Ngusik apa? Loe yang bawa-bawa kerjaan bokap gue, sekarang mending kita selesaikan diantara kita" sentak Hera.
"Seandainya aja loe gak bawa-bawa Tania. Seandainya aja loe gak nyebar fitnah tentang gue. Gue gak akan bertindak sejauh ini, loe udah bikin adik gue nangis, loe pikir bakal bisa hidup tenang? Gue gak masalah kalau ini tentang gue, tapi loe berani menyentuh milikku. Gue gak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyentuh milik gue" bentak Ratu tak kalah emosi.
Mama Hera menenangkan putrinya, sedang Papa Hera mulai bersujud meminta maaf. Beliau menyesali semua perbuatan putri semata wayangnya itu.
"Kasih tau bokap loe, semua hal yang loe sebarkan tentang gue, itu kenyataan atau cuma omong kosong. Kalau itu kenyataan gue balikin semua milik kalian" pinta Ratu tegas.
Kedua orang tua Hera menatap putrinya. Berharap semua hal yang baik, namun sayangnya Hera tak mampu melakukan apapun. Ia hanya diam dan tertunduk, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Kak Ratu" panggil Tania lirih. Sekali lagi Ratu melihat air mata jatuh dipipi sang adik. Ia tak bisa menatapnya seperti ini. Hati Ratu kembali membara, jika ada seseorang yang berani membuat adiknya menangis.
"Maafin aku ya, aku gak percaya sama Kakak. Sebenarnya Tania kasihan, tapi dia udah kelewatan, kenapa dia menyebar berita bohong tentang Kak Ratu? Aku dijauhi teman-temanku karena itu. Itu sebabnya aku sangat marah pada Kak Ratu" jelas Tania dalam isak tangisnya. Ia memeluk sang Kakak dengan sangat erat.
"Saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan anak saya. Tolong maafkan dia" pinta Papa Hera.
"Tentu, ini semua adalah harga yang harus kalian bayar. Silahkan pergi keluar, kalian tahu dimana pintunya bukan" sahut Melvin ketus.
Afzam dan para adiknya sudah tak ingin mendengarkan apapun. Permintaan maaf selalu saja terjadi setiap kali mereka telah kehilangan semuanya, lantas mengapa tak berpikir sebelum melakukan hal seperti itu. Afzam tak menyukai hal seperti ini, ini adalah taktik kotor. Menyebar berita bohong, adalah taktik kotor dalam berbisnis.
Setelah keluarga Hera pergi, Afzam memeluk Ratu. "Berhenti bersikap konyol seperti ini, kau menganggu pekerjaanku" ujar Afzam lalu pergi kembali ke kantornya.
Melvin juga memeluk Ratu, lalu dia menjitak kepala adiknya itu. Sangat nakal, adik perempuan yang tak bisa ia atur.
Kini tinggal Tania dan Ratu diruang tamu. Ratu menjatuhkan dirinya diatas sofa. Berbaring sembari memainkan ponselnya, mengabari Geya dan Bela jika semuanya berjalan lancar. Kedua teman perempuan Ratu merasa sangat senang, setelah mereka memberi Hera dan gengnya pelajaran.
__ADS_1
Selepas Ratu meninggalkan Hera, semuanya tak berhenti disana. Bela, Geya dan yang lainnya menyeret Hera dan gengnya ke kamar mandi sekolah. Bisa kalian bayangkan bagaimana perundungan para wanita ini. Berbagai macam cairan mereka tumpahkan, mengambil setiap video permintaan maaf sebagai penyesalan. Itu sangat menyenangkan, melihat seseorang menderita dihadapan kita.
"Kak Ratu" panggil Tania lirih. Ratu menoleh menatap adiknya.
"Mau gak anterin aku? Aku harus minta maaf pada teman-teman. Mereka sangat percaya pada Kak Ratu, tapi aku malah memusuhi mereka" sambung Tania sedih.
"Tentu saja, mandi dulu ya, kita jalan-jalan. Kakak yang traktir" seru Ratu bersemangat. Tania kecil memeluk tubuh Kakaknya dengan sangat erat.
Penyesalan itu datang, harusnya Tania tak meragukan Kakaknya. Kakak yang mengajari Tania banyak hal. Ratu selalu mengajarkan Tania hal yang baik, bahkan berbicara kasar didepan Tania pun ia tak pernah. Baginya, Tania adalah Ratu kecil versi terbaik.
Ratu membawa tas selempang kecil, ia memasukkan ponsel, dompet, dan uang tabungannya kedalam sana. Berpikir akan menghabiskan semuanya hari ini, demi sang adik tercinta.
"Kakak, ayoo" teriak Tania yang sudah tak sabar.
Ratu keluar dengan pakaian seadanya, kaos merah over size dan hot pants jeans. Ia juga memakai sendal jepit seperti biasanya, tentu warna merah, warna favoritnya.
"Loh, katanya mau jalan-jalan, kok Kak Ratu bajunya biasa aja kayak mau main kerumah teman" oceh Tania ketika melihat Ratu keluar kamar.
"Emangnya kenapa? Gini aja udah cantik kan?" Tanya Ratu seraya berpose layaknya model.
Tania segera mengiyakan dan mengajak Ratu pergi. Ia tak ingin membahasnya lebih lama, karena sang Kakak yang percaya diri ini, pasti akan terus membual.
Ratu melajukan mobilnya, mendatangi rumah teman Tania satu persatu. Ia juga tak lupa meminta ijin pada setiap orang tua teman Tania.
Ttiinn... Ttinnn...
Suara klakson mobil Ratu terdengar nyaring. Mengejutkan tiga pemuda yang sedang berbincang didepan rumah.
Tania dan teman-temannya keluar mobil, mereka bergegas menemui Leo. Sedangkan Ratu, tentu menghampiri ketiga pemuda yang sedang tertegun menatap kehadirannya.
__ADS_1
"Kayak gak pernah lihat cewek cantik aja kalian" celetuk Ratu membuyarkan lamunan mereka.
"Kenapa kamu disini?" Tanya Neil. Ratu berjalan mendekat kearahnya, menatap mata Neil dari balik kacamata hitamnya. "Kangen sama kamu" jawab Ratu singkat.